LOLIPOP

LOLIPOP
Bab 10


__ADS_3

Azan magrib berkumandang sepuluh menit lalu. Marsya dan yovi segera pamit karena diluar sudah mulai gelap. Aninda sebenarnya juga ingin pulang, namun urung karena tarikan tangan vigo. 


"Kamu pulang sama aku aja" bisik vigo sangat pelan, tapi terdengar jelas ditelinga aninda. 


"Nin, kamu nggak mau pulang bareng?" Tanya marsya ramah. 


Aninda meringis, menggeleng ragu-ragu. 


"Dia pulang bareng aku" kata vigo ketus. 


Tak lama kemudian datanglah sanak saudara yasmin dan satriya berduyun-duyun. Vigo menarik tangan aninda, mengajaknya berpamitan pada yasmin dan satriya. 


"Makhluk mars ngajak balik nih. Besok aku kesini lagi" pamit aninda setengah berbisik.  Yasmin mengangguk pelan. "Trims. Ati-ati ya nin"


 


***


Mobil yovi berhenti tepat didepan rumah marsya. Gerimis mulai turun, membuat malam terasa dingin. Marsya bimbang, ada sesuatu yang ingin dikatakannya. 


"Kamu mau nerima aku lagi kan yov?" Tanya marsya setelah keberaniannya terkumpul. 


"Aku nggak yakin kamu bakal nggak ngecewain aku lagi sya" kata yovi pelan. Tersirat nada khawatir. 


Marsya mengangguk. "Aku bakal nunjukin bahwa aku sungguh-sungguh yov"


 


***


Hujan deras memaksa aninda dan vigo berteduh dihalte bus terdekat. Kalau nekat menerjang hujan, bisa-bisa besok keduanya sakit. Apalagi besok vigo harus bertanding basket melawan kelas aninda. Jalanan sunyi karena derasnya hujan yang bercampur angin kencang. Badan aninda menggigil. Batinnya waswas karena hanya ada dia dan vigo. 


Vigo melepas jaket yang membalut bagian luar baju OSISnya yang sudah tak rapi lagi. "Nih pake" ujarnya sambil menyodorkan jaket pada aninda. 


Aninda menepis jaket vigo. "Nggak usah vig"


Vigo sedikit kesal. "Kalau ntar sakit gimana?" Tandas vigo ketus. Dengan terpaksa ia memakaikan jaket pada aninda. 


Aninda tak kuasa menolak. "Kalau aku sakit kamu senengkan?" Aninda memeletkan lidah. 


Vigo diam saja. Ia memperhatikan hujan yang tak kunjung reda. Orangtua aninda bisa cemas kalau ia memulangkan putri mereka sampai larut malam. Kemudian ia mendesah karena dinginnya malam mulai mengenai tulangnya. Kondisi tubuhnya memang kurang fit akhir-akhir ini. 


Aninda bergeser mendekati vigo, berusaha membuat vigo merasa hangat disampingnya. 


"Ngapain deket-deket?" Celetuk vigo sambil melirik aninda. Sejak tadi ia terus-menerus meremas-remas kedua tangannya karena kedinginan. 


"Kamu kedinginan kan?"


"Siapa bilang?"


"Kenapa sih kamu selalu kasar padaku? Kalau benci bilang aja. Jangan kaya gini dong!"


Vigo terkejut mendengar ucapan aninda. Ia menatap aninda tajam. 


Aninda yang tahu dirinya sedang dipelototi, beringsut menjauhi vigo. Sepertinya ia sudah kebablasan ngomong sehingga ngeri membayangkan kemarahan vigo. 


Vigo masih memandangi aninda tanpa ekspresi, berusaha menyelami ketakutan yang tampak di mata cewek itu. 


Vigo dengan sigap menarik tangan aninda, kemudian memeluknya erat-erat. Aninda kaget bukan main. Ia meronta, meminta vigo melepaskan pelukannya. Tapi semakin ia meronta, semakin erat dekapan vigo. Jadi yang bisa dilakukan aninda adalah pasrah dalam pelukan vigo. 


"Kamu tahu kenapa aku bersikap keras, kasar padamu?" Vigo bertanya dalam nada lembut. 


Aninda menggeleng pelan. Kenyamanan karena pelukan vigo mulai mengaliri tubuhnya. 

__ADS_1


"Karena aku sayang kamu nin. Aku cinta kamu"


Aninda membisu, kaget mendengar pernyataan vigo. Dan juga kaget karena petir baru saja terdengar. 


"Aku sayang kamu nin, dan aku nggak berdaya saat yovi bilang dia juga cinta kamu. Yang bisa aku lakukan cuma sembunyi, nyari kesempatan biar bisa bareng kamu. Karena aku nggak mau ngerebut sesuatu dari yovi lagi. Udah terlalu banyak yang yovi berikan padaku. Dan kamu nggak tahu batinku tersiksa setiap aku lihat kamu bareng yovi. Kamu nggak tahu kan?" Jantung aninda berdegup kencang. 


"Aku nggak mau lagi kehilangan kamu nin" lanjut vigo, "semakin keras aku berusaha ngejauhin kamu, semakin bertambah rasa cinta ini. Benar-benar menyiksaku" "Aku, aku..." Aninda mulai menangis. 


 


***


Jam dinding menunjukkan pukul setengah satu malam. Beberapa kali aninda berusaha memejamkan mata, tetap saja tak bisa. Ia bergerak gelisah ke kanan ke kiri, menutup kepala dengan bantal, menelungkupkan badan. Semua usaha untuk tidur sia-sia. Bayangan vigo tak mau pergi dari pikirannya. 


Oke, aninda mengakui, ia memang tertarik pada vigo sejak pertama kali bertemu, sekalipun pertemuan itu diwarnai pertengkaran. Dan entah kenapa, aninda senang saat vigo memaksanya pulang sekolah bareng, saat vigo menatapnya lembut, dan puncaknya saat vigo menyanyikan lagu untuknya dikafe. 


Vigo tak pernah tahu bagaimana tersiksanya aninda lantaran mencintainya. Gengsilah yang membuat dia menyembunyikan perasaan itu dalam-dalam, sampai akhirnya malah yovi yang menyatakan cintanya. 


Aninda sangat berharap pada malam yovi menembaknya, vigo akan menarik tangannya kuatkuat seperti biasanya. Dengan begitu dia dan vigo bisa berlari ke luar aula. Tapi, apa yang terjadi? Vigo justru menghilang tak jelas! Kebayang dong kecewanya hati aninda. 


Aninda baru saja tahu vigo menghindarinya karena sengaja ingin memberi kesempatan pada kembarannya untuk mewujudkan cintanya. Dan itu ternyata sia-sia karena toh hubungan cinta aninda dan yovi sudah tamat. 


Saat akhirnya vigo menyatakan cintanya ternyata aninda sedang berharap banyak pada umar. Oh!


Rentetan perjalanan cinta aninda begitu rumit. Sekarang ia mencinta vigo, dan juga umar. Egonya menang karena ia tak mau kehilangan dua-duanya. Namun, hati kecilnya juga tahu kalau bersikap seperti itu terus-terusan pastilah ia bakal kehilangan dua-duanya. Aninda menggeleng kuat-kuat. 


Aku harus mendapatkan kepastian dari umar besok.


 


***


Pertandingan basket antara kelas aninda melawan kelas vigo segera dimulai. Anak-anak sudah berkumpul dipinggir lapangan. 


Priiit!


Pertandingan dimulai. Sekejap saja bola berhasil dikuasai kelas vigo. Dan menit-menit selanjutnya permainan lebih banyak terjadi di daerah kelas aninda karena serangan bertubi-tubi pihak lawan. Entah berapa kali jaring kelas aninda bergetar. 


Aninda gemes sendiri melihat teman-teman sekelasnya yang mati angin di lapangan. Mereka seperti takut memegang bola, apalagi merebutnya. Tak heran bila bola selalu saja dikuasai kelas vigo. Ups, bahkan lihatlah! Dengan mudahnya vigo melakukan tembakan three point. Cewekcewek dari segala penjuru kelas langsung bersorak heboh memuji penampilan vigo yang memang superkeren. Hampir semua kelas mendukung kelas vigo. 


"Ayo, jangan mau kalah sama makhluk mars!" Teriak aninda berang. 


Mendengar teriakan aninda, vigo jadi lebih ganas lagi. Dengan tenang ia merebut bola dan berhasil melakukan three point lagi. 


Aninda makin kesal.


Vigo berpaling dan kemudian mengedipkan sebelah matanya pada aninda. Skor akhir pertandingan 41-6. Kelas aninda benar-benar dibantai. 


"Aduh! Kalian mainnya gimana sih? Kemarin pas latihan bagus, kok sekarang jadi melempem gini!" Cerocos rizka kesal sambil melangkah bersama-sama para pemain kekelas. 


Jangan ditanya betapa sewotnya aninda. Ia masih berada dilapangan, sengaja menunggu vigo yang sedang berjalan kearahnya. Begitu jarak mereka sudah dekat, aninda memelototi vigo. Cowok itu tersenyum angkuh. 


Belum sempat aninda mengomeli vigo, guru olahraga memanggil vigo. "Kamu dipanggil kepala sekolah"


Vigo berjalan lurus mengikuti guru olahraga tanpa sempat menyapa aninda. 


"Ninda!" Panggil restiana setelah kepergian vigo. "Kamu masih disini rupanya. Ada temen sekelas umar yang nyariin kamu. Dia nunggu didepan kelas kita"


Tanpa ba-bi-bu aninda berlari menuju kelasnya. Seorang cewek yang tak asing lagi dimata aninda terlihat sedang menunggu dirinya. Cewek itulah yang pernah mengatakan umar amnesia. 


"Hai nin, aku cuma mau ngasih alamat umar padamu. Dia sakit" kata cewek itu sambil menyodorkan potongan kertas yang berisi alamat umar. 


"Umar yang nyuruh kamu?" Tanya aninda bingung. 

__ADS_1


Restiana yang berdiri disamping aninda juga tak kalah bingungnya. 


Cewek itu mengangguk. Kemudian ia langsung pergi tanpa memperkenalkan dirinya. 


Aninda berdiri mematung. Semoga jalan takdirku segera terungkap, batinnya senang. 


 


***


Tidak sulit menemukan rumah umar yang ternyata tak begitu jauh dari sekolah. Rumahnya tampak sederhana. Hati-hati aninda mengetuk pintu. 


Seorang nenek yang sudah sangat tua membukakan pintu. 


"Permisi nek, saya aninda, temen sekolah umar. Bisa saya ketemu umar?" Sapa aninda halus.


"Umar baru saja tidur. Besok saja ya" nenek itu sepertinya tak suka ada yang mengganggu umar.  "Oh... Tolong beritahu umar, aninda mencarinya ya nek"


 


***


Hp aninda berbunyi keras. Aninda yang sedang menonton TV segera mengangkatnya begitu membaca nama "Yovi" dilayarnya. 


"Vigo disitu?" Terdengar nada panik yovi. 


"Nggak. Kenapa yov? Kok panik banget?"


"Dia dituduh ngancurin piala karate nin! Tadi dia dipanggil kepala sekolah. Dan sampe saat ini belum pulang. Udah kucari kemana-mana, tapi nggak ada" jelas yovi terburu-buru. 


"Kok bisa?" Seru aninda terkejut. 


"Salah satu piala yang ada di ruang karate ilang. Terus ditemuin diruang basket dalam kondisi rusak. Katanya, ada anak yang ngaku lihat vigo yang ngelakuin"


"Siapa anaknya?"


"Kepala sekolah nggak mau bilang. Sekarang yang terpenting adalah mastiin vigo nggak macemmacem. Udah dulu ya nin, aku mau nyari dia di kafe" Sambungan telepon terputus. 


Muncul rasa khawatir dalam benak aninda. Vigo pasti lagi frustasi sekarang, orangnya emang susah ditebak. Dan kalau vigo putus asa, bisa-bisa dia... Tak berani melanjutkan dugaannya, cepat-cepat aninda mengambil jaket. 


Tempat pertama yang terlintas dalam benak aninda adalah sekolah. Ini hari sabtu, jadi bisa dipastikan masih ada siswa yang berlatih olahraga. Benar saja. Hampir semua ruang olahraga terdengar riuh. Aninda pusing, sekolahnya luas dan vigo bisa berada dimana aja. Aninda mencari vigo hingga sampai disuduh sekolah tempat anak-anak olimpiade sedang berkumpul.  


Aninda sedikit grogi melewati ruangan anak-anak yang super genius itu. 


"Ninda!" Seru seseorang dari arah berlawanan. Rupanya rossi, siswi olimpiade yang sekelas dengan aninda. "Lagi ngapain nin? Tumben"


"Kamu lihat vigo nggak?" Tanya aninda putus asa. 


"Tadi siang aku lihat dia di menara astronomi nin" jawab rossi sangat halus dan sopan.  "Oh ya? Makasih banget ros. Aku kesana deh"


 


***


Dalam langkah mantap aninda menaiki tangga yang menuju puncak menara. Menara astronomi biasa digunakan anak-anak klub pecinta astronomi untuk meneropong bintang. Tinggu menara itu kurang lebih sepuluh meter. Untuk mencapai puncak menara yang berupa teras terbuka, tersedia tangga beton seperti yang biasa dijumpai dirumah. Dengan tersengal-sengal karena tak mau melepas lelah diperhentian yang ada, aninda sampai juga dipuncak menara. Pada anak tangga terakhir ia melihat punggung vigo yang bidang. 


Pelan-pelan aninda mendekati vigo. Ia memilih berdiri disampingnya. Udara dipuncak menara terasa lebih dingin. 


Vigo sama sekali tak menggubris kehadiran aninda, yang napasnya masih memburu. 


Pedih hati aninda melihat vigo yang begitu tak berdaya. Ia meraih tangan vigo, yang ternyata dingin, kemudian mengelusnya lembut. 


Vigo bangkit dengan cepat dan langsung memeluk aninda erat. Aninda mengelus punggung vigo lembut. Ia tahu sebenarnya vigo ingin menangis. Apa yang menimpa laki-laki ini?

__ADS_1


__ADS_2