LOLIPOP

LOLIPOP
Epilog


__ADS_3

Aninda membuka matanya sambil merasakan semilir angin yang sedari tadi membuainya. Dengan kaki gemetar ia melangkah mendekati pohon besar itu. Samar-samar ia melihat sosok pangeran kecilnya berdiri tegap di naungi pohon itu. Air matanya mengalir tanpa bisa di cegah. Air mata kerinduan yang begitu lama terbendung dilubuk hatinya yang terdalam. 


Aninda mengubah langkah kecilnya menjadi setengah berlari hingga bisa melihat pangeran kecilnya dengan jelas. Jarak mereka sudah sangat dekat sekarang, tapi aninda memilih untuk berhenti. Air mata memenuhi kedua pipi, napasnya memburu. 


Tatapannya tak pernah lepas dari pangeran kecilnya. 


Entah apa yang akan aninda lakukan. Perasaan senang membanjiri batinnya. Tapi perasaan marah dan kecewa juga datang silih berganti. Ingin sekali ia menampar pangerannya, memarahinya habis-habisan karena bersikap pengecut. Namun, rindu yang membuncah membuat dia ingin memeluknya. Dilema membuat tangisnya semakin deras. 


Vigo berjalan mendekati aninda pelan-pelan. Malam ini ia sungguh tampan dalam balutan jas hitam. 

__ADS_1


Aninda mundur beberapa langkah, takut dengan perasaannya yang kacau. Dengan sigap vigo menarik tubuh aninda ke dalam pelukan hangatnya. 


Aninda tersedu. 


Vigo hanya diam sambil mengelus kepala aninda. "Kenapa menangis?" Bisik vigo lembut. 


Aninda memukul pelan dada vigo yang bidang. "Kamu tega! Jahat!"


Aninda masih terisak. Vigo menuntunnya untuk bersandar di bawah pohon rindang yang disoroti lampu itu. Vigo merogoh kantong celananya, dan mengambil sesuatu yang kemudian ia pasangkan di leher aninda. Sebuah kalung emas dengan bandul berlian mungil yaang indah. Inilah salah satu janji mereka dulu. 

__ADS_1


Aninda memandangi wajah vigo lekat-lekat. Dengan lembut vigo mencium keningnya. Aninda memeluk vigo lagi, tak ingin melepaskannya untuk yang kedua kalinya. 


"Kamu mau jadi cewekku lagi?" Tanya vigo. 


Aninda mengangguk. "Kita belum pernah putus. Dan aku mau jadi cewekmu yang sekarang" Kemudian vigo mengaku bahwa ia memang sengaja menyuruh yovi mengatakan bahwa dirinya takkan kembali, menyuruh marsya untuk mempersiapkan pesta. Semua kejadian beruntun yang membuat aninda bingung. Yang pasti, vigo masih akan sekolah di SMA Harapan Jaya. Tampaknya kehidupan aninda akan menjadi indah. Ia telah menemukan pangeran kecilnya. Aninda tersenyum puas pada bulan temaram. 


"Aku cinta kamu, Aninda Chandraningsih" bisik vigo lembut dengan sepenuh hati. 


 

__ADS_1


The End


__ADS_2