LOLIPOP

LOLIPOP
LOLIPOP 65


__ADS_3

Dua tahun kemudian...


"April!" panggil sebuah suara mengagetkanku.


Buru-buru kuangkat wajah, mengalihkan fokus dari Laptop berisi teori-teori ilmu ekonomi. Langit kelabu yang menggantung di atas kepalaku terlihat cerah ketika mataku menatap sosok ini.


Ah! Penyelamatku tiba!


"Hei!" setuju sambil tersenyum dan melambaikan tangan ke arah Pratama. Sahabatku yang kebetulan juga berasal dari Indonesia.


Karena merasa senasib di negeri orang, kami tidak membutuhkan waktu lama untuk akrab. Terlebih karena apartemen kami berdekatan. Cukup memudahkan jika harus mengerjakan tugas bersama atau sekedar meminta bantuannya.


Tama segera duduk disampingku, dikursi panjang taman kampus. Tahu-tahu dia menjitak kepalaku dengan semena-mena.


"Auw!" jeritku kesakitan. Aku mendelik kesal padanya. "Apaan sih? Datang-datang langsung ngejitak aku" protesku sebal


"Kamu tuh ya! Cuaca dingin gini masih saja duduk diluar. Kamu mau mati kedinginan?" marahnya sambil melepaskan syal biru tua dari lehernya lalu melilitkannya ke leherku.


"Aduh! Ini juga aku pakai shal, kali!" tolakku.


Tapi tetap saja dia melilitkan syal biru tuanya di leherku sambil menyunggingkan senyum miring.


"Biar lebih tebal!" katanya. "Dan biar muka jelekmu enggak keliatan," tambahnya sembari tertawa dan menunjuk wajahku yang hampir tenggelam dalam syal tambahan ini.


"Si alan lu!" sergahku sambil melayangkan tinju pelan ke lengannya.


Walau kadang Tama menyebalkan seperti hari ini. Tapi aku tidak pernah bisa membencinya. Dia selalu saja mengataikuu jelek dan bodoh, tapi aku senang karena dia selalu ada untukku. Terlebih saat di mana masa terberatku.


Orang-orang yang berlalu lalang disekitar kami hanya menoleh sekilas sambil mengerutkan kening karena tidak mengerti apa yang sedang kami katakan. Aku dan Tama memang selalu berbahasa indonesia jika sedang berbicara berdua. Rasanya lebih nyaman karena tidak ada yang tahu apa yang sedang kami bicarakan.


"Loh, ini bahan buat tugas makalah nanti. Kamu pelajari dulu. Besok kita bahas di tempat mu nanti. Oke?" kata Tama. Kemudian dia memindahkan tiga buku supertebal yang di bawahnya ke tanganku lalu melangkah pergi begitu saja.


"Woi kira-kira dong!" protesku.


"Masih untung aku sudah bantuin cariin kamu bahan." serunya sambil terus berjalan tanpa menoleh.

__ADS_1


"Cih!" desahku. Namun aku tetap tersenyum.


Memang berteman dengan Tama banyak nilai plusnya. Walau tidak termasuk dalam jajaran cowok populer kampus, aku akui Tama lumayan tampan. Kulitnya putih khas orang Asia. Matanya sipit karena dia ada keturunan jepang. Satu hal terpenting buatku, dia sangat cerdas. Bahkan bisa kukategorikan genius. Makanya aku sangat terbantu jika ada tugas-tugas kuliah yang sekses membuatku sakit kepala. Setidaknya aku bisa menghasilkan nilai A jika kebetulan sekelompok dengan si genius Tama.


Langit kelabu. Musim dingin telah tiba. Entah mengapa aku sangat menyukai musim ini. Terlebih ketika salju akan turun.


Aku bangkit dari kursi panjang taman kampus lalu merapatkan jaket tebalku dan menyembunyikan sebagian wajahku di balik syal yang melilit dileherku.


Aku tersenyum sejenak saat mencium aroma waktu parfum Tama dari syal biru miliknya.


°


°


°


°


°


Pov Papa April


"Halo pah.." sapa April


"Gimana kabarmu di sana?" tanya Papa April


"Kami baik Pah. Kabar Mama dan Papa gimana?" tanya April balik.


"Kami juga baik Nak. Kapan pulang? Sudah dua tahun Pril."


April terkekeh.


"April baru juga setahun ini kuliah Pah."


"Maafkan Papa. ."

__ADS_1


"Pah, sudah April enggak apa-apa. Kami bahagia di sini ."


April terdengar menghela napas. Tanpa melihatnya Papanya tahu ada raut kesedihan pada wajah anaknya.


"Jangan menggingat sesuatu yang hanya membuat kita semua merasa sedih Pah." ucapnya.


"Papa tidak sedih, justru Papah menyesal. Andai saat itu jujur padamu."


"Sudahlah, semua sudah kembali pada tempat nya dan sesuai porsinya. Mungkin ini sudah takdir April." ujar April


Mendengar itu hati orangtua mana yang tidak hancur berkeping-keping.


Flashback on~~


Sehari sebelum keberangkatan April ke London.


Huek... Huek....


"April.."


"Ma..mama?"


"Jangan bilang......."


"Maafkaaan April mah.."


Mama April memeluk putrinya dengan erat.


"Kenapa sayang, kenapa sampai sejauh ini.."


Baaammmmm!!!!


Suara pintu terbuka dengan keras.


"Paaaa.. Paapaaaah!"

__ADS_1


Namun sang Papa pergi begitu saja setelah mengetahui fakta tersebut.


...••••••••...


__ADS_2