
Aku terus mengernyitkan dahi sejak melangkah masuk pintu kantor. Bukan karena aku terlalu percaya diri, tapi aku merasa hari ini berbeda. Hampir semua mata tertuju padaku. Sangat aneh karena aku bukan tipe cewek populer yang selalu diperhatikan teman-teman kantorku. Meski beberapa teman pria ada yang tidak segan mengungkapkan cintanya padaku. Namun belum ada yang bisa menggetarkan hatiku.
Lalu karena apa mereka melihat ke arahku?
"Pri, April!" panggil Jessie dan Rara hampir bersamaan sambil berlari mendekatiku. Mereka terdengar sangat panik.
Aku mengerutkan dahi saat melihat sebuah buku terlihat seperti majalah di tangan kanan Rara.
"Apaan sih? Kok kalian panik gitu?" tanyaku sambil berjalan menuju ruanganku.
Namun Jessie dan Rara segera menarik ku ke arah kamar mandi, kemudian menyodorkan majalah itu.
Aku membesarkan mata saat membaca nama majalah itu. KECE Magz, Aku menelan ludah. Tidak perlu membaca untuk tahu apa penyebab lirikan seribu arti dari puluhan pasang mata tadi menatap ku.
"Kamu beneran tidak jomblo lagi Pril?" tanya Jessie teman kantor ku.
"Kantor heboh banget pagi ini Pril. Apa lagi mereka tahu Kevin lagi pdkt sama kamu. Wah hari patah hati nasional si ini." seru Rara.
Aku bungkam. Ini akibat keisengan ku. Kini menjadi runyam. Sialnya, kenapa majalah ini harus terbit di saat Om Sammy sedang aktif ke tempat yang sedang aku jadi kan prospek.
"Gara-gara ini, semua anak jadi tahu siapa pacar kamu. Ganteng banget si Pril." kata Jessie lagi.
"Romantis banget kalian di situ. Pinter kamu Pril cari pacar, dan pinter mematahkan hati pria-pria di kantor yang berusaha mendekati kamu." goda Rara lagi sambil tertawa..
Kalian pikir ini lucu?
Apakah jika kalian tahu dia adalah Om ku kalian masih bisa tertawa?
Miris!
Aku hanya diam.
"Aku balik ke meja ku dulu ya."
...°°°°°°°°°° ...
Hari ini aku tidak bisa bekerja dengan tenang. Semua masih mempertanyakan prihal majalah kota tersebut. Aku pulang ke rumah dengan langkah lesu.
"Pril, apa-apaan nih, kamu sudah gila ya?" seru Grace. Sedikit meninggikan nada bicaranya.
Apa dia juga melihat majalah itu?
Aku menundukkan kepala.
"Waktu itu kami cuman jalan-jalan biasa. Nggak tahu gimana tiba-tiba ada reporter majalah kota mendatangi kami. Mereka mengira, Aku dan Om Sammy pacaran dengan selisih umur yang jauh. Mungkin mereka tertarik dan kami......."
__ADS_1
"Lalu kamu dengan sukarela menerima tawaran mereka? Suka di kira pacaran?" potong Grace lagi.
Aku hanya mengangguk pelan dan kembali menundukkan kepala.
"Pril, kami itu khawatir sama kamu. Kami bukannya nggak suka liat kamu bahagia. Tapi...." kalimat terhenti, kemudian dia sedikit mendesah.
"Iya aku tahu, aku tahu!" pekikku tertahan. Susah payah kutahan air mata di kedua pelupuk mata.
Aku sangat paham, sahabat-sahabatku mengkhawatirkan ku. Mereka tentu saja menyayangiku, tidak tega melihatku sedih karena perasaan bertepuk sebelah tangan yang tragis ini.
Tapi.... Secercah kebahagiaan menyelip di relung hatiku saat melakukan drama sebagai pacar Om Sammy.
Aku tahu, tindakan ku waktu itu sungguh egois. Konyol sekali bukan?
"April, kamu mesti hentikan semua ini. Kalau nggak, kamu yang akan tersakiti. Kami nggak mau kamu jadi bersedih Pril. Kami sangat perduli sama kamu." kata Grace lagi sambil mencengkeram bahuku.
Aku merapatkan rahang, kemudian mengangguk pelan. Walaupun aku tidak yakin dapat memenuhi permintaan sahabat ku ini.
Logikaku mulai tumpul karena dibutakan Cinta!
...°°°°°°°°°...
Spesial Ratih
"Aack…, nikmat sekali Goa Sihir kamu Rat."
"Mas gantian, aku di atas ya Mas." ujar Ratih sambil bangkit mengatur posisi wenak.
Bleessssss...
"Ooghhh..."
"Aaah,.. Aaaccchh...se..karang, Mas yang aku bikin enak." kata Ratih sambil terus bergerak dengan seksinya.
"Aaakkkhhh..."
Kami saling mengatur napas kami yang kian sesak. Lalu, saling berpelukan tanpa busana di bawah selimut dingin nya Ac di kamar hotel. Gairah dan kerinduan sudah kami salurkan.
"Rasanya kita tidak bisa tiap minggu begini," kata Mas Haris sambil terus memelukku.
"Kenapa Mas? Taris Bbm naik ya?" tanyaku heran.
Dulu bahkan kami pernah ngamar seminggu dua kali. Yang sekarang di atur menjadi seminggu sekali kecuali saat aku sedang palang merah.
"Bukan, bukan karena itu. Aku jadi khawatir kalau gerak gerikku mulai tercium." jawabnya
__ADS_1
"Apa istrimu mulai curiga?"
"Entahlah, akhir-akhir ini dia lebih manja. Aku jadi merasa tidak nyaman. Tapi entah kenapa."
Aku terdiam
"Hei kamu kenapa diam saja," tanya Mas Haris.
"Nggak Mas aku hanya berfikir, apa istrimu mencium gelagat kita?"
"Tidak tahu! Tapi lebih baik kita berhati-hati untuk mencegah hal-hal yang tidak di inginkan. Kamu setuju kan sayang?"
"Maksudnya bagaimana?"
"Kita mengurangi frekuensi pulang bersama, dan mengurangi pertemuan kita dulu. Dan jika ingin bertemu lebih baik langsung bertemu diluar. Bagaimana?"
"Kalau itu yang Mas anggap lebih aman, apa boleh buat!" kataku lirih
"Kamu kecewa?"
"Bukan kecewa Mas. Aku lebih merasa diingatkan bahwa aku bukan siapa-siapa untuk Mas Haris." kataku sambil memunggunginya.
Ini campuran perasaan dan akting semata untuk mengetahui perasaannya untukku seperti apa.
"Ratih, kamu jangan begini dong. Jangan merajuk! Mas sayang sama kamu. Mas ingin terus dekat denganmu. Tapi kita tidak bisa sevulgar itu kan. Kamu pasti mengerti, kalau mereka tahu, kita pasti akan lebih sulit lagi untuk bertemu." Mas Haris mencoba menjelaskan sambil terus memelukku dari belakang.
Aku membalikkan badan agar telentang kembali.
"Aku mengerti Mas," jawabku tak berdaya.
Ya apalagi yang bisa kulakukan?
Tidak ada. Sekali saja terbongkar dan terbukti kami berselingkuh, habislah aku.
Mas Haris terus menciumiku lagi.
...Mengapa dunia tidak adil. Pencuri jemuran dan ayam dibakar massa tapi orang-orang yang korupsi lenggang kangkung bak Raja tanpa dosa. Kekasih gelap dicerca, tapi pasangan yang tidak becus menjaga hati pasangannya sehingga berpaling tidak pernah dipersalahkan. ...
...•••••••••••••...
Selamat Hari senin
jangan lupa Kopi nya di pagi hari
semangat beraktifitas 🖤
__ADS_1