
Memiliki harapan adalah sebuah sikap yang terjadi secara natural pada siapa saja. Sebuah perasaan yang terkadang mampir tanpa permisi, tanpa bisa kita prediksi perasaan ini tepat atau tidak. Situasi seperti ini sering terjadi pada kebanyakan pasangan.
Mereka lupa, bahwa sebuah harapan tidak bisa di dapatkan karena terlalu tinggi nya ekspetasi yang mereka bangun sendiri.
Melihat begitu ramahnya sikap Karin aku merasa tidak sopan jika harus mengabaikannya. Lagi pula bukan dia yang masuk dalam hubungan ini. Justru akulah perusak hubungan mereka.
"Apa yang mau diceritain Mba, enggak ada yang menarik." jawabku singkat.
"Eits! Bukannya aku sudah bilang, panggil saja aku Karin. Panggilan Mbak kek tua banget." protes nya sambil tertawa.
"Harusnya aku panggil tante Karin ya?" goda ku
"Eeeehhh jangan... Ya Tuhan. Nanti saja tunggu aku nikah sama Om kamu." jawabnya tersenyum malu.
Deg!
Menikah? Kuat kah aku..
Melihat mereka menikah!?
"Hmmm... Karin kalau boleh tahu sudah berapa lama kamu pacaran dengan Om Sammy?" tanyaku mengalihkan gejolak di dadaku.
"Kami? Hmm... Sudah berapa lama ya?" katanya sambil berfikir. "Sekitar dua tahunan kurang lebih."
__ADS_1
"Lumayan lama juga ya." gumamku sambil menghela napas pelan.
"Kamu tahu Pril, sebenarnya berlalu begitu saja. Om kamu itu benar-benar bukan tipe cowok romantis. Dia kaku banget! Ngak asik"
"Oyah.." respon ku
Seketika aku teringat setiap momen indah yang pernah kami lalui bersama. Om Sammy sangat perhatian dan romantis kok!
"Yap, Om kamu itu tipe cowok kaku. Tapi sebenarnya dia sangat baik. Itulah sebabnya aku sangat mencintai nya. Pembawaannya yang tenang bikin nyaman bila bersama nya. Bener nggak?"
"Bener juga sih!" kataku pelan.
"Lalu mengapa kamu masih betah pacaran dengan Om?" tanyaku, berusaha bertanya dengan nada santai. Bahkan cenderung bercanda.
"Hahahahaaa.... Mungkin karena aku sudah terlanjur mencintainya begitu dalam. Dulu sebenarnya kami bisa sama-sama karena aku yang mengungkapkan perasaan ku duluan."
"He'eh! Nungguin Om kamu yang nembak aku sih sama saja nungguin salju turun di musim panas!" kata Karin, lalu dia menghela napas kasar.
"Yang benar Mbaa?"
Karin lalu mengangguk cepat, aku hanya tertawa canggung.
Beberapa hari mennggenal nya. Aku merasa Karin orang yang sangat terbuka. Ekspresinya selalu 'heboh'. Dia membuatku merasa makin tidak nyaman jika terus di perlakukan baik seperti ini.
__ADS_1
Aku merasa jadi wanita jahat!
°
°
°
°
Hari berlalu begitu saja. Masing-masing berkutat dengan pekerjaannya. Aku masih dengan sikap dinginku pada Om Sammy. Dan Grace dengan Luca yang mulai intens berhubungan lewat Whatsapp.
Kegiatan Grace untuk memiliki kekasih rasanya kian mendekati kenyataan. Gawat! Aku akan menjadi jomblo lady sendirian. Sedangkan Sinta masih dengan problem nya yang tarik ulur prihal pelangkah, namun persiapan yang lain tetap berjalan baik. Ratih? Tentu saja masih nyaman dengan dengan perselingkuhannya, meski katanya istri Si Buluk sudah mulai curiga. Konon ada rekan kerja yang mulai mengawasi gerak gerik mereka di kantor dan diluar. Semua pesan singkat mereka selalu langsung dihapus oleh Si Buluk supaya tidak ada jejak yang tertinggal. Dan Ratih masih tetap tidak perduli, belum dilabrak tentu belum kapok!
Aku?
Find someone new!
Aku berfikir keras dan jawabannya adalah jalan buntu. Ternyata nasibku lebih parah. Apakah aku harus mulai berburu karena aku tidak ingin disebut perawan tua, dan jangan sampai begitu. Frustasi nya hingga berfikir ikut kencan buta? LOL!
...••••••••••...
Sorry jika ada typo
__ADS_1
lagi males ngedit 😅
Happy reading 😎