
...Selamat Membaca 😎...
Teringat sesuatu yang penting. Aku segera bangkit dari ranjangku dan membuka pintu kamar. Terlihat Papa masih berdiri di depan pintu.
"Pa, apa April benar-benar anak Papa dan Mama?"
Ekspresi Papa berubah. Dia terlihat marah namun tetap diam. Aku menatap matanya, menunggu jawaban. Terlihat jelas Papa berusaha keras mengendalikan emosinya.
Mataku melebar saat Papa tiba-tiba meraih tubuhku ke dalam perlukannya.
"Anak bodoh! Tentu saja kamu anak Papa!". Katanya sambil mengelus kepalaku dengan sayang.
"Pah.. "
"Kamu tahu Pril, seberapa sakitnya Papa melihat kalian berdua. Papa sungguh tidak tega membentak kalian. Tapi itu yang terbaik. Kalian tidak boleh bersama." potong papa.
Aku terdiam.
"Pah boleh April minta satu hal?"
"Apa?"
"Jangan usir Om Sammy. Dia nggak salah. Lagi pula April akan kembali ke kontrakan."
__ADS_1
"April, Papa akan lakukan itu. Tapi tolong kamu juga harus berfikir jernih. Sammy itu Om kamu, kalian sedarah."
"April tahu. April hanya ingin Papa tetap mengizinkan Om Sammy tinggal disini lagi. April janji nggak akan mengecewakan Papa lagi."
"Baiklah .Tapi dengan satu syarat."
"Apa, pah?"
"Kamu harus mau melanjutkan S 2 mu di luar negeri."
Aku diam. Berfikir. Lalu mengangguk pelan.
°
°
°
Sesuai perjanjianku dengan Papa, dia benar-benar mengembalikan Om Sammy ke rumah dan aku pergi ke London melanjutkan studiku atas perjanjian tanpa berhubungan lagi dengan pria itu. Walaupun hanya melalui ponsel.
Aku harus merelakan pekerjaan ku dan meninggalkan zona nyamanku di sini. Semua aku lakukan demi Papa. Meskipun aku berharap Papa tidak begitu tau apa yang telah aku lakukan bersama Om Sammy.
Cukup sudah aku melihat wajah kecewanya.
__ADS_1
Susah payah aku menemukan nomer kontak Karin. Seperti yang kuduga, dia sangat aktif di sosmed. Tidak seperti Om Sammy yang bahkan tidak memiliki akun sosmed apapun .
Mengingat dia, Apakah dia pun merindukan ku?
Dari sosmed aku mulai bisa menghubungi Karin dan mengajaknya bertemu di kafe tidak jauh dari rumah kontrakan ku.
Aku menunggu dengan gusar. Berkali-kali kulirik pintu kafe, namun sosok Karin sama sekali tidak terlihat. Di kafe ini terkenal sangat nyaman dengan desain warna cokelat yang dominan, sesuai dengan konsep yang menyediakan aneka makanan dan minuman berbahan dasar cokelat. Namun, aku sama sekali tidak menikmatinya.
Pikiran ku melayang jauh mencari sosok Om Sammy yang selama berbulan-bulan tidak lagi ku dengar suaranya. Apalagi kutatap matanya. Aku tersentak ketika ada yang menyapaku. Karin muncul dengan Rambut sebahunya yang berwarna cokelat. Mata besar memancarkan cahaya bening, membuat siapa saja merasa nyaman di dekatnya. Yah, Karin selalu terlihat cantik.
"April!" serunya sambil memelukku erat. "Aduuuuuhhh.... Kangen banget sama kamu."
"Hmmm..." gumamku
Banyak yang ingin aku tanyakan. Namun lidahku terasa keluh. Melihat Karin didepan ku seperti melihat Om Sammy secara nyata.
...• • • • • ...
...Mengapa jatuh cinta itu begitu menyakitkan? ...
...Cinta membuat kita tidak mementingkan diri sendiri. Itu mendorong kita untuk memberikan segalanya, Bodoh? Memang....
...Meskipun Terkadang aku berharap jika diriku ini akan tenggelam dalam kapal. Dan berharap terhanyut dalam kelam agar kisah piluku hilang....
__ADS_1