
Aku mengerjapkan mata berkali-kali untuk mengusir sisa air mataku, agar pandanganku lebih jernih. Refleks, aku menahan napas saat menyadari sesuatu.
Apa aku tersesat?
Di hadapanku ada sebuah pondok tua. Terlihat sangat mengerikan dengan hiasan lumut dan semak di sekitarnya. Pohon-pohon pinus menjulang tinggi berdiri kokoh dalam jarak berdekatan.
Sepertinya kakiku berjalan seenaknya masuk ke dalam hutan tanpa ku sadari.
Bagaimana ini? Aku harus segera kembali!
Aku menarik napas dalam-dalam lalu menghelanya pelan-pelan untuk menenangkan diri.
Aku mulai menyusuri tempat ini, mulai berjalan sambil sesekali melirik jam tanganku. Pohon-pohon ini terlihat sama. Padahal aku hanya perlu berjalan kembali dari arah langkahku tadi. Namun aku benar-benar tidak tahu arah mana yang tadi aku lewati.
"Kok balik ke pondok ini lagi?" pekikku sambil menjambak rambutku sendiri.
Coba sekali lagi..huuftttt
Aaarrrrggghhhhhhhhh
Ini sudah keempat kalinya aku menemukan pondok tua ini. Yang artinya empat kali berjalan dan empat kali juga aku kembali ke tempat yang sama.
Duh! Bagaimana ini? Pikiranku frustasi
Aku mulai cemas.
Toloooooonngggggg!!!! Teriakku
Berharap ada orang yang bisa mendengarku. Namun sayang, hanya gema suaraku yang dapat ku dengar.
Ku lirik sekali lagi jam tanganku
Pukul lima sore, yang artinya aku sudah cukup lama berada di tempat asing ini
Om Sammy tolong April.
Bulu romaku berdiri. Tiba-tiba saja kudengar suara burung hantu. Hembusan angin laut semakin dingin. Kurapatkan sweater yang melekat di tubuhku. Kupeluk diriku sambil menyembunyikan telapak tangan ku dalam pelukku. Bibir ku mulai gemetar. Kakiku melemah.
__ADS_1
"Toloong!" teriakku sekali lagi.
Air mataku turun tanpa bisa ku cegah. Mengalir begitu saja. Ketakutan mulai menghantui.
"Tolong....." desahku putus asa.
Matahari mulai bersembunyi. Perlahan gelap mulai menyelimuti bumi. Aku semakin takut. Aku terus terisak dalam kesendirian. Otak ku terus memikirkan kemungkinan-kemungkinan buruk. Berada di tempat gelap seperti ini bisa saja ada binatang buas berkeliaran yang siap menerkam kapan saja. Barangkali juga ada hantu gentayangan yang kapan saja bisa muncul. Atau...... Jangan-jangan aku akan mati kedinginan, kelaparan di sini!!!!
Tidak...aku tidak mau
"Om....! Tolong... Om tolong April" desahku pelan. Rasanya suaraku telah raib di telan gelap. Bahkan bulan pun enggan menampakkan diri untuk menerangi jalanku.
Aku berjongkok sambil memeluk lututku di bawah pohon pinus. Angin malam semakin dingin, langit semakin menghitam pertanda hujan akan segera turun.
"Toloooo.....Ooom........ "
Rintik hujan perlahan mulai membasahi tanah.
Apakah ini akhir hidupku..?
"Toloooong....Oooommmm!!" teriakku sekali lagi.
Mataku membesar. Dengan cepat aku bangkit. Lalu berusaha mempertajam kemampuan telingaku. Sayup-sayup kudengar seseorang memanggil namaku
April.....
Om Sammy?
"Tolong!" teriakku dengan sisa tenaga yang kumiliki. Tubuhku masih menggigil. Aku berjalan pelan sambil tetap berpegang pada badan-badan pohon pinus ini, rintik hujan mulai menghujam bumi.
"April...Pril...." Om Samny berteriak lagi namun terdengar jauh.
Aku terus berjalan sembari menoleh ke kanan ke kiri ke depan ke belakang untuk mencari sumber suara. Namun hanya ada kegelapan yang membutakan mataku.
"Apriiiillllll!" teriak sebuah suara lagi
"Om Sammy, Tolong!" teriakku makin keras
__ADS_1
Kulawan hembusan angin dan air hujan yang meredam suara ku. Aku berharap Om Sammy bisa mendengarku.
"Aprill"
"Aprill"
"Aprill"
Aku mendengar suara itu, kupejamkan mataku berkonsentrasi mendengar asal suara itu
"Aprill"
"Aprill"
"Aprill"
Sepertinya aku tau suara itu dimana.
Aku menarik napas, lalu menghelanya pelan.
"Ooom! Aku di sini!!!!" teriakku
Tidak ada jawaban.
Aku menoleh lalu mulai melangkah kembali dengan hati-hati.
"Ooom! Aku di sini!!!!" teriakku lagi sambil terus berjalan menuju asal suara.
"Ooom! Aku di sini!!!!" lagi, lagi aku teriak.
Sunyi!!!
Kemana suara tadi?
Apakah aku berhalusinasi?
Oh Tuhan! Tidak..........
__ADS_1
...••••••••...