LOLIPOP

LOLIPOP
LOLIPOP 19


__ADS_3

Hari ini weekend yang artinya aku akan menginap di rumah orang tuaku. Dulu, ketika tiba saatnya aku harus menginap di sana aku akan mengeluh terus karena menginap di sana artinya tidak ada kebebasan untuk tidur nyenyak. Mamaku selalu saja mengomeliku untuk bangun pagi 'nanti jodohmu ditingkung orang loh' begitu lah kalimat yang selalu keluar dari mulutnya.


Sejak kapan jodoh di atur dari waktu kita bangun? Bukannya jodoh di tangan calon mertua ya?


Tetapi kali ini berbeda, menginap di rumah orang tuaku adalah agenda yang selalu ku tunggu. Kalian taukan kenapa? Yes Om Sam!


Setelah mandi dan mengenakan kaos oblong andalanku berserta celana pendeknya, aku melangkah ringan ke luar kamar. Senyum tersungging lebar di bibirku, menandakan moodku dalam tingkat super tinggi.


"Malam Mah, weeeh tempe goreng." kataku sambil mengambil sepotong tempe di meja.


"Tumben kamu ke sini tanpa Mama telpon dulu. Biasanya di suruh nginep aja kayak nyuruh cepet kawin." omel Mamaku.


"Salah lagi. Serba salah April kadang sama Mama, padahal April kan kangen Papa Mama" elakku, kangen Om Sam juga pastinya. Lanjutku namun hanya di dalam hati.


"Gitu dong, jadi Mama ngak perlu keluar tenaga extra buat nyuruh kamu pulang." duh ternyata masih ngomel saja nih bundadari.


"Ke depannya April janji akan sering-sering nginep di sini." kataku menenangkan Mama.


"Bener? Janji nggak pakai Mama ngomel dulu." katanya sambil menatap ku


"Lagian Mama mah emang doyan ngomel." kataku santai sambil terus memakan tempe goreng di meja. Eh tapi tunggu dulu kok kayak ada hawa panas ya.


Aku melirik ke arah Mamaku.


Buseeett. . Itu mata mau keluar apa.


"Eh Mah, April panggil Papa dulu ya sudah waktunya makan malam." ujarku untuk kabur dari macan betina Papa.


"Aprrrrrriiiiiillllllllll..."


"Sorry Mah. I love you." kataku sembari tertawa.

__ADS_1


"Panggil Om Sammy juga." teriak Mama


"Siap Bundadarii."


Hal-hal kecil seperti ini lah yang menghangatkan rumah kami. Rasanya sudah lama aku tidak saling bercanda dengan Mamah. Rindu? Jelas jangan ditanya lagi. Hal yang paling ku rindukan dari rumah ini adalah masakan Mama.


Aku menuju kamar orang tuaku, ingin memangil Papaku untuk makan malam, namun terhenti ketika aku mendengar suara Om Sammy.


"Karin, kamu bersabar sedikitlah. Aku kan baru saja pulang. Masa harus kembali ke Jerman lagi?"


Siapa karin?


"Iya... Iyaaa... Aku sayang kamu.. Enggak. Kamu bisa tanya sama dia. Iya, enggak kok. Kamu harus percaya sama aku Karin." Om Sammy seolah sedang membujuk wanita bernama Karin itu diseberang teleponnya.


Kini seluruh anggota tubuhku membeku. Rasanya sendi-sendi tulangku tidak mampu ku gerakkan barang satu incipun. Dapat kurasakan udara di sekitarku semakin menyempit. Sesak! Sakit!


Aku tersadar, saat Papa menepuk pundakku.


"Eh, tadi mau manggil Papa tapi tiba-tiba perut April mules."


"Aku ke kamar dulu yah Pah." lanjutku sambil melangkah ke kamarku.


Siapa Karin?


Apa dia kekasih Om Sammy?


Ketika menemukan kata 'kekasih' sebagai dugaan terkuat. Jantungku nyaris berhenti berdetak.


Apakah aku pantas bereaksi seperti ini?


Aku hanya seorang keponakan dari Om Sammy. Yang seharusnya sama sekali tidak boleh terbakar api cemburu.

__ADS_1


Tapi aku bersumpah, ini sangat sakit.


Sakit yang begitu nyata. Baru kali ini kurasakan perih yang begitu kentara hanya karena mendengar pria yang kucintai membujuk seorang wanita yang bernama Karin begitu mesranya. 'Aku sayang kamu' kalimat yang sesungguhnya ingin aku dengar untukku bukan yang lain.


Tanpa kusadari, ternyata Om Sammy masuk ke kamarku.


"Pril." panggilnya


"Kamu kenapa?" tanya Om Sam panik. "Kamu menangis?" lanjutnya.


"April tidak apa-apa. Tadi ke gigit semut." jawabku asal


"Nakal ya semutnya, sampai nangis gitu." godanya sambil mengacak-acak rambutku.


Aku tidak berkutik. Aku hanya diam dan membiarkan dia melakukan sesukanya.


Lemah? Ya. Aku lemah akan pesonanya.


Hening beberapa saat. Bahkan aku tidak dapat mendengar teriakan Mamah. Entah mengapa aku sangat menikmati sentuhan tangan Omku. Hal biasa saja bagi sebagian orang namun sungguh luar biasa untuk tubuhku.


Aku memang bodoh. Tolol


Om Sammy bukan anak SMA lagi. Bukan anak ABG, tidak mungkin dia tidak memiliki kekasih di usia matang nya. Mungkin bahkan sebentar lagi dia akan melamar kekasihnya, kemudian me.... Aaahh menyebut kata itu saja sudah membuat dadaku terasa semakin perih. Miris bukan?


Apa jika dia masih singel aku dapat memilikinya?


Nyatanya, selamanya aku hanya bisa bertahan sebagai keponakan untuknya.


Yah, keponakan! Anak dari kakak kandungnya.


Dosa kah aku jika berharap dia bukan adik kandung Ibuku?

__ADS_1


...••••••••••••...


__ADS_2