
Senin pagi...
Akhirnya semua siswa SMA Harapan Jaya tahu vigo ternyata tak bersalah. Dan biang kerok semua kekacauan itu adalah ricko. Ternyata rickolah si pelapor hilangnya piala karate ke kepala sekolah. Sudah tentu ricko mendapatkan sanksi berat dari sekolah atas perbuatannya itu.
Aninda menceritakan semuanya pada restiana setelah restiana menceritakan kejadian dirumah marsya. Restiana hampir menangis mendengar cerita sahabatnya itu.
"Dan sekarang aku mengerti maksud kalimat Kita boleh menanti, tapi jangan terlalu menanti yang tak pasti" ujar aninda lemah.
"Maksudnya apa nin?" tanya restiana penasaran.
"Alasan cewek yang terus menanti cowoknya karena dia menanti sesuatu yang tak pasti, yaitu si cowok"
"Nin, aku tetep bingung"
"Aku juga sebenernya bingung" aninda tersenyum melihat ekspresi lugu restiana.
Tiba-tiba wajah restiana berubah menjadi sendu. "Ricko bakal pergi ke London hari ini"
"Kamu udah ketemu dia?"
Restiana menggeleng pelan. "Mau nggak temenin aku kerumahnya sepulang sekolah?"
"Kayaknya aku nggak bisa res. Aku belum siap ketemu dia. Mungkin ini memang belum saatnya"
Restiana tersenyum kecil, berusaha memahami perasaan aninda.
Aninda enggan bertemu ricko yang telah berlaku licik dibelakangnya.
***
Yovi membenahi catatan seluruh kegiatan OSIS, lalu memasukkannya ke salah satu lemari diruang OSIS. Ia menoleh saat pintu ruang OSIS berderit. Ternyata marsya yang membukanya. Wajahnya masih pucat. Yovi sempat heran melihatnya memaksakan diri ke sekolah.
"Urusan OSIS udah beres kok sya" kata yovi.
"Aku kesini mau minta maaf atas perbuatan adikku padamu" Marsya tulus mengatakannya.
"Semua udah berlalu sya, ngapain sih dibahas lagi?" Yovi tampak cuek sambil terus sibuk menata berkas-berkas.
"Marsya memeluk yovi dari belakang. "Biar kita seperti ini beberapa detik aja yov. Aku..." Marsya jatuh pingsan sebelum sempat melanjutkan kata-katanya.
***
Waktu restiana tiba dirumah ricko, sebuah koper jumbo terlihat diruang tamu. Ricko kaget melihat kehadiran restiana.
"Rick, kamu mau pergi?" Tanya restiana sedih.
"Ya res, aku mau ke London. Aku pengen nyari kedamaian disana. Res, maafin aku ya." Ricko mendekati restiana, kemudian memegang kedua tangan cewek itu.
"Ma..af karena apa rick?" tanya restiana terbata. Dia grogi tangannya dipegang oleh orang yang sangat dicintainya.
"Karena aku belum bisa membalas cintamu"
"Nggak papa rick" ujar restiana lirih.
"Res, aku mesti berangkat sekarang, pesawatku berangkat sebentar lagi. Sampein maafku pada temen-temen ya. Terutama pada aninda dan vigo. Aku bener-bener nyesel"
Restiana hanya mengangguk lemah.
Sebelum naik ke mobil, ricko mengecup kening restiana. Hari itu restiana bahagia sekaligus berduka.
***
"Sya?" yovi mengelus kening marsya lembut saat marsya siuman.
Mata marsya mengerjap karena sinar lampu diruang UKS.
"Yov, tadi aku mau bilang bahwa aku..."
"Aku cinta kamu sya" yovi memotong kalimat marsya.
Marsya mendengarnya tak percaya. "Yov? Aku mimpi? Aku masih pingsan?"
__ADS_1
Yovi tersenyum lepas, kemudian mengecup kening marsya.
"Kamu udah bangun, marsya sayang. Kamu mau jadi cewekku lagi kan?"
Air mata marsya mengalir, tak sanggup mengatakan apa-apa. Ia mengangkat badannya untuk memeluk yovi.
Sebenarnya yovi memang tak pernah berhenti mencintai marsya. Dulu ia pernah mencintai aninda, tapi ia menyadari aninda hanya cinta sesaat atas sakit hatinya karena marsya. Ia mulai yakin marsya mau berubah untuknya saat marsya tak mau lagi memakai aksesori lebay, juga tak pernah lagi memoles wajahnya. Marsya berusaha keras menjadi dewasa, dan itu membahagiakan yovi. Dengan demikian marsya membuka dirinya agar yovi bisa mencintai marsya apa adanya, termasuk menerima semua kekurangan marsya.
***
Hari pembagian rapor di SMA Harapan Jaya tiba. Sabtu yang lumayan cerah mengingat akhirakhir ini hujan selalu turun. Karena semester satu, rapor tidak perlu diambil oleh orangtua, melainkan langsung diberikan kepada masing-masing siswa. Warga kelas aninda sudah lengkap pagi itu. Sesuai urutan abjad, aninda tak perlu menunggu lama untuk menerima rapor.
"Aninda chandraningsih" panggil Bu Purwanti, wali kelasnya.
Aninda berlari kecil ke depan.
Bu Purwanti sedikit heran melihat aninda yang biasanya tidak bisa diam.
"Kenapa hari ini, nin?" tanya Bu Purwanti heran.
"Nggak papa kok, Bu" jawab aninda lesu.
"Nin, you must know it. Sometimes the time when we really love him is the time we should actually let him go"
Aninda tercengang mendengar kalimat Bu Purwanti, yang sama sekali tak ia mengerti.
Bu Purwanti tertawa melihat wajah ***** aninda. "Terkadang pada saat kita benar-benar mencintainy, justru kita harus merelakannya"
Aninda tersenyum kecil, mencoba memahami makna kata-kata mutiara dari Bu Purwanti. Kemudian ia berbalik menuju bangkunya.
"Nin, kamu ranking satu ya? Kok tadi Bu Pur kelihatan seneng banget?" Bisik rossi penasaran. Rossi khawatir kalah saing dari aninda, yang terkenal rada bodoh.
"Tenang ros, masih kamu yang ranking satu kok!" Jawab aninda asal.
Rossi langsung cekikikan, senangnya bukan main.
***
Aninda mengeluh pelan, rasanya ia takkan semangat menjalani hari esok. Apalagi liburan panjang yang bakal sangat membosankan telah menantinya.
***
Liburan telah berjalan satu minggu. Benar dugaan aninda, liburan justru bikin frustasi. Benarbenar tak ada yang bisa membuatnya bergairah. Yang ada hanya omelan ibunya setiap pagi, yang menyuruhnya ini-itu. Bahkan aninda harus mengisi malam tahun baru bersama anak-anak kecil dikompleks rumahnya dengan menonton kembang api dilapangan.
Aninda pusing sekaligus iri pada teman-temannya. Bagaimana tidak? Yasmin dan satriya sedang bulan madu di Australia, menggantikan bulan madu mereka yang tertunda. Restiana bersama keluarganya berlibur ke Hongkong. Yovi dengan marsya jalan-jalan ke Bali.
Astaga! Kepala aninda hampir pecah memikirkan kesenangan dan nasib baik mereka. Mereka pasti tak tahu kondisi dirinya yang begitu mengenaskan. Si pengecut vigo pasti juga sedang asik di Amerika. Ah, lagi-lagi vigo. Seharusnya ia melupakan vigo karena kali ini pangeran kecilnya itu benar-benar tak akan kembali.
"Aninda, waktunya cuci piring!" Seru ibunya nyaring.
Aninda mendengus kesal. "Yes, mam!"
***
Dua minggu yang berjalan begitu lambat...
Sebuah undangan bersampul merah tergeletak di depan aninda. Undangan pesta pernikahan yasmin dan satriya. Itu beban untuk aninda, mengingat ia tak punya pakaian pesta yang layak. Apalagi pestanya di hotel berbintang yang baru saja diresmikan. Hotel yang dibangun dibekas SDnya. Hotel yang di halamannya ada pohon kenangannya.
Dalam kebingungan aninda mendengar suara mobil berhenti, yang kemudian disusul dengan suara derit pintu pagar rumahnya. Marsya datang sendirian, tanpa yovi. Aneh sekali.
"Nin, kamu mesti ikut aku" kata marsya setelah memberi salam.
"Ada apa kak? Kok pagi-pagi begini?" Tanya aninda bingung.
"Kamu diundang ke pesta pernikahan yasmin kan?"
Aninda mengangguk cepat.
__ADS_1
"Kamu udah beli kado buat dia? Udah ada baju yang mau dipake ntar malem?" Sekarang aninda menggeleng cepat.
"Ya udah, ganti baju sana. Kita belanja gila-gilaan hari ini"
Tanpa aba-aba aninda bergegas kekamar, mengganti bajunya dengan celana jeans dan cardigan merah.
***
Ternyata marsya membawa aninda ke mal paling mewah. Marsya langsung mengajak aninda ke tempat yang menyediakan gaun-gaun pesta. Kaum shopholic pasti ngiler melihat keindahan gaun-gaun glamor disitu.
"Ayo nin, pilih baju yang kjamu suka. Kok malah bengong?" Kata marsya sedikit geli dengan keluguan aninda.
"Aduh kak, aku nggak punya duit buat beli gaun mahal begini" kata aninda jujur.
"Nggak usah mikirin itu nin. Aku yang traktir"
"Tapi, kak..."
"Kamu tenang aja"
Terpaksa aninda menuruti marsya. Tapi untuk memilih gaun yang pas saja aninda tidak becus. Marsya lagi-lagi menggeleng melihat aninda yang sejak tadi bingung. Beberapa kali aninda mencoba gaun-gaun itu, tapi ada saja yang membuat aninda tidak suka. Seperti belahan dada yang terlalu rendah, terlalu mini, warna terlalu ngejreng, pokoknya ada-ada saja alasan aninda.
Marsya sendiri sudah menemukan gaun yang pas untuknya. Gaun pink selutut dengan lengan dibagian kiri saja. Aninda berdecak kagum menyaksikan keanggunan marsya saat mencoba gaun itu.
"Ini aja ya nin!" Marsya menunjuk gaun merah yang indah.
Saat mengenakannya, aninda terkejut. "Aduh kak, gaun ini nggak ada lengannya. Dan bawahnya juga pas diatas lutut"
"Udah deh nin, ini bagus banget. Cocok untukmu" kata marsya mencoba meyakikan aninda.
Dengan berat hati akhirnya aninda setuju untuk mengenakan gaun itu nanti malam. Ia merasa tak enak pada marsya yang mulai kelelahan mencarikan gaun untuknya. Berikutnya mereka pergi ketempat pernak pernik untuk mencari kado. Kali ini aninda mantap memilih sendiri kadonya.
Baru sekitar pukul tiga sore mereka keluar dari pusat pembelanjaan itu dengan menenteng tas belanjaan.
"Nin, aku udah izin sama orangtuamu supaya kamu boleh langsung ke pesta nanti malem. Jadi setelah ini kamu nggak usah pulang dulu" celoteh marsya saat mobil mulai berjalan.
"Terus, sekarang kita mau kemana kak?" Aninda sedikit heran dengan rencana marsya yang tersusun rapi.
"Kerumahku. Kita mesti dandan, dan waktunya pasti nggak sebentar"
***
Dalam undangan tertera pesta pernikahan yasmin dimulai pukul tujuh malam. Aninda dan marsya sudah siap, tinggal menunggu dijemput yovi, marsya tampak begitu cantik dan berkilau. Yang tidak biasa aninda. Ia benar-benar cantik walaupun hanya diberi sedikit polesan diwajahnya. Rambut aninda diombak besar-besar sehingga terkesan alamiah dan indah pastinya. Gaun merah tadi memang pas dan bagus dibadannya, belum lagi sepatu hak tinggi bertali hitam yang membuatnya terlihat anggun. Marsya benar-benar sukses mengubahnya menjadi cinderella.
"Oke, dua putri yang sudah siap ke pesta malam ini" ujar yovi saat tiba diruang tamu marsya.
Setelah berpamitan, ketiganya berjalan memasuki mobil yovi yang diparkir di luar gerbang.
"Siap sayang?" Tanya yovi pada marsya yang duduk disampingnya. Aninda duduk dibelakang, menatap sepasang kekasih itu dengan iri.
"Oke, kita berangkat" mobil yovi melaju dengan kecepatan standar menuju tempat pesta.
***
Aninda menatap pohon besar yang penuh kenangan itu. Pohon yang berdiri indah dengan ranting-ranting menjuntai seakan ikut menyambut para tamu. Aninda menunduk lesu, memikirkan masa lalunya yang penuh sekarung harapan dibawah pohon itu.
"Yuk nin!" Ajak marsya sambil menggandeng yovi dengan mesra. Aninda berjalan di sebelah marsya.
Dekorasi pesta yang mewah dan gemerlap indah seakan menyihir perasaan aninda hingga sejenak melupakan duka dan kenangan. Tamu yang datang mengalir tanpa henti hingga berjibun jumlahnya. Benar-benar pesta yang megah dan meriah. Mereka berada di ruang bergaya timur tengah yang dipenuhi pohon palem serta dominasi warna emas.
"Aih, yasmin, kamu cantik banget!" Puji marsya sewaktu menyalami yasmin.
"Duh, makasih. Kamu dan aninda juga cantik malam ini!" Balas yasmin sungguh-sungguh.
"Selamat ya yas!" Ujar aninda saat gilirannya bersalaman.
"Okay my baby, muka kamu kok kurang senyum ya?" Cibir yasmin menggoda mantan teman sebangkunya itu.
"Ye, perasaan kamu doang tuh!" Aninda mengerucutkan bibirnya. Ia tak bisa lama-lama mengobrol dengan yasmin karena tamu yang lain sudah mengantre di belakangnya. Gilirannya menyalami satriya. "Selamet ya sat"
Satriya mengangguk. "Nin?"
__ADS_1
"Apa?"
"Jemput pangeranmu di bawah pohon cinta kalian".