
yov, aku pengen kita putus” kata marsya pada hari kenaikan mereka kekelas sebelas. Itu berarti mereka sudah setahun berpacaran.
Yovi menatap marsya lekat-lekat, tak percaya dengan indra pendengarannya. Ia merasa ,ereka tidak punya masalah serius.
“aku suka vigo yov. Satu tahun sekelas sama dia bikin rasa itu dating” jelas marsya lirih.
Yovi mengusap air mata marsya yang mengalir deras. Ia tahu marsya sedang tak berdaya sekarang, tapi kenapa mesti vigo?
“jangan sya”
Marsya menggeleng. “aku bakal tambah nyakitin kamu kalau hubungan kita terus berlanjut” “nggak sya! Aku cinta kamu!” teriak yovi berang.
Akhirnya yovi ditinggal marsya. Jangan tanya betapa rasa sakit menerjang hati yovi, tapi ia berusaha tegar dihadapan semua orang dekatnya. Sejak saat itu marsya tak pernah menyapanya lagi. Rasa pedih yovi tumbuh membesar setiap hari. Yovi terlalu mencintai marsya!
***
Vigo begitu cemas ketika kembarannya pulang dalam keadaan mabuk. Ia langsung memapah yovi kekamar. Dengan susah payah vigo membersihkan tubuh terbaring yovi yang bau alkohol.
“aku suka anin vig. Marsya pasti merasakan sakit yang sama seperti rasa sakitku dulu” yovi melantur. Tapi itu curahan terdalam dari hatinya dan vigo tahu kejujuran pernyataan kembarannya. “aku cinta aninda” tambah yovi mantap.
Vigo merasakan dadanya berdegup keras, kegetiran merayapinya. Ia tak ingin menyakiti kakaknya lagi. Dulu ia pernah menyakitinya dan sekarang ia tak boleh mengulanginya. Tak boleh!
***
Satu minggu kemudian…
Suasana SMA Harapan Jaya sudah terasa heboh sejak sabtu pagi. Padahal tim basket mereka baru akan bertanding dilapangan pusat sore nanti. Murid-murid siap dengan pernak-pernik dan perkakas perang seperti T-Shirt , bandana, bendera kecil, dan gendang mini untuk mendukung tim sekolah mereka.
“nin ntar sore nonton vigo tanding kan?” Tanya yasmin dengan nada meledek.
Yang diledek tampak kesal. “ogah nonton makhluk mars. Mending nonton cowok kamu yas” “seenaknya, main embat aja!” yasmin menjitak pelan kepala aninda.
“sakit tau!” teriak aninda keras. Untung saja jam pelajaran mereka kosong sejak pagi, jadi melakukan kegaduhan apa apun takkan ada yang melarang.
Pikiran aninda melayang kepada rencana nanti sore. Yovi mengajaknya berangkat bareng. Vigo si makhluk mars juga mengajaknya bareng. Aduh, gimana nih? Batin aninda panik.
Sebenarnya kalau disuruh memilih, aninda lebih milih berangkat bareng yovi. Cowok itu selalu bersikap lembut padanya, tidak seperti vigo yang sering emosian dan galak. Tapi entah kenapa berada dekat vigo membuat dirinya merasa terlindungi. Seperti ada tameng yang tak terlihat. Aninda memejamkan mata kuat-kuat.
Restiana yang melihat kelakuan aninda segera menggoyangkan tubuh sahabatnya itu. “nin!
Kesurupan ya?”
Aninda segera membuka lebar matanya. “nggaklah res. Emang kamu!” Restiana tersenyum kecil. Ah, aninda memang selalu membuatnya tersenyum.
“yasmin kemana?” Tanya aninda menyadari yasmin tak ada disampingnya.
“ya Tuhan kesurupan beneran kamu nin! Tadi kan dia pamit mau nonton satriya latihan terakhir.”
Aninda manggut-manggut dengan ekspresi bingungnya. Tiba-tiba terlintas ide di benaknya. “nonton juga yuk”
***
“nin, ntar sore nonton bareng yuk! Aku jemput!” teriak ricko, berusaha melebihi suara riuh penonton.
“aku nggak bisa rick. Kamu telat sih” jawab aninda sedikit kagok karena melihat ekspresi restiana tiba-tiba berubah jadi mendung. “sama restiana aja!”
Ekspresi restiana berubah menjadi cerah, sedangkan keceriaan ricko meredup pelan-pelan.
“yah, lihat ntar deh” ujar ricko dingin tanpa membuat keputusan apa pun.
Aninda terus memandangi pemain dengan nomor punggung tujuh yang tak lain adalah vigo. Ia tertegun kagum melihat cara bermain vigo yang gesit dan menakjubkan. nih makhluk mars kebangetan hebatnya. Jago basket, nyanyi, main gtar, pinter disekolah, ganteng, keren, eh tajir pula. Batin aninda penuh puja-puji buat vigo. Astaga, aku mikir apa sih? Hati aninda bergejolak. Ia tak mau mencintai cowok lain kecuali umar!
***
“kita emang mesti kasih pelajaran ke tuh cewek!” geram merli setelah mendengar cerita marsya.
“bener mer!” syifa membebek seperti biasa. Marsya menggigit bibir bawahnya. “kapan?” “sabtu depan!” kata merli dan syifa mantap.
“kenapa sabtu depan?” marsya mengerutkan kening tak paham.
“yovi dan vigo perwakilan lomba cerdas cermat kan? Sabtu depan bisa dipastikan keduanya tak ada disekolah” jelas syifa takjub dengan dirinya yang tak sebodoh biasanya.
Senyum maut ketiga cewek itu merekah.
Biar aninda tahu siapa aku, batin marsya girang.
Marsya memang tipe cewek ambisius yang bisa menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang ia mau. Setelah putus dari yovi, suasana hatinya menjadi sulit ditebak. Kalau benar ia sudah tak menyukai yovi, kenapa rasa cemburu membakarnya ketika yovi bersama cewek lain?
Marsya menyukai vigo, tapi entah kenapa dirinya tak mau bersusah payah untuk mendapatkan cinta vigo. Dan alasan dirinya memberi pelajaran pada aninda juga kurang jelas. Sungguhkah ia cemburu karena kedekatkan aninda dengan yovi?
***
Aninda memoles wajahnya dengan bedak tipis-tipis. Rambut terurai dengan bandana hitam diatasnyamembuat tampilannya menjadi sportif. Celana jin hitam ketat dan kardigan merah membantu memancarkan kecantikkannya. Ia tersenyum kearah cermin, mengecek kalau-kalau ada makanan disela-sela gigi.
Suara mobil menderu pelan didepan rumah terdengar jelas dari kamar aninda. jantung cewek itu berdetak kencang. Itu berarti ia akan pergi bersama yovi. Ada sesuatu yang berbeda kali ini. Ia berharap vigolah yang menjemputnya. Dia cowok pemarah aninda. ingat itu! Begitulah suara penolakan dipikirannya.
Aninda mengecek penampilannya sekali lagi kemudian keluar menemui si pemilik mobil.
“hati-hati nin” ujar ibu aninda seperti mau ditinggal putrinya kenegeri jiran menjadi TKI illegal.
Aninda memutar bola matanya lalu buru-buru mencium punggung tangan ibunya. Bergegas ia masuk ke mobil yovi.
“lelet amat sih!” suara dari kursi belakang mengagetkan aninda. Vigo.
“vigo maunya nebeng nih!” kata yovi sambil menjalankan mobil.
__ADS_1
“maklum kok” ujar aninda sedikit meledek vigo.
“takut aja ntar pulang nggak kuat bawa motor” ujar vigo dingin.
Aninda melirik vigo dari spion. Terlihat vigo duduk santai dalam baju basketnya. Aninda betah bila melihat vigo sedang diam seperti itu. Tatapan mata vigo tak sedingin saat dia termenung. Aninda sekarang tahu, vigo tak sejahat kelihatannya. Dia hanya kesepian.
***
Gelanggang olahraga tampak sesak dijejali berates-ratus penonton yang sudah melewati antrean dipintu masuk. Aninda melihat takjub. Ini pertama kali ia menonton final basket tingkat nasional secara langsung.
“jangan gugup gitu nin” yovi rupanya menyadari kegelisahan aninda.
“cewek payah! Nonton aja gugup kayak gitu” vigo menyindir seperti biasa.
Aninda memeletkan lidah kearah vigo. “kita lihat siapa yang ternyata payah? Paling babak pertama kamu udah nyerah”
Vigo tersenyum dengan bibirnya yang naik sebelah. Sebenarnya ingin sekali ia menjitak kepala aninda, tapi karena ada yovi ia mengurungkan niatnya.
***
“aninda kok belum dating juga?” Tanya yasmin cemas pada restiana dan ricko. mereka bertiga meilih duduk ditribun paling depan. Alasannya agar bisa melihat pertandingan dengan jelas.
“paling lagi dijalan. Yovi-vigo juga belum nongol” restiana berusaha menenangkan yasmin yang sejak tadi gelisah.
“tuh dia” kata ricko sambil menunjuk aninda yang berlari ke arah mereka.
“maaf telat, tadi mesti berantem dulu sama vigo diruang pemain” jelas aninda dengan napas memburu. Ia memilih duduk diantara ricko dan yasmin. Disebelah kiri ricko ada restiana.
“kenapa lagi?” Tanya restiana pelan.
“biasalah masalah nggak penting. Nggak tahu mau dia sebenarnya apa!” ujar aninda sewot.
“udah, udah. Mau mulai nih!” yasmin menyikut aninda.
Penonton hening ketika wasit memasuki lapangan. Lalu kembali riuh ketika kedua tim memasuki lapangan.
“akhirnya pertandingan final yang kita tunggu-tunggu…” suara komentator membahana melalui speaker disudut-sudut lapangan. “SMA Harapan Jaya melawan SMA Nusantara!” Tepukan riuh para penonton semakin keras.
Ditribun seberang siswa-siswa SMA Nusantara mulai menyanyikan yel-yel penuh semangat.
“ayo satriya!” yasmin berteriak kencang membuat gendang telinga aninda berdenging.
Siswa kelas sebelas SMA Harapan Jaya kompak meneriakkan yel-yel pendukung sekolah mereka.
Tubuh aninda merinding menyaksikan begitu hebatnya kejuaraan basket ini.
“sori telat. Aku mesti beresin tugas dibawah dulu” tiba-tiba yovi muncul dan langsung mengambil tempat disamping aninda.
Yasmin bergeser sedikit namun tidak terlalu peduli dengan kehadian yovi. Tangannya mengepal kuat saat melihat satriya menembak bola namun gagal.
“yasmin emang suka gugup gitu” ujar aninda tersenyum pada yovi.
“mirip kamu dong!” ledek yovi.
***
Ricko memandang kea rah yovi dengan tatapan dingin, gelora panas dalam batinnya kini datang lagi.kakak-adik sama aja, pikir rikco gusar. Sedari awal ricko memang tak menikmati pertandingan karena restiana kentara sekali mendekatinya. Gadis itu selalu berusaha membuka obrolan dengan ricko, memuji-muji ricko, membuat ricko merasa tidak nyaman. Ia tidak menyukai restiana, hatinya sudah tertambat pada aninda.
***
Marsya berusaha menstabilkan napasnya yang ngos-ngosan sesuai tampil sebagai cheerleader. Ia memandang sekilas ke yovi yang sejak tadi tertawa ceria bersama aninda. tangannya mengepal erat, napasnya memburu. Marsya tak menyadari dirinya sedang cemburu. Yang ia tahu, ia tak ingin yovi dekat dengan cewek kampungan seperti aninda. Menurutnya, aninda tak pantas mejadi pendamping yovi. Sebenarnya ia juga menginginkan ricko berhenti mencintai gadis itu, tapi itu justru membuat ricko gusar padanya.
Baginya, aninda hanyalah gadis kampong yang aneh. Tak ada yang spesial dalam diri aninda. gadis dengan kulit sawo matang, rambut yang tak pernah tersentuh salon, wajah tanpa make-up. Benar-benar bertolak belakang dengan dirinya. Entah apa yang dilihat cowok-cowok itu, batin marsya geram.
***
“nin aku ke toilet sebentar ya?” pamit yasmin sambil bergegas meninggalkan bangku penonton. Kekalahan tim SMA Harapan Jaya pada babak pertama membuat yasmin pucat seperti bulan kesiangan. Tingkat senewen yasmin makin menjadi-jadi sehingga ia harus ke toilet.
***
Aninda tampak gelisah. Sudah memasuki kuarter keempat, tapi yasmin tak juga kembali. Aninda bergerak panik menoleh ke belakang, berharap yasmin segera tiba.
Pikiran aninda meraba-raba.
Satu menit, yasmin bercermin sebentar.
Dua menit, yasmin keluar dari toilet.
Tiga menit, yasmin melangkah menuju tribun. Pasti jalan menuju tribun penuh sesak sehingga langkahnya terhambat.
Sepuluh menit…
Aninda menoleh kaget seketika seseorang mengguncang pundaknya. Ternyata riska, teman sekelasnya yang tampak panik.
“yasmin pingsan di toilet.” Tubuh riska bergetar hebat ketika mengatakannya.
Seketika aninda menjadi kalang kabut. Tanpa memberitahu yang lain ia langsung berlari bergandengan dengan riska.
***
Dada aninda naik turun sewaktu mendapati yasmin yang terbaring tanpa daya diruang pemain. Tim medis baru selesai memeriksa yasmin. Kepanikan merayap aninda. kata riska, tadi yasmin ditemukan tergeletak disalah satu bilik toilet dengan mulut penuh busa. Untunglah riska ke toilet bersama teman-teman sehingga mereka bisa berbagi tugas dengan cepat.
Setelah menggotong dan memindahkan yasmin keruang pemain, riska buru-buru mencari aninda.
__ADS_1
Yovi yang tadi ikut berlari dibelakang aninda berusaha menenangkan semua orang. “tenanglah. Ambulans yang memang disiagakan untuk pertandingan besar ini siap membawa yasmin kerumah sakit.”
***
Selama perjalanan kerumah sakit, didalam ambulans aninda terus-menerus terisak. Ia masih kaget. Restiana menyandarkan kepala aninda dibahunya.
Mobil Jazz yovi mengiringi persis dibelakang ambulans. Karena tak ingin konsentrasi satriya yang masih bertanding menjadi kacau dengan berita yasmin, mereka menunda memberitahunya. Tapi sebelum berangkat, yovi sempat menitipkan pesan untuk satriya lewat pelatihnya.
“udah nin, yasmin pasti baik-baik aja” hibur restiana lembut.
Bersama yovi dan ricko, mereka duduk dengan gelisah dikoridor rumah sakit.
“nggak res, yasmin belum pernah begini!” kata aninda tetap panik.
Yovi dan ricko hanya diam. Semua menunggu dokter yang sedang memeriksa yasmin.
Sebenarnya ingin sekali ricko memeluk aninda, mengusap pipinya yang dipenuhi bulir air.tapi ia tak kuasa, ada begitu banyak mata yang tak menginginkan ia berlaku begitu.
Akhirnya dokter yang memeriksa yasmin keluar juga. Aninda langsung berdiri dan setengah berlari menghampiri dokter. “gimana keadaan yasmin dok? Dia kenapa?”
“mmm… kamu keluarganya?” Tanya dokter itu tenang.
“kami temannya dok”
Yovi, restiana, dan ricko sudah bergabung dengan aninda.
“keluarga sedang dalam perjalanan” imbuh yovi tenang.
“yasmin hamil.” Jelas dokter itu sambil menatap para remaja dihadapannya. “kalian sudah tahu hal ini sebelumnya kan?”
Mereka berempat menggeleng bersamaan.
Dokter itu mengelap kening perlahan. “saya harus berbicara serius dengan orangtuanya. Yasmin mencoba mengugurkan kandungannya dengan pil yang dia telan tadi. Saya tinggal dulu ya. Kalau orangtuanya dating, segera hubungi suster jaga.
Lagi-lagi mereka berempat mengangguk. Kali ini dengan tatap hampa. Masing-masing sulit memercayai kabar yang baru mereka dengar. Apalagi aninda dan yasmin berteman sejak kecil.
Aninda melangkah gontai menuju kamar yasmin. Dengan bahasa tubuh yovi menyuruh ricko dan restiana untuk tetap menunggu dikoridor. Sepatutnya mereka memberikan kesempatan kepada aninda untuk berbicara empat mata dengan yasmin. Aninda begitu syok, kaget, kecewa, iba, dan sayang menjadi satu.
Wajah yasmin tampak pucat. Ada infuse didekat pergelangan tangannya. Perlahan aninda duduk disamping tempat tidur, kemudian mengelus kening yasmin lembut. Air mata kembali menuruni pipinya, pedih melihat yasmin terbaring lemah.
Mata yasmin membuka perlahan menatap aninda. “maaf nin” katanya parau.
Aninda menggeleng lemah. “siapa yas? Satriya?”
Yasmin mengangguk pelan. Air mata mulai mengalir deras.
Aninda langsung memeluk yasmin lalu mengusap-usap rambutnya dengan penuh kasih saying.
“ssshh…”
Tangis yasmin makin menjadi, seperti jeritan sesal atas perbuatannya. Rasa malu mulai menjalarinya, malu pada aninda yang sejak kecil bersamanya. Malu pada Tuhan karena dosa ini. Orangtuanya pasti kecewa, sedih, marah, dan entahlah. Ia juga tahu sekolah akan mengeluarkannya. Mengapa dulu ia tak berpikir sejauh itu? Oh!
***
Satriyo dan vigo tiba dirumah sakit. Dengan panik dan tergopoh-gopoh satriya menerobos masuk kekamar yasmin untuk menemui kekasihnya.
Mendengar pintu kamar terbuka dan melihat satriya bergegas mendekati ranjang. Aninda langsung berbalik dan menampar satriya, meluapkan segala sakit hatinya.
“kenapa satriya?” teriak aninda histeris pada satriya sambil menarik kerah baju cowok itu.
“aku, aku…” satriya tak kuasa menjawabnya.
“udahlah nin. Aku juga ikut bersalah.” Ujar yasmin lirih masih terisak.
“kamu mesti tanggung jawab sat! kalian kan baru jadian kemarin!” aninda masih histeris.
“ceritanya nanti saja nin” jawab satriya gemetar.
Dengan langkah besar aninda meninggalkan kamar. Perasaan terluka benar-benar membuatnya kacau.
Melihat aninda keluar, yovi yang menunggu di depan kamar langsung memeluknya erat. Spontan aninda menangis dipelukan yovi, mengisi kesalahannya karena merasa tak bisa menjaga sahabatnya. Menangisi kebenciannya pada satriya, dan menangisi kekecewaannya pada yasmin. Ia menangis sejadinya, meluapkan emosi yang tak terbendung lagi.
Di kursi koridor tak jauh dari kamar yasmin, seorang cowok bangkit berdiri. Diam-diam vigo meninggalkan rumah sakit.
***
“kami sudah saling mengenal sejak liburan kelulusan yasmin nin. Kami jadian udah lama tanpa sepengetahuan kamu” jelas satriya.
Aninda mendelik.
“maafin atas semua kesalahanku nin” satriya mengucapkannya dengan tulus.
Kini koridor sepi karena ricko, yovi, dan restiana sedang menemani yasmin dikamar.
Aninda mendengus kesal. “penyesalan mu telat sat!” “aku ngelakuin ini sama yasmin karena aku cinta dia nin”
Aninda tertawa getir. “cinta? Kamu bilang ini cinta sat?” Satriya tak menjawab.
Aninda menatap tajam ke arah satriya. “ini yang namanya cintamu, sat?! dengan ngancurin masa depan yasmin dan masa depanmu sendiri? Iya sat? nggak sat. asal kamu tahu ya, ini bukan cinta.
Itu cuma nafsu sesatmu. Pinter banget kamu manfaatin kepolosan yasmin.” Satriya tertunduk lesu. Rasa sesal di hatinya tak terhitung lagi.
“aku bener-bener nggak nyangka sat. jujur aku kecewa. Banget! Aku nggak tahu mesti gimana sekarang. Masa depan yasmin ancur. Kamu bisa ngembaliin itu semua? Nggak kan? Kamu juga pasti nyesel kan?” aninda benar-benar kacau-balau.
Satriya menatap aninda tajam. “aku bakal tanggung jawab nin. Aku bakal nikahin dia. Aku nyesel nin, aku nyesel. Tapi aku janji bakal ngebahagiain yasmin.”
“kupegang kata-katamu!” ancam aninda keras.
Pembicaraan panas mereka berakhir saat kedua orangtua yasmin datang dengan wajah cemas.
Aninda dengan segera mengajak teman-temannya pulang. “pulang dulu ya yas. Cepat pulih” pamit aninda lembut.
__ADS_1
Tak ada obrolan yang mengiringi langkah mereka sewaktu meninggalkan rumah sakit.
Kemana vigo? Tanya aninda dalam hati.