LOLIPOP

LOLIPOP
LOLIPOP 63


__ADS_3

Enjooooooyyyyyy


Banyak yang ingin aku tanyakan. Namun lidahku terasa keluh. Melihat Karin didepan ku seperti melihat Om Sammy secara nyata.


Ku persilakan Karin untuk duduk tepat di depanku. Namun aku masih diam, dapat kulihat kening Karin berkerut bingung.


"April, are you oke?" tanyanya khawatir.


Aku menggeleng pelan. Lalu menghela napas.


"Besok aku harus ke London." ujarku pada akhirnya.


"London?"


Aku mengangguk. Kemudian. . . .


"Karin apakah kamu masih bersama Om Sammy?" tanyaku tidak sabar.


Kulihat Karin mengangguk. Ya! Sesuai prediksiku.


"Lalu bagaimana kabarnya?" tanyaku lagi.


"Entahlah. Dia nggak pernah mau cerita sama aku. Dia selalu diam, selalu berpura-pura tegar disaat kita jalan bareng. Dia terlihat sehat di fisik namun seperti menyimpan duka diwajahnya." kemudian Karin menghela napas berat. "Sejujurnya aku tahu dia pasti memikirkan kamu."

__ADS_1


"Pril. Aku enggak buta. Aku bisa melihat kalau kalian saling mencintai dan seharusnya aku enggak menghalangi kalian. Tapi..... Hmmm Aku merasa serba salah." dia berhenti berbicara lalu menatapku.


Aku berusaha menarik ujung bibirku. "Karin yang kamu lakukan sudah benar. Seperti yang aku bilang, kan? Aku cuma rela Om Sammy sama kamu. Aku sama Om Sammy tidak mungkin bersama. Aku sudah tanya Papa, tidak ada keraguan kalau aku anak mereka."


Karin diam. Dia menyesap pelan cokelat hangat yang baru saja disajikan pelayan kafe.


"Semoga saja salama di London nanti aku bisa melupakan Om. Dan aku harap kamu bisa mendapatkan kembali hati Om Sammy Rin." kataku sambil tersenyum pahit.


"Pril. Om Sammy adik Mamamu kan?"


Aku mengangguk dengan tatapan kosong.


"Kalau kamu memang anak Papa dan Mama kamu. Apakah Sammy........." Karin diam sebentar lalu menatapku lama, dan aku masih belum mengerti kalimat Karin tersebut.


°°°°°°°°°°


(Ini cerita nya mundur beberapa minggu ya. Sebelum April pergi)


Pov Ratih


Tiba-tiba saja April ngajak kami liburan ke pelabuhan Ratu. Kami Berempat tinggal di hotel Ratu Samudra yang tidak jauh dari pantai. Akses perjalanannya sangat jelek. Aspalnya rusak. Kami yang tidak berniat joged tetap saja harus joged-joged di jalan karena kondisi jalan yang rusak.


Sekarang kami sudah di kamar hotel yang berisi dua kamar tidur. Cukuplah untuk kami berempat. Tadi kami sempat makan di warung menuju Hotel. Kebanyakan di sini tersedia rumah makan sunda agak khas All you can eat. Nasi ngambil segunung, air putih boleh nambah, dan lalapan tidak henti-henti disodorkan. Semua itu tidak berpengaruh pada harganya.

__ADS_1


Di tempat kami menginap ini sejenis apartemen mini. Kamar dua, kamar mandi dua yang salah satunya terdapat dikamar utamanya, lalu ada mini dapurnya. Aku memilih sekamar dengan April. Karena Sinta dan Grace terlihat masih kurang nyaman dengan langkahku yang masih bertahan berhubungan dengan suami orang.


"Habis mandi baru kita lanjut ngobrol, gimana?" kataku.


"Baik bu CEO. Kamu sudah kayak ngajak kami rapat." ujar April


"Kalian emang harus diajak bicara serius biar paham dan bisa mendukung sahabat." sambungku.


"Dih. . kamu dari tadi pakai urat banget ngomong. Kesel yaa kamu batal indihoy sama Mas Buluk edan itu!" ledek Grace


"Si Alan. Kalau akhir pekan begini, dia bukan milikku."


"Gelay ih. Kok bisa-bisanya kamu terjebak lumpur perselingkuhan," desis Grace dengan wajah enek. April dan Sinta hanya tertawa saja.


"Rezeki percintaan setiap itu berbeda-beda. Kalau memang jalan seperti ini yang harus aku tempuh, aku sih jalani saja." Tambah Ratih cuek


"Entah kenapa aku antara jijik dan kasihan dengan mereka yang selingkuh. Tapi sama kamu kok aku nggak bisa kesal ya? Apa karena kamu temanku?" kata April balik bertanya.


"Begitulah aku, sulit rasanya orang mau membenci aku. Karena wajah ku yang tidak berdosa dan penuh sifat keibuan ini. " balas Ratih menjadi-jadi.


"Iya wajah keibuan, tapi hati gadis bengal." semprot Grace lagi .


...••••••••...

__ADS_1


__ADS_2