LOLIPOP

LOLIPOP
Bab 11


__ADS_3

Lima tahun lalu...


Daun-daun meranggas berjatuhan lemah dari pohon rindang, tertiup embusan angin bulan mei. Aninda kecil memperhatikan umar yang sejak tadi memunguti daun yang sudah menguning. Hari itu terik sehingga mereka memutuskan berteduh dibawah pohon cinta mereka. Aninda tersenyum melihat kegigihan umar memilah daun yang dianggapnya masih bagus. 


"Buat apa sih?" Celoteh aninda penasaran. 


Umar tetap sibuk dengan daun-daun jatuh itu. "Nanti juga kamu tahu"


Aninda tersenyum ceria. Umar selalu membuat kejutan untuknya, membuat hari-harinya terasa indah dan mengasyikkan. Meski masih SD, ketulusan cinta mereka satu sama lain seakan tak kalah dibandingkan ketulusan cinta orang dewasa yang sudah berkomitmen. Umar merangkai daun-daun itu dengan ranting pohon yang ditemukannya. Susah payah ia merangkai daun yang menguning itu, berusaha menatanya seindah mungkin. Aninda hanya duduk terdiam disampingnya, memperhatikan ketekunan jari-jari umar sambil tersenyum. 


"Jadi deh!" Umar memamerkan hasil karyanya. Sebuah mahkota kecil dari daun kuning yang tampak seperti emas. 


"Itu buat apa?" Tanya aninda polos. Ia takjub melihat hasil karya umar yang begitu mengagumkan saat itu. 


Umar mendekati aninda, kemudian meletakkan mahkota itu di atas kepala aninda. "Ini buat Tuan Putri yang paling cantik dari seorang pangeran gagah!"


Aninda tersipu malu. "Makasih, pangeranku"


"Karena sekarang aku udah ngasih kamu mahkota, nanti pas kita udah gede aku tinggal melengkapinya dengan memberimu kalung" kata umar yang terdengar seperti janji. 


"Kenapa kalung?" 


"Karena kemarin aku nonton film bareng kakak sepupu. Di situ pangerannya ngasih kalung ke tuan putrinya, lalu bibir mereka nempel gitu." Ah, saat itu umar memang benar-benar masih polos. 


"Aku nggak ngerti kok bibir mereka nempel?" Aninda mengerenyit heran. 


"Kata kakak sepupuku, itu namanya ciuman, dan hanya boleh dilakuin orang gede pada cinta sejatinya"


Aninda yang tampak antusias tidak mengerti penjelasan umar. Ia hanya manggut-manggut dengan wajah kanak-kanaknya. 


"Kalau udah gede nanti kita ciuman ya nin. Ciuman pertama kita berdua. Kamu mau kan jadi ciuman pertamaku?" Tanya umar malu-malu. 


Aninda tersenyum polos. "Pasti!"


"Janji?" "Janji!"


Dan hari itu mereka membuat lagi sebuah janji, menambah deretan janji mereka sebelumnya. Kepolosan membuat mereka yakin janji-janji itu kelak terwujud menjadi nyata. Benarkah?


 


***


Aninda sesegukan dikamar tidur, menyesali perbuatan vigo tadi. Ia kaget dan marah karena vigo telah mengambil ciuman pertamanya. Kesembronoan vigo membuat aninda terpaksa mengingkari janji suci masa lalunya. Apa sih maunya vigo melakukan itu? Batin aninda geram. Kan masih banyak cewek yang mau diperlakukan seperti itu olehnya, lalu ngapain dia memilihku? Ciuman pertama seharusnya sakral dan bukan seperti tadi...


Aninda menjotosi guling dipelukannya. Ia menyesal telah memercayai vigo, sosok yang kini kembali berubah menjadi cowok menyebalkan. 


Tak aneh bila aninda perlu seminggu untuk meredakan perasaan dongkolnya gara-gara ciuman vigo. Disekolah maupun dirumah bawaannya uring-uringan terus. Restiana sampai harus berpikir dua kali kalau mau mengobrol dengan aninda. 


Kalau mau jujur, sebenarnya bukan ciuman vigo, tapi ketidakjelasan keberadaan umarlah yang membuat aninda belingsatan. Bahkan saat dirinya kerumah umar untuk kedua kalinya, tak seorang pun ada di sana. Tidak juga neneknya. Rumahnya sepi. 


Kabar vigo bakal dikeluarkan dari sekolah juga sudah didengar aninda. Cowok itu harus meninggalkan SMA Harapan Jaya senin besok. Padahal hari sabtu rapor semester satu akan dibagikan, yang berarti liburan panjang sudah menanti. Aninda membayangkan liburannya akan indah karena ada umar, tapi sekarang harapannya kandas. 


 


***


Mata aninda jelalatan sewaktu berdiri didepan kelasnya, mencari restiana yang sejak pagi tak dilihatnya. Apa iya restiana absen? Biasanya dia paling rajin sekolah. Saat kekantin aninda melihat syifa dan merli tanpa marsya. Itu juga kejadian langka mengingat mereka bertiga selalu kemana-mana bersama. Sampai-sampai aninda suka meledek, mungkin ke neraka pun mereka bersama. Kenapa hari itu banyak keganjilan? Tiba-tiba ada panggilan dari hpnya. 


"Nin, kerumahku sini!" Teriakan yasmin langsung mengenai saraf kaget aninda. 


"Ada apa yas?" Tanya aninda datar. 


"Aku sendirian dirumah nih. Cuma sama si baby. Barusan satriya pergi sama yovi" keluh yasmin. 


"Ouw, pantesan aku nggak lihat yovi disekolah. Tapi hari ini emang banyak banget yang nggak kelihatan disekolah"


"Kamu nggak tahu kenapa pada nggak sekolah?" Tanya yasmin menggoda. 


Spontan aninda menggeleng. Tentu saja yasmin tidak melihatnya. 


"Makanya main sini nin, ntar aku ceritain sesuatu deh!" "Oke!" Aninda menutup sambungan telepon. 


 


***


Saat aninda berjalan melewati gerbang sekolah, hpnya berbunyi lagi. Ia mengerenyit melihat nomor asing yang tertera dilayar hp. Penasaran ia mengangkatnya. 


"Halo, selamat siang?" Suara wanita yang sepertinya berumur setengah baya. 


"Selamat siang" jawab aninda sopan. 


"Benar ini nak aninda?" Tanya suara diseberang sana untuk memastikan dirinya berbicara dengan orang yang dicari. 


"Betul. Ibu siapa ya?"


"Saya ibunya umar. Begini, nak aninda, umar sedang dirawat dirumah sakit" mata aninda membuat saat mendengarnya. "Umar minta agar nak aninda datang kerumah sakit sekarang. Bisa kan?"


"Bisa bu! Rumah sakit mana?"


"Harapan Sehat"


"Baik bu, sebentar lagi saya kesana" "Ya, ibu tunggu ya nak aninda. Terima kasih" Sambungan terputus. 


Tergesa-gesa aninda mencari nomor yasmin, kemudian ia memencet warna hijau pada hpnya. 


"Ada apa nin?" Tanya yasmin halus. 


"Aku nggak jadi kerumahmu, ada urusan mendadak dan gawat darurat! Oke?" Tanpa menunggu jawaban yasmin, aninda langsung memencet tombol merah. Ia bergegas mencari angkutan umum kerumah sakit Harapa Sehat. 


 

__ADS_1


***


Yovi, satriya, dan tim inti basket SMA Harapan Jaya sepakat melakukan rencana yang disusun beberapa hari lalu. 


"Jadi biar aku, satriya, dan rian aja yang dateng. Aku nggak mau ngerusuh dirumah orang. Ntar kalau ada apa-apa, kuhubungi kalian. Nah, kalian nganter vigo kebandara ya? Ntar aku, satriya, dan rian nyusul. Deal?" Yovi sekali lagi mengulangi kesepakatan mereka dengan tenang. 


"Deal!" Jawab yang lain serempak. 


Yovi, satriya, dan rian menaiki mobil yovi menuju rumah yang tak asing lagi bagi yovi. Sedangkan rifki dan keempat anak lain bergegas menuju Bandara Soekarno-Hatta.


 


***


Hari itu marsya demam sehingga tak sekolah. Semalaman ia tak bisa tidur, dan sekarang matanya terasa berat sekali. Restiana ada dirumahnya, menemaninya bersama ricko. Obrolan kecil mereka dalam nada rendah hampir tak terdengar oleh marsya. Ketika matanya hampir tertutup, terdengar ketukan di pintu kamar. 


Yovi. 


Marsya tersenyum lemah sekalipun terkejut melihat kedatangan yovi. Baik hati betul dia sengaja menjengukku, pikir marsya agak bingung. Tapi senyumnya hilang ketika menyaksikan yovi menghampiri ricko, menarik kerah baju cowok itu... Lalu menonjoknya mantap. 


Restiana menjerit nyaring. 


Marsya hanya melongo, badannya terasa lemah sekali. 


"Kamu yang ngelakuin sema pada vigo kan?" Teriak yovi emosi. 


Satriya dan rian berdiri tegap dipintu, sekadar berjaga-jaga. 


"Ngelakuin apa?" tanya ricko tenang sambil mengusap-usap pipinya yang sebentar lagi pasti memar. 


"Nggak usah sok suci deh! Kamu yang ngelaporin tuduhan bohong itu kan rick? Kamu juga yang jadi ketua pengeroyokan vigo beberapa bulan lalu!" Seru yovi. 


Marsya dan restiana tercengang mendengarnya.  


Ricko tertawa sinis, "akhirnya kamu tahu juga"


Kemarahan yovi bertambah karena reaksi ricko yang tampak meremehkannya. "Kenapa kamu ngelakuin itu semua!" Tanya yovi menuntut penjelasan sambil mengangkat tangannya.


Tampaknya ia ingin menonjok ricko lagi. 


Untung satriya keburu menahannya, "yov, jaga emosimu!"


Yovi menarik napas perlahan, seakan memberi kesempatan pada ricko untuk menjawab pertanyaannya. 


"Seharusnya kamu lebih tahu masalah ini. Kamu kan kakak dia" ujar ricko kalem. Rasa sakit dipipinya tak membuatnya menjadi lemah. 


"Nggak usah basa-basi! Kenapa?" Yovi bertanya dengan intonasi yang sengaja dilembutkan. 


"Kamu pengen tahu kenapa?" Ricko balik bertanya dengan tak kalah kalem. 


Yang lain justru menunggu dengan tegang. 


 


***


Terlihat umar terbaring lemah dengan selang infus dilengannya. Aninda menutup mulutnya sendiri, sedih menyaksikan kondisi pangeran kecilnya. 


Umar membuka mata perlahan karena merasakan kehadiran seseorang. Ibu umar menyambut gembira kedatangan aninda. 


"Nak aninda ngobrol dulu sama umar ya, tante mau beli minuman dikantin" kata ibu umar sambil menarik kursi dan memberi tanda agak aninda duduk. Sosok wanita ramah itu seperti kurang tidur karena ada garis hitam dibawah matanya. 


Aninda mengangguk sopan. Dengan hati-hati ia duduk dikursi yang tersedia disamping ranjang umar. "Kamu sakit apa?"


"Penyakitku nggak penting buat kamu nin. Aku cuma pengen ngasih tau kamu sesuatu yang penting banget" kata umar serius. 


Aninda mengerutkan dahi. Bingung. "Sesuatu apa mar?"


"Ini berhubungan dengan masa lalumu"


"Masa lalu kita maksudmu?" Koreksi aninda. 


Umar menggeleng. "Selama ini kamu keliru nin. Kamu mengira aku umar, masa lalumu"


Seketika petir dahsyat seperti menyambar aninda. "Maksud kamu apa? Mar, aku tahu kamu lagi sakit sekarang, nggak usah bilang macem-macem dulu deh"


"Nggak nin, aku pengen kamu tahu sebelum aku mati. Aku bukan umar masa lalumu nin. Beberapa bulan lalu saudaraku memaksaku pindah sekolah agar kamu mengira aku umar. Sebelumnya dia nyeritain semuanya ke aku. Tentang dia, kamu dan umar" "Dia.. dia siapa maksudmu?" Potong aninda penasaran. 


"Ricko"


 


***


Ricko tersenyum sinis melihat teman-teman disekelilingnya tegang menunggu jawabannya. "Karena vigo adalah masa lalu aninda yov!" Rikco tertawa nyaring. 


"Maksudmu apa? Nggak usah ngarang cerita!" Yovi menarik kerah ricko lagi. 


Senyuman sinis ricko menghilang. "Kamu kaget kan? Tapi ini emang faktanya, vigo sesungguhnya adalah umar, pangeran kecil aninda, orang yang selalu aninda damba!"


"Nggak usah macem-macem sama aku rick!" Ancam yovi pelan. 


"Dia bener yov. Vigo emang masa lalu aninda" tiba-tiba satriya angkat bicara agar mempersingkat waktu. 


Yovi menoleh, menatap tajam pada satriya, mencari kesungguhan. 


Ekspresi bingung yovi membuat ricko kembali tertawa. "Biar lebih jelas, nama belakang kalian berdua kumara sastrodjoyo kan? Dan saat SD vigo lebih senang dipanggil nama tengahnya, umar"


"Shit!" Yovi tak berminat mendengar kelanjutan kisah ricko dan justru memilih mengajak kedua temannya ke bandara. 


 

__ADS_1


***


"Aku butuh penjelasanmu sat" kata yovi pada satriya dalam perjalanan menuju bandara. 


Satriya mulai bercerita dalam nada tenang. 


 


***


"Ricko melakukan ini karena dia nggak mau kamu ketemu umar lagi, dia cinta banget sama kamu nin. Tapi cara dia ngedapetin kamu salah. Tepatnya, licik" umar melanjutkan ceritanya yang sempat dipotong aninda. 


"Seharusnya ricko tahu aku nggak tahu keberadaan umar saat ini. Jadi kenapa ricko ngelakuin ini semua?" Aninda bingung. 


"Karena selama ini umar ada di dekat kamu nin. Dekat banget"


"Mkasudmu mar?" Penjelasan umar seperti sebuah teka-teki bagi aninda. 


"Umar ada vigo, vigo kumara sastrodjoyo. Saat SD dia lebih suka dipanggil nama tengahnya, umar"


Aninda menutup mulutnya yang melongo dengan kedua tangan yang gemetaran. Matanya berkaca-kaca. 


 


*** 


Yovi, satriya dan rian tiba dibandara. Vigo terlihat sedang duduk bersama teman-teman basket didekat pintu keberangkatan. Setengah berlari yovi mendekati kembarannya. Ia langsung melayangkan tonjokan keras ke wajah mulus adiknya. Teman-temannya terbengong-bengong, tak percaya menyaksikan perbuatan yovi yang biasanya santun dan tenang. 


"Pengecut kamu!l teriak yovi parau. 


Orang-orang disekeliling mereka mulai mengerubungi yovi dan vigo. "Kenapa kamu nggak bilang? Kenapa kamu nggak nunjukkin ke aninda bahwa kamulah orang yang selama ini dia nanti? Kenapa?"


Vigo mengelap darah dibibirnya dengan tangannya yang dingin. 


"Karena aku nggak mau lagi ngerebut sesuatu dari kamu yov"


"**** banget sih kamu!" Aku aja nggak pernah mikir gitu. Aninda milikmu dari dulu sampai sekarang. Seharusnya kamu tahu itu. Cara pengecutmu yang kayak gini justru nyakitin banyak orang." 


Yovi menarik napas panjang, berusaha meredakan emosinya. 


"Ya... Terserah penilaianmulah yov. Aku memang salah." Vigo mengulurkan tangan. "Aku minta maaf" vigo mengangguk lalu melepaskan pelukan. "Pesawatku hampir berangkat, aku harus segera masuk" ujar vigo kalem. "Yov, jagain aninda ya? Ceritain semua kebenaran pada dia" yovi terdiam sejenak, lalu perlahan menyambut uluran tangan vigo. Kedua bersaudara itu berpelukan erat. "Hati-hati ya vig. Maafin aku juga"


"Oke"


Vigo, kemudian bersalaman dengan semua temannya. Selamat tinggal indonesia, batinnya hampa. 


 


***


Aninda berjalan meninggalkan rumah sakit sambil tersedu pelan. Jadi vigo sebenernya umar. Pangeran kecil yang selama ini ia cari, yang selama ini ia nanti. Jadi itu penjelasan kenapa selama itu vigo tahu segalanya tentang dirinya. Itulah alasan vigo menonjok ricko di menara, karena mereka memang musuh bebuyutan sejak dulu. 


 


***


Setelah naik bus yang cukup lama, sampai juga aninda didepan rumah vigo yang tampak sepi. Gerbangnya terbuka lebar sehingga aninda memutuskan langsung masuk tanpa perlu memencet bel. Ia menuju beranda dan mengetuk pintu. 


"Non ninda cari den yovi?" Tanya mbok tiyem begitu membukakan pintu ruang tamu untuknnya.  "Nggak mbok, saya cari vigo!" Ujar aninda tergesa-gesa. 


"Lho, den vigo pergi ke amerika hari ini. Katanya ada sekolah yang ngundang den vigo main basket. Non ninda nggak tahu toh?"


"Haa? Apa?" Aninda seperti ingin pingsan mendengarnya. 


"Jam berapa berangkatnya?" 


"Wah, udah daritadi kok. Masuk dulu non, biar mbok buatkan teh"


Aninda mengangguk. Tubuhnya terasa lemas. Dia langsung duduk disofa yang terdekat dengan pintu agar tak keburu jatuh. Aneh, hatinya tak merasakan apapun lagi. Apakah ia sudah mati rasa?


"Mbok, vigo bakal balik lagi kan?" Tanya aninda datar saat mbok tiyem menyuguhkan segelas es teh. 


Mbok tiyem terdiam sejenak. Raut wajahnya terlihat khawatir. 


"Katanya sih nggak non. Den vigo bakal nerusin sekolah di sana"


"Aninda?" Yovi muncul dari pintu depan. "Kebetulan kamu ke sini. Aku pengen ngasih tahu kamu sesuatu" kata yovi lembut, padahal beberapa jam lalu ia baru menonjok dua orang dengan emosi tinggi. 


Yovi mulai bercerita tentang kasus pencurian piala yang dituduhkan pada vigo, serta pengeroyokan teman-teman ricko pada adiknya. 


"Jadi ricko yang ngelakuin ini semua?" Tanya aninda terkejut. 


Yovi mengangguk pelan. 


"Apa hakmu ngelarang aku deket sama ricko? Dia temenku sejak SD! Benarkah kamu yang nyuri piala itu? Aku nggak tahu kamu selicik itu vig! Sejahat itu! Pergi kamu vig!"


"Aku emang mau pergi nin. Bilang kamu cinta aku nin!" vigo mencium bibir aninda. Aninda menampar vigo. 


Rentetan peristiwa bersama vigo terlintas kembali dalam ingatan aninda. Ketololannya membuat dia tak menyadari selama itu umar ternyata berada didekatnya. 


"Vigo juga salah nin" hibur yovi seakan bisa memba pikiran aninda. 


"Aku bingung. Kok vigo bisa jadi kakak kelasku? Itu yang bikin aku nggak pernah berpikir atau mencurigai dia adalah umar" tanya aninda. 


"Aku dan vigo ikut program penyetaraan pas SMP. Waktu dia SD aku masih di amrik. Dulu disini dia ikut nenek dari pihak ibu. Ketika kelas lima SD dia disuruh ke amrik karena kondisi nenek disini yang mulai sakit-sakitan. Tamat dari SMP diamrik, vigo maksa pindah ke indonesia. Dia ngotot pengen balik dan bersekolah disini. Aku terpaksa ngikut, buat jagain dia yang emosinya susah dikendaliin. Ternyata kamulah penyebab dia pengen banget pulang ke indonesia."


"Terus, kenapa sekarang kamu nggak ikut dia ke amrik?" Aninda rupanya belum puas bertanya. 


"Buat apa coba? Dia ke amrik diundang salah satu SMA di sana. Aku nggak diundang"


"Kata mbok tiyem dia nggak bakal pulang"

__ADS_1


"Doain aja dia nggak betah".


__ADS_2