
Aninda benar-benar tak bisa terlelap malam itu, hatinya masih gelisah. Rasa kecewa terus menyelimutinya, tak mau pergi barang sekejap. Apalagi ia juga terus bertanya-tanya, kemana vigo tadi.kenapa perasaan gelisah karena merasa ditinggal vigo datang padanya? Bersamaan perasaan rindunya pada umar tiba-tiba merasuki angannya.
“disana hati-hati ya” kata aninda kecil, itu hari terakhir umar masuk sekolah.
“pasti anindaku sayang. Jagain rasa saying aku ya? Kamu nggak boleh macem-macem sama cowok lain. Aku cuma pergi sebentar. Pokoknya kamu tungguin aku dibawah pohon itu” umar menunjuk pohon yang berada disamping lapangan kecil.
Aninda mengangguk pelan. “aku nggak mau sama cowok lain selain kamu. Janji!”
Mereka mengaitkan jari kelingking mungil mereka. Setelahnya umar pergi tanpa jejak.
***
Satu minggu kemudian…
Yasmin dan satriya melangsungkan ijab Kabul segera setelah yasmin keluar dari rumah sakit. Aninda dan restiana diundang menghadiri acaranya.
Seperti sudah diduga, pasangan pengantin dadakan itu memang di dropout dari sekolah. Sekarang aninda duduk dibangku kelasnya seorang diri. Tak ada lagi yasmin yang selalu menemaninya, tak ada lagi teman yang bersedia membantunya menerjemahkan kata-kata bu purwanti. Ada rasa berbeda.
Bahkan kini vigo perlahan menjauhinya, bikin aninda gelisah karena merindukan perdebatan mereka, yang kalau diingat-ingat bisa membuatnya tertawa.
Hati itu yovi dan vigo mengikuti lomba cerdas cermat di luar kota. Kepergian mereka membuat aninda jenuh berada disekolah. Bingung mau ngapain, ia memutuskan mengisi waktu istirahatnya dengan keperpustakaan untuk baca breaking dawn yang sudah hampir selesai. Hari itu restiana menemani ricko latihan karate. Keduanya mulai terlihat akrab.
Aninda menganggap ricko sebagai adiknya sendiri sejak SD. Mulanya ia hanya merasa iba pada ricko yang setiap hari ditindas umar cs. Lama-kelamaan aninda merasa wajib melindunginya karena umar cs semakin semena-mena. Dan sejak itu lah mereka seperti kakak-adik yang tak terpisahkan.
***
Benarkah perasaan ricko pada aninda seperti kakak-adik? Ricko memaknai perlindungan yang diberikan aninda selayaknya cewek menyukai cowok. Rasa itu tumbuh dan terpupuk subur dalam hati ricko, hingga saat ini. Sayangnya aninda tak tahu hal itu, ia malah mengira ricko menyukai restiana.
***
Aninda menyusuri koridor meninggalkan perpustakaan. Kebanyakkan siswa di SMA-nya bukan jenis makhluk yang gemar baca. Jadi bisa dipastikan koridor tersebut benar-benar sepi.
Aninda menengok kebelakang, ia merasa diikuti. Bulu kuduknya meremang. Segera saja ia berlari superkilat, tak mau jadi mangsa hantu disiang bolong.
Dengan napas memburu aninda menuju toilet yang kebetulan terletak disamping aula tempat ricko berlatih karate. Ketakutan membuat kandung kemihnya ingin mengeluarkan air yang ditampung. Dengan perasaan lega ia keluar dari toilet. Marsya cs sudah menunggunya diluar toilet.
“hai kak!” sapa aninda polos.
Merli langsung mendorong aninda kuat-kuat. Aninda luar biasa kaget hingga begitu mudah terjatuh kelantai. Jantungnya berdegup kencang, rasa takut menjalari aninda.
“hei cewek kampung! Nggak usah caper sama kakak kelas deh!” Aninda gelagapan, tak mengerti maksud mereka.
“jangan terlalu kasar mer” bisik marsya waswas.
“marsya! Kamu harus inget sya. Dia ngerebut yovi dari kamu!” syifa berseru dalam emosi tinggi.
Merli mendengus kesal. “cewek kecentilan!”
Pikiran aninda langsung melompong. Ia sungguh tak paham situasi yang sedang dihadapinya. Keringat dingin meleleh dari dahinya. Itu pertama kalinya ia dilabrak kakak kelas. Aninda ketakutan. Ia tak seperti biasanya yang berani melawan. Nasib malang yasmin masih membuat aninda down.
“nin, aku cuman minta kamu jauhin yovi” kata marsya lalu mengajak kedua temannya meninggalkan aninda yang masih tersungkur dilantai.
Aninda masih belum bergerak. Kaget. Akhirnya ia tahu makna tatapan dingin marsya selama ini bisa berpapasan dengannya. Ia paham kenapa marsya selalu buang muka bila tak sengaja melihat ia bersama yovi. Apakah marsya sudah menghubungi yovi hingga cowok itu sekarang menjauhi aninda?
***
Ricko yang sedang berlatih karate sempat kaget mendengar suara “gedebum” dari toilet. Ia terdiam sesaat, kemudian memutuskan untuk mengeceknya. Restiana membuntutinya.
Butuh sekian menit untuk melintasi ruang latihan karate yang luas. Ricko berkerenyit saat dari kejauhan terlihat kakaknya berjalan bersama kedua temannya. Pasti mereka dari toilet karena tak ada ruang lain di dekat situ. Apa barusan mereka tidak mendengar suara keras? pikir cowok itu bingung. Terdorong rasa ingin tahu, ia melanjutkan langkahnya memasuki toilet cewek.
“anin!” teriak ricko kaget begitu mendapati aninda tersungkur dilantai. Ia segera membantu aninda berdiri.
Restiana juga terkejut. “ya ampun! Nin kamu kenapa?” Aninda menggeleng pucat, tatapan matanya kosong.
Ricko dan restiana memapah aninda ke UKS. Disana ada petugas yang selalu siap mengurus murid-murid yang tiba-tiba sakit atau butuh bantuan yang berkaitan dengan kesehatan.
“kamu istirahat disini dulu ya nin. Kami harus kembali ke kelas.” Ricko menyentuh lembut tangan aninda yang kini terbaring diranjang UKS. Ia memandangi cewek itu dengan perasaan iba. Lalu ia mengajak restiana kembali ke kelas.
“res, jangan lupa memberitahukan guru soal aninda yang perlu berisitirahat sebentar” ricko mengingatkan restiana saat mereka harus berpisah menuju kelas masing-masing.
Restiana mengangguk.
***
Dikelas ricko sulit berkonsentrasi. Rasa gusarnya pada marsya timbul lagi. Dia berencana menegur dan mengingatkan marsya soal kelakuannya yang sudah kelewat batas. Tak seorang pun boleh menyakiti orang yang dicintainya. Dulu aninda yang selalu melindunginya, sekarang gilirannya.
***
“apa? Si nenek sihir habis ngelabrak kamu?” yasmin berteriak dikamarnya, matanya berkilat menatap aninda.
__ADS_1
“ya dan aku baru tahu ternyata ricko adik marsya” jawab aninda lemas.
“astaga anin! Kemana aja kamu? Ya Tuhan, kuper banget sih kamu. Amit-amit jabang bayi” yasmin mengelus perutnya pelan.
Aninda tertawa terpingkal-pingkal.
“aku juga baru tahu suamiku ternyata teman curhat vigo”
Aninda melongo. “tahu dari mana?”
“kemarin waktu vigo kesini nin. Mukanya frustasi banget.”
“kenapa dia yas?” aninda berubah gelisah.
“ceile… mulai perhatian nih” ledek yasmin.
“iiiih… apaan! Maksudku kan kalau dia susah aku senang yas”
“cie cie… muka kamu merah tuh nin”
Aninda tersenyum kecut pada yasmin.
Yasmin menjawil pipi aninda.” aku belum sempet tanya sama satriya, coba ntar malem ya” “nggak penting kok yas. Lagian buat apa. Cowok sengak kayak dia kok digubris” aninda memasang wajah cemberut.
***
Pada saat yang sama, di tempat berbeda…
Ricko menghampiri marsya dikamar dengan amarah meluap-luap. “aku nggak mau kakak nyakitin dia!”
“aku nggak nyakitin dia rick. Aku ngingetin aja”
“nggak boleh ada yang nyakitin dia. Inget itu kak!” seru ricko sambil berbalik kearah pintu. “buat apasih rick, ngarepin cewek yang bahkan nggak bersimpati padamu?” marsya berteriak keras ketika ricko berada diambang pintu.
Ricko berhenti sejenak tanpa menoleh. “harusnya pertanyaan itu juga buat kakak”
***
Restiana memandang langit-langit kamar. Masih terekam jelas pembicaraan antara dirinya dan ricko duluar UKS.
Aninda masih terbaring diranjang UKS. Memang sebaiknya dia istirahat dulu untuk menghilangkan rasa kagetnya.
“res, aku mau ngomong sebentar sama kamu” kata ricko lirih.
Ricko menarik napas perlahan. “res, aku pengen kamu tahu sesuatu. Aku.. kuharap… kamu bisa mengerti dan tidak marah padaku”
Restiana terdiam. Kini ia tahu ricko ingin mengatakan sesuatu yang berlawanan dengan harapan terbesarnya.
“sebenarnya, aku… aku suka aninda res” kata ricko terbata-bata.
Mata restiana berkaca-kaca. Ia berusaha keras membendung air matanya.
“maaf res, aku nggak bermaksud menyakitimu”
Restiana mencoba mengeluarkan suaranya yang bergetar.
“nggak papa kok rick. Aku malah nggak enak, berarti selama ini aku ganggu kamu”
“nggak res, bukan gitu maksudku. Aku hanya… nggak mau ngasih harapan kosong ke kamu” “iya rick, aku tahu” restiana masih bisa menahan luapan air matanya.
“makasih ya res” ricko memeluknya ringan. Lega.
Pelukan yang justru menambah beban dihati restiana.
Bantal restiana kini basah karena air mata. Ia bingung harus mengambil langkah apa. Penjelasan ricko tadi membuat dia tak mungkin lagi memaksa cowok itu untuk mencintainya. Ia berharap bisa membuat ricko semakin terbuka padanya. Ya, restiana baru saja memutuskan dirinya akan menjadi tempat curahan hati ricko tentang cinta murninya pada aninda. restiana tahu itu akan membuatnya semakin sakit, tapi ia tak ingin jauh dari ricko. hatinya memang perih, tapi cintanya pada ricko membuat dia tak sanggup tersisih dari kehidupan cowok itu.
“aku bisa karena aku sanggup” gumam restiana lirih.
***
Akhirnya masa satu bulan terlewati.
Aninda duduk dibawah pohon dekat lapangan SD-nya. Itu tanggal perpisahannya dengan umar. Sudah lima tahun ia melakukan hal serupa menunggu dalam harap. Harapan yang hanya membuahkan kehampaan.air matanya bergulir pelan. Ia takut umar telah melupakannya. Tapi ketakutan terbesarnya adalah kalau umar telah meninggalkan raganya tanpa sepengetahuan aninda. hingga kini penantiannya belum juga sirna. Dilubuk hati aninda yang paling dalam masih ada setitik kekuatan dan keyakinan bahwa umar memang merindukannya. Sama seperti dirinya yang selalu merindukan umar, terlebih pada malam-malam yang sunyi.
Rintik-rintik hujan mulai turun. Ah, musim hujan memang telah tiba. Untunglah kerindangan pohon yang menaungi aninda masih mampu menahan titik-titik air itu membuatnya tetap kering.
Ia menatap langit dengan pasrah. Sebentar lagi sore semakin pekat. Kenapa tadi nggak keingetan bawa payung? Payah banget sih, pikirnya kesal.
Suara dentingan sendok dan piring mendekati aninda. penjual bakso keliling. Aninda tersenyum sopan pada si penjual bakso yang memang tetangganya.
“dik anin dari mana?” Tanya penjual bakso itu heran melihat tetangganya ada ditaman hujanhujan.
“habis main pak, nggak bawa payung. Jadi berteduh dulu” jawab aninda berbohong.
__ADS_1
“oh, kalau begitu temenin bapak mangkal aja” canda penjual bakso itu.
Aninda hanya meringis malu. Tetangganya itu memang selalu mangkal dibawah pohon itu. Duh, mencium aroma kuah bakso yang mengepul harum membuat perut aninda merintih minta asupan gizi. Padahal uang serupiah pun ia tak membawa.
Ada motor berhenti didepan penjual bakso. Aninda mengernyit melihat motor vigo. Pengendaranya memang vigo. Cowok itu berjalan mendekati aninda sambil melepas helm.
“pak, bakso satu ya. Biasa, nggak pake sambel” kata vigo tanpa menegur aninda.
“ngapain kamu kesini?” Tanya aninda ketus.
“dia memang langganan saya dik” ujar si tukang bakso.
Vigo menatap aninda dengan penuh kemenangan. “jelas?!”
Aninda memutarkan bola matanya, males berdebat dengan cowok macam vigo.
“kamu udah makan belum?” Tanya vigo tiba-tiba.
Belum sempat aninda menjawab, perutnya sudah duluan mengeluarkan suara.
Vigo tersenyum puas. “pantes aja nggak bisa gede. Baksonya satu lagi, pak” Aninda mengeluarkan senyum konyolnya.
“makan yang teratur. Kalau sakit kamu juga yang repot. Sekolah jadi terganggu” vigo mulai menceramahi aninda.
“iya! Tahu kok” ujar aninda ketus. Batinnya jengkel karena vigo selalu mengomentari segala hal yang ia lakukan.
“lagi ngapain kamu disini?” Tanya vigo setengah heran. Mereka mulai menyantap bakso.
Aninda bersendawa kecil, merasakan kepuasan dengan rezeki yang tiba-tiba mendatanginya. “lagi pengen kesini aja. Main.”
“apa habis naruh sesajen dibawah pohon?” sindir vigo.
Alis aninda terangkat. “ih… nggak banget deh. Omong-omong, makasih buat baksonya ya”
“anggap aja itu sedekah”
Tukang bakso tertawa kecil mendengar perkataan vigo. Aninda jadi sebal. “terserah kamulah”
“cewek payah! Buruan habisin”
Aninda menggerutu dalam hati, kapan vigo bisa bersikap sedikit halus padanya? Seperti yovi… halus.
“udah sore banget nih. Kalau udah, pulang yuk” ajak vigo.
Aninda mengangguk sambil berdiri. Keduanya berjalan menuju motor vigo.
Aninda terpeleset ketika menaiki motor vigo. Untung vigo sigap memegangi tangan aninda. “bego banget sih. Nggak pernah bisa ati-ati!”
Tuh… vigo kasar kan?
***
Aninda berkunjung kerumah yasmin pada hari minggu, sekadar ingin tahu keadaan yasmin dan bakal juniornya.
“nah, gitu dong. Sering main kesini.” Sambut yasmin senang.
“yah, mumpung lagi ada waktu nih” jawab aninda sambil nyengir.
“gimana di sekolah nin? Kangen nih, pengen sekolah lagi”
“nggak asyik nggak ada kamu”
“hmm… aku nyesel nin, kalau tahu gini jadinya. Nggak bisa sekolah lagi, nggak bisa main kesana kemari. Huff…”
Aninda bingung mau menjawab apa. “udahlah yas, nggak usah kayak gitu. Ambil hikmahnya aja. Oke?”
Yasmin menarik sudut bibirnya. “nggak nyangka kamu bisa ngomong gitu”
“dasar! Eh, satriya mana yas?”
“tadi keluar sama vigo, paling juga main basket” yasmin tampak kesal.
Aninda berdecak pelan. “wah wah, vigo memang pembawa dampak buruk.”
“nggak juga kok nin, justru dia yang bikin satriya jadi lebih sabar sekarang” bela yasmin.
Aninda melempar bantal kearah yasmin. “ih! Kok kamu jadi ngebelain vigo gitu sih?”
“emang gitu, anin. Vigo nggak sejahat yang kamu kira lho!” lagi-lagi yasmin membela vigo.
“tapi dia selalu kasar padaku yas”
Yasmin tak berkomentar melihat kejengkelan aninda. temannya yang satu ini selalu bisa menghiburnya. Bila anaknya cewek, ia sudah berniat menamainya aninda. baginya, aninda sahabat sejati yang sudah seperti saudara kandung. Dia mau menerimanya dalam keadaan suka maupun duka, bahkan saat kondisinya seperti ini. Penyesalan memang selalu membayanginya karena telah melakukan sesuatu yang belum pada waktunya.
“udah terasa bergerak-gerak belum yas?” aninda mengelus perut yasmin pelan-pelan.
Yasmin tertawa. “belumlah nin, baru juga empat bulan. Itu akibatnya kalau pelajaran biologi tidur terus”
Aninda mengerucutkan bibirnya, tangannya masih mengelus perut yasmin yang mulai membuncit.
“nin, rencananya kalau junior udah lahir, mau ada resepsi buat pernikahanku sama satriya”
__ADS_1
“oh ya? Udah mulai direncanain?”
“udah dari kedua pihak keluarga. Biar semua nggak penasaran lagi, jadi pada tahu aku dan satriya udah nikah. Lagian ada cewek kegatelan yang ngejar-ngejar satriya terus.