LOLIPOP

LOLIPOP
LOLIPOP 36


__ADS_3

Aku sedikit menjauh dari tempat Om Sammy berada.


"Awas ya kalau Om berani ngintip!"


om Sammy hanya tertawa lalu mengacungkan telunjuk dan jari tengahnya membentuk huruf V sebagai tanda janji. Dia berusaha menyakinkanku.


Seluruh tubuhku basah kuyup. Tidak ada pilihan lain selain mengganti pakaian basah ini jika tidak ingin sakit. Sebelum membuka pakaian, sekali lagi aku melihat ke arah Om Sammy yang sepertinya memang tidak mungkin mengintip. Dia terlihat sibuk mengeluarkan isi tasnya. Ku perhatikan lagi, ternyata Om Sammy membawa selimut dan sedang membuat tempat untuk kita tidur malam ini.


Aku lekas mengganti pakaian basah ini dengan baju besar Om Sammy. Aku terkekeh sendiri melihat diriku yang memakai pakaian kebesaran.


"Om, April jadi keliatan kayak orang-orangan sawah kayak gini." kataku sambil berjalan mendekati Om Sammy.


Pria itu hanya tersenyum saat melihatku dengan baju hanya sebatas paha dan tangan yang kebesaran di tubuhku.


"Cute!"


Blusssshhhhh.....


Jantungku kembali berpacu cepat mendengar satu kata sederhana itu. Dengan cepat kusembunyikan rona merah di kedua pipiku.

__ADS_1


Tawa Om Sammy makin meledak melihat sikap salah tingkahku. Dia kemudian melambaikan tangannya, memberi kode duduk di sebelahnya. Aku menurut dan ikut duduk di sebelahnya. Dalam jarak sangat dekat dan berbagi selimut untuk menghangatkan tubuh kami.


Aku sangat sadar bahwa aku butuh tenaga ekstra untuk sekedar bernapas. Pria di sampingku ini sungguh berhasil membuatku seperti ini. Selalu!


Kupeluk diriku sambil duduk meringkuk untuk mengusir dingin. Tubuhku masih menggigil. Hujan di luar semakin malam semakin lebat saja , membuatku semakin dingin dan takut.


Apakah pondok ini mampu bertahan?


Hujan dan angin kencang, bisa saja merobohkan pondok sederhana ini.


"Kamu kedinginan Pril?" tanya Om Sammy sambil menggeser duduknya menjadi lebih dekat lagi.


Baru saja Om Sammy akan meraih tubuhku ke dalam dekapannya, aku segera berdiri dan menjauh darinya. Tubuhku seketika terlepas dari selimut yang menghangatkan tubuh kami. Hawa dingin langsung menerpa kulitku. Pria itu mengerutkan kening dan melihat ku bingung.


"Om," ucapanku berhenti sejenak. Aku menarik napas dalam-dalam sebelum menahan air mata. "Om aku mohon jangan terlalu baik padaku, jangan memperlakukan ku terlalu baik." kataku sambil berusaha menahan air mataku. Kugigit bibir bawahku demi menahan perih dihatiku.


"Kenapa?" tanya nya pelan.


"Aku hanya tidak ingin berfikir jika Om juga suka sama aku. Dengan begitu, aku bisa lebih mudah melupakan perasaanku sendiri."

__ADS_1


"Aaapaaaa.....?"


Aku menunduk.


Mungkin memang ini saatnya untuk jujur. Terbukti setelah aku mengatakannya, aku menjadi lebih baik dan lega. Aku berharap dengan kejujuran ini Om Sammy juga bisa menjaga jarak nya agar aku tidak terlalu berharap banyak padanya.


"Maksud kamu apa? Tanyanya lagi.


"Aku jatuh Cinta sama Om." kataku sambil menatap matanya dalam-dalam.


Om Sammy tidak menjawab.


"Aku benci ketika melihat Om berbincang dengan wanita lain, aku cemburu. Om April sayang sama Om."


Om Sammy melebarkan matanya, menatapku tidak percaya. Aku kembali menundukkan kepala. Menatap sepasang matanya itu membuatku takut terhipnotis akan pesonanya. Aku sudah bertekad untuk menyelesaikan semuanya hari ini. Aku ingin membuang perasaan ini. Meskipun aku tidak ingin melakukannya. Namun kenyataan memaksa ku.


"Aku mohon Om berhenti bersikap baik padaku. April tahu perasaan ini salah, tidak seharusnya Aku mencintaimu. Mencintai Adik dari Ibuku." kataku sambil terus menahan air mata yang siap turun kapan saja aku memejamkan mata.


"April........."

__ADS_1


...••••••••••...


__ADS_2