LOLIPOP

LOLIPOP
LOLIPOP 23


__ADS_3

Matahari sudah turun berganti dengan rembulan. Langit malam ini sungguh Indah, namun tidak dengan hatiku yang dirundung kegalauan. Ingin sekali aku pulang ke rumah orang tuaku. Menghabiskan waktu berdua dengan Om Sammy, tapi aku tidak tahu beralasan apa. Sekian lama menyelam dalam kegalauan akhirnya ku putuskan untuk pulang ke kontrakan.


"Assalamualaikum," salamku alakadarnya.


"Wa'alaikumsalam. Kenapa tu muka kusut banget." ujar Sinta.


"Capek kerjalah." elakku.


Padahal rindu Om, batinku menjerit


"Sepi banget rumah," kataku sambil selonjoran di depan tivi bersama Sinta.


"Ratih di kamar tidur kali, kalau Grace belum pulang. Kamu mandi makan terus buang sampah ya." intruksinya.


"Lagi mager, kamu saja gih sana yang buang." kataku malas.


"Enak saja. Aku sudah masak ya. Sono buang sampahnya aja dulu baru makan."


Dengan langkah malas, aku menuju dapur mengambil sumpah untuk di buang.


Deg! Apa yang kulihat? Aku mengambil sebuah benda dari dalam tempat sampah.


Astaga! Ini pasti punya Ratih. Siapa lagi?


Aku berlari ke ruang tengah, di mana Sinta sedang asik dengan sinetron bebek terbangnya.

__ADS_1


"Sin, Sinta, liat deh." kataku pelan.


"Ada apa sih lari seru nih si pelakor di jambak sama istrinya tu laki."


Aku langsung mengacungkan benda di tanganku.


"Liat dulu deh!" kataku lagi.


Giliran Sinta yang terbelalak dengan mulut membuka hingga terdiam sesaat.


"Astaga.... Siapa yang pakai?" tanyanya bego


"Menurutmu? Masa ia aku atau Grace. Sudah tahu kami jomblo abadi."


"Ratih?" tebaknya. "Hasilnya negatif. Masih lolos anak itu." lanjutnya.


"Kalian berdua ngpain, sampai salamku ngak ada yang sahut." tanya Grace mendekati kami.


Aku menyerahkan tes pack padanya. Grace tidak menerima nya, dia hanya melihat. Lalu ikut duduk dengan kami


"Punya siapa?" tanyanya.


"Itu tadi yang kami bicarakan. Kalau bukan kita, berarti punya Ratih kan?" kata Sinta.


"Syukurlah masih negatif. Kalau sampai positif kita juga yang bakal repot." timpal Grace dingin.

__ADS_1


"Iya sih benar juga. Dikawinin si Buluk jelas nggak mungkin. Pilihannya membesarkan kandungan atau aborsi. Aduh aku serem ah!" kataku merinding.


"Posisi kita gimana dong?" tanya Sinta bingung.


"Kalau masih negatif cuek saja, ngapain dipedulikan! Dia yang enak kok kita yang harus ikut mikir. Yang ada dia senang, kita sakit jiwa." tegas Grace


"Lantas? Kita benaran cuek saja?" aku masih tidak tega.


"Duh bukannya nggak Setia kawan, tapi menurut aku, selama kita belum dirugikan biariin sajalah. Nggak usah terlalu masuk dalam masalah dia." kata Grace lagi.


"Gila ya..... Nggak nyangka Ratih jadi begini." kataku masik syok.


"Sudahlah Pril yang di katakan Grace ada benarnya juga. Buat apa kita memikirkan Ratih. Tapi dia nya malah asik masyuk. Empet di kita enak di dia." Sinta mengambil jalan tengah.


"That's right. Padahal kita sudah melakukan porsi kita sebagai sahabat. Dasar dia nya saja sudah di butakan hawa nafsu." timpal Grace lagi. "Padahal ya aku tuh enggak pengen banget menghakimi dia. Tapi sudahlah." lanjutnya.


Setelah syok kami mereda. Grace pergi mandi, Sinta melanjutkan bebek terbangnya, dan aku membuang sampah. Namun rasa penasaran ku masih menggebu. Akhirnya aku membicarakan Ratih lagi, bukannya sok suci, tapi aku itu masih belum mempercayai apa yang terjadi tadi.


"Sin, kok bisa ya Ratih jadi seperti itu? Mungkin nggak sih kena pelet?" aku mulai mengusik fokus Sinta.


"Kalau melihat di sinetron, kemungkinan terkena pelet ada. Tapi masa iya seorang CEO perusahaan kurang kerjaan amat ya pergi ke dukun segala untuk melet Ratih." komentar Sinta.


"Tapi sinetron itu biasanya based on true story kan?" kejarku.


"Iya, tapi lebih banyak imajinasinya. Lho kok kita malah bahas sinetron?" kami tertawa kecil.

__ADS_1


Padahal jika diingat jaman kuliah dulu. Ratih salah satu mahasiswa yang sangat menjaga pergaulan nya.


...••••••••••• ...


__ADS_2