
Pov Sinta
Bulan april. Tinggal dua bulan lagi aku akan menikah dengan kekasihku, Rafael. Rasanya tidak ada yang terlewat. Tinggal menunggu hari H. Sebenarnya masih ada satu ganjalan yang datang dari Abangku. Hingga kini masalah pelangkah yang di minta orang itu. Dia malah sempat mengatakan kalimat yang tidak pantas.
"Udah bangus aku cuman minta motor atau duit. Kalau aku nggak mau dilangkahi, kamu mau apa? Kamu harus siap nunggu sampai aku nikah! Kalau kamu tetap nekat, perkawinan kalian pasti akan berantakan. Kualat sama Abang."
Dasar pengangguran cecunguk. Makiku saat itu.
Apa dia tidak pernah berfikir mencari duit itu sulit? Katakanlah aku memberikan dia motor, setelahnya? Dia pikir motor pakai air bahan bakar nya. Untuk rokok saja dia masih minta uang ke orang tua. Aku sudah menawarkan modal usaha uang tunai saja Lima Juta, tapi dia malah marah-marah.
"Memangnya aku jonggos yang cuma bernilai segitu?"
Dasar pemerasan.
Dia malah kembali mengeluarkan kalimat ancaman jika aku tidak memberikan apa yang dia mau, Dia tidak akan mau menghadiri pernikahan kami. Sebetulnya aku tidak peduli dia mau datang atau tidak. Tapi pasti keluarga besar ku akan mempertanyakan itu terus. Begitu pula dengan keluarga Rafael. Posisiku serbasalah.
"Halo Grace, sudah pulang kamu?" sapaku. Segera ku tutup notes berisi perencanaan pernikahanku.
"Gimana perencanaan pernikahanmu? Lancar? Bilang saja kalau butuh bantuan." ujar Grace.
"Semua berjalan lancar, kecuali soal pelangkah yang abang ku minta."
__ADS_1
"Kasih sajalah dari pada ribet. Setelah itu kamu juga sudah bebas." jawab Grace sambil terkekeh.
Aku males ambil pusing.
"Tumbenan kamu dirumah jam segini?" tanyaku pada Grace.
"Luca ngajak aku jalan, sebelum dia pulang. Aku bingung pakai baju apaan.."
"Gila! Luca kayak nya serius sama kamu." ucap ku sedikit kaget. Jatuh cinta di sosmed jarang terjadi dan aku sulit percaya soal cinta tanpa saling melihat sebelum nya.
"Entahlah, aku pun tidak mau terlalu berharap banyak. Sampai saat ini aku masih menyakini kami hanya berteman."
"Yaudah nikmatin segala prosesnya. Entah nanti berteman atau bercinta." goda ku ngawur.
POV SINTA OFF
°
°
°
__ADS_1
°
°
Karina sedang bergelud dengan berbagai warna di wajahku. Berkali-kali dia memuji wajahku sambil berdecak mengagumi hasil karyanya sendiri. Aku belum melihat polesan di wajahku, dia sengaja membuat ku penasaran dengan hasilnya.
"Aaahhh, sudah jam enam!" pekiknya panik sambil dengan cepat menyapu blush on dikedua pipiku.
Menurut undangan, pesta ulang tahun teman Karin akan dimulai pukul tujuh nanti. Sebenarnya aku sama sekali tidak ada kaitannya dengan pesta tersebut. Semua ini karena Om Sammy yang menolak ajakan Karin dengan dahli masih ada meeting di kantor. Tapi untungnya dia mau menjemput kami nanti selesai acara.
"Oke perfect! " seru Karin sambil menatap hasil karya nya di wajahku. Lalu dia menyodorkan cermin padaku dan aku, tidak mampu berkata apapun kecuali terpaku menatap bayangan diriku di cermin.
Aku hanya mengangguk cepat, tanda puas dengan hasilnya. Karin sungguh berbakat. Tidak salah dia mau berbisnis salon kecantikan.
Tatapan mataku bertemu dengan Om Sammy setelah aku dan Karina keluar dari kamarku. Dia menatap ku dalam.
"Cantik," komentar nya sambil terus menatapku. Ku lirik Karin yang seperti nya menyadari hal itu.
"Jelas cantik, siapa dulu yang poles." sambar Karin sambil berjalan kearah Om Sammy.
"Kamu di sini? Tidak jadi meeting yank?" ku dengar Karin bertanya pada Om Sammy.
__ADS_1
Setelah itu aku tidak mendengar apa-apa lagi. Aku pergi dari sana membiarkan mereka bicara berdua saja.
•••••••••••