
Kami sampai di rumah, terpaksa aku ikut ke rumah Papa. Aku takut untuk minta diantar ke kontrakan. Tampang Om Sammy sungguh tidak bersahabat. Sialnya tidak ada orang di rumah semakin horor lah.
Sejak tadi aku terus mengacak-ngacak rambutku dengan frustasi. Bagaimana tidak, sampai saat ini Om Sammy belum juga buka suara. Belum lagi tadi mendengar kalimat dingin Om Sammy, hanya kalimat singkat tapi sukses membuat aku mengulangnya terus dibenank ini.
Aku menghela nafas berlebihan, kemudian beranjak dari kamar ke dapur. Mencoba mendinginkan kepala dan hatiku dengan sirup kesukaan ku. Ku buka pintu kamar perlahan, berusaha agar tidak terdengar oleh Om Sammy.
Aku bernafas lega mendapati tidak ada siapa pun di dapur. Segera aku buka pintu kulkas dengan hati-hati lalu membuat segelas sirup yang bisa menenangkan hatiku.
Suasana remang, karena beberapa lampu sudah di matikan. Membuatku semakin kesepian. Perlahan ku merasa pandanganku kabur, aku ingin menghentikan nya namun air mataku terus saja mengalir. Kutekan dadaku kuat-kuat demi meredam sakit ini. Namun bukan nya lebih baik aku semakin merasa sakit .
Aku benci diriku yang cengeng.
Aku merasa terperangkap disebuah labirin
Semakin aku mencintainya, semakin hatiku terluka. Berkali-kali aku membentengi diri untuk membuang perasaan ini. Namun sebanyak itu pula lah aku semakin mencintai nya.
Tuhan, mengapa harus sesakit ini?
Disaat orang lain dengan bahagianya menikmati cinta mereka, mengapa aku harus mencintai orang yang salah.
Pria yang sama sekali tidak boleh aku miliki. Aku semakin mencoba meredam isak tangisanku, namun tidak berhasil.
Cup cup
Aku terkejut tiba-tiba ada yang memeluk ku dari belakang. Aku tidak ingin dia melihat ku sekacau ini.
"Pril, lihat Om." pintanya dengan nada berbisik sambil menarik bahuku menghadap padanya.
"Pergilah..." usirku dengan suara parau.
"Pril.."
__ADS_1
Hening untuk beberapa saat. Kupikir Om Sammy sudah pergi, tapi ternyata......
Jantungku hampir berhenti berdetak saat tiba-tiba dia memelukku kembali.
"Semua salah Om! Maafkan Om" katanya
Aku gugup.
Aku tahu bukan hanya aku yang terluka.
Tapi kami tidak bisa melawan takdir.
Tidak ada yang bisa kami lakukan selain pasrah.
Hening
Tiba-tiba aku terpikir sesuatu.
"Hmmm.... " jawabnya sambil terus memeluk ku erat.
"Seandainya salah satu dari kita bukan bagian dari keluarga, apakah kita bisa bersama?" tanyaku lagi.
"Mungkin saja.."
"Bolehkah April berharap?" kataku sambil melihat matanya.
Tapi ada yang aneh saat dia melihat ku.
Pelan, entah bagaimana mana semua tiba-tiba saja terjadi...
Om Sammy terus melvm@t b1birku pelan.. Aku seperti kehilangan kesadaran, aku pun hanya bisa mengikuti reaksi tvbuhku.
__ADS_1
"Ayo kita ke kamar." ucap Om.
(Pokoknya sudah dikamar aja gitu yak, author juga kaga paham mereka gimana ke kamarnya)
Tanpa mengatakan apapun Om Sammy langsung menyerang April dengan m3nc1vm perempuan itu.
Mata April terbelalak kaget.
What the......!!!!!
"Hmmmmmpppphhhh" April mencoba mengumpulkan kesadaran nya. Namun respon yang diterima tubvh nya berbeda.
Hampir kehabisan nafas, akhirnya April mencoba mencuri oksigen. C1vman itu begitu kasar namun menuntut. April benci! Apalagi dia sangat menikmati semua itu.
"I want you Pril sayangku." ucapan Om Sammy pelan.
Suaranya normal namun penuh harapan.
Belum dijawab, tangan Om Sammy sudah berhasil melepaskan kaos pada tvbuh April. Terpampang lah kacamata estentik itu.
Oh Tuhan!
"Beautiful." Om Sammy bergumam.
"Oooggghhh..." d3sah April ketika lagi lagi dengan lincahnya Om Sammy melepaskan pengait kacamata estentik itu lalu merem45 nya pelan.
Bukannya menolak, April malah semakin lupa apa yang telah terjadi. Dia begitu menikmati ketika dengan enteng nya kepala Om Sammy terjatuh dan tenggelam pada b3l4han d4d4 April yang mengiurkan. April bahkan tidak terusik dengan gerakan naik turun tangan Om Sammy. Perempuan itu malah semakin membusung.
"Kamu sangat meng4ir4hkan Pril."
•••••••••
__ADS_1