
Jam makan malam sudah lewat, namun perutku tidak terasa lapar. Mungkin efek syok yang tadi sempat ku rasakan sehingga menurunkan nafsu makanku. Ku lirik jam dinding yang terdapat di kamarku.
Pukul 10 malam. Batinku
Jam-jam gawat untuk kaum perempuan makan. Bahkan sekedar makan roti sekali pun.
Ting
Suara ponsel menghentikan lamunanku
Ku lihat nama yang mengirim pesan.
'Om Sammy'
Tanpa berfikir lama, segera ku balas!
📥 Om Sammy
Pril sudah tidur ya?
📤April
Belum Om, kenapa?
📥 Om Sammy
Om lapar, tapi nggak enak kalau makan sendiri
Aku terdiam, senang? Tentu saja
📥Om Sammy
Pril, bagaimana kalau kamu nemenin Om makan? Nanti kita masak bersama, Om kangen masak sendiri?
Masak bersama?
📤 April
__ADS_1
Memang nya Om bisa masak?
Tanyaku setelah berhasil menenangkan debaran jantungku.
📥Om Sammy
Tentu saja! Selama di Jerman Om masak sendiri. Kamu belum pernah cobakan. Yuk
Aku seketika membasahi bibirku saat membayangkan seporsi menu yang akan tersaji nantinya.
Apalagi ini masakan Om Sammy!
📤April
Ide bagu! April otw ke rumah y.
...°°°°°...
Apa yang harus kulakukan jika setiap tindakan Om Sammy terasa berbeda. Aku tidak ingin berharap. Lebih tepatnya, tidak boleh berharap. Namun, rasanya dia selalu memberikan ku perlakuan istimewa.
Entah karena aku yang terlalu percaya diri atau memang seperti itu cara dia memperlakukan orang-orang terdekatnya.
"Om!" rengekku manja, karena peringatan itu hanya untuk menggoda ku yang tinggi nya pas pasan.
Tubuh tingginya berada dalam jarak super dekat di belakangku. Membuat ku mau tidak mau harus menahan napas jika tidak ingin jantungku bekerja extra. Wangi parfumnya membuatku hampir kehilangan kendali untuk berbalik badan dan memeluknya.
Gila! Pikiranku makin ngaco!
Aku kembali fokus pada kegiatan ku mencincang bawang bombay untuk mengalihkan debaran sinting ini.
Belum selesai dengan reaksi tubuhku, tiba-tiba Om Sammy meraih tisue disudut dapur lalu menggelap bulir peluh di keningku dengan lembut.
Ya Tuhan! Tolong katakan padanya....
Jangan perlakukan aku seperti ini....
Rasa cintaku, pada pria ini bagai candu...
__ADS_1
Namun sayang, tidak dapat kumiliki....
Ingin ku buang perasaan terlarang ini, tidak ingin bertemu dengannya. Aku ingin kami tidak saling bicara. Tidak ingin lagi kudengar suara baritonnya.. Sungguh aku tidak ingin menatap matanya....
Demi Tuhan! Aku tidak ingin perasaan ini semakin merajalela.
Tapi mengapa begitu sulit?
Aku tidak ingin memperdulikan dirinya, tapi mata ini selalu saja mencari bayangannya.
Tuhan! Aku harus bagaimana?
Haruskah aku membiarkan Cinta ini merasuki setiap detak jantungku?
Atau menunggu hati ini membunuhku secara perlahan?
"Pril, coba kamu cicipi," kata Om Sammy sembari menyodorkan garpu yang sudah dililiti spageti. Membuat ku tersadar dari lamunanku.
Ternyata disudah menyelesaikan masakan nya. Bahkan tanpa kusadari.
Baru saja ingin kuambil garpu yang dia sodorkan, mataku tiba-tiba membulat ketika dengan santainya Om Sammy menyuapi spageti itu ke dalam mulutku.
"Gimana?" tanyanya tidak sabar menanti jawabanku.
Dia terlihat sangat percaya diri dengan kemampuan memasak nya.
"Hmmmmm...," gumamku sambil terus mengunyah spageti. Bukan karena ingin berlama-lama menggoda nya. Tapi karena aku sibuk menetralisir debaran jantung yang mendadak terpompa cepat.
"Enak." akhirnya kata sederhana yang menjadi berat itu keluar juga. Di sambut senyum lebar dari wajah tampan nya.
"Untunglah kamu suka!" katanya lembut sambil mengacak-acak rambutku. Kemudian menyediakan dua piring untuk kami makan.
Aku pun tersenyum .
Kami duduk di meja makan yang sudah siap dua porsi spageti ala Om Sammy. Kami makan dengan tenang, lalu tiba-tiba saja sengatan listrik ringan menghunjam ke wajahku. Om Sammy mengulurkan tangan kanannya ke wajahku. Pria itu membersihkan sisa saos yang ternyata menempel di sekitar sudut bibirku dengan jarinya. Membuat sekujur tubuhku membeku.
Om Sammy tersenyum ringan. Seolah tindakan itu hanyalah gerakan sepele baginya.
__ADS_1
Dia tidak tahu, aku hampir saja mati karena serangan jantung saat jari itu menyentuh sudut bibirku.
...•••••••••...