
"April! Ada tamu..." teriak Monika teman kuliahnya yang berasal dari Kanada. kebetulan sedang berada di apartemen gadis itu.
"Sabtu pagi seperti ini siapa yang bertemu?!" Tanyaku sedikit terusik tidurku akibat teriakan Monika.
"April... Bangun lah" panggil Monik lagi.
"Bisakah kamu memintanya kembali lagi siang nanti?" erangku sambil menarik selimut menutupi wajah.
"Tidak bisa. Katanya dia dari Indonesia," kata Monik lagi.
Tamu dari Indonesia? Siapa?
Aku menyibak selimut dengan cepat, mencoba membelalakkan mata yang sejak tadi tidak rela untuk dibuka.
Refleks, kutekan dadaku kuat-kuat. Entah mengapa ada rasa sakit saat mendengar nama 'Indonesia' negara asalku itu membentuk memori indah yang menyakitkan.
Tubuhku gemetar. Ku Rapatkan rahang kuat-kuat. Perlahan kuangkat tangan kananku, ku remas kepalaku yang tiba-tiba saja berdenyut sakit. Sementara tangan kiriku menekan dada yang rasanya seperti dihujam ribuan belati. Perih!!!
Setelah dua tahun berlalu, mengapa aku masih tidak bisa melepaskan rasa ini.
Ah! Tidak mungkin dia! Pasti bukan dia!
Kami sudah berjanji untuk tidak saling berhubungan satu sama lain, kan?
Dan, seharusnya memang jangan dia. Seharusnya bukan pria itu .
__ADS_1
Mungkin kah Grace atau sinta?
"April!" pekik Monika dari balik pintu, membuatku tersadar.
"Oke! Oke!" Sahutku. "Zuyina di mana Nik?" tanyaku sambil beranjak dari ranjang dan bercermin sekilas.
"Pergi ke bawah sama Tama. Biasalah gadis kecil kita paling sedang malak Tama jajan di market bawah." jawab Monika sambil tertawa kecil.
Ya! Setelah perbuatan aku dan Om Sammy kalah itu, menghasilan seorang gadis yang tidak berdosa itu hadir tanpa sosok Ayah. Miris memang tapi aku sudah bisa menerima takdirku. Setidaknya ada bagian dari dirinya yang kini bersamaku.
Aku keluar dari kamarku menuju ruang tamu di mana ada seseorang yang menunggu ku entah siapa. Namun kemudian langkahku terhenti tepat di ujung tangga. Aku berusaha mengatur napas.
Semoga bukan orang itu!
"Kamu kenapa?" tanya Monika heran. Seperti biasa gadis ini terlihat sangat menawan walaupun belum mandi. Dengan rambut pirangnya yang keriting terlihat indah walau di ikat asal. Belum lagi mata abu-abu nya sangat cantik dengan bingkai kelopak mata yang besar sungguh membuatku iri setengah mati.
"Yaudah, yuk turun" ajaknya. "Cepat temui dia. Kalau kamu engga mau ya untukku saja. Soalnya dia sangat tampan!" kata Monik sambil tersenyum mencurigakan.
Astaga!
Tampan?
Berarti bukan Grace atau Sinta!
Aku tersenyum kecil, kemudian kembali fokus pada tamu yang katanya dari Indonesia itu. Kutarik napas dalam-dalam lalu ku hembuskan perlahan-lahan. Aku berjalan kaku menuju ruang tamu apartemen ku.
__ADS_1
Langkahku terhenti. Kaku. Mematung.
Mataku membesar.
Tiba-tiba saja kurasakan udara di sekitarku menghimpit. Membuatku sesak. Secara otomatis, bola mataku mulai basah. Aku Tahan air mataku sekuat tenaga. Kembali kutarik napas dalam-dalam kemudian kuhela kuat. Ku Ulangi beberapa kali sebelum akhirnya ku lanjutkan langkah, mendekati pria yang sedang duduk di sofa ruang tamu.
"Om" panggilku sangat pelan.
Pria itu mendongakkan kepalanya. Rupanya tadi dia sedang fokus membaja beberapa koleksi Novel yang memang aku taruh di bawah meja tamu. Diletakkan kembali Novel itu diatas meja. Matanya menubruk mataku, setelah berpisah selama dua tahun inilah pertama kalinya kulihat manik matanya lagi.
Tidak ada sepatah katapun terucap. Beberapa detik kami habiskan waktu hanya untuk saling menatap. Mataku bahkan tidak berani berkedip. Aku takut, Om Sammy yang ada di hadapanku saat ini hanyalah halusinasi.
Kutahan diri ini sekuat tenaga untuk tidak berlari mendekati dan memeluknya.
Aku rindu. Sangat merindukannya!
"Ada perlu apa?" tanyaku dingin. Setelah beberapa menit berjuang mengelola emosi dan rindu yang meledak di dada.
Kubangun benteng diri setinggi mungkin. Aku tidak boleh kembali terjerumus dalam kesalahan yang sama. Aku harus mengeluarkan diri dari labirin ini.
Aku tidak boleh terus mencintai nya
Namun..
Satu hal yang kusadari, seberapa pun seringnya aku mengabaikan perasaan ini, cinta tidak pernah meninggalkan hatiku. Sebongkah ruang di hatiku masih menyisakan ukiran nama Sammy. Terpatri jelas tanpa mampu kuingkari.
__ADS_1
Dan ada Zuyina yang hadir bagian dari kami.
...•••••••••...