
Ricko berdiri didepan cermin yang menampakkan bayangan dirinya yang kelelahan. Ia mencuci muka dengan air yang mengalir di wastafel. Latihan tadi benar-benar menguras energy. Ia mengelap wajah dengan handuk kemudian bergegas menuju tempat tidur sambil menatap langitlangit kamarnya, pikirannya tertuju pada batinnya yang kian bergejolak.
Ricko sadar dirinya jatuh cinta, tapi masih trauma dengan masa lalu yang menggoreskan kenangan kelam. Kepercayaan dirinya pernah runtuh dan sekarang masih dalam proses pemulihan. Ia belum sepenuhnya kembali menjadi dirinya sendiri. Ia butuh suatu kekuatan untuk membalaskan dendamnya. Kekuatan yang membuktikan bahwa dirinya berhak mendapatkan cinta.
Senyumnya selalu keruh bila mengingat masa lalunya yang pedih.
“kamu nggak pantes sama aninda! Kamu nggak bisa ngelindungin dia!” umar mendorong ricko kuat-kuat.
Tak ada jawaban yang keluar dari mulut ricko selain tangis yang membuat ingusnya menyesakkan napas. Ia tak berani melawan umar. Dirinya terlalu lemah menghadapi umar dan teman-temannya.
“aninda sukanya sama aku. Dia nggak suka sama kamu. Bocah ingusan, pendek, jelek!” sindir umar yang terbakar marah besar.
Umar tahu ricko bermaksud “menembak” aninda. Sudah lama umar tahu ricko suka aninda. Ditengah jalan umar dan teman-temannya menghadang ricko untuk melabraknya.
Ricko masih tersungkur lemah ditanah, tak berani menatap mata umar yang penuh amarah. Rasa kecewanya pada aninda mulai tumbuh tapi rasa sukanya pada aninda juga kian kuat. Ia benarbenar merindukan gadis kecil itu.
“awas kalau kamu berani deketin aninda. Dasar cowok lemah!” umar cs kemudian pergi meninggalkan ricko seorang diri. Meninggalkan dendam dan luka yang diam-diam tersimpan dalam hati ricko.
Ricko terus berangan-angan tentang gadis kecilnya dulu. Aninda yang sekarang masih seperti aninda yang dulu ia kenal. Aninda yang ceria, aninda yang selalu membuat orang-orang tertawa. Hanya saja aninda tak perlu lagi melindunginya. Sepantasnya sekarang aku yang melindunginya, batin ricko mantap.
***
Napas yasmin memburu, matanya tak bisa ia pejamkan. Padahal jam dinding sudah menunjukkan pukul satu pagi. Keringat dingin menetes dikening, perasaan bersalah dan menyesal merayapi hatinya. Pikiran buruk selalu melintas dalam kepalanya. Apa yang telah kulakukan? Aninda pasti marah padaku kalau sampai tahu, batin yasmin lemas. Ia merapatkan selimut kemudian tertidur dengan mimpi-mimpi yang terus menghantuinya.
***
Restiana menyelesaikan halaman terakhir novel yang begitu menghanyutkan perasaannya. Ia melepas kacamata kemudian merebahkan tubuhnya dikasur. Sebelum tidur ia selalu merogoh bawah bantal sejenak menatap foto yang disimpannya disitu. Foto dirinya dengan ricko saat pesta ulang tahunnya. Senyumnya mengembang bila menatap ricko. Ada begitu banyak rasa yang ingin ia sampaikan pada ricko hanya saja ia terlalu takut mengungkapkannya. Besok aku harus curhat sama aninda, tekadnya dalam hati.
***
Aninda kaget bukan main ketika mendapati vigo menjemputnya pagi-pagi sekali.
“ngapain kamu ke sini?” Tanya aninda tak acuh.
“yovi lagi nggak bisa jemput kamu” jawab vigo juga tak acuh.
Aninda berdecak pelan. “seharusnya kamu nggak usah repot-repot!”
“oh, ini kembarannya nak yovi ya? Ya Allah… gantengnya!” tiba-tiba ibu aninda nongol dari dalam rumah.
Vigo tersenyum pada ibu aninda kemudian menyalaminya.
“ya sudah sana berangkat!” perintah ibu aninda pada putrinya. Ia mendelik sekilas pada aninda, kesal dengan sikap anaknya yang dinilainya tidak sopan.
Aninda mendengus pelan kemudian berpamitan kesekolah.
“jadi anak tengil banget sih” ujar vigo pelan.
Aninda hanya mengerucutkan bibir.
Parkiran sekolah masih sepi ketika mereka berdua sampai.
Maklum, hari masih begitu pagi.
“emang kenapa yovi nggak bisa jemput aku?” Tanya aninda penasaran sambil merapikan rambutnya karena memakai helm.
“emangnya kamu pacarnya apa? Ngarepin dia jemput terus!” jawab vigo dengan aksen sengak.
***
Pelajaran bahasa inggris selalu sukses bikin aninda bosan dan mengantuk. Jadi untuk menghindari tertidur dimeja ia selalu berceloteh dengan yasmin. Tapi karena hari itu yasmin absen, aninda duduk sendirian. Sebuah ide terlintas dalam otak aninda yang biasanya kosong. Ia merogoh HP-nya kemudian sibuk memencet tombol-tombolnya.
Beberapa menit kemudian aninda merasakan HP-nyayang disimpan disaku roknya bergetar.
From Princess Yasmin :
Lagi nggak enak badan aja nih. Nggak usah SMS-an mulu perhatiin pelajaran. Ntar siang jenguk aku! Awas kalau nggak!
Aninda tersenyum membaca balasan SMS dari yasmin.
“is there something wrong, miss aninda?” bu purwanti rupanya membaca gelagat aneh aninda.
“no! no!” jawab aninda sekenanya. Kenapa sih aku selalu sial kalau mapel inggris, geramnya dalam hati.
***
Sementara itu diruang OSIS…
Yovi mulai bosan dengan perdebatan tema pensi yang akan diselenggarakan tiga bulan lagi. Ia memegang kepalanya mencoba berpikir. “menurutku tema buat acara pensi tahun ini hitam-putih aja kan lebih simple”
Beberapa peserta rapat setuju dengan usul yovi tapi ada juga yang kurang setuju.
“menurutku itu terlalu simpel dan kuno” komentar merli dingin.
“bener mer. Aku lebih setuju temanya Hollywood gitu deh” tambah syifa.
Marsya yang duduk disebelah yovi mencatat usul kedua temannya itu. Ia sekretaris OSIS. Marsya melirik yovi yang sedang berpikir lebih keras lagi. Rasa sesal itu kembali menjalari rongga dadanya. Seharusnya aku tak perlu mengatakannya, sesalnya dalam hati.
“kalau tema itu kasihan anak yang kurang mampu. Mereka pasti susah ngedapetin kostumnya” yovi mulai melancarkan alasan mautnya.
Kebanyakkan peserta rapat langsung setuju dengan alasan yovi. Setelah diadakan pengambilan suara akhirnya tema pensi adalah hitam-putih. Hal itu membuat trio cheerleader gusar. Mereka langsung meninggalkan ruang rapat tanpa pamit.
***
Toilet adalah tempat trio cheerleader sering berkumpul. Cermin besar tersedia disitu. Dengan bercermin mereka puas menatap keanggunan diri mereka.
Marsya mengeluarkan pelembab bibir kemudian mengoleskan dibibir tipisnya perlahan. “udah kita ngikut aja” katanya.
“yovi makin sewenang-wenang sejak putus dari kamu sya” ujar merli masih jengkel.
Syifa menjentikkan jari kearah cermin. “betul mer, sejak putus dari marsya yovi jadi sedikit kaku”
Marsya diam sambil menatap mata kosongnya dicermin. Wajahnya yang anggun dan cantik berhasil menutupi rasa perih yang terasa dihatinya. Andaikan saja mereka tahu yang sebenanya, katanya dalam hati.
***
Makan sendirian dikantin wajah aninda terlihat kesal. Kantin memang lagi sepi. Maklum para pelanggannya sedang pergi menonton pertandingan basket dilapangan.
“kenapa nin? Kelihatannya kok kamu suntuk banget?” Tanya ricko yang tau-tau duduk disamping aninda.
Aninda gelagapan dengan kedatangan ricko yang tiba-tiba. Cepat-cepat ia mengelap mulutnya yang belepotan kuah. “nggak papa rick. Aku lagi kesel aja sama orang” “oh ya? Siapa nin? Jangan-jangan aku nih?” ledek ricko.
“bukanlah rick. Ngapain juga aku kesel sama kamu” sergah aninda cepat. “pokoknya ada lah. Orangnya nyebelin setengah mati!”
“ati-ati tuh, ntar malah jadi cinta” lagi-lagi ricko meledek aninda.
“apaan sih? Nggak mungkin banget lah! Eh abis latihan karate ya?”
__ADS_1
“iya nih. Capek. Eh, kapan-kapan main sama aku yuk?”
Aninda langsung menyembunyikan senyum konyolnya. “main kemana?”
“yah makan bareng gitu. Mau ya?”
Aninda terdiam sambil mengigit bibir bawah. “boleh aja”
Ricko cepat-cepat meminta nomor HP aninda. Dalam hati ia senang bukan main. Aninda tak akan menolaknya lagi kali ini.
Tim cheerleader dan tim basket tampak bergerombol menuju kantin sekolah. Mereka semua kelelahan karena pertandingan tadi. Semua mata langsung tertuju pada aninda dan ricko yang duduk bersebelahan. Merli dan syifa mencibir. Marsya memasang wajah dingin menatap ricko tajam.
Aninda melirik gerombolan itu dengan tak enak hati. Pasti mereka mikir yang nggak-nggak nih, pikirnya cemas.
“hei nin” yovi mendekati meja aninda. “gabung ya sama kalian?”
“sini, sini!” aninda tersenyum senang.
“anin akrab sama ricko ternyata?” Tanya yovi heran.
Ricko tersenyum kecil. “ya gitulah. Gimana tadi pertandingannya?”
“wah, babak pertama kita kalah telak. Tapi kita menang di babak kedua” celoteh yovi semangat. “oh ya?” Tanya ricko.
Aninda terdiam, tak tahu harus berkomentar apa.
Belum sempat yovi menjelaskan lebih lanjut, tiba-tiba vigo datang dan mengajak yovi makan siang bersama tim basket.
Ricko mengerutkan kening.
Aninda mendengus kesal. Padahal sebenarnya dia ingin menanyakan kenapa yovi tak menjemputnya tadi pagi. Ia merasa makin kesal pada vigo, cowok sengak yang sepertinya akan selalu ia benci.
Ricko menyembunyikan kebencian pada si kembar. Ia tak mau aninda tahu hal yang memang sengaja ditutupinya. Aninda terlihat lemah sekarang dan ia tak mau menyakitinya. Hanya saja tadi tatapan aninda yang penuh harap pada yovi mengakibatkan bara kebencian dalam diri ricko semakin besar.
***
Sepulang sekolah…
“nggak latihan basket vig?” Tanya aninda heran ketika mendapati vigo sudah berdiri didepan kelasnya.
Vigo tampak enggan menjawab. “lagi males. Ayo, buruan pulang!” “eh tapi aku mau kerumah yasmin, mau jenguk dia” ucap aninda.
“iya nanti sekalian aku anter. Aku mau jenguk juga”
Teman-temasn sekelas aninda yang baru keluar kelas mecuit-cuiti mereka berdua. Wajah aninda memerah. Restiana yang keluar bareng aninda memahami situasi yang ada. Ia langsung pergi tak mau mengganggu.
“ternyata anin doyan pacaran juga” ledek riska, teman sekelas aninda saat melewati aninda.
Aninda tak berani berkomentar apa-apa, wajahnya seperti kepiting rebus.
Bu purwanti keluar dari kelas dan mengerutkan dahi ketika melihat aninda bersama vigo. “is she your girlfriend?”
“perhaps tomorrow, mam. Now she is just my friend, my junior” vigo menjawab tenang, masih dengan sikap angkuhnya.
“she is a sweet girl” imbuh bu purwanti.
“you are right, mam” ujar vigo tersenyum.
Dalam perjalanan ke parkiran sekolah aninda masih memikirkan pembicaraan vigo dan bu purwanti yang sama sekali tak dimengertinya. Ingin sekali ia menanyakannya pada vigo, tapi pasti cowok itu akan menertawakannya. Lagian pasti mereka ngomongin ketololanku, pikirnya.
“pembicaraanku sama bu purwanti nggak usah terlalu dipikirin kalau emang nggak tau artinya” vigo seolah bisa membaca pikiran aninda. Aninda memutar kedua bola matanya. Kesal.
“minggu depan sekolah kita tanding. Kamu wajib nonton aku main” vigo menjalankan motor pelan-pelan.
Aninda yang berada di boncengan menggeurutu. “aku bakal nonton tapi bukan nonton kamu”
Vigo diam tanpa ekspresi dibalik helmnya. Tanpa ba-bi-bu ia menambah gas motornya kuatkuat.
“vigo! Mulai lagi!” teriak aninda panik.
***
“udah ketemu sama cewek yang difoto itu?” marsya menunjuk foto aninda kecil yang ricko pajang dimeja belajarnya.
Hujan deras mengurungkan niat ricko untuk berlatih karate.
Ia memutuskan absen. Suasana hatinya juga sedang kacau karena melihat aninda berboncengan dengan vigo.
Ricko menatap lekat marsya, kakaknya. “tadi dikantin kami bareng kak. Kakak juga lihat orangnya kan? Yang kita lihat boncengan sama vigo”
Ekspresi marsya berubah menjadi terkejut, bahkan tak sanggup mengucapkan sepatah kata pun. Ia menatap adiknya, berharap ada penjelasan.
“sepertinya target kita melawan arah” gumam ricko.
“jadi semua ini berhubungan dengan masa lalumu?” Tanya marsya hati-hati.
Ricko mengangguk pelan tapi mantap.
Hati marsya menjadi kalang kabut memikirkan apa yang terjadi kelak. “jangan sakiti dia, rick”
Ricko tak menjawab. Ekspresi wajahnya datar. Kemudian ia beranjak pergi keluar kamar meninggalkan marsya yang bibirnya bergetar.
***
Aninda bingung karena vigo tak mengantarnya pulang malah membawanya kesebuah kafe bernuansa klasik.
“ngapain vig?” Tanya aninda pelan. Pikiran aneh mulai merambati isi kepalanya. Jangan-jangan aku mau dijual. Pantas aja dia menjemputku tadi pagi, pikir aninda merinding.
“laper nih. Makan yuk” vigo menarik tangan aninda kuat-kuat.
Didalam kafe suasananya lebih tenang daripada diluar. Aninda gelagapan memasuki kafe yang terlihat begitu anggun dan mewah. Ia mengusap keningnya kaku, takut kalau-kalau menabrak sesuatu yang mahal.
Vigo memilih tempat duduk didekat panggung. Ada live music. Dipanggung seorang laki-laki memainkan gitar dalam irama klasik. Hmm… petikan gitar yang lembut itu sunggu menambah kenyamanan suasana kafe.
“mau pesan apa?” Tanya vigo ketus.
Aninda mengernyitkan membaca menu eropa.
Vigo hafal benar dengan ketololan aninda. “pesan steak ayam special dua, minumannya lemon tea yang italia ya?”
Pelayan kafe langsung mencatat pesan langganannya. “tumben bawa cewek” ledek pelayan itu.
“lagi pengen mas” jawab vigo asal-asalan.
Aninda menjadi besar kepala setelah tahu itu pertama kali vigo mengajak cewek ke kafe langganannya. Ia menyembunyikan senyum konyolnya berharap vigo tak mengetahuinya.
“main sini lagi vig!” pria yang bermain gitar tadi berjalan turun kearah vigo.
__ADS_1
Vigo begitu saja berjalan kepanggung tanpa pamit pada aninda. Pengunjung kafe yang lumayan banyak langsung menghentikan obrolan mereka untuk sesaat menatap vigo. Begitu pun aninda yang masih kaget karena vigo berdiri dengan tiba-tiba.
Vigo meminta gitar kemudian mengatur letak mikrofon agar mendekat padanya. “ini lagu buat kamu aninda” ujar vigo lembut.
Seketika terdengar tepuk tangan riuh dari pengunjung kafe.
Vigo memetik gitar kemudian mulai bernyanyi…
I remember what you wore on the first day
You came into my life and I thought
Hey, you know, this could be something
Cause everything you do and words you say
You know that it all takes my breath away
And now I’m left with nothing
So maybe it’s true
That I can’t live without you
And maybe two is better than one
But there’s so much time
To figure out the rest of my life
And you’ve already got me coming undone
And I’m thinking two is better than one
I remember every look upon your face
The way you roll you eyes
The way you say
You make it hard for breathing
Cause when I close my eyes and drift away
I think of you and everything’s okay
I’m finally now believing
That maybe it’s true
That I can’t live without you
And maybe two is better than one
But there’s so much time
To figure out the rest of my life
And you’ve already got me coming undone
And I’m thinking two is better than one
(boys Like Girls – Two Is Better Than One)
Tepuk tangan para pengunjung lebih riuh daripada sebelumnya, bahkan ada beberapa yang berteriak saking kagumnya. Aninda sendiri terpana mendengar suara bagus vigo, apalagi permainan gitarnya. Keren, puji aninda dalam hati. Tapi yang jelas, ia bingung karena tidak tahu apa arti lagunya padahal laguitu ditujukan untuknya.
Vigo turun dari panggang setelah mendapat beberapa tangkai bunga yang diambil penonton dari vas dimeja. Mirip konser Rain yang membuat aninda gigit jari.
Aninda mengurungkan niat untuk bertanya arti lagu itu karena pesanan mereka keburu tiba. Ia memandang vigo lekat-lekat, rasa penasaran mulai menyergapnya. Penasaran dengan seluruh perlakuan vigo terhadap dirinya hari ini. Penasaran dengan tatapan vigo yang terkadang membuat dirinya salah tingkah.
***
“apa arti lirik lagu tadi?” Tanya aninda setelah mereka berada diteras rumah yasmin.
“kebencian seseorang karena ketololan seorang cewek” vigo mengarang.
Aninda mematung. Padahal ia berharap lagu itu memiliki arti romantic. Ia menggeleng. Ingat aninda, dia kan cowok yang nggak berperasaan! Ujarnya dalam hati.
“ya Tuhan anin! Nggak usah repot-repot kali” yasmin heboh melihat aninda membawakan buah untuk dirinya.
“ini yang ngusulin makhluk mars, bukan aku” jelas aninda berbisik pelan pada aninda.
“vigo maksudmu?”
Vigo yang mendengar namanya disebut berdeham keras. “cepat baik ya yas”
Aninda dan yasmin langsung menelan ludah, takut kalau-kalau vigo bakal marah.
***
Yovi mengangkat kardus yang lumayan besar ke mobil dengan susah payah. Sore itu tekadnya memang sudah bulat untuk mengembalikan barang-barang tersebut ke pemiliknya. Dulu marsya juga pernah melakukan hal yang sama pada dirinya. Keputusan marsya yang mewarnai masa lalunya sudah tak membuat dirinya gusar lagi karena kini ia telah menemukan seseorang untuk disayangi.
Honda Jazz berhenti mulus didepan rumah megah marsya. Yovi mengeluarkan kardus dari mobil, lalu mengangkatnya ke pintu pagar rumah itu. Ia memencet bel cukup sekali.
Suara bel membuat ricko yang sedang berada dibalkon kamarnya di loteng menengok ke arah pagar. Ia melihat yovi. Tak lama kemudian marsya muncul dan membuka pintu gerbang. Yovi dan marsya saling memberi salam.
Ricko melihat kakaknya menangis. Jarak antara balkon dan pagar yang lumayan jauh tak memungkinkan ricko mendengar isi pembicaraan mereka.
“kamu udah nemuin yang lain?” marsya sesengukkan.
“sepertinya begitu” kata yovi lembut, mematung didepan marsya.
“siapa?”
“tak penting siapa dia sya. Yang jelas, aku lelah nunggu kamu terus”
Yovi mengusap kepala marsya sekilas, lalu mengecup keningnya. Itu saja. Ia kembali pergi bersama Honda Jazz-nya.
Marsya masih meneteskan air mata diambang pintu. Keputusannya semakin ia sesali. Pasti aninda! pikir marsya marah sambil berjalan masuk kerumah.
Dari belakang, ricko meremas pundak marsya yang sudah berada diruang keluarga. “sabar ya kak”
Marsya memeluk ricko. Beruntung sekali ia memiliki adik sebaik ricko.
***
Yovi menyetir mobil tanpa arah. Matanya perih, seperih sakit didadanya yang kembali muncul setelah lama menghilang. Kenangan bersama marsya membayangi kembali. Ia ingat suara tawa marsya dalam gendongannya, teriakan manja marsya ketika menyemprotkan air dikebun belakang rumahnya, kehangatan marsya sewaktu memeluk dirinya… semua kenangan indah itu terus melintas dipikirannya. Datang begitu saja…
__ADS_1