LOLIPOP

LOLIPOP
LOLIPOP 39


__ADS_3

Sudah tujuh hari sepulangnya aku dari rumah sakit. Selama itu juga aku belum bertemu dengan Om Sammy, aku mengerti kemungkinan dia sibuk di kantor. Karena sejak kepulanganku juga orang tuaku belum pulang.


Terdengar suara pintu pagar dibuka dan digembok kembali. Pasti Sinta yang datang. Langkahnya terdengar begitu terburu-buru dan dia pun langsung masuk ke kamar.


"Hey Sin," panggilku namun tidak ada jawaban. Aku masuk ke kamarnya dan duduk di samping tempat tidurnya, aku kaget karena tangisnya langsung pecah.


"Heh, kamu kenapa Sin? Kok jadi nangis begini?" tanyaku dengan wajah bingung.


"Pril, aku nggak tahan kalau harus begini caranya," katanya sesenggukan.


"Begini caranya apa? Memangnya ada apa?" aku memperbaiki dudukku.


"Gila tuh abang ku. Emang dasar setan."


"Memangnya dia kenapa?" tanyaku lagi.


Wah ini sih urusan keluarga, tidak baik aku ikut campur. Tapi kalau aku cuek, nanti di sangka tidak perduli. Batinku


"Kamu tahu sendirikan, alasan aku malas tinggal dengan mereka. Karena keluarga ku menyebalkan. Orang tuaku selalu ribut masalah abangku, umur sudah tiga puluh lebih masih saja luntang-lantung nggak ada kerjaan tapi selalu banyak maunya." jelas Sinta panjang lebar.

__ADS_1


"Iya Sin aku paham. Terus yang jadi masalahnya apa?"


"Aku minta izin sama dia supaya aku nikah duluan dan aku tanya dia mau pelangkah apa, eh dia malah ngomong begini 'berani bayar berapa kamu ngelangkahin aku? Ini kan mau kamu, kamu senangkan lihat aku jadi penganguran dan bujang lapuk?' . Bayangkan Pril, abang ku sendiri ngomong seperti itu ke aku." Sinta nyaris histeris.


"Barusan kejadiannya? Terus kamu jawab apa?" aku harus menanggapi ceritanya. Karena ketika seseorang memiliki masalah dia tidak butuh solusi atau nasehat, tapi mereka hanya butuh di dengarkan.


"Iya tadi sore aku sendiri ke sana. Ya seperti yang sudah-sudah pasti akhirnya berantem. Padahal maksudku, pergi ke sana sendirian untuk bicara baik-baik, jadi nanti kalau Rafael datang semuanya sudah smooth. Boro-boro smooth yang ada aku malah perang begini."


"Mungkin abang kamu begitu stress juga karena nggak ada kerjaan." jawabku


"Iya. Sebenarnya aku juga kasihan sama dia, tapi kelakuan dia bikin orang malas mengasihani. Gayanya songong!"


"Hari gini kalau bukan duit apa lagi...."


"Memangnya dia minta berapa?" aku langsung memotong jawaban Sinta.


"Dia minta sepuluh juta, atau satu sepeda motor dan itu nggak bisa di tawar."


"Memangnya dia mau ngapain duit sebanyak itu?"

__ADS_1


"Katanya dia mau coba ngojek online atau buka bisnis sama temannya."


"Coba kamu bicara sama Rafael." Saranku akhirnya.


"Pril, aku ada duit segitu, kreditin motor juga aku bisa. Tapi aku nggak mau lakuin itu demi orang yang nggak mau usaha kayak dia. Lagi pula kamu tahu sendiri pernikahan aku sma Rafael itu hanya kerja keras kita berdua. Nggak ada bantuan dari orang tua. Keluarga ku nggak bisa diandalkan, makanya aku juga nggak mau mereka aneh-aneh. Duit sepuluh juta itu bisa buat undangan sama souvenir Pril."


"Hmmmm emang pelangkah itu wajib? Apalagi kan abangmu laki-laki, harus"


"Yang aku dengar nggak juga sih, tapi aku takut kualat. Takut terjadi sesuatu dengan pernikahan kami nanti karena tidak memberikan pelangkah pada kakak yang dilewati." jelas Sinta lemas.


"Coba para reader, bisa bantu jawab? Pelangkah itu wajib kah?" 😁


"Sin, Sin..... Hari gini kamu masi mikir kualat. Kamu sudah cerita masalah ini sama Rafael?"


"Belum. Kalau dia tahu pasti dia bilang. 'Sudah kasih saja' dan aku nggak mau itu. Aku nggak mau ngalah dengan orang kayak abangku itu. Tukang menyakiti orang lain kok di kasih hati." kata Sinta penuh kemarahan.


Aku tidak tahu lagi mau bicara apa. Nasehat juga percuma. Stok nya mentok! Yang tahu solusinya hanya mereka. Kalau itu terjadi padaku, aku pasti tahu harus berbuat apa. Yasudah cukup menjadi pendengar yang baik.


...•••••••••...

__ADS_1


__ADS_2