LOLIPOP

LOLIPOP
LOLIPOP 67


__ADS_3

Seharusnya aku menolak. Seharusnya aku menggeleng. Ketika Om Sammy mengajak ku bicara. Entah apa yang ingin dia katakan. Karena semua sudah selesai, bahkan kami tidak pernah memulai nya. Tidak ada nama atas hubungan yang pernah terjadi pada kami.


Tetapi aku malah mengangguk. Ternyata selama dua tahun ini pikiran dan hatiku tidak sama.


Selama perjalanan, suasana di antara kami hening. Tidak ada yang ingin lebih dulu memulai pembicaraan.


Dan aku tidak ingin pertahananku roboh.


Om Sammy menghentikan mobilnya di salah satu Cafe Asia terkenal di kota ini. Aku sangat menyukai tempat ini. Selain makanan yang halal rasanya pun enak. Namun, kali ini segala jenis makanan ataupun minuman enak disini tidak dapat menenangkan hatiku. Aku terus menahan diri. Dengan susah payah.


Kami memilih duduk di pojok yang jauh dari keramaian. Hening masih terus meliputi kami. Aku pun masih membisu


"Om harap, selama dua tahun ini kamu baik-baik saja. . ."


"Aku sangat baik di sini," jawabku cepat. Terdengar agak ketus.


Dari sudut mataku, kulihat Om Sammy menarik sudut bibirnya.


"Baguslah. Om senang kamu bisa menikmati hari-harimu di sini." katanya lembut.


"Gimana kuliahmu? Seru?" tanyanya kemudian.


"Tentu saja. Aku banyak dapat teman baru. Juga ada teman yang sama-sama dari Indonesia." jawabku berusaha terdengar seringan mungkin.

__ADS_1


"Oh Ya? Terdengar sangat seru. . " responnya. Kemudian kami terdiam sejenak.


"Aku tau. Om enggak mungkin datang ke sini hanya untuk menanyakan gimana kuliahku, kan? Apa yang sebenarnya Om mau bicarakan?"


Pasti ada hal penting yang ingin disampaikannya.


Apa itu?


Aku sungguh penasaran!


Mungkinkah setelah dua tahun, akhirnya Om Sammy dapat menemukan fakta jika kami tidak terikat pertalian darah sama sekali?


"April...," panggil Om Sammy. Kemudian terdiam lagi.


Aku menahan napas saat tiba-tiba pria itu menyodorkan selembar undangan berwarna cokelat keemasan kepadaku.


Rasanya duniaku terbelah dua, berguncang hebat, kemudiaan menjatuhkan ku ke dasar jurang dan menimbunku hidup-hidup.


Aku kalah


Hatiku menyerah


Sungguh. Sakit!!!

__ADS_1


Takdir telah menjelaskan segalanya. Bahwa aku tetaplah pecundang. Laki-laki didepanku ini bukan untukku


Kutahan genangan air mata di kedua kelopak mataku. Aku tidak ingin Om Sammy melihat air mataku. Melihat kelemahan ku.


"Oh! Om akan segera menikah?!" setuju berusaha terdengar senang akan berita bahagia ini.


"Selamat ya Om!


Dia terus melihat ke arahku. Berusaha membaca raut wajahku. Ku Acuhkan dia


Segera kubuka undangan itu untuk memastikan nama pengantin wanitanya. Susah payah kuangkat sudut bibirku saat membaca nama Karina disitu.


Akhirnya wanita itu berhasil memenangkan hati Om Sammy. Ku tatap lama undangan itu. Ku baca berulang kali Nama Vincen Sammy Wijaya dan Karina Agustine Mariska yang tercetak rapi diatas kertas cokelat keemasan.


"April....."


Tangan kananku mengepal keras disamping tubuhku. Berharap dengan melakukannya aku dapat meredam sakit ini. Rahangku kukatupkan rapat-rapat, hanya agar aku kuat menahan perih yang tiba-tiba menancap tepat di jantungku .


"April.... Kamu nggak apa-apa?" tanya Om Sammy khawatir.


"Aku baik-baik saja," kataku rendah.


"Selamat ya, Om. Aku pasti datang!" setuju dengan segenap sisa kesadaran yang ku miliki.

__ADS_1


...••••••••••• ...


__ADS_2