LOLIPOP

LOLIPOP
LOLIPOP 28


__ADS_3

Grace dan Sinta sepertinya sangat mengkhawatirkan hubunganku dengan Om Sammy. Setelah tadi kubilang sering bertemu dengan Omku itu. Dan, Saat pulang tadi mereka pun melihatku diantar lagi, lagi dengan Om Sammy.


Dengan berbekal berbagai macam cemilan, mereka mulai merajalela mengintrogasi aku di kamar. Sedangkan aku memilih tiduran di ranjang, melepas penat.


"Pril, kita mesti ngomong serius nih." ujar Sinta membuka obrolan, dengan mimik wajah serius yang membuatku susah payah menahan tawa.


"Kamu ngomong gitu, kayak aku punya salah saja." jawabku sambil terkekeh geli.


"Yah, kamu emang lagi salah. Salah besar!" seru Sinta yang langsung disetujui Grace dengan anggukan.


Aku terdiam. Memang hal ini tidak bisa di bilang sepele.


"Lalu apa rencanamu?" tanya Grace.


Aku menggeleng pelan, membuat kedua sahabat ku mendesah berat.


"Pril, kami bukannya mau jahat sama kamu. Tapi ini semua demi kebaikanmu juga loh." kata Grace yang membuatku langsung mengangguk pelan.


Aku tahu, Aku tahu.


"Iya Pril. Perasaan kamu sama Om kamu itu terlarang. Secinta apa pun kamu sama dia, kalian tetap nggak bisa bersama," Sinta menambahkan.


"Kami ngomong begini karena kami sayang sama kamu Pril. Kami nggak mau nantinya kamu jadi sedih, karena perasaan salah kamu sama Om kamu itu," kata Sinta lagi.


Aku tidak bereaksi.


"Jangan diam gitu dong, April..." bujuk Grace.

__ADS_1


"Aku nggak tahu harus ngomong apa. Kalau saja aku bisa menentukan hati, aku juga nggak akan milih suka sama Om ku sendiri." kataku pelan.


Perlahan air mataku mengalir dibarengi sesak yang tiba-tiba saja meremas kedua paru-paruku.


"Iya kami tahu. Tapi kami harap kamu mau sedikit saja memikirkan perkataan kami ini.. Cukup pahami, cukup Ratih yang keluar dari zonanya. Kami tidak ingin kamu sama terjerumus nya dengan Cinta terlarang itu."


Grace dan Sinta langsung merapatkan diri padaku. Mereka memelukku, menepuk-nepuk punggungku lembut.


"Kami tahu ini berat buat kamu." kata mereka hampir bersamaan.


...•••••••••...


Ratih menatapku dengan terbengong-bengong. "Pril, kamu enggak lagi kesambet kan?"


"Kenapa?" tanyaku heran.


"Ngpain kamu bangun pagi-pagi begini. Kamu nggak salah pasang alarm kan?"


"Aku emang hari ini niat bangun pagi tau, memangnya aku enggak berhak bangun pagi ya? Kok kamu sampai serasa melihat hantu gitu sih?"


"Bukan kamu banget soalnya bangun pagi tuh. Hari ini ada pertandingan lagi? Kamu mau ke gedung olahraga lagi?" kejar Ratih belum puas.


"Enggak. Hari ini aku mau nonton acara gosip saja."


"Hhhaaaaa? Kamu enggak kesambet kan semalam? Niat banget kamu nonton gosip pagi buta begini?"


"Ssssttttt... Jangan berisik napa Rat, nanti Grace sama Sinta pada bangun. Kamu mau buat sarapan?" tanyaku.

__ADS_1


"Iya."


"Nitip dong,"


"Walaupun aku bukan tempat penitipan, tapi karena aku lagi baek, ya sudahlah sekali-kali. Roti tawar panggang mau?"


"Boleh. Selai kacang coklat ya." kataku.


Tanpa banyak tanya Ratih langsung ke dapur membuatkan sarapan, sementara aku mulai menyalahkan televisi.


"Memangnya ada gosip apa Pril yang lagi Hot. Sampai kamu bersemangat banget nonton gosip."


"Ada pasangan lεsbi open public."


"Hah? Siapa?"


"Aktris A dan B. Gila si mereka padahal cantik cantik banget. Menurut kamu lεsbian itu bisa disembuhkan nggak sih?"


"Kayaknya itu bukan penyakit seperti flu burung atau sejenis pilek deh. Itu dari dalam dirinya sendiri dan pergaulan tentunya."


"Iya. Itu hak mereka juga. Kita tidak bisa mengubah orang lain. Ngeri banget dunia sekarang."


"Pinter-pinter kita lah dalam mengambil sikap."


"Dih, gaya mu. Diri sendiri pacaran sama bos." sindirku.


"Itu karena kami saling mencintai." jawabnya sambil tertawa.

__ADS_1


Dia meletakkan rotiku, dan berlalu masuk ke kamar kembali. Satu acara gosip di mulai. Aku menyaksikan daftar acara gosip maut hari ini.


...•••••••••...


__ADS_2