
"Badanmu panas, ayo kita harus keluar dari pondok ini." ujar Om Sammy panik.
Aku tidak mampu merespon apapun. Dia sungguh terlihat panik. Pria itu langsung mengendong ku lalu membawaku berlari keluar pondok.
°
°
°
Aku berusaha keras menarik napas lalu mengembuskannya. Kepalaku terasa sangat berat, seperti baru saja tertimpa ribuan ton besi. Perlahan kucoba membuka mataku,
Aagghhh...
Dengan cepat kututup lagi mataku. Saat sinar itu menembus masuk. Sekali lagi, kali ini kubuka perlahan untuk menyesuaikan mataku dengan cahaya itu.
"Kamu sudah sadar?" tanya sebuah suara disamping ku.
Aku menoleh. Kemudian kunaikkan sedikit ujung bibirku saat melihat Om Sammy duduk di sampingku.
Sepertinya dia menungguku.
Kuarahkan pandanganku pada atap dan dinding yang ber cat putih.
"Rumah sakit?" kataku saat menyadari ranjang tempat aku berbaring.
Om Sammy mengangguk.
"Panasmu sangat tinggi, jadi Om langsung membawamu ke sini. Kamu benar-benar berhasil membuat Om khawatir" jawabnya
Aku tersenyum kecil. Membuat kepalaku kembali seperti di tusuk-tusuk rasa nyeri. Sadar akan tatapan Om Sammy, aku pun hanya menahannya dengan memejamkan mata sejenak. Sungguh aku tidak ingin membuatnya semakin cemas.
"Apakah kamu ingin makan?" tanyanya.
Aku menggelengkan kepala.
"Kalau begitu minum sedikit ya, biar enggak kering bibirnya." godanya.
Aku mengangguk dan tersenyum, kemudian dia mengacak-acak poniku dengan lembut.
"Cepat sembuh ya," bisiknya. Lalu mengambil kan gelas yang ada di atas nakas. Aku meminum nya sedikit.
"Om..."
"Hmmm"
"Om apa se....semaalaam kita melakukan sesuatu?" tanyaku terbata
"April...."
"Om hanya perlu menjawabnya, apakah itu hanya sebuah mimpi? Atau khayalanku atau bahkan sebuah harapanku saja?" tanyaku menggebu-gebu. "Om tahu, aku enggak pernah merasakan sebahagia ini sebelumnya."
Bukannya tersenyum, pria itu malah tampak frustasi.
"April."
"Om hanya perlu tersenyum dan mengangguk. Aku mohon, biarkan aku bahagia walau sebentar saja." potong ku lagi sambil menunduk .
__ADS_1
Selanjutnya mataku kembali berkabut oleh air mata. Dalam Pandanganku di balik air mata ini, aku melihat Om Sammy masih terdiam. Tidak lama, air mataku jatuh begitu saja saat tiba-tiba sebuah kehangatan menyentuh bibirku. Aku tersenyum
Sungguh ini sebuah kepedihan dalam rasa bahagia yang singkat. Senyum dan tangis bersama mengaduk-aduk dadaku. SESAK!
tapi aku memilih merasakan kebahagiaan singkat ini. Bagaimana pun akhir kisahnya. Aku tetap ingin menikmati setiap debaran ini.
Aku sadar, aku sangat egois. Aku menyeret Om terus terjerumus dalam kisah Cinta terlarang. Namun satu hal yang pasti, aku juga ingin seperti gadis remaja lainnya.
Menikmati kebahagiaan sebuah Cinta!
Walaupun itu terlarang.........
°
°
°
"April....." pekik Grace san Sinta.
"Ah teman-temanku datang." kataku pada Om Sammy sembari tersenyum.
Karena merasa kondisiku sudah jauh lebih baik , aku bersikeras untuk segera pulang. Dan Tidak perlu usaha yang keras, memang dokter juga memperbolehkan pulang. Demi apapun aku benci bau rumah sakit, khas bau obat-obatan itu justru membuatku kembali pusing.
"April.." teriak mereka lagi setelah sampai pada sisi ranjangku. Lalu kompak melihat ke arah Om Sammy yang menyingkir ke sofa sudut kamar.
"Ah ternyata ada Om April ya, kalau tidak salah namanya Om Sammy, bukan?" tanya Sinta.
Om Sammy tersenyum ramah, lalu bangkit.
"Om tinggal dulu ya?" katanya sambil membelai rambutku.. Aku sontak melirik pada kedua sahabatku yang sudah membelalakkan mata saat melihat adengan tersebut.
Tidak lama Om Sammy sudah pergi, meninggalkan kami bertiga.
"Pril, kami enggak salah liat kan?" Tanya Sinta penuh selidik.
Aku menelan ludahku susah payah.
"April kamu jadian sama Om Sammy? Om kamu?" tembak Grace dengan tatapan tajamnya.
Diam!
Aku tidak mau menanggapi ucapan mereka.
"April..." panggil Sinta dengan nada rendah. Berusaha mengimbangi suasana panas yang di pancarkan Grace. "Kamu sudah baikan?"
"Tadi sih sudah lebih baik, tapi jadi parah lagi gara-gara kalian." kataku ketus.
Grace mendengus berlebihan.
"Aku benar-benar enggak habis pikir sama jalan pikiran kamu. Terserah deh! Aku cuman mau ingetin kamu, kalau nanti patah hati karena Om mu itu, Jangan pernah cari aku. Inget aku sudah peringatin kamu dari awal soal ini."
"Grace sudah dong! Aprilkan lagi sakit" Sinta mencoba mendinginkan suasana.
"Cih! Lebih baik dia sakit begini masi bisa hidup, coba nanti kalau sakit hati, yakin masih sanggup hidup?" sahut Grace kesal.
"Sudah-sudah kok jadi berantem sih"
__ADS_1
"Dia yang mulai, enggak Ratih, enggak kamu Pril. Pada Susah di bilangin."
"Kita ini sahabat kan? Semuanya bisa dibicarakan baik-baik. Enggak perlu marah-marah gini kan?" bujuk Sinta.
Hening!
"Hah!" seru Grace tiba-tiba. Memecahkan keheningan seakan tidak terjadi apapun.
"Eh kalian pernah nonton sinetron yang ceritanya anak ku bukan anak kandungku, atau anakmu itu bukan anakku dan lain lainnya." ujar Grace.
"Lalu?" tanyaku dan Sinta hampir bersamaan. Aku bahkan sampai mengerutkan dahi. Tidak mengerti arah pembicaraan Grace.
Grace tiba-tiba tersenyum lebar. Kemudian melirikku.
"Aku rasa, kamu harus memastikan status kamu Pril atau Om kamu." katanya.
Aku menatap Grace intens. Tidak mengerti.
"Maksud kamu?" tanyaku.
"Bisa saja kan kamu atau Om kamu itu ternyata bukan bagian dari keluarga kalian? Yah aku enggak bermaksud mau bilang kalau kamu anak adopsi bokap nyokap kamu ya Pril. Tapi menurut aku, hanya ingin memberikan sedikit harapan kamu satu-satunya." Kata Grace panjang lebar.
Aku berbaring kembali, sambil geleng-geleng kepala atas pemikiran sahabatku itu.
"Kamu pikir ini dunia jumanji, yang bisa tiba-tiba ada hewan keluar? Dunia film yang terkadang tidak masuk akal sehat manusia."
"Grace kamu kira ini sinetron apa?" Sinta ikut tertawa.
"Kalian ini, Justru sinetron itu diangkat dari kehidupan kita sehari-hari." lanjut Grace membela diri.
Aku terdiam, memikirkan kata-kata Grace.
Lalu dapat kurasakan kedua mataku berbinar-binar.
"Iya Grace kamu benar! Oke aku akan cari tahu. Siapa saja Om Sammy bukan anak dari nenekku. Aaaahhh semoga."
"Dan bisa juga kamu buk..."
Tuk
"Enak saja, enggak ada ya. Aku ini benar anak Papa Mamaku ya." potongku sengit
Beberapa detik kemudian,Kami pun tertawa.......
...Aaahhh.....
...Aku pasti sudah gila! ...
...Tidak ada orang yang senang jika mendapati dirinya bukanlah anak dari keluarga nya. Tapi untuk saat ini aku sangat berharap kenyataan itu sungguh terjadi. ...
...••••••••••• ...
Hallo Kaum KECE semua!
Maapkan Author yang baru sempat Update kisah April dan Om sammy. Semoga tidak lupa sama alur ceritanya ya, kalau lupa boleh ulang dari awal lagi ✌️
Terimakasih atas dukungan kalian semua.
__ADS_1
😎☕
Selamat membaca 🖤