
Ratih POV
Hubunganku dengan Mas haris kian panas. Kami bagaikan suami istri yang harus terpisah karena takdir. Betulkah jika tidak cukup satu perempuan untuk memuaskan seorang laki-laki? Entahlah!.
Yang jelas kami sangat baik mengatur waktu pertemuan bila tidak ingin muncul gosip di kantor. Salah sedikit saja bisa runyam dan hancur berantakan. Setelah memulai hubungan rahasia ini, aku belum pernah bertemu dengan isterinya lagi.
Jika kami bertemu, bagaimana perasaanku? Apakah merasa bersalah karena telah merebut suaminya? Atau merasa menang karena berhasil merebut suaminya?
Karena terus terang aku tidak ingin memikirkan kelanjutan hubungan ini. Apa yang ada didepan mata itu yang akan ku jalani. Namun, disudut hatiku aku sangat berharap Mas Haris mencerai kan isterinya dan anak-anak nya ikut Ibunya.
"Sayang, hey... Kenapaa melamun?"
"Hah, nggak kok Mas. Aku lagi mikir sampai kapan kita harus begini. Aku pernah punya tante.. Saat suaminya meninggal, lalu dikuburkan baru ketahuan kalau suaminya sudah punya isteri lain. Tante ku dan istrinya itu bukannya berantem malah saling berpelukan. Kayak sinetron banget." kataku mengenang kisah lalu.
__ADS_1
"Kok aku merasa seperti disindir." lirik Mas Haris.
"Apaan sih, aku nggak menyindir. Aku hanya cerita. Apakah mungkin peristiwa tanteku itu bakal kualami?"
"Kamu ini lagi kenapa sih? Kita ini kan mau senang-senang, jalan-jalan, kok malah ngomongin hal-hal yang nggak penting." Suara Mas Haris mulai meninggi. Aku hanya diam. Takut jika aku bersuara lagi akan makin panjang urusannya.
Kami pun menuju mall yang letaknya sedikit jauh, Mas Haris tahu sekali jika istrinya tidak akan mengunjungi Mall yang jauh.
"Ratih maaf kalau tadi aku sedikit membentak kamu. Aku mohon kalau kita lagi berdua begini jangan membicarakan tentang istri atau anakku. Kan kamu sudah tahu dari awal, jadi kita jalani saja yang ada." kali ini Mas Haris berkata dengan lembut seperti biasanya.
Terserah apa katamulah! Batinku
Sungguh aku sangat sedih jika Mas Haris meninggikan suaranya. Di titik itu aku merasa aku bukan siapa-siapa. Aku hanya perempuan yang bisa dia tinggalkan kapan pun dia mau. Hmmm..... Kenapa aku jadi mellow begini? Seharusnya aku bersenang-senang seperti yang dia katakan. Bukan meratapi nasib! Persetan orang mau bilang hubungan ini dosa. Mereka tidak tahu yang aku rasakan dan hanya bisa menghakimi.
__ADS_1
Di dalam Mall yang kami datangi, kami hanya berputar-putar melihat lihat apa saja yang terdapat di toko-toko dalam Mall ini. Jika di tanya apakah kami tidak takut jika ada yang melihat? Tentu tidak! Kami bisa berkilah jika kita sedang bertemu klien. Yang penting jika ada yang melihat kita jangan sampai saat kami beradegan mesra.
Ya! Kadang kami secara tidak sadar, kami saling merangkul pinggang, berpelukan, persis seperti pasangan lainnya.
Dirasa situasi aman. Kami singgah di salah satu stand makanan. Aku memesan corndog dan jus jambu biji merah. Perpaduan yang lezat kan. Sedangkan Mas Haris memesan nasi rames ayam geprek dan es teh. Di sela makan kita, kami saling mencicipi menu, kadang dia malah menyulap ku. Kami asik ngobrol tentang keadaan kantor, tentang hubungan terlarang kita, lalu aku menyuapi nya lagi dengan corndog gulung tadi.
"Haris....Harisa kan?! Ada yang memanggil namanya dari arah belakangku. Dengan cepat kutarik corndog ku dari mulut nya lalu menurunkan nya ke piringku.
Aku menoleh....dan!
•••••••••••
Dan bersambung 😆
__ADS_1
Sabar,
Apakah Perselingkuhan ini akan terbongkar??