
Tiga hari aninda berpikir keras---sebenarnya ini bukan sifat aslinya. Ia memikirkan benangbenang cintanya yang kian berserabut. Kalau ia tetap pada pendiriannya---menanti sesuatu yang tak pasti---akan semakin banyak orang yang terluka. Ia harus berbuat sesuatu keputusan tegas yang akan menyelesaikan semua masalah ini.
Hingga hari sabtu aninda masih tetap membisu. Wajahnya sayu, lemah, lesu, lunglai. Orang yang melihatnya akan mengira aninda TKW indonesia yang baru disiksa majikan. Keceriaan yang selama ini melekat pada dirinya pergi entah kemana.
Bisik-bisik teman sekelasnya makin tak masuk akal. Mereka meledek ia terkena pelet dukun yang tidak suka dengan kecerewetannya. Ada juga yang berpendapat aninda mengidap virus aneh sehingga murung setiap hari.
Bu purwanti menduga muridnya yang satu ini sedang terkena sindrom ujian listening bahasa inggris yang akan diadakan minggu depan.
"Ada anak baru disekolah kita nin" lapor restiana saat mereka selesai berganti baju olahraga.
Sebenarnya aninda tidak tertarik. "Pindah kapan?"
"Ternyata udah dari senin lalu. Saking kupernya, kita sampai nggak denger beritanya"
Aninda tersenyum kecil, tak menanggapinya lagi. Ia sibuk melipat baju olahraganya agar muat ditas. Saat aninda membuka tas punggung, secarik amplop merah jatuh kelantai. Aninda melirik restiana, takut dia lihat. Ternyata restiana juga sibuk dengan baju olahraganya. Cepat-cepat aninda menyembunyikan amplop itu di saku rok.
Seperti biasa, saat istirahat aninda pergi ke tempat pertapaannya, perpustakaan. Kebetulan restiana belum selesai menyalin PR trigonometri dikelas, jadi aninda punya kesempatan membuka dan membaca isi amplop itu diperpustakaan.
Aku tunggu dibawah pohon sore ini
Umar
Tangan aninda bergetar hebat setelah mengetahui isi surat itu. Badannya panas-dingin, gemuruh dihatinya datang. Umar telah kembali! Umar sedang menantinya! Aninda sebetulnya heran, siapa yang memasukkan amplop itu kedalam tasnya, dan darimana umar tahu alamat sekolahnya. Tapi aninda juga senang, berarti penantiannya selama ini tak sia-sia. Berarti masalah terbesar dalam hidupnya akan selesai hari ini. Takdir mulai berjalan sempurna, batin aninda senang.
Rasa gelisahnya mulai muncul saat memikirkan pertemuan nanti. Hati aninda meraba. Bagaimana kalau umar telah berubah, bagaimana kalau ternyata dia sudah menikah, atau malah umar menemuinya untuk sekadar mengucapkan salam perpisahan?
Aninda menggeleng kuat-kuat. Umar pasti menepati janji!
"Nin, surat dari siapa?" Suara ricko. Rupanya sedari tadi dia mengamati aninda dari belakang.
Cepat-cepat aninda menyembunyikan surat itu dari ricko.
"Umar udah kembali rick. Kamu jangan ngarepin aku lagi"
Wajah ricko terlihat datar. "Belum tentu dia kembali kepelukanmu nin" Aninda melongo. Terdiam tak bisa menjawab.
"Dia nggak bakal kembali untukmu nin!"
***
Aninda tak sabar bertemu umar, cowok yang telah lama dinantinya. Keceriaan kembali menyinari wajahnya, senyum manis selalu ia tunjukkan pada setiap teman yang berpapasan dengannya. Ia merasa menggenggam dunia, atau mungkin seperti terbang ke angkasa? Aninda ingin menunjukkan pada ricko bahwa umar masih ada untuknya.
"Nin, coba lihat cowok yang lagi berdiri didepan kelas X-9"
Restiana membuyarkan lamunan indah aninda. Dengan enggan aninda menoleh ke arah yang ditunjuk restiana.
"Dia anak baru itu nin. Katanya sih namanya umar. Cakep ya!"
Jantung aninda mau copot mendengar nama umar disebut. Aninda menoleh kembali ke arah cowok itu. Pandangan aninda dan umar bertemu. Jantung aninda langsung berdegup lebih kencang.
Ah, masa dia umar yang selama ini dinantinya? Kalau bukan, bagaimana bisa ada amplop merah ditasnya? Sudah pasti dialah umar! Umarnya. Umarnya telah kembali!
Agar restiana tidak curiga, aninda menahan emosi dan berusaha bersikap biasa. Sekali lagi ia melihat ke arah cowok itu. Nanti juga bakal ketemuan, hati aninda terkikik senang.
***
Hati ricko gundah. Umar akan menemui aninda nanti sore. Ia benar-benar tak mau hal itu terjadi. Ia tak mau kehilangan aninda untuk kedua kalinya dan untuk alasan yang sama. Hatinya bertanya, kenapa umar baru menemui aninda sekarang? Kenapa tidak sejak dulu saja? Dendam yang membakarnya kini berkobar lagi. Dendam yang selama ini ia sembunyikan dari umar.
***
Sore itu gerimis turun menemani langkah aninda menuju pohon perjanjian. Ayunan kakinya seperti mengikuti alunan musik ceria yang mewarnai hatinya. Ibunya sempat heran melihat putrinya tersenyum-senyum sendiri dikamar, didapur, diteras, bahkan mungkin dikamar mandi. Bagaimana aninda tidak semringah? Ia akan bertemu orang yang paling ia rindukan.
Aninda duduk dibawah pohon sambil sesekali merapikan penampilannya. Ia tak sabar menunggu kemunculan umar. Seharusnya umar sudah menunggunya. Mungkin dia mau kasih kejutan, pikir aninda menenangkan diri.
***
Hati aninda menjadi gelisah. Sudah satu jam ia beridiri, duduk, berjalan mondar-mandir, melamun, menengok kiri-kanan disekitar pohon. Tak ada yang datang. Aninda menggigiti kukunya, mencoba meredakan rasa tak sabarnya.
Seharusnya umar sudah datang, seharusnya umar sudah ada didepan aninda. Rasa penasaran berubah menjadi kekecewaan. Penantiannya tak terjawab. Umar lupa, atau... mungkin umar tak ingin bertemu dirinya lagi? Air mata aninda merebak.
Hari menjelang petang. Cahaya matahari hampir tak bersisa. Aninda merogoh tas kecil yang dibawanya, mengambil hp bututnya. Dengan tangan gemetaran aninda menghubungi orang yang sangat ia butuhkan sekarang. Ia kakan kembali pada keputusan awal.
Sambil menunggu orang yang dihubunginya tadi, aninda berjalan kedepan gerbang SDnya. Mungkin ini menjadi kali terakhirnya melihat gerbang SDnya karena ditempat itu SD kini dibangun gedung pencakar langit. Menurut gambar dipapan besar yang terpancang didekat pagar seng, dilokasi itu akan didirikan hotel berbintang. Bekas SDnya pindah ke perumahan didekat situ.
Hati aninda benar-benar remuk, semua berakhir sia-sia. Tak ada lagi kenangan yang tersisa untuknya. Memang sudah waktunya ia melepaskan masa lalu yang hanya menorehkan luka.
"Nin?" Rupanya yovi telah sampai. Ia cemas melihat aninda yang dibanjiri air mata.
Aninda tak kuasa menahan kepedihannya. Dengan segera ia memeluk yovi, tanpa mampu mengucapkan sepatah kata pun. Hanya isak tangis yang terdengar.
Dengan lembut yovi mengelus rambut aninda. Ia pikir aninda sedih karena SD tempatnya dulu bersekolah berganti menjadi hotel berbintang.
"Udah ya nin, nggak boleh nangis gini. Cup..cup.." Yovi berusaha menenangkan tangis aninda yang makin menjadi-jadi.
Aninda menangis dipelukan yovi selama beberapa menit. Dengan sendu ia menengadah, menatap yovi yang juga menatapnya.
"Yov?" Kata aninda. Tangisnya mereda.
"Apa nin?"
"Aku mau jadi pacarmu. Aku terima cintamu" kata aninda parau.
Yovi menatap tajam mata aninda, mencari kesungguhan didalamnya. Gelora dijiwanya menari senang. Yovi tersenyum lepas pada aninda, lalu memeluknya erat.
"Makasih nin. Mulai sekarang kamu milikku" yovi mengecup kening aninda. Memeluk lebih erat lagi kekasih barunya.
Kesyahduan mereka terganggu bunyi yang berasal dari hp yovi. Cowok itu merogoh saku celananya untuk mengambil hp.
"Halo?" Sapa yovi kalem.
Dia terdiam, menyimak sesuatu. Orang yang meneleponnya berbicara panjang.
Ekspresi yovi berubah panik. Aninda yang melihatnya ikut cemas.
"Apa? Dimana sekarang?" Tanya yovi pada orang di seberang sana dengan nada tergesa-gesa.
Kemudian sambungan putus.
Yovi menatap aninda panik. "Vigo dirumah sakit sekarang"
***
Satriya ada disamping vigo saat aninda dan yovi tiba dirumah sakit. Vigo terbaring lemah, tubuhnya lebam penuh bekas luka pukulan. Tergesa-gesa yovi mendekati adiknya dan menatapnya iba.
Aninda yang masih terkejut menatap satriya, seakan menerima penjelasan.
"Kata warga ditempat kejadian, dia dikeroyok anak-anak nggak jelas" jelas satriya datar.
__ADS_1
Aninda mendekati vigo. Perasaan aneh kembali muncul dalam benaknya. Ia mengelus punggung yovi, mencoba membuat tenang hati pacarnya. Padahal hatinya sendiri terasa makin perih melihat keadaan vigo yang sungguh mengenaskan. Hari itu benar-benar menjadi hari yang harus aninda lupakan.
"Vigo emang doyan berkelahi, jelas dia punya banyak musuh" kata yovi lirih.
"Dia dikeroyok yov" jelas satriyo pendek. Merasa tak nyaman, dia langsung meninggalkan kamar vigo.
Yovi menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Ini salahku, nggak bisa jaga dia"
Aninda menarik tangan yovi, lalu menggenggamnya erat. Ia tak kuasa melihat kekasihnya bersedih. "Ini musibah yov, kamu nggak boleh ngomong gitu" aninda memeluk yovi.
Setelah agak tenang, yovi berkata lirih pada aninda. "Kita pulang sekarang saja"
Pelan-pelan aninda mengelus kening vigo, memandangnya lekat.
"Vig, aku pulang dulu ya. Kamu mesti cepat sembuh" pamit aninda lirih.
Setelah sekali lagi memandang wajah kembarannya, yovi keluar. Ia langsung menemui satriya yang berdiri dikoridor.
"Sat, jagain vigo dulu. Aku nganter aninda pulang"
Satriya mengangguk.
"Tolong cari tahu siapa dalangnya" bisik yovi amat pelan.
***
Satu minggu telah berlalu...
Kabar aninda berpacaran dengan yovi menyebar luas disekolah. Kini semua orang tahu mereka resmi menjadi sepasang kekasih. Aninda sampai gerah karena hampir semua orang membicarakan dirinya. Kebanyakan diri mereka cenderung membicarakan sisi negatifnya. Seperti, betapa beruntungnya gadis ***** itu mendapatkan pangeran sekolah, sampai-sampai ada rumor aninda memakai pelet untuk menggaet yovi.
"Omongan mereka nggak usah digubris nin" kata yovi lembut ketika sedang duduk berdua dikursi yang berada dikoridor usai jam sekolah.
Aninda memutar kedua bola matanya kesal. "Iya. Tapi kadang keterlaluan"
"Jangan terlalu dipusingin dong. Minggu depan ulangan umum semester dan kamu mesti belajar serius"
"Aduh, belum siap buat ulangan umum nih!" Aninda menggaruk rambutnya.
"Yuk belajar!" Yovi menarik lembut tangan aninda.
***
Rupanya yovi mengajak aninda belajar dirumahnya. Aninda masih saja terkagum-kagum dengan kemegahan rumah pacarnya. Sudah lama ia tak berkunjung, jadi maklum kalau ia masih saja melongo memandangi tatanan rumah mewah itu.
Aninda duduk lesehan dikarpet ruang keluarga, menunggu yovi ganti baju. Ia melepas tas punggungnya, lalu mengeluarkan lembar latihan tes semester yang baru saja dibagikan guru. Aninda membaca beberapa soal yang sama sekali tak ia pahami. Beberapa kali dahinya berkerut dan bibirnya mengerucut.
"Baca apaan nin?" Suara wanita yang tak dikenal aninda membuyarkan konsentrasi gadis itu. Ia menoleh, mencari sumber suara yang ternyata berasal dari dapur. Wanita itu membawa minuman dinampan.
Sesaat aninda bingung. Biasanya mbok tiyem yang membawakan minuman. Kok sekarang waninta cantik ini?
"Kok bengong? Mari, minum dulu. Haus kan pulang sekolah" wanita itu tersenyum lebar sambil duduk disofa empuk.
"Wah, tumben mama membuatkan minuman" vigo muncul dari kamar. Wajahnya sudah pulih kembali.
Oh, ini mama si kembar! Batin aninda. Buru-buru dengan senyum konyolnya dia memberi salam, "selamat siang, tante"
Wanita cantik itu terkekeh melihat kekikukan aninda. "Siang nin"
Aninda bersalaman dengan Tante Lira, ibu kekasihnya. Kali ini ia tersenyum manis.
"Mau kemana vig?" Tanya mama heran karena vigo mengenakan jaket.
Tante Lira menggeleng pelan, ada sedikit raut prihatin diwajahnya. "Dia selalu seperti itu"
Menghadapi situasi yang tak terduga itu, aninda bingung harus berkata apa. "Mungkin dia lagi ada masalah tante"
Tante Lira tersenyum. "Nggak nin. Vigo bersikap seperti itu juga salah tante"
"Udahlah ma, vigo emang gitu kok" yovi muncul dari kamarnya. Ia mengambil minuman dimeja, lalu memilih duduk disamping aninda. Tangannya meraih salah satu lembar soal.
"Ya sudah, tante tinggal dulu ya nin. Kalian belajar yang rajin" tante lira beranjak kedalam.
Aninda tersenyum mengiyakan, ia masih sedikit kikuk. Tante lira cantiknya bukan main, pantas saja anaknya ganteng semua. Apalagi kata teman-teman aninda, si ayah keturunan bule. Lengkap sudah bibit keren keluar tersebut.
***
Ulangan umum semester tiba...
Sepanjang koridor SMA Harapan Jaya dipenuhi kumpulan wajah-wajah tegang. Siswa dan siswinya sibuk dengan buku catatan mereka. Tes pertama adalah matematika.
Aninda menggaruk-garuk kepalanya, otaknya hampir meledak melihat rumus-rumus trigonometri dari catatan. Restiana yang duduk disebelahnya masih serius menghafal.
"Bro, jangan lupa kirimin jawaban ya!" Teriak cowok gendut yang berjalan didepan aninda.
Cowok gendut itu rupanya berteriak pada yovi yang berpapasan dengannya. Ia menepuk pundak yovi dengan ekspresi girang.
Yovi tersenyum kalem sambil mengacungkan jempol. Ia mendekati aninda, kemudian berjongkok didepannya. Teman-teman aninda yang melihatnya cengegesan penuh iri.
"Gimana? Udah siap?" Tanya yovi menatap mata aninda yang menyiratkan kegugupan.
"Sebenarnya belum" jawab aninda pelan sambil menggaruk kepalanya lagi. Yovi tersenyum geli. "Yang penting kamu udah belajar. Ntar jangan gugup" Aninda mengangguk cepat. Kegugupannya makin terlihat jelas.
Bel masuk berbunyi keras. Bunyinya yang menandakan ulangan umum segera dimulai terdengar menakutkan bagi aninda.
"Good luck baby!" Sehabis berkata begitu, yovi berjalan cepat menuju kelasnya.
Aninda manggut-manggut, seolah tak mengerti ucapan kekasinya.
"Artinya, 'semoga beruntung, sayang'" restiana mencibir aninda.
Aninda melongo.
***
Selama ulangan umum aninda sering bergerak gelisah karena soal matematika yang dihadapinya susahnya minta ampun, membuat otaknya seperti pita kaset rusak. Doa kekasihnya tidak manjur sama sekali. Pengawas ruangan, Bu purwanti sejak tadi melotot penuh curiga ke arahnya.
Dari empat puluh soal, hanya dua puluh yang berhasil dikerjakan aninda. Kepalanya menengadah, berharap bantuan Tuhan. Lima menit telah berlalu, tapi tetap saja aninda tak mampu memecahkan soal lagi. Aninda memutar kepalanya, memandang restiana penuh harap.
"Res!" Bisik aninda lirih berusaha memanggil restiana.
Restiana yang berada dua bangku di belakangnya tak mendengar. Ia masih sibuk dengan soal yang didepannya.
"Res!" Aninda sedikit meninggikan nada suaranya.
Restiana tampak semakin bersemangat membuat coretan dikertasnya.
Beberapa kali aninda berusaha menarik perhatian restiana, seperti menjatuhkan penggaris besi yang menimbulkan suara nyaring, tapi restiana tetap bergeming. Justru dehaman Bu purwanti yang ia dapat.
__ADS_1
Dengan hati dongkol aninda berdiri dari kursi. "Restiana, daritadi aku manggil kamu mau tanya jawaban!" Teriak aninda seperti orang kesurupan.
Teman-teman sekelas melongo tak percaya sambil menatap aninda dengan rasa geli. Restiana memberi kode kepada aninda untuk duduk kembali.
Terlambat sudah.
"Aninda!" Bu purwanti berteriak memanggil namanya.
***
Sepulang sekolah aninda berjalan gontai menuju kantor guru sesuai permintaan Bu purwanti saat ulangan umum tadi. Suasana kantor guru sepi, para guru berada di ruang panitia ulangan umum. Mata aninda jelalatan mencari sosok Bu purwanti duduk disitu, berhadapan dengan seorang siswa yang berdiri memunggungi aninda. Kemeja cowok jangkung itu lecek dan keluar dari celana, sama kacau dengan rambutnya.
Pasti cowok badung, batin aninda sambil berjalan pelan mendekati meja Bu purwanti. Aninda melirik cowok itu. Vigo!
"Nah, akhirnya kalian berkumpul. Yang satu tukang telat, yang satu lagi ketahuan nyontek" cibir Bu purwanti.
Aninda melirik vigo yang sedang menatap langit-langit, tampak tak peduli.
"Seharusnya ibu melaporkan kalian ke BP, tapi tidak tega" ujar Bu purwanti.
Sepi sesaat.
"Begini saja. Sebagai hukuman, kalian berdua bersihkan toilet di samping masjid sekolah selama tiga hari" begitu keputusan Bu purwanti.
Aninda menghela napas panjang. Lega. Ekspresi vigo tak berubah sedikitpun. Datar. Atau... masa bodoh?
***
Yovi memutuskan ke ruang basket setelah tahu adik dan pacarnya dihukum Bu purwanti. Tim basket sekolah sudah berkumpul didalam. Satriya juga ada bersama mereka.
"Kita udah tahu pelakunya yov" kata satriya dingin begitu yovi berada didalam.
Yovi menatap satriya dengan pandangan hampa.
"Kita harus kasih mereka pelajaran!" Sambung rian berapi-api.
Yang lain berteriak lantang menyetujui usul rian.
"Kita harus tahu dulu alasan mereka" kata yovi datar.
Hati satriya mencelos. Ada sesuatu yang yovi tak boleh tahu.
***
Aninda bergidik memandang keganasan toilet sekolah. Bau busuk yang menyengat mengganggu hidung. Keramik yang aslinya putih kini tampak menjijikan dengan noda-noda cokelat permanen. Aninda menjepit hidung dengan kedua jari. Tangan satunya menenteng ember berisi campuran air sabun.
"Sini embernya! Malah ngelamun!" Bentak vigo kasar. Dia membawa peralatan pel.
Aninda menyipiykan matanya kesal. Dengan enggan ia mendekati vigo. Lalu meletakkan ember didekat cowok itu.
Vigo mulai membersihkan salah satu bilik toilet, aninda membersihkan bilik sebelahnya.
"Hei, makhluk mars, jadi orang jangan sentimen banget napa sih?" Teriak aninda parau.
Vigo tak menjawab, membuat aninda jengkel.
Keduanya bekerja dalam bisu. Yang terdengar hanya suara siraman air dan sikat.
"Vig!"
"Hmm..." Jawab vigo ketus.
"Kenapa yovi nggak main basket lagi?"
"Emang penting?"
"Penting tau! Aku kan ceweknya!"
"Menurutku nggak penting!"
Aninda mendengus kesal, kemudian dengan berapi-api mendekati vigo. "Vig aku serius!" Vigo menghela napas jengkel.
***
Marsya masih sibuk dengan berkas-berkas diruang OSIS, sementara kedua sahabatnya pamit beli jajanan dikantin sekolah. Gelak tawa para pemain basket terdengar jelas ditelinga marsya. Ia memandang keluar jendela, anak-anak basket sedang latihan. Satriya juga ikut bersama mereka dan tentu saja yovi. Rupanya kubu yovi sedang bertanding melawan kubu satriya. Beberapa kali bola ada ditangan yovi, namun selalu saja gagal masuk ke ring.
Hati marsya serasa dicabik luka lama yang berusaha ia kubur. Seharusnya yovi menjadi kapten tim basket sekolahnya, seharusnya yovilah yang menjadi pemain terbaik, bukan vigo. Mata marsya memanas mengingat masa lalunya.
Marsya baru kelas sepuluh dan ia masih sangat lugu. Belum tersentuh salon dan segala macam polesan alat kecantikan. Rambut panjangnya selalu dikucir dua, dan kacamata tebal membingkai matanya yang indah.
Saat itu perpustakaan sekolah sepi seperti biasa. Ia menarik sebuah buku tebal dari rak kecil, lalu mulai membuka-buka isinya. Tiba-tiba dari arah samping seseorang cewek menarik rambutnya.
"Heh! Cewek cupu! Rajin amat kamu!" Teriak senior yang menjambaknya. Dia bersama temanteman satu geng.
Marsya mengaduh kesakitan. Mereka justru tertawa. Tawa yang malamnya menghantui mimpi marsya.
Salah seorang dari mereka yang berpenampilan tomboi mendorong marsya hingga dia jatuh tersungkur mengenai rak kecil itu. Rak itu berderit karena hantaman tubuh marsya. Semua kembali tertawa melengking.
"Aku peringatin, jangan berani lagi deketin yovi. Dia inceranku!"
Itu kata-kata terakhir dari gerombolan cewek jahat itu. Mereka pergi dengan gelak tawa mengerikan. Marsya yang masih ketakutan menangis. Tubuhnya masih tersungkur gemetaran.
"Sya?" Yovi muncul dari balik rak. Ia kaget mendapati marsya menangis ketakutan.
Marsya dengan segera berdiri, tangannya bertumpu pada rak yang ditabraknya tadi. Rak itu kembali berderit keras dan mulai bergoyang.
"Awas!" Teriak yovi yang sigap mendorong marsya untuk menjauhi tubuhnya dari rak yang akan roboh itu. Marsya terhindar dari tumpahan buku-buku tebal yang jatuh secara berbarengan. Sayangnya justru yovilah yang menjadi korban. Jari-jarinya mengalami cedera permanen karena berusaha menyangga rak.
Sejak itu yovi tak bisa bermain basket lagi. Tangannya tak bisa digunakan dengan sempurna untuk menembak bola, untuk mendribel saja kadang sulit. Kalaupun sesekali ikut bermain, yovi melakukannya sekadar sebagai rekreasi dan bukan mengejar prestasi.
Kejadian itu mengubah marsya secara drastis. Ia bertekad menjadi pribadi yang ditakuti semua siswa disekolahnya. Ia mengubah penampilannya menjadi marsya yang sekarang.
***
"Apa kamu benar-benar mencintai yovi?" Aninda terkejut mendengar pertanyaan vigo yang diucapkan tanpa tedeng aling-aling itu.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu?" Aninda melirik vigo yang kini memandanganya serius.
Mereka terdiam. Mungkin keduanya merasa sedikit bingung dengan situasi yang tiba-tiba berubah menjadi serius.
"Aku cuma tanya" kata vigo akhirnya.
"Aku akan selalu berada didekatnya selama dia masih menginginkanku" kata aninda kaku. Dalam hati ia menyesali telah mengatakan hal seperti itu.
"Bukan itu jawaban yang ingin kudengar" vigo kembali menatap aninda tajam.
"Lalu?"
"Oh, susah juga ngobrol dengan si superloading!" Tatapan mata vigo tampak meremehkan aninda.
Aninda mendengus. "Dasar makhluk mars!" Ujarnya sebal. "Apa kamu bilang?" Oh, ternyata vigo peduli.
__ADS_1
Aninda menjawab santai. "Emang aku bilang apa barusan?" Vigo menggeram dongkol.
Aninda cekikikan puas.