LOLIPOP

LOLIPOP
LOLIPOP 37


__ADS_3

Bibirku keluh, akhirnya semua rasa yang selama ini berkembang di hatiku keluar sudah. Lega? Sudah pasti. Hatiku terasa lebih ringan, beban perasaan yang selama ini aku simpan keluar bagaikan boom waktu. Aku tidak perlu apa yang Om Sammy pikirkan tentang ku. Yang aku yakini dan yang aku pahami cintaku untuk nya sudah semakin menguasai seluruh hati dan pikiranku. Untuk itu aku memilih mengeluarkan semuanya dihadapan pemilik hatiku.


Dibenci?


Dikasihani?


Aku sudah tidak perduli. Yang aku tahu aku harus jujur pada hatiku dan pada dirinya.


"April," ucapan nya terhenti


Aku merasakan ujung jemarinya menyentuh wajahku, mengusap air mata di kedua pipiku.


"Maafkan Om.... Seharusnya Om bisa menjaga jarak. Tapi Om juga tidak berdaya."


Deg


Apa maksudnya?


Kuangkat wajahku, menatap kedua mata pria itu. Om Sammy menatapku lalu memejamkan matanya, dia terlihat sangat frustasi.


"Om.." panggilku lirih


"Harus Om akui, jika perhatian Om memang terlalu berlebihan. Om pun sadar jika itu bukan bentuk perhatian yang wajar untuk ponakannya." potongnya.


Mataku melebar, masih dengan setitik air mata di kedua mataku.


Apakah itu artinya......


"Om tidak tahu sejak kapan kamu mulai masuk lebih dalam ke hati Om. Tapi.... Kamu berhasil membuat Om nyaman berada di sampingmu." katanya lagi.


Deg

__ADS_1


"Om, jadi?"


Pria itu tertawa canggung lalu menutup wajahnya dengan telapak tangannya. Dia terlihat jauh lebih kacau dari diriku.


"Seharusnya Om bisa lebih dewasa untuk hal ini. Namun, sama sepertimu rasanya begitu sesak. Om juga mencintaimu Pril, Bukan sebagai Ommu, tapi seperti laki-laki mencintai seorang perempuan."


Aku menutup mulutku dengan jari-jari tanganku. Mendengar perkataan Om Sammy secara otomatis pandanganku kabur oleh air mata. Ketika aku ingin membuang perasaan ini, aku sangat ingin menyingkirkannya. Tapi...... Sekarang?


Apa yang harus aku lakukan, jika aku tahu pria yang kucintai juga memiliki perasaan yang sama?


Logikaku terus memberontak ketika tiba-tiba hatiku tergerak dan tubuh ini mendekatinya lalu memeluk tubuh kokoh itu.


Tuhan, biarkan aku menikmati perasaan ini bersama nya.


Sungguh, mendengar ungkapannya seperti menemukan obat sekaligus racun dalam luka hati ini. Aku bahagia sekaligus perih secara bersamaan.


Aku memeluk nya erat!


"Pril, tapi kita tidak mungkin bersama. Kamu keponakan Om. Siapapun tidak akan menyetujui hubungan kita. " ujarnya


"April, kita......" Om Sammy berusaha melepaskan pelukan ku.


"Om! Aku mohon, lupakan kenyataan itu dulu. Biarkan aku memiliki Om, walaupun hanya untuk malam ini." potongku kembali terisak.


"April....."


Om Sammy semakin mempererat dekapannya lalu mengecup keningku dengan lembut. Aku hanya dapat menikmati sentuhan bibirnya. Dia menempelkannya cukup lama. Hingga aku dapat merasakan hembusan napasnya di ubun-ubunku.


Ku mohon TUHAN hentikan waktu untuk kami.


"Om Sayang kamu, Pril. ." bisiknya

__ADS_1


"April juga sayang Om, sayang banget sama Om...." sahutku tak kalah pelan.


Kami saling memeluk semakin erat. Kurasakan air mataku semakin deras membasahi pipiku.


°


°


°


°


°


"April....pril..."


Sayup-sayup kudengar sebuah suara bariton memangil namaku. Ingin sekali kusahuti namun tenggorokanku serasa tercekat. Tenagaku menguap begitu saja. Bahkan untuk membuka kelopak mataku sungguh bukan perkara mudah.


"April...." suara itu terdengar lagi. Kali ini tubuhku terasa ikut terguncang.


Pelan-pelan kubuka mataku. Cahaya silau menerpa mataku lewat celah-celah dinding pondok ini.


Kepalaku terasa berat. Entah apa yang terjadi, terakhir yang ku tahu aku masih di dalam pelukan Om Sammy. Huh?


Apa aku bermimpi?


"Pril.." panggilnya lagi.


"Om, april kenapa?"


"Badanmu panas, ayo kita harus keluar dari pondok ini." ujar Om Sammy panik.

__ADS_1


Aku tidak mampu merespon apapun. Dia sungguh terlihat panik. Pria itu langsung mengendong ku lalu membawaku berlari keluar pondok.


...••••••••••...


__ADS_2