
Pagi ini rasanya kepalaku sangat berat. Hari ini aku izin tidak masuk kerja. Sungguh ketidakjujuran Om Sammy membuat ku kehilangan semangat.
Mataku melebar ketika melihat sosok yang tidak ingin aku jumpai lagi. Tampak Om Sammy tengah duduk lemah di teras rumahku. Tatapan nya kosong, kepalanya tertunduk. Baru saja aku ingin membalikkan tubuh ingin pergi dari hadapan nya. Pria itu lebih dulu menyadari keberadaan ku. Om Sammy menatap lurus ke mata ku. Terlihat jelas luka dari matanya.
Aku menggeleng pelan.
Aku tidak boleh terus hidup dalam mimpi ini. Aku harus segera bangun. Om Sammy buka untuk ku. Dia milik Mba Karin, wanita yang sangat pantas dan cocok dengan nya.
Aku harus menerima kenyataan ini. Bahwa semua ini bukan salah pria itu. Akulah perusak hubungan mereka. Yah, seharusnya aku memang lah yang harus sadar diri, harus menyingkir dari hubungan mereka.
Sungguh memikirkan kata 'menyingkir' dari hidup Om Sammy sangat menyesakkan dadaku.
Mengapa Tuhan begitu tidak adil padaku?
Mengapa aku tidak boleh menikmati kebahagiaan ku?
Ah.... Mikir apa aku ini!
Bukankah aku telah tahu konsekuensi perasaan terlarang ini? Maka, tidak ada alasan bagiku untuk memberontak ketika kenyataan membangunkan aku dari mimpi indah ku. Yah, aku tidak dapat menyalahkan siapapun.
"April," panggil Om Sammy pelan seraya bangkit dari duduknya.
__ADS_1
Kaki ku seperti terpasung, tidak dapat ku gerakan sedikit pun. Hanya mataku yang terus menatap lekat sosoknya yang berjalan gontai mendekatiku.
Mestinya aku melangkah mundur. Kemudian berlari ke kamar. Tidak menatap matanya adalah cara terbaik untuk bisa bangun dari mimpi indah ini. Tapi........ Pertahananku roboh seketika saat pria itu meraih tubuhku ke dalam dekapannya.
Aku benci padanya, tapi juga sangat mencintai nya.
Begitu buta kah aku?
Sehingga sebuah pelukan berhasil membayar segala sakit hatiku tadi?
"April, percaya sama Om. Om sudah tidak memiliki perasaan apa-apa terhadap Karin."
Om Sammy terdengar menghela napas berat, kemudian melepaskan perlukannya. Dia menatap mataku dalam-dalam hingga beberapa detik. Kukira dia akan mengatakan sesuatu, tapi tidak. Dia kemudian ******* pelan bibirku. Lalu berkata
"Om selalu berharap kita tidak ada hubungan darah sama sekali."
Dan dia melanjutkan ******* nya lebih dalam lagi dan lama.
••••••
Aku sungguh iri pada Karin.
__ADS_1
Secara fisik dia sangat cantik. Matanya besar dengan bola mata bening yang indah. Hidungnya mancung, bibirnya tipis dan jangan lupa kulitnya yang putih bersih. Dia juga pribadi yang supel, cerdas dan lemah lembut.
Aku semakin iri pada ketika mendengar dia akan membuka salon kecantikan di sini. Dan yang paling penting dia bukan dari keturunan keluarga kami!
"Aku senang bisa berteman denganmu," seru Karin saat kami bertemu dirumah orang tuaku.
Sejak saat itulah kami sering beberapa kali jalan bareng ketika dia mendapatkan seribu kali alasan Om Sammy untuk menolak menemani nya.
Seperti hari ini, aku sedang bermalam dirumah, dia dengan santai nya masuk ke dalam kamarku. Karin memperlakukan aku layak nya seorang sahabat yang sudah lama bertemu dan anehnya aku tidak membenci nya sama sekali. Entah karena hubunganku dengan Om Sammy membaik setelah insiden ciuman dadakan itu, atau karena aku tahu nama Karin sudah tidak ada dalam hati Om sammy.
"Cerita dong soal kerjaan kamu di sini, padahal Papa kamu punya perusahaan tapi kamu malah kerja dengan orang lain." katanya heboh sendiri.
Aku meringis. Apa yang harus diceritakan. Menurut ku tidak ada yang menarik soal kehidupan ku.
Kecuali..... Mencintai Om Ku sendiri!
••••••
2 bab dulu ya...
lanjut hari senin crazy up kalau masih banyak peminat nya 😅
__ADS_1