
"Haris....Haris kan?!"
"Eh Mba Nilam. Dengan siapa ke sini?" Mas Haris berusaha mengendalikan diri dengan baik. Berdiri lalu berjabat tangan dengan perempuan itu.
"Dengan teman, tuh kami duduk di sana." jawabnya sambil menunjuk deretan kursi nan jauh dibelakang kami.
"Lagi belanja apa shopping nih Mba." Mas Haris terlihat sekali sedang basa basi.
Memang nya siapa perempuan ini?
"Kamu dengan siapa?" tanyanya sambil menatap tajam ke arahku. Perempuan itu sama sekali tidak mengalihkan pandangannya dariku dan memang sudah penasaran sejak tadi rupanya.
Duh! Aku semakin tidak nyaman.
"Bu Ratih sini kenalkan Mba Nilam kakak ipar saya, dan Mba Nilam ini karyawan di kantor. Kita habis bertemu klien dan mau mencari hadiah untuk ulang tahun klien." jelas Mas Haris mengenalkan kami sambil sedikit berbohong.
Lalu saya dan Mba Nilam pun berjabat tangan. Aku tersenyum terpaksa.
"Oh karyawan kantor. Saya pikir siapa kok pake acara suap-suapan segala," sindirnya sambil tetap menatap tajam padaku.
"Oh tidak. Tadi saya sedikit penasaran sama jajanan korea itu, karena kata Bu Ratih itu sangat lezat." Mas Haris sekali lagi berbohong sambil sedikit tertawa yang di buat buat.
"Lalu kok bertemu klien jauh sekali. Memangnya klien dari perusahaan apa?" tanyanya lagi penuh selidik.
"Kebetulan rumah klien nya dekat sini. Jadi kami di suruh bertemu disini." kata Mas Haris kian tak masuk akal.
Aku hanya ikut mendengarkan dan sesekali tertawa canggung bila diperlukan. Mukaku sudah seperti udang rebus. Mengerikan!
"Bagaimana kabar isteri dan anakmu? Baik?" tanya perempuan itu. Aku yakin pertanyaan itu salah satu cara menyindirku. Karena jelas-jelas pertanyaan itu tidak penting .
"Baik Mba. Kapan main ke rumah lagi?" tawaran basa basi Mas Haris.
__ADS_1
"Nanti saya telpon istrimu."
Deg
"Silahkan dilanjutkan lagi makannya. Saya permisi!"
Setelah Perempuan itu menjauh aku langsung melirik Mas Haris
"Bahaya ngak Mas?" tanyaku
"Sialan! Kok bisa aku nggak liat dia ada di sana?" katanya marah bercampur kesal.
"Terus bagaimana?"
"Sudah habiskan makannya, nanti kalau dia telpon istri ku beneran. Biar aku ya menanganinya."
"Lalu hadiah untuk klien bagaimana?"
"Yah kita jadi keluar uang deh!"
"Sudah tidak apa-apa. Yang penting kita aman."
Aku hanya mengangguk meski sedikit tidak setuju dengan ide nya. Uang itu bisa kita pakai untuk sewa kamar bagi kami berasik masyuk. Kami tidak lagi saling suap menyuap. Keceriaan kami langsung lenyap.
Kena batunya! Pergi ke Mall yang jauh untuk menghindari orang yang kemungkinan mengenal kita, eh malah ketangkap basah kakak iparnya. Dasar apes! Bukan hanya rugi uang tapi juga rugi waktu. Tapi mau bagaimana lagi? Kami harus bermain cantik bukan?
Keluar dari Mall kami menuju pantai. Kami hanya perlu bayar karcis masuk selanjutnya bebas mau ngapain saja di dalam mobil. Sebuah variasi lain dari pada harus di dalam kamar melulu.
"Hhmmm arghh..."
Selagi kami saling berciuman. Ponselnya berdering.
__ADS_1
Sial! Merusak suasana saja.
"Sebentar ya sayang." katanya lalu mengambil ponsel.
"Hallo Nak. Ada apa?"
Aku hanya bisa mendengarkan dia bertelepon ria. Lalu ku alihkan pandanganku melihat ke laut. Di sebelah kanan ku ada mobil juga yang terparkir tidak terlalu jauh. Ada pasangan yang juga asik bercumbu bahkan sudah setengah bugil di dalam mobil yang kaca nya terbuka setengah.
Gairahku naik namun dia masik asik menelepon. Lama! Padahal yang dibicarakan tidaklah penting. Aku sebel menunggu. Membuatku jadi semakin tidak bersemangat. Aku mencolek paha kirinya, Mas Haris hanya mengangguk-angguk dan memberi kode agar aku tetap sabar.
"Oke sampai nanti malam ya." katanya menutup pembicaraan.
"Maaf ya sayang." katanya
"Kenapa nggak dimatikan saja sih Mas. Kalau gini ceritanya waktu kita terbuang percuma." protesku
"Justru kalau aku matikan akan semakin curiga sayang." jawab Mas Haris sambil asik menggerayangi tubuhku lagi.
Huh aku sudah tidak berselera. Bagaimana kalau nanti di tengah cumbuan, kami lagi-lagi di ganggu. Bisa saja istrinya lagi yang menelepon.
Drr...drr...
Dan benar saja! Handphone nya kembali berdering, aku menyingkirkan tangan Mas Haris dari dadaku sambil memberengutkan wajah. Dia hanya menarik napas panjang lalu menerima panggilan tersebut.
"Ada apa mah?" katanya membuka percakapan.
Sungguh gila! Baru saja aku pikirkan eh kejadian. Itu pasti istrinya yang dia panggil 'mamah'. Yang lebih menyebalkan dia malah menjawab telpon itu sambil keluar dari mobil.
Itu artinya aku tidak perlu tahu atau aku memang tidak di anggap penting olehnya!
POV RATIH OFF
__ADS_1
...•••••••••...