LOLIPOP

LOLIPOP
LOLIPOP 25


__ADS_3

"Makasih ya sudah mau nemenin Om makan."


"Papa sama Mama kapan perginya Om. Kebiasaan nggak pernah kabarin April." kataku sebel.


"Tadi sore, dadakan. Lagi pula kamu juga tidak pulang ke rumah kan, paling besok di telpon." katanya sambil tersenyum.


"Iya juga si, tapi sekarang beda.. April pengen sering-sering pulang ke rumah." ucapku tanpa sadar.


"Tinggal pulang saja kok repot. Kan ada Om."


Hening


1 detik


2 detik


3 detik


Sial! Pakai acara keceplosan lagi. batinku


"Ah iya ya." kataku kikuk. "Om April pulang ya." kataku gugup. Ingin sekali ku tenggelam kan wajah ini.


Semoga Om Sammy tidak menyadari arti kalimat tadi.

__ADS_1


"Loh kok pulang, nggak jadi nginep aja Pril." ujar Om Sammy dengan wajah bingung


"Besok-besok saja lagi April nginep, soalnya nggak bawa laptop Om. Banyak tugas kantor yang belum selesai." jawabku lagi


"Yaudah Om antar."


...°°°°°°...


Grace dan Sinta sudah tidur, malam ini jadinya Aku dan Ratih tidur sekamar. Sebenarnya tidak ada peraturan resmi harus sekamar dengan siapa. Kita selalu bergantian saja, terkadang bahkan kami tidur berempat. Yang membedakan letak lemari kami saja.


Diluar hujan deras, membuat malam ini jadi lebih dingin. Enaknya si bobo di kelonin Om Sammy. 'Nih otak mikir apa sih, jangan sampai ikut terkontaminasi kelakuan Ratih'


Jangan-jangan si Ratih juga lagi mikir begitu. Membayangkan dirinya di kelonin serigala berbulu domba. Si Buluk itu! Iihhhh amit-amit. Tanpa sadar aku sedikit menjauh dari posisi tidur Ratih saat ini.


Ku abaikan pertanyaannya, aku lebih penasaran dengan hasil test pack tadi. Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya padanya.


"Tih, bukannya aku mau ikut campur urusanmu ya. Tapi tadi aku nemu test pack di tempat sampah itu punya kamu bukan?"


Ratih mengalihkan pandangannya dari ponsel ke arahku. Kemudian dia tersenyum dan mengangguk tanpa rada risih sedikit pun.


"Memangnya kalau lagi gituan, pasangan kamu nggak pakai helm?" tanyaku lagi.


Sebuah pertanyaan yang tolol dan usil, tapi aku ingin tahu jawabannya. Dan kali ini respon Ratih tertawa ngakak.

__ADS_1


"Kamu lucu banget. Malam-malam interogasi aku. April, April. Mas Haris pakai helm dong tapi yang namanya lagi balapan liar kan selalu ada resikonya. Nah, demi menjaga hal-hal yang tidak diinginkan, mendingan aku cek sesekali. Siapa yang bisa menjamin kalau setiap balapan liar akan selalu aman sampai garis finish tanpa adanya kebocoran bensin di jalanan."


"Sering dong kamu test? Kok baru tadi aku nemunya." tanyaku masih dengan rasa penasaran yang semakin dalam.


"Biasanya aku bungkus dengan kresek hitam. Tadi kebetulan lagi habis jadi aku langsung buang saja. Anak-anak yang lain tahu juga?"


"Iya tahu."


"Respon mereka apa?"


"Biasa saja tuh. Sudah ah aku mau tidur." kataku menutup pembicaraan malam ini.


Bingung harus bicara apa dan harus bersikap bagaimana. Apalagi aku tidak tahu bagaimana rasanya pacaran lalu dipeluk cowok, dicium cowok.


Apalagi kalau sampai berhubungan intim. Ratih yang hebat atau aku yang payah ya?


Atau


Ratih yang jago jualan dan aku yang tidak laku?


Kasian juga aku, hari gini belum punya cowok


...•••••••••••...

__ADS_1


__ADS_2