
Esok paginya aninda baru tahu arti senyuman kedua orangtuanys kemarin. Honda Jazz telah terparkir anggun di depan rumahnya. Pemilik mobil tersebut sedang mengobrol dengan ibu aninda. “lho ngapain kak yovi jemput aku?” teriak aninda histeris.
Ibu aninda langsung membulatkan kedua bola matanya “ninda, jangan teriak-teriak gitu kasihan yovi” “nggak papa bu. Aninda kalau ngomong emang gitu. Yuk berangkat, ntar telat lho” kata yovi sopan.
Sepanjang perjalanan kesekolah aninda merasa tidak enak hati. Ia terus berpikir ini pasti akalakalan kedua orangtuanya. Aninda anak bungsu jelas dirinyalah yang selalu jadi objek keisengan orang rumah. Kedua kakaknya bekerja dijakarta, jadi untuk saat ini ia sepeti anak tunggal. Orangtuanya pengusaha batik tradisional dengan pendapatan tak seberapa sehingga mereka terbiasa hidup sederhana. Kedatangan yovi dengan mobil mewah tentu saja membuat girang orangtuanya. Apa lagi meereka memang baru kali itu kedatangan teman cowok aninda yang seramah yovi.
“kenapa diem? Kirain aku kamu susah diem” yovi membuyar kebisuan aninda. “eh, nggak papa| jawab aninda singkat. “nggak perlu terlalu sopan kok ngomong sama aku. Kemarin kamu berani bentak-bentak” goda yovi mengingatkan aninda pada kejadian kejadian salah paham kemarin. “anggap aja aku teman sebayamu. Lagian aku risi ngomong sama orang yang terlalu sopan kayak kamu” imbuh yovi semakin meledek. “jadi nggak papa nih manggil aku-kamu?” Tanya aninda lugu.
“yaela…nyante aja lagi” senyum yovi mengembang sempurna dan saat aninda melihat senyum itu, desiran aneh merayapi dadanya. Terakhir aninda merasakan desiran aneh seperti ini ketika ia masih SD, persisnya setiap kali menatap umas. Mungkin terdengar ajaib, tapi cinta pertamanya adalah musuh bebuyutannya sendiri. Umar preman di SD-nya, gemar membuat keributan dan mengganggu anak-anak lemah salah satunya ricko. Aninda selalu menolong ricko yang dikeroyok umar dan teman-temannya. Sejak saat itu aninda menganggap umar sebagai musuh abadinya begitupun sebaliknya.
Desiran aneh itu bermula saat aninda pulang dari rumah yasmin. Saat itu aninda kelas lima SD, itu berarti sudah lima tahun dirinya berperang dengan umar. Hujan deras mengguyur perjalanan pulang aninda tapi untung saja kedua orangtuanya telah membekalinya dengan payung kecil warna pelangi aninda bersenandung pelan untuk menahan rasa takut karena derasnya hujan. Dari kejauhan ia melihat seorang anak laki-laki berjalan didepannya sempoyongan tanpa pelindung hujan. Aninda berlari penasaran dan menjejeri laki-laki kecil yang ternyata umar. Merasa iba melihat umar yang sepertinya sedang ada masalah ia memayunginya. Mata umar sayu, ada kesepian disitu.
“umar kamu kenapa?” Tanya aninda pelan, ada sedikit kecemasan dalam suaranya. “aninda jangan bengong terus dong!” seruan yovi membuyarkan lamunan aninda. “apa sih yang ada dipikiranmu?” “lagi mikirin PR bahasa inggris nih” aninda berbohong. “emang susah?” Tanya yovi menengok sekilas. “aku memang nggak bisa mata pelajaran ini dari dulu” jawab aninda polos. Yovi tersenyum lebar dan…lagi-lagi aninda meleleh tersengat senyum yovi yang menurutnya luar biasa menawan.
***
Begitu sampai diparkiran sekolah aninda buru-buru keluar. Hatinya mencelus ketika mendapati begitu banyak pasang mata yang memperhatikan dirinya turun dari mobil dan kebanyakkan mata kaum hawa. “cuekin mereka” bisik yovi pelan. Aninda justru grogi karena yovi berjalan sangat dekat disampingnya. Sehabis membenarkan kucir rambutnya aninda berjalan dengan langkah setegak mungkin.
Aninda berusaha tersenyum pada setiap mata yang meliriknya. Senyum konyol yang hanya dimiliki Aninda Chandraningsih. Tapi hatinya kembali mencelus ketika melihat ketiga pentolan cheerleader—marsya, syifa, dan merli—juga memandang kearahnya. Aninda menelan ludah sambil komat-kamit tidak jelas.
***
“Gila nin! Bisa-bisanya kamu berangkat bareng cowok paling cool disekolah kita. Hebat kamu nin!” seru yasmin histeris ketika aninda tiba dibangkunya. “Sssst… ceritanya panjang dan nggak masuk akal deh. Ya lagian kenapa kamu nggak bilang vigo punya kembaran?” suara aninda masih lemas karena tatapan mata para serigala tadi.
“hahaha… maaf. Ku kira kamu udah tahu tapi lebih heboh lagi ceritaku nin. Kamu tahu, aku udah jadian sama satriya!” pamer yasmin, sulit mengatur volume suaranya. Seisi kelas jelas sekali mendengarnya. “Haa? Serius? Kok bisa secepat itu?” komentar aninda penasaran.
“ceritanya panjang dan nggak masuk akal juga nin” jawab yasmin menirukan kalimat aninda. “yasmin!” aninda berteriak jengkel. Yasmin terbahak-bahak. Merekapun langsung berkejaran bagaikan anak TK berebut permen. Untung bel segera bunyi.
***
Waktu makan dikantin jam istirahat yasmin menceritakan kisah jadiannya dengan satriya. “Oh gitu ya? Jadi kalian udah pedekate dari awal MOS?” ujar aninda manggut-manggut. “ya gitu deh, aku aja nggak nyangka dia nembak aku secepet itu tapi yang namanya jodoh mau gimana lagi?” kata yasmin dengan mimik pamernya. “idih ngarep amat” sindir aninda sambil memonyongkan bibir. “boleh duduk bareng kalian? Aku sendirian nih” tiba-tiba restiana, temen sekelas mereka muncul dengan mangkuk bakso ditangan. “ya Tuhan tinggal duduk aja sini pake izin segala” komentar aninda jenaka.
Mereka bertiga menghabiskan sisa istirahat dengan obrolan konyol. Restiana yang terkesan pendiam ternyata tak kalah heboh dibanding aninda. Dan keakraban pun dimulai.
***
“nin, kamu keperpus sendirian nggak papa kan? Soalnya aku mau nonton satriya latihan nih” kata yasmin sepulang sekolah. Aninda hanya mengangguk pelan. Sekarang yasmin udah punya pacar yang harus diperhatikannnya. Jadi mau tak mau aninda harus mau dinomor duakan. “ kok cemberut gitu nin?” yasmin merasa tidak enak hati. “siapa juga yang cemberut? Lagian… nggak ada yasmin, restiana pub bisa” lawak aninda. Sontak yasmin dan restiana tertawa lepas. Aninda tersenyum melihat kedua temannya tertawa.
***
“kamu mau pinjem novel apa sih nin?” Tanya restiana bingung melihat aninda yang sejak tadi membolak-balik buku di rak. “itu lho breaking dawn. Kamu udah pernah baca belum?” mata aninda masih jelalatan mencari novel yang dicarinya. “Ya Allah ninda! Kalau itu sih aku punya dirumah!” seru restiana.
Aninda berbalik menghadap restiana, kemudian matanya membulat “astaganaga! Kenapa nggak bilang daritadi?” restiana tersenyum simpul. Mereka bergegas keluar perpustakaan. “ke lapangan basket bentar ya” ajak aninda.
Suara riuh dilapangan terdengar dari perpustakaan walaupun letak perpustakaan sudah diatur sedemikian rupa agar terhindar dari ingar-bingar lapangan. Langkah restiana terhenti ketika melihat ricko berjalan kearah mereka. Aninda sedikit terheran dengan sikap restiana yang mendadak aneh ketika menatap ricko. Dia yakin, pasti ada sesuatu yang restiana rasakan terhadap ricko.
Ricko tersenyum kecil pada mereka berdua “hai, dari perpus ya?” “Ih sok nebak” ujar aninda sambil memeletkan lidah. Ricko tersenyum, sedangkan restiana masih mematung memandang ricko. “hai res, apa kabar? Ternyata kamu sekelas sama aninda?” Tanya ricko. “eh..oh..iya rick” jawab restiana terbata-bata. “yaudah duluan ya. Buru-buru nih” kata ricko bergegas pergi menjauhi kedua juniornya.
“sok penting amat gayanya” komentar aninda. “latihan karate di SMA kita emang ketat banget nin nggak boleh telat” bela restiana serius.
“yaelah ada batu dibalik udang nih!” ledek aninda sambil menampakkan senyum konyolnya. Setolol apa pun aninda ia tahu restiana memendam perasaan suka pada ricko apa lagi ternyata mereka dulu se-SMP. Aninda yakin restiana menyimpan perasaannya sejak SMP. Walaupun restiana tidak mengatakan apa pun, dari gelagatnya barusan tampak ia naksir ricko. Aninda tak mau bertanya macam-macam pada restiana karena yakin gadis itu akan mengatakan padanya suatu saat mamti.
***
“yov, aku pulang bareng resti ya? Aku perlu kerumahnya” pamit aninda saat yovi sedang sibuk mencatat hasil latihan basket. “oh iya nggak papa. Besok aku jemput lagi ya” ujar yovi tersenyum hangat pada aninda juga pada restiana.
Restiana dan aninda meninggalkan lapangan basket. Ada tiga pasang mata yang melihat mereka.
“tuh cewek kampong ngapain sok akrab sama yovi? Geram merli. “baru kelas sepuluh aja udah belagu” tambah syifa yang tak kalah sewotnya dengan merli. Sedangkan marsya hanya menaikan sebelah alisnya sambil memikirkan sesuatu. Ada sedikit kegetiran dalam hatinya bila mengingat masa lalunya. Masa lalu yang mulai ia sesali.
__ADS_1
***
Vigo mendekati kembarannya usai latihan basket ia mengambil handuk kecil dari yovi, mengelap wajahnya yang dipenuhi keringat “yov, cewek itu kok ngejar-ngejar kamu terus?” katanya serius. “aku yang ngejar-ngejar dia vig” kata yovi kalem. “serius? Kok kamu mau sih sama cewek tengil kayak dia?” protes vigo. “cuman temen vig. Lagian aku Cuma kasian sama dia. Kamu sih nyerempet orang sembarangan kalau kamu dituntut kepolisi kan aku juga yang kena getahnya” cerocos yovi diluar kebiasaanya.
“iya iya aku kan cumin mastiin. Aku nggak mau dong kembaranku pacaran sama cewek tengil macem dia” ujar vigo coba menenangkan yovi. “tenang aja nggak bakal terjadi apa-apa” jawab yovi mantap.
Vigo tahu benar sifat kembarannya itu, yovi selalu memegang ucapannya. Yovi dan vigo sepasang kembar yang popular. Keduanya atlet basket kebanggaan SMA Harapan Jaya tapi karena suatu insiden, yovi memutuskan keluar dari tim dan memilih menjadi manajer tim basket SMA Harapan Jaya sedangkan vigo masih menjadi pemain tim inti dengan pangkat kapten, posisi yang paling diincar setiap pemain basket.
Yovi tak kalah dengan vigo. Ia dikenal dengan sikapnya yang tenang dan menghanyutkan. Diluar urusan basket, yovi pandai main piano. Keduanya memiliki talenta dan keduanya tampan.
***
Ricko selalu berlatih karate dengan semangat tinggi sehingga tak heran tahun lalu dia berhasil meraih juara kedua lomba karate SMA tingkat nasional.
“tahun ini bapak jamin kamu bakal jadi juara satu!” ujar pak teguh, guru karate sambil mengacungkan jempol.
Ricko yang mendapatkan pujian tersebut hanya tersenyum kecil kemudian memberi hormat pada gurunya. Seusai latihan dia menuju ruang ganti. Ia merogoh isi tasnya mengambil kuncu loker yang tergantung didompet. Dompetnya terbuka saat ia memasukkan kunci kelubang loker. Foto seorang gadis berumur sepuluh tahun terpampang disitu. Ricko kecil berdiri disamping gadis itu yang menampakkan gigi ompong dan bekas ingus didekat hidungnya.
Ricko tersenyum keruh. Ada dendam yang belum terbalaskan sampai saat ini, dendam yang disimpannya sejak dulu dan tidak lama lagi ia akan melampiaskan dendam dan kemarahan yang tersembunyi rapat dalam relung hatinya. Tidak lama lagi…
***
“ya ampun! Ternyata kamu punya novel sebanyak ini!” komentar aninda takjub begitu memasuki kamar restiana.
“itu juga papa sama mama yang beliin” kata restiana sedikit malu.
“ya udah, aku pinjam breaking dawn aja dulu. Kalau udah rampung bacanya ntar kukembaliin” kata aninda sambil memasukkan novel tersebut ke tas punggungnya.
Restiana memutar bola matanya “nyante aja napa nin” aninda cengengesan “aku pulang aja nggak usah repot-repot. Aku lagi pengen naik bus” restiana tertawa mendengar celoteh aninda “padahal aku baru mau nawarin…”
“nggak mau!” aninda memasang muka serius yang justru makin membuat restiana tertawa.
***
Rumah yovi sepi karena kedua orangtuanya memang berada diluar negeri. Dua pembantunya selalu berada dirumah plus vigo yang hobi bikin kegaduhan dirumahnya sendiri. Seperti saat aninda sedang serius belajar dengan yovi, musik rock terdengar dari kamar vigo dengan volume yang sengaja dikeraskan.
“vigo…! Kecilin dikit kenapa?” teriak yovi berusaha melawan suara musik. Suara musik berubah jadi lirih sekali, kemudain volumenya diperbesar lalu diperkecil. Kalau tidak ada yovi dihadapan aninda bisa dipastikan aninda akan mendobrak kamar vigo dan memarahinya habishabisan tapi ia hanya bisa menghirup napas dalam-dalam kemudian mengembuskannya perlahan lewat mulut.
“sori ya, vigo kadang emang kurang waras gitu” yovi menggaruk rambutnya.
Aninda hanya bisa menanggapinya dengan senyuman palsu yang dibuat seindah mungkin.
HP yovi berbunyi. Ia langsung mengangkatnya dan mendengarkan orang di seberang sana dengan mimik serius. “nin, kutinggal sebentar ya. Aku mesti jemput mbok tiyem di pasar mang karyo lagi kerumah sakit ternyata”
“iya nggak papa. Lagian bagian ini nggak susah-susah amat” aninda menunjuk paragraf dilembar kerjanya.
“sip, kalo vigo berulah nggak usah digubris ya” pesan yovi sambil meraih kunci mobil.
Aninda manggut-manggut bersemangat lalu yovi bergegas pergi.
Hujan turun saat aninda sedang serius mengerjakan tugasnya. DUAAAR! Guruh menggelegar keras. Aninda menjerit keras. Sejak kecil ia meman takut Guntur dan petir. Rupanya jeritan aninda membangunkan vigo yang baru saja tertidur.
“ngapain sih teriak-teriak? Ganggu orang tidur aja” omel vigo yang bergegas keluar kamar dan mendapati ternyata aninda baik-baik saja.
“gunturnya gede banget vig” kata aninda lirih. “temenin aku dong sini” imbuhnya memelas.
Vigo termenung. Ada bias ketakutan diwajah aninda dia seperti merasakan deva ju. Dengan enggan ia mendekati aninda menatapnya lekat-lekat kemudian menggeleng pelan.
Vigo memilih duduk disamping aninda dan menjaga jarak sejauh mungkin “cemen amat sih jadi orang!”
__ADS_1
Aninda hanya mngerucutkan bibir. Dulu saat ia ketakutan karena guntur, umar yang melindunginya. Begitu saja pikirannya terbang kesaat pertama kali aninda merasa iba terhadap umar.
“kamu kenapa?” Tanya aninda pelan, ada sedikit nada cemas didalam suaranya.
Umar masih menunduk dan menggeleng pelan. Bibirnya membiru karena dinginnya hujan.
Aninda tak berani menanyainya lagi, ia terus berjalan memayungi umar. Aninda memandang wajar umar lewat ekor matanya. Entah kenapa ia kembali merasakan desiran aneh yang menjalari tubuhnya. Tiba-tiba suara guntur membuat aninda menjerit. Ia menututp kedua telinganya kuatkuat, payung digenggamannya jatuh ketanah. Dengan segera umar mengambil payung kemudian memayungi aninda.
“sini aku gendong. Kamu takut guntur ya?” kata umar lembut diluar tabiatnya.
Aninda kecil mengangguk pelan.
Umar menggendong aninda dengan tertatih, sementara aninda memegangi payungnya dengan tangan gemetar. Aninda tersenyum kecil. Ia tahu dirinya menyukai umar.
Lamunan aninda buyar karena sentuhan vigo dipundaknya. “hobi ngelamun ya mbak?” sindir vigo kaku.
Aninda mendengus kesal kemudian kembali menekuni PR bahasa inggris-nya.
Vigo mengintip perkerjaan aninda. Sontak ia terbahak-bahak.
“masa ditanya ‘siapa nama aktornya’ malah jawabannya nama produser!” cemooh vigo sambil menahan perutnya yang sakit karena tertawa.
“sirik amat ih! Inikan PR-ku, terserah aku dong mau jawab apa!” bela aninda tak mau kalah. “udah sengak, arogan pula” imbuh aninda kesal.
Vigo hanya tertawa pelan “baru kamu cewek yang ngatain aku gitu”
“baru kamu cowok yang pedenya selangit! Sengak!” nada marah dalam suara aninda penuh penekanan.
Wigo menjitak pelan kepala aninda sambil berjalan kembali kekamarnya.
Aninda mengaduh lirih, lalu mengusap kepalanya pelan-pelan. Sial! Batin aninda geram. Ia mengakui pasangan kembar itu memang tampan dan sulit dibedakan secara fisik. Soal emosi? Ia sudah mengenali ciri keduanya. Ia menggeleng menyadari begitu berbeda tabiat mereka berdua apalagi kelakuan brutal vigo yang selalu membuatnya kesal dan marah. Betul-betul tak habis pikir ada orang sesombong vigo.
***
Malam harinya saat aninda berusaha memejamkan mata entah kenapa ia kembali teringat umar.
“aku mau pindah rumah nin” kata umar suatu hari pada aninda. Saat mereka sedang duduk dilapangan.
“kenapa mesti pindah?” Tanya aninda penasaran.
“orang tuaku minta aku pindah. Aku juga nggak tahu kenapa” jawab umar lugu.
Raut aninda tampak kecewa. “yah, padahal kita udah janji bakal selalu bersama”
“tenang nin! Pokoknya tahun depan kamu harus tunggu aku disini! Dibawah pohon ini!” umar tampak yakin sekali.
Aninda tersenyum lega. Ia berharap umar akan menepati janjinya.
***
Vigo meletakkan buku yang baru dibacanya. “yov, siapa sih sebenernya nama cewek tengil itu?”
Yovi yang baru saja memakai selimut menjawab enggan. “namanya Aninda Chandraningsih, kirain kamu udah tau”
Vigo termenung kaku mencoba mencerna nama itu.
“jangan terlalu kasar sama dia vig. Dia cewek manis, baik, lucu pula” tambah yovi lirih. Sejurus kemudian yovi tertidur pulas saking lelahnya.
Vigo masih belum bisa memejamkan mata, pikirannya tertuju pada sosok aninda gadis mungil dengan kulit sawo matang bermata indah, tapi… ampun! Suaranya menggelegar! Dia imut, selalu menampakkan keceriaan dan yang jelas dia cantik. Kenapa aku tidak menyadarinya sejak awal? Tanya vigo dalam hati.
__ADS_1
Vigo seperti mendapatkan semangat hidup yang telah lama melayang. Ia tersenyum mantap.