LOLIPOP

LOLIPOP
LOLIPOP 43


__ADS_3

Sungguh, jika aku tidak dapat mengendalikan perasaanku. Mungkin aku akan menerima Cinta yang di persembahkan Kevin. Dia terlihat sangat tulus. Dan aku tahu, jika bersamanya aku akan aman. Setidaknya aku tidak melawan takdir yang telah Tuhan ciptakan untukku.


"Kevin...."


"Plis Pril, setidaknya aku akan berusaha untuk bikin kamu mengalihkan perasaanmu dari Pak Sam."


"Itu namanya pelarian Vin."


"Aku enggak masalah. Aku sama sekali tidak mempermasalahkan itu. Bagiku yang terpenting kamu mau berusaha lihat aku."


"Tapi Kev...."


"Pril, kasih aku kesempatan. Aku enggak akan mengecewakan kamu." katanya sembari mempererat genggaman tangannya.


Dilema!


Tapi....dengan aku menerima tawaran itu. Aku akan terus menambah deretan keegoisan yang telah kuukir selama ini. Menjadikan Kevin sebuah pelarian bukanlah ide yang baik. Walaupun dia rela melakukan itu.


Tidak!


Aku tidak dapat membohongi hatiku. Aku hanya mencintai Om Sammy. Meskipun aku tahu bahwa pria itu terlarang bagiku, namun hati kecilku tidak dapat mengingkari nya. Hatiku memilih Om Sammy bukan Kevin.


"Pril....."


"Maafkan aku Vin. Aku nggak bisa." kulepaskan genggaman tangannya. Lalu pergi begitu saja meninggalkan cowok itu.


Maafkan aku, Kevin.


°


°


°


Hatiku sakit memikirkan hubungan ku dengan Om Sam. Belum lagi tawaran gila Kevin. Aku memasuki rumah kontrakan juga mendapati hal yang tidak menggembirakan. Tidak ada teman curhat, jika bercerita dengan ketiga temanku. Aku sudah bisa tebak jawabannya. Meski mereka tidak akan memojokkan ku.

__ADS_1


Mana ada yang mau mendukungku? Tidak ada yang bisa mengerti isi hatiku. Karena mereka tidak berada dalam posisiku.


Tidak lama ku lihat Grace memasuki kamar bersama laptop kesayangannya.


"Berhasil chattingan nya?" tanyaku basa basi.


"Nyindir nih?" jawabnya sambil duduk di ujung kasurku sambil memang ku laptopnya.


"Dih, jangan sensitif gitu ah, cepet tua loh"


"Yah gini-gini saja lah," katanya.


"Gini-gini gimana? Kamu masih kan main Aplikasi itu? Apa tuh namanya"


"Hmmm. . . Aplikasi sesat." jawab jutek Grace.


"Sesat gimana? Banyak sekte-sekte iblis gitu. Wah kamu di ajakin nyembah siapa?" kataku serius.. Karena memang aku beberapa kali melihat di acara banyaknya dukun-dukun yang nggak jelas berseliweran di TV.


"Bukan sekte setan.. Tapi Sekte pembodohan." jawabnya sambil tertawa.


"Jadi Aplikasi chatting itu. Banyak golongan ajaib."


"Ajaib gimana." tanyaku lagi semakin bingung


"Jadi banyak pengguna aplikasi itu yang ternyata ibu-ibu tapi ngakunya cowok. Sialan!"


"Jadi kamu chattingan sama ibu-ibu begitu?"


Aku nyaris tertawa terbahak-bahak. Jika tidak melihat muka jutek dia.


"Lagian kamu kayak kehabisan stock cowok yang nyata saja sih."


"Tau ah males bahas tuh. Gila saja tuh orang kayak nggak ada kerjaan tau lah. Cari apa sih heran aku." jawabnya


"Jadi kamu sudah hapus itu aplikasinya." tanyaku lagi sambil terkikik geli.

__ADS_1


"Hmmm buat apalagi. Nggak penting. Oyah aku mau jastip coklat Belgia. Kamu mau nggak Pril?"


"Buat apa? Tumbenan juga mau makan coklat. Mending beli silverqueen tuh di warung sebelah."


"Aku mau ngembangi bisnis freelance. Kayak buka jastip jastip barang-barang luar gitu."


"Jangan ah. Mending yang berkelas. Seperti jual perhiasan. Pasti banyak peminat nya Grace."


"Aku harus ikut pake dong. Ogah! Enggak suka aku make gituan. Ah sudahlah nanti aku pikirkan lagi. Kamu sendiri kenapa dari tadi manyun?" tanya Grace.


Aku harus jawab apa? Tapi keinginanku untuk curhat sedang dalam tarif tinggi.


"Grace, tadi Kevin nembak aku."


"Udah biasakan? Kamu tolak juga kan? Dengan alasan yang sama." sudah kuduga jawaban dia bukan? Tidak ada solusi untuk masalah ku selain... Menjauh!


Brak...


Aku dan Grace kaget dengan dobrakan pintu. Tidak lama Ratih masuk dengan muka yang tidak kalah asem nya.


"Napa kamu Rat. Datang-datang kayak orang habis kena sial." ujae Grace.


"Emang!"


"Kenapa?" tanyaku ikut kepo.


"Aku habis ketangkep basah sama kakak ipar Mas Haris."


"Hah! Terus kamu di apain? Ditampar nggak? Apa dijambak?"


Sialan kalian berdua...


Kami pun tertawa bersama...


...Uang bukan segalanya. ...

__ADS_1


...Persahabatan dan kepercayaan jauh lebih bernilai ketimbang uang. Persahabatan dan kepercayaan itu sepaket. ...


__ADS_2