LOLIPOP

LOLIPOP
Bab 7


__ADS_3

November datang membawa guyuran hujan yang lebat. Marsya mengusap jendela kelasnya yang berembun, menatap lapangan SMA yang sepi, tak ada lagi murid-murid yang beraktivitas disana. Pelajaran olahraga dipindahkan ke aula bila cuaca tak mendukung seperti hari itu. Kekecewaan menyeruak dari benaknya, biasanya ia bisa melihat yovi berolahraga. Hujan tolong berhenti, pintanya dalam hati.


 


*** 


“Hampir ujian semester, tapi semua mapel rasanya bablas dari kepala!” keluh aninda sepulang sekolah. 


Restiana yang berjalan disampingnya tersenyum geli mendengarnya. “Yah belajar dong nin” “Iya, belajar sih belajar. Tapi tetep aja yang dipelajari mental semua.” Gerutu aninda.


“Belajar sama yovi dong. Dia ikut Lomba Cerdas Cermat kan?”


“Iya res, tapi aku nggak enak. Masih ngegantung dia nggak jelas.”


“Ya Tuhan! Kamu masih belum jawab juga nin?”


“Udah res, aku udah nolak. Tapi tetep dia mau nunggu aku”


Restiana mengerutkan dahi. “Berarti dia serius dong nin”


“Nggak tahu lah res”


Dahi restiana kembali berkerut, tampak seperti usus dua belas jari. “Maksudmu?”


“Dia juga mikirin marsya, dia cerita gitu sama aku”


Restiana memilih tak berkomentar. Marsya sudah banyak bercerita pada dirinya, termasuk hal yang aninda tak tahu. Yang memutuskan hubungan dengan yovi adalah marsya, itupun keputusan sepihak. Dan menurut pengamatan restiana, sepertinya yovi memang masih memiliki rasa untuk marsya, walaupun mungkin hanya setitik.


 


*** 


Marsya lebih banyak berdiam diri saat rapat OSIS berlangsung. Ia sesekali melirik yovi yang duduk disampingnya. Merli dan syifa risih melihat sikap sahabatnya itu.


“Sya, jangan ngeliatin dia terus” bisik merli ditelinga marsya.


Marsya tersenyum ke arah merli. “Mumpung masih bisa ngeliat dia mer”


Merli dan syifa memutar bola mata, pasrah dengan sikap sahabatnya yang mulai aneh.


“Yov?” panggil marsya begitu rapat usai.


“Ada apa sya?” tanya yovi tenang.


Marsya sengaja menunggu semua anak keluar, hanya tinggal mereka berdua diruang OSIS.


“Aku pengen kita balik yov. Aku tahu aku egois, tapi aku emang masih saying sama kamu yov” akhirnya marsya bisa mengeluarkan unek-uneknya selama ini.


“Terlambat sya, aku udah terlanjur kecewa sama kamu” ungkap yovi.


“Aku tahu yov. Aku cuma pengen kamu tahu rasaku buat kamu masih seperti yang dulu. Aku saying kamu” ujar marsya lirih.


Yovi terdiam. Sesaat kemudian ia meninggalkan marsya sendirian.


Aku nyesel udah nyampakin kamu, gumam marsya dalam hati sambil menatap punggung yovi. Kristal-kristal kecil berguliran jatuh dari matanya.


 


If I could wish upon a star


Then I would hold you in my arms


And I know we could love once again


If I could turn the hands of time


The you would love me, still be mine


Baby, I would be right where are you


If I could wish upon a star


(Samantha Mumba – Wish Upon A Star)


 


*** 


"Nin, kamu pulang sama vigo ya. Ada seleksi OSIS soalnya" yovi menghampiri aninda yang masih bersama restiana dikoridor kelas. "Aku udah bilangin vigo, dia masih diruang basket"


Aninda mengiyakan, kemudian bergegas menuju ruang basket. Restiana sudah dijemput sopir. 


Hujan masih awet, membuat sebagian murid lebih memilih nongkrong disekolah daripada menerjang hujan. Sebentar lagi ujian semester ganjil, jadi bisa dipastikan semua anak menjaga tubuh mereka tetap fit. 


Ruang basket bersebelahan dengan ruang karate yang berada dipojok. Terdengar gelak tawa dari ruang basket. Dengan hati-hati aninda mengetuk pintu, suara tawa langsung terhenti. 


Seorang cowok jangkung membuka pintu untuk aninda. "Cari siapa?"


"Vigo" jawab aninda dengan mimik yang sengaja dibuat seanggun mungkin. Padahal itu justru membuatnya terlihat seperti cewek konyol. 


Si cowok jangkung mempersilakan aninda masuk setelah mendapat anggukan dari sang kapten, vigo.


Ruangan itu seperti ruang yang lain. Ada kursi empuk yang memanjang pada salah satu sisi, yang kini diduduki anggota tim. Lemari piala berada dipojok, kotak penyimpanan bola berada persis disampingnya. Loker berukuran besar berhadapan dengan kursi panjang. 


Aninda risi karena ia satu-satunya cewek didalam ruangan itu. Vigo memberi tanda agar aninda duduk disampingnya, jauh dari jangkauan teman setimnya. Sekarang aninda merasa terlindungi. 


"Pulangnya nunggu ujan reda" kata vigo angkuh. 


"Iya!" Ujar aninda ketus. 


"Nin, milih yovi atau vigo?" Ledek rian. 


Semua tertawa. 


"Nggak milih dua-duanya" jawab aninda sekenanya. 

__ADS_1


Tawa anak-anak basket makin melebar. 


Vigo hanya tersenyum sinis. 


Hari itu aninda mendapatkan banyak teman baru, yaitu anak-anak basket. Ternyata mereka tak seangkuh seperti terlihat di lapangan. Semua bersikap ramah padanya. Apa mungkin karena ia teman kapten mereka? Kebanyakan anggota tim inti berasal dari kelas sebelas, selebihnya kelas dua belas yang sebenarnya sudah harus berhenti bermain mengingat ujian nasional semakin dekat. 


Akhirnya aninda tahu si jangkung yang membukakan pintu untuknya bernama rian. Yang paling kecil rifki, paling jago bikin lelucon yang mengocok perut aninda. Dan masih banyak lagi yang aninda kenal dan langsung lupa namanya saking kecilnya volume otaknya. 


"Kamu temen deket yasmin kan nin? Gimana kabar yasmin dan satriya?" Tanya rifki. 


"Iya, aku terakhir kesana dua bulan lalu. Tapi masih sms-an terus. Kabarnya baik, juniornya juga baik katanya" jawab aninda pelan. 


"Kapan-kapan kita jenguk mereka yuk!" Usul rifki, yang langsung disetujui semua anggota tim. 


Vigo lebih banyak diam ketimbang ikut ngobrol dengan teman-temannya. Ia lebih memilih mendengarkan lagu lewat MP3. Tak peduli dengan aninda yang sejak tadi meliriknya kesal. 


Hujan telah mereda menjadi gerimis kecil. Satu persatu anggota tim meninggalkan ruang basket. Sampai akhirnya tinggal aninda dan vigo yang tersisa. 


"Yuk pulang!" Ajak vigo sambil menepuk pelan bahu aninda. 


Aninda langsung bangkit dan melangkah menjejeri vigo. Dia tak berani membuka percakapan. Suasana hati vigo terlihat sedang tidak baik hari itu. 


"Aku males pulang" kata vigo saat perjalanan pulang. "Aku main ke tempatmu dulu ya?" Tambahnya dengan nada sedikit memaksa. 


Aninda tak berani menolaknya. "Ya boleh"


 


***


Orangtua aninda senang bukan main saat tahu vigo berkunjung kerumah mereka. 


"Nak ganteng, tumben mau mampir" ledek ibu aninda super ramah. 


Aninda merasa gerah dan memutuskan untuk mandi, meninggalkan vigo bersama kedua orangtuanya. 


Diluar hujan lebat turun kembali disertai guruh yang menggelegar. Aninda yang baru saja mandi masuk kekamarnya. Hatinya mencelus saat mengetahui vigo sudah terkapar pulas dikasurnya. 


"Ya ampun!" Seru aninda kaget.


Ibu aninda menghampiri putrinya sambil memberi isyarat dengan jari telunjuk dibibir. "Katanya dia ngantuk nin. Kamu pindah kekamar ibu aja sana"


Setelah ganti baju, aninda mengomel kesal. "Apa-apa mesti vigo yang dibela! Anak sendiri nggak pernah dibelain!"


"Jangan gitu nin, dia tamu kita. Ada pepatah yang mengatakan, tamu adalah raja" ayah aninda memulai khotbahnya. 


"Iya yah, tapi masa keterlaluan gitu, diizinin tidur dikamar aninda" protes aninda masih menggunakan nada sopan. 


"Ya sekali-sekali nggak apa-apa kan? Lagian..." Ayah aninda tak menyelesaikan kalimatnya karena terdengar seruan ibu aninda. 


"Hp vigo bunyi nin!" Seru ibu aninda dari dapur. Ia sedang memasak makan malam. 


Masih menggerutu, aninda masuk kekamar. Ia merogoh tas vigo yang terletak dimeja belajar, mencari sesuatu yang menimbulkan bunyi nyaring. Saat aninda berhasil menemukan hp vigo, bunyi itu berhenti. Ternyata kontak dengan nama "Mother" berusaha menghubungi vigo. Aninda mengeceknya, ada dua sms yang berasal dari kontak itu. 


Pasti ini ibu vigo, batin aninda yakin. 


From : Mother


Nak, kamu dimana? Papa sama mama baru pulang kok dicuekin. Kapan kamu mau maafin mama?


From : Mother


Kok nggak diangkat sih? Papa nanyain kamu. 


Sms baru masuk. Dari yovi


From : My Brotha


Vig! Mampir kemana kamu? Dicariin bonyok tuh. 


Aninda memutuskan untuk membalas pesan yovi. 


To : My Brotha 


Ini aninda, vigo lagi tidur dirumahku tuh. Takut bangunin ntar ngamuk!  


Tak lama kemudian balasan dari yovi masuk


From : My Brotha


Oh ya? Udah, biarin aja. Yang penting jelas lagi dimana. Bilangin, jangan pulang kemaleman. 


Kali ini aninda tak membalasnya. Ia meletakkan hp vigo ditempatnya semula. Rasa tertarik aninda untuk terus memandangi vigo muncul. Pelan-pelan ia mendekati vigo yang masih pulas. Wajah vigo semakin tampan saat ia tertidur, tak ada keangkuhan yang tersirat. Aninda tersenyum sambil terus memandangi vigo. Inget nin, dia cowok jahat! Penyangkalan aninda kembali lagi.


 


 


***


Vigo terbangun tepat pukul tujuh malam. Ia langsung bergegas kekamar mandi dengan diantar aninda. 


"Dasar kebo! Tukang tidur!" Ejek aninda. 


Vigo menciprati aninda dengan air yang ada ditangannya. 


"Diem cewek bawel!"


Aninda mendengus kesal, memeletkan lidahnya sembunyi-sembunyi dibelakang vigo. 


Karena menu spesial buatan ibu aninda sudah tersaji rapi dimeja makan, mau tak mau vigo harus makan bersama keluarga aninda. Aninda mengernyit saat melihat vigo makan dengan lahap. Padahal menu spesial keluarganya hanya ikan asin goreng, kangkung oseng, tempe goreng, dan sambal terasi. Hati kecilnya senang melihat vigo menyuap makanan dengan begitu bersemangat. 


Karena sudah malam, sekalipun baru selesai bersantap, vigo langsung pamit. 


"Vig, tadi ada sms dari ibumu. Terus dari yovi juga"

__ADS_1


Aninda melapor saat vigo hendak meninggalkan rumahnya. 


Vigo memandang aninda dengan penuh curiga, kemudian membuka hpnya. 


"Kamu baca sms dari ibuku?" Tanya vigo kesal. 


Aninda mengangguk ragu-ragu. 


"Sembarangan! Kenapa kamu kasih tahu yovi aku dirumahmu?" Nada suara vigo meninggi. 


"Aku nggak tahu..."


Belum sempat aninda menjelaskan, vigo sudah pergi meninggalkannya. Tergesa dia menghidupkan mesin motornya, kemudian hilang dari pandangan aninda. 


Aninda sadar dirinya baru saja melakukan kekeliruan besar. Dan itu membuatnya gelisah. 


Kegelisahan aninda tak kunjung mereda, terlebih bila mengingat kembali ekspresi vigo saat meninggalkannya tadi. Belum pernah vigo semarah begitu. Aninda berusaha mencerna kembali perbuatannya. Apakah salah dirinya memberitahu yovi yang sebenernya, bahwa vigo ada dirumahnya? Soal membaca sms dari ibunya, kan dia mau menjelaskan bahwa dia melakukannya karena khawatir ada hal penting, tapi vigo terlanjur meninggalkannya. 


Harusnya vigo berterima kasih karena aku ngasih kabar ke keluarganya, gerutu aninda saat sendirian dikamar. Bisa saja keluarganya panik karena anggota mereka kurang satu, terus lapor polisi, terus keluargaku dituduh nyulik dia, kan repot! Aninda mulai mengada-ada, sekedar untuk meredakan kegelisahan hatinya. 


Walaupun begitu, hati aninda tak bisa dibohongi. Rasa gelisah masih berkeliaran dihatinya. Ia kebingungan harus berbuat apa untuk menghilangkan rasa gundah itu. 


Dasar cowok nyebelin! Kenapa aku jadi kepikiran dia gini?


 


***


Pagi yang mendung untuk hati aninda yang tak kalah mendungnya. Saat pelajaran aninda lebih banyak berdiam diri, tak seperti biasanya. Sampai-sampai Bu Purwanti curiga dengan kebisuannya. Riska menduga sejak pagi aninda berusaha menahan BAB alias Buang Air Besar. Teman lain mengatakan ada bisul besar dilidah aninda hingga dia diam seperti itu. 


Aninda memutuskan pergi ke perpustakaan sekolah, daripada harus sakit hati mendengar ledekan teman-temannya yang makin tak karuan. Rupanya restiana juga berada diperpustakaan. 


"Kenapa suntuk gitu nin?" Tanya restiana mendekati aninda. 


"Lagi males banget rasanya" jawab aninda sekenanya. 


"Kamu nggak pandai berbohong" tembak restiana setengah menyindir. 


Aninda memutar kedua matanya. "Sebenarnya..."


Restiana mendengarkan curhatan aninda dengan antusias. Sesekali ia mengangguk, sesekali menggeleng. 


"Mending minta maaf aja nin" saran restiana setelah aninda menyelesaikan ceritanya. 


"Siapa juga yang tahu dia bakal semarah itu karena masalah sepele gitu res?"


"Kita kan nggak tahu, itu masalah sepele apa bukan buat dia. Bisa saja ada alasan lain yang bikin dia marah"


"Bener juga ya res" rupanya logika aninda sudah kembali ketempatnya.


 


***


Aninda celingukan kesana kemari, menjelajahi seluruh isi sekolah. Hasilnya nihil. Ia tak berhasil menemukan vigo. Aninda pasrah setelah kakinya pegal saking jauhnya berjalan menyusuri semua koridor sekolahnya. Ya Tuhan, aku kan belum mencari ke ruang basket! Batin aninda heran begitu menyadari ada yang terlupa. 


Entah dapat semangat dari mana, tergopoh-gopoh aninda berbalik dan melangkah ke ruang basket yang lumayan jauh. 


"Nyari siapa nin?" Ricko mengagetkan aninda. 


Aninda memegangi dadanya karena kaget. "Eh, hai rick. Lagi pengen jalan-jalan aja"


"Jalan-jalan kok mondar mandir didepan ruang basket" ricko tertawa geli. 


"Eh, iya ya?" Lagi-lagi aninda memperlihatkan ketololannya. 


Tiba-tiba ricko mengubah ekspresi wajahnya. "Nin, boleh nggak aku ngomong sesuatu sama kamu?"


Aninda tertawa. "Muka kamu kok serius begitu!"


"Aku emang serius nin!"


Aninda berhenti tertawa, ricko beneran serius rupanya. 


"Udah lama aku pengen ngomong sama kamu nin, tapi rasanya nggak ketemu waktu yang tepat" ricko menarik napasnya kuat-kuat. 


"Jangan bikin aku ketakutan dong rick" aninda sedikit bingung dengan situasi yang dihadapinya saat itu. 


"Aku suka kamu nin, sayang kamu" kata-kata itu keluar dari mulut ricko dengan begitu cepat. 


Kontan aninda tertawa. "Rick, jangan becanda gitu ah! Nggak lucu tau!" Ricko menarik tangan aninda, menggenggamnya erat-erat. 


"Nggak tahu kenapa pas ketemu kamu tadi aku langsung pengen ngungkapin perasaanku yang udah lama aku rasain"


Aninda melongo, benar-benar bingung. 


"Nin, aku tau ini nggak romantis, nggak tepat waktunya. Tapi mau nggak kamu jadi cewekku?"


Aninda menggeleng pelan. "Kamu pasti lagi ngerjain aku. Iya kan rick?"


"Nin! Tatap mata aku! Aku serius nin! Aku cinta kamu! Cinta kamu dari SD! Aku nunggu kamu nin!" Ricko berbicara lantang.


Aninda gugup bukan main. Jantungnya berdegup kencang. Entah apa yang ia rasakan sekarang. Takut, kaget, semua bercampur dalam hatinya. 


"Nin, aku nggak mau kamu jadi milik orang lain. Kamu mau kan jadi cewekku? Kamu juga suka sama aku kan?" Ricko mulai gugup sendiri. 


"Nggak rick. Nggak begitu. Aku, aku udah nganggep kamu seperti adikku sendiri" jawab aninda gelagapan. 


Ricko terdiam. Sorot matanya semakin tajam. "Kamu masih nunggu umar nin?" Air mata aninda hampir tumpah mendengar pertanyaan ricko. 


"Sia-sia kamu ngarepin dia nin. Kamu sendiri nggak tahu sekarang dia dimana kan? Iya kan? Aku nggak bakal berhenti ngejar kamu sampai terbukti bahwa umar emang bener-bener masih ada buatmu"


 


***

__ADS_1


Restiana memejam perlahan. Setetes air mata bergulir lembut. Gerimis membuat dinginnya malam jadi terasa ke tulang. Suasana hatinya ikut dingin, mungkin hampir beku. Kerapuhan jiwanya makin terlihat karena kelelahan yang mulai menerpa. Jalan cintanya begitu terjal. Juga seakan buntu.


__ADS_2