LOLIPOP

LOLIPOP
LOLIPOP 30


__ADS_3

Hari ini jadwal visit ku ke gedung olahraga lagi. Dalam hati berdo'a semoga Om Sammy tidak menampakkan diri nya di sana nanti. Aku yakin seantero kota sudah melihat majalah itu, meski kami bukan dari kalangan artis atau orang yang beken tapi untuk berita Asmara muda mudi di kota masih menyedot perhatian.


Ku lintasi lapangan basket dengan terburu-buru sambil melirik jam tangan, memastikan aku masih memiliki beberapa menit untuk nongkrong di kantin.


"Awas!" teriak seseorang mengagetkanku.


Belum sempat aku mencerna siapakah pemilik suara itu, tiba-tiba saja tubuhku seperti tertabrak sesuatu atau seseorang yang membuatku terseret ke lantai semen. Namun tak sampai dua detik kemudian terdengar suara 'PRANG!' yang memekikkan telinga. Perih terasa menjalar di kedua lutut dan sikuku.


"April, kamu nggak apa-apa?" tanya suara itu, membuatku menoleh ke arahnya.


"Kevin?"


"Kamu nggak apa-apa?" tanyanya lagi mengabaikan keterkejutan ku. "Kamu hampir saja kejatuhan pot. Untung aku nggak kalah cepat." katanya sambil menghela napas lega.


Aku mengalihkan pandanganku ke pot bunga yang isinya kini berserakan di tepi lapangan basket, tidak jauh dariku. Aku menahan napas.


Apa seseorang berniat mencelakaiku?


Hanya karena sepenggal artikel di majalah itu? Sadis sekali!


"Kamu hati hati ya Pril." pesan Kevin sambil bangkit lalu mengulurkan tangan.

__ADS_1


Aku ikut bangkit tanpa merespon uluran tangannya.


"Thanks ya, sudah nolongin aku."


Kevin tersenyum lalu mengalihkan pandangannya pada tangan kanannya yang masih mengambang diudara. Ia pun segera menurunkan tangannya itu.


"Kita ke ruang kesehatan ya, lutut kamu terluka." serunya.


"Tidak perlu. Aku nggak apa-apa kok." kataku sambil berjalan pergi meninggalkan dirinya.


"Jangan keras kepala! Kamu mesti diobatin dulu." katanya lagi sembari menarik lenganku dan menyeretku ke arah ruang kesehatan.


Dengan pasrah kubiarkan Kevin membimbingku. "Loh kenapa bisa luka begini?" seru panik suster yang bertugas.


Sebenarnya aku masih bisa berjalan sendiri walau lutut ku agak perih. Tapi Kevin dan suster itu terlihat berlebihan hanya karena luka lecet di kakiku ini. Tidak lama suster itu membersihkan luka dikedua lutut ku dengan antiseptik lalu menempelkan plester.


Semudah itu!


Yang sebenarnya bisa aku lakukan sendiri.


"Sudah selesai!" seru suster itu.

__ADS_1


"Terimakasih Sus," kata Kevin sembari tersenyum senang. Kemudian dia membimbing ku kembali untuk keluar dari ruangan tersebut.


"Apa aku perlu menyelidiki siapa pelaku itu? Karena sedikit aneh kalau tiba-tiba pot itu bisa jatuh sendiri."


Aku tersenyum getir. "Nggak perlu Vin, malah akan lebih bahaya kalau kita mencari tau dia. Bisa semakin panjang dan menjadi-jadi."


Setelah kami sudah diluar, aku segera menyentak tangan Kevin lalu memamerkan senyum seadanya.


"Aku sudah nggak apa-apa. Kamu balik ke lapangan saja. Aku bisa jalan sendiri. Makasi ya Vin."


Kevin mengangguk.


"Kalau ada apa-apa, panggil aku saja ya Pril. Aku siap menjadi bodyguard kamu." katanya sebelum membalikkan tubuhnya, lalu menghilang dari pandangan ku.


Terlihat jelas dari gerak langkahnya, suasana hatinya sangat senang. Bahkan kulihat dia mengayunkan kepalan tangan seperti berteriak 'YES' tanpa suara.


Aku tersenyum sejenak.


...Sebenarnya akan lebih baik jika aku bisa menyukaimu. Walau harus melihat sikap menyebalkan itu setiap hari, namun itu lebih baik dari pada harus mencintai seseorang yang tidak mungkin dapat kumiliki. ...


...Om Tidak adakah kesempatan untukku? ...

__ADS_1


...•••••••••••• ...


__ADS_2