Love Always Forever (Tanpamu , Bagaimana Aku?)

Love Always Forever (Tanpamu , Bagaimana Aku?)
Persahabatan


__ADS_3

Tangannya di genggam erat oleh laki-laki itu dan ditariknya mengikuti langkahnya. Fany mengikuti laki-laki itu dengan perasaan yang bahagia. Mereka berhenti di sebuah tepi pantai berpasir putih. Sorot matahari orange menambah kesan sempurna bersama alunan ombak yang tenang.


Hembusan angin sore menerpa wajah cantiknya. Rambut panjangnya kesana kemari terbawa semilirnya udara. Pandangannya menatap lurus ke arah lautan yang tiada ujungnya.


Laki-laki itu berdiri menghadap dirinya. Laki-laki itu tersenyum manis dan menatapnya. Fany menatap kedua mata laki-laki itu dengan tersenyum pula.


Diraihnya kedua jemari tangan Fany lalu diciumnya sesaat. Kemudian dilepaskannya , lalu kedua tangan laki-laki itu beralih menangkup wajah Fany.


"Aku mencintaimu..." ucap laki-laki itu dengan tersenyum---------


"Bangun dek!!! Bangun , lu cewek tapi kalo tidur kayak kebo aja ya!" ucapan Irfan sukses membuat Fany gelagapan. Ia terduduk seperti orang yang sedang kebingungan. Dilihatnya kakaknya itu sedang menyibakkan gorden jendela kamarnya agar sinar matahari dapat masuk.


"Kakak ngapainn sih ke sini? Gangguin mimpi indah gue aja! Ah kakak nih rese banget ya!" ucap Fany dengan kesal karena ulahnya itu sudah menghancurkan mimpi indahnya di pagi hari. "Eh !! Kok gue mimpi sama dia sih? Terus dia bilang kalau... Astaga!" ucap Fany dalam hati sembari menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya akan mimpinya.


"Kenapa lu? Pagi-pagi gini udah kayak orang gila aja! Mandi sana , trus siap-siap. Kakak mau ajak kamu pergi." ucap kakaknya dengan tersenyum jahil sambil menarik selimut tebal Fany. Dan hal itu sukses membuat si empunya selimut berteriak-teriak.


Melihat adiknya berteriak-teriak Irfan pun memutuskan untuk segera lari dari kamar itu sebelum ia mendapat amukan darinya. Fany melihat jam dindingnya yang masih menunjukkan pukul 06.00 wib dan ia pun turun dari ranjangnya menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Hari-hari berlalu begitu menyenangkan dan penuh canda tawa. Dan kini adalah hari Minggu. Hari dimana semua orang berlibur dari rutinitas dan berakhir pekan.


Setelah 30 menit , Fany sudah selesai mandi dan berganti baju santai rumahan. Ia hanya memakai celana hotpants dan baju kaos biasa dengan rambut yang ia biarkan tergerai.


Fany turun ke ruang tengah dan dapat didengarnya terdapat suara seorang laki-laki sedang bernyanyi bersama alunan gitar di taman rumahnya. Fany pun menuju taman untuk melihat siapa yang sedang bernyanyi sambil memainkan gitar itu.


Fany masuk tanpa permisi dan ia kaget begitu melihat kakaknya tak sendirian disana. Ada Ardhi disana sedang bermain gitar. Kedua laki-laki itu memandang Fany yang mematung di depan pintu.


Tak ada satu jam yang lalu ia memimpikan cowok itu. Dan kini cowok itu ada di hadapannya. "Aduhh gue salah pakaian ini!" ucap Fany merutukki kebodohannya.


"Ngapain berdiri disitu? Mau jadi patung?" ucapan kakaknya membuyarkan lamunannya seketika. Dan Fany pun tersenyum kikuk dibuatnya.


"Enggak kok gapapa , bentar deh ya." ucap Fany dengan cepat pergi berlalu kembali ke kamarnya untuk mengganti pakaiannya. Ia lupa dengan ucapan kakaknya sewaktu dikamar tadi.


"Kenapa jadi bodoh gini sih gue! Astaga!" ucap Fany dengan heran pada dirinya sendiri sembari memilih baju ganti yang tepat.


Ia memilih pakai celana panjang jeans hitam dengan baju kaos lengan pendek. Tak lupa ia memakai pelembab bibir meskipun bibirnya sudah terlihat sempurna. Dan ia pun kembali lagi turun ke bawah.


"Kakak tadi bilang mau ajakin aku pergi ya? Mau kemana sih?" ucap Fany begitu sampai di taman dan duduk di samping kakaknya.


"Jalan-jalan dong , lama nggak jalan." ucap Irfan.


"Kemana? Siapa aja?" tanya Fany lagi.


"Kita nanti berempat. Kepantai aja yuk cari angin." ucap Irfan dengan memandang Fany dan Ardhi bergantian.


"Eh yang satu siapa lagi?" tanya Fany penasaran.


"Ya ada lah , temen kakak nanti. Gimana pada mau kan kalau kepantai?" ucap Irfan lagi.


"Iya boleh." ucap Ardhi dan Fany pun mengangguk mengiyakan ajakan kakaknya itu.


Mereka bertiga sedang bersiap-siap untuk berangkat , namun Mama Vina tidak mengizinkan mereka pergi sebelum mereka sarapan terlebih dahulu. Dan akhirnya Ardhi pun juga ikut satu keluarga itu sarapan bersama meski tadi ia sudah sarapan saat di apartemen.


Pukul 07.30 wib , mobil Irfan melaju menuju sebuah apartemen tak jauh dari rumahnya.


"Temen kakak cewek apa cowok sih? Kalo cowok gak mau ah , masa aku cewek sendiri." ucap Fany yang duduk di kursi belakang kemudi. Sedangkan Ardhi duduk didepan dan kakaknya yang menyetir.


"Kan ada Ardhi ntar , ribet banget sih kamu itu." ucap Irfan sambil melirik Fany dari kaca sepion di atas.

__ADS_1


"Ah ngomong sama kakak tuh susah ya!" ucap Fany berdecak kesal.


"Nanti kamu tau sendiri dek , udah deh nggak usah bawel." ucap Irfan dengan terkekeh geli melihat Fany sedang kesal karenanya.


Fany melihat Ardhi tersenyum saat memandangnya. Dan itu membuat jantung Fany kembali berdetak lebih cepat. Fany mencoba mencari pemandangan lain untuk menstabilkan detak jantungnya. Ia benar-benar merasa canggung karena ia selalu teringat oleh mimpi indahnya bersama laki-laki itu.


Dan entah kebetulan atau kenapa , hari ini ia juga kepantai bersama laki-laki yang berada di mimpinya itu. Ia tak tahu harus bagaimana jika nanti mimpinya itu menjadi kenyataan. Ada rasa bahagia namun ia juga pesimis, apakah mungkin Ardhi merasakan sesuatu seperti apa yang ia rasakan akhir-akhir ini.


Tak lama kemudian mobil terhenti yang membuat Fany tersadar dari lamunannya dan masuklah seorang perempuan muda yang cantik.


"Kayak pernah lihat , dimana ya? Oh ... foto dikamar apartemen kakak! Eh tapi pas di kantor dulu kayak pernah lihat juga deh." ucap Fany dalam hati saat melihat perempuan itu masuk dan duduk disampingnya.


"Udah nunggu lama ya? Maaf ya tadi harus bangunin anak manja itu dulu." ucap Irfan sambil melirik Fany. Dan Fany pun tahu siapa dan apa maksud ucapan kakaknya itu. Dengan kesal Fany meninju lengan kakaknya.


"Nyebelin ya kakak!" ucap Fany.


"Hehehe kenalin , dia Fika. Sekretaris di kantor kakak. Itu adik aku , dan ini Ardhi CEO muda yang banyak di kejar-kejar kaum hawa hahaha..." ucap Irfan mengenalkan dan Ardhi tersenyum mendengar ucapan Irfan.


"Hai kak , aku Fany ." ucap Fany dengan tersenyum.


"Hai juga aku Fika." ucap Fika dengan tersenyum pula.


"Ya udah kita berangkat ya." ucap Irfan dan melajukan mobilnya.


...----------------...


Reza turun dari mobil dan menekan bel rumah itu. Ia dengan perasaan penuh semangat pagi ini. Tak lama kemudian pintu pun terbuka.


"Eh selamat pagi Tante? Fany nya ada Tan?" ucap Reza begitu tahu yang membuka pintu itu adalah mamanya Fany.


"Pagi juga Za , wah maaf ya Fany lagi di ajakin jalan-jalan keluar sama kakaknya." ucap Mama Vina memberi tahu. Dapat dilihatnya , ada raut wajah kecewa yang dia sembunyikan.


"Iya nak Reza , hati-hati dijalan ya." ucap Mama Vina dengan tersenyum.


Reza melajukan mobilnya kembali kerumah dengan perasaan kecewanya.


...----------------...


Hamparan pasir putih begitu luas membentang. Pohon-pohon kelapa yang menjulang tinggi. Mereka berempat berjalan bersama di tepi pantai. Dilihatnya kakaknya berjalan lebih dulu bersama Fika. Irfan menggandeng tangan Fika disampingnya. Fany mengerti akan semua itu. Kakaknya memiliki hubungan khusus dengan Fika.


"Cieee cie yang lagi pacaran , serasa dunia tuh milik berdua ya yang lain ngontrak doang ini mah!" ucap Fany dibelakang yang membuat kakaknya menoleh dirinya.


"Syirik aja kamu , bilang aja kalo kepengen!" ucap Irfan dengan tertawa. "Lagian kalian berdua kenapa sih? Lagi marahan ya?" ucap Irfan lagi yang membuat Ardhi dan Fany saling pandang.


"Oh enggak dong , kita itu nggak pernah marahan. Iya nggak?" ucap Ardhi dengan senyum-senyum memandang Fany sembari merangkul pundak dan mengacak rambut di pucuk kepalanya. Dan entah mengapa detak jantung Fany kembali menggila.


Fany salah tingkah sendiri berada di rangkulan cowok yang dia mimpikan itu. Kakaknya tersenyum pada Ardhi lalu membawa Fika menjauh darinya. Irfan membiarkan Ardhi berdua bersama Fany. Entahlah apa maksud kakaknya itu.


Ardhi mengajak Fany berjalan melangkah perlahan sembari menikmati hembusan angin. Saat itu memang cuaca sedang bersahabat. Sedang tidak ada panas mentari namun terlihat cerah tak mendung pula.


"Kamu kenapa sih diem mulu dari tadi? Aku ada salah ya?" tanya Ardhi dengan ucapannya yang hati-hati karena takut Fany tersinggung.


"Aduh gue mau bilang apaan?" ucap Fany dalam hati bingung.


"Ah nggak apa-apa , perasaan kamu doang tuh. Aku gapapa kok." ucap Fany dengan tersenyum kikuk sambil merapikan rambutnya yang berantakan karena diacak-acak oleh tangan jahil Ardhi tadi.


"Serius?" ucap Ardhi dengan menatap wajah Fany dalam jarak beberapa centimeter. Dan hal itu membuat Fany gugup.

__ADS_1


"I-iya serius lah." ucap Fany meyakinkan meski harus dengan susah payah ia menyembunyikan gugupnya.


"Terus kenapa dari tadi diem aja? Mikirin apa?" ucap Ardhi dengan lembut sembari ikut merapikan rambut Fany dengan tangan kirinya karena tangan kanannya masih setia merangkul pundak Fany.


"Mikirin kakak , ternyata mereka pacaran beneran. Baru tau aku. Enak kali ya pacaran gitu? Hehehe..." ucap Fany tanpa sadar yang membuat Ardhi tersenyum.


"Terus kamu mau pacaran juga? Kamu pengen kayak mereka?" Ucap Ardhi dengan santai dan tak memperdulikan tatapan perempuan di sekitarnya yang terpana menatap pesona ketampanan Ardhi.


Ucapan Ardhi benar-benar membuat telinga Fany seakan-akan terbakar saat itu juga.


"Eh maksud aku tuh aku cuma bayangin aja. Nggak pengen pacaran dulu. Kan aku udah pernah bilang ke kamu kemarin!" ucap Fany dengan mendongakkan kepalanya menatap wajah Ardhi disampingnya. Dan sangat ia akui bahwa ia sejujurnya telah jatuh ke dalam pesona laki-laki yang tengah merangkulnya itu.


Namun apalah daya , hubungan mereka adalah persahabatan.


"Ehm gitu... Oh iya yang waktu itu ya , aku lupa. Emang kalo kamu cari pacar itu kamu cari yang kriterianya kayak gimana sih ?" ucapan Ardhi membuat Fany benar-benar merasa susah untuk menelan ludahnya sendiri.


"Mana mungkin gue omong soal kriteria? Gue itu sukanya sama lu!" teriak Fany dalam hati.


"Apaan ya , aku ngga ada kriteria. Ah udah deh kamu nggak usah bahas gituan dong." ucap Fany dengan menghentikan langkahnya dan menatap wajah Ardhi.


"Iya iyaa udah nggak bahas itu lagi deh. Udah ayo kita kesana." ucap Ardhi dengan tertawa ringan melihat tingkah Fany yang menurutnya sangat lucu dan menggemaskan. Lalu Ardhi menggenggam jemari Fany dan mengajaknya berjalan menuju sebuah kursi ditepi pantai.


Dari kejauhan , Irfan dan Fika sangat bahagia. Mereka berdua juga memperhatikan Ardhi dan juga adiknya yang menurutnya mereka memang saling memendam perasaan masing-masing.


"Sayang , mereka itu pacaran nggak sih?" tanya Fika dengan menggunakan panggilan sayangnya kepada Irfan.


"Mereka ngakunya sahabatan doang. Tapi aku tau kok mereka saling suka dan saling memendam cinta. Udah kelihatan." ucap Irfan dengan tersenyum.


"Kenapa nggak pacaran aja sih mereka? Mereka itu cocok lho , pasangan yang serasi. Aku lihat Ardhi itu orangnya romantis banget sih ya. Adik kamu juga cantik banget , aku jadi minder tauk!" ucap Fika dengan tertawa.


"Kalian itu sama-sama cantik. Aku masih bingung juga sih kenapa sampai saat ini mereka cuma sahabatan aja. Aku ajakin kesini juga karena aku mau melihat mereka berdua bareng kayak gitu. Rasanya kayak ikut bahagia melihat mereka bahagia." ucap Irfan dengan tersenyum sambil memandang ke arah Ardhi dan Fany di kejauhan sana yang tengah bersama-sama bercanda dan tertawa.


"Kamu berharap mereka bisa bersama dan saling mencintai kan?" ucap Fika dengan memandang wajah tampan Irfan.


"Iya. Aku berharap begitu. Karena aku tau Ardhi itu orangnya gimana. Dia cowok yang pantas buat Fany." ucap Irfan dengan tersenyum.


"Ya kita berdoa aja ya semoga mereka itu bisa kayak kita. Entah itu cepat atau lambat. Semoga mereka berjodoh." ucap Fika dengan tersenyum pula.


"Iya amin deh Sayang. Moga aja kita juga bisa secepatnya menikah." ucap Irfan dengan senyum-senyum tak jelas.


"Selesai'in dulu kuliah kamu sayang , aku nggak maksa kamu buat cepet-cepet nikahin aku kok." ucap Fika dengan tersenyum.


"Iya deh iya , aku tau itu kok. Oh iya kamu mau es kelapa? aku beliin ya." ucap Irfan dengan memandang wajah Fika .


"Boleh deh." ucap Fika dan Irfan pun berdiri membeli dua es kelapa muda yang segar.


Mereka pun saling menikmati minumannya dengan semilir angin yang menerpa mereka.


Tak lama kemudian Irfan mengajak Fika menghampiri Ardhi dan Fany yang sedang menikmati ice cream itu untuk makan siang bersama. Lalu mereka berempat berjalan menuju sebuah gazebo didekat sana. Mereka memesan makanan untuk makan siangnya dengan menu utamanya adalah seafood. Dan mereka pun menikmati makan siang dengan suguhan keindahan alam pasir pantai yang membentang beserta luasnya lautan.


Luasnya samudra yang tak terhitung , bagaikan luasnya cinta mereka berdua yang tak terhingga...


*


*


*

__ADS_1


*❣️❤️


__ADS_2