Love Always Forever (Tanpamu , Bagaimana Aku?)

Love Always Forever (Tanpamu , Bagaimana Aku?)
Bukan Mainan


__ADS_3

Didunia ini tidak ada yang tidak mungkin. Yang bahagia tidak selamanya akan merasa bahagia. Bahagia itu pasti akan ada saatnya dimana harus merasakan pahitnya perjalanan hidup. Bukan tidak mungkin apa yang kita impikan akan selamanya menjadi milik kita yang abadi.


Sesuatu yang tak dapat kita hindari mungkin akan selalu menerpa. Bahkan suatu keinginan yang teramat besar pun terkadang kita tak mampu meraihnya jika itu bukan takdir kita untuk mendapatkannya.


..


..


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


.


.


.


.


"Fany tunggu!" ucap Rifki yang tiba-tiba muncul dari belakang dan itu sukses membuat Fany kaget.


Fany kaget dengan kehadiran Rifki didepannya setelah setahun ia tak bertegur sapa. Fany pun menengok kanan kiri.


"Lo..." ucap Fany dengan berusaha tenang.


"Ikut gue!" ucap Rifki sembari menarik lengan Fany.


"Kemana? Lepasin gue!" ucap Fany yang tengah berjalan mengikuti kemana Rifki akan membawanya.


Rifki menghentikan langkahnya tatkala ia telah sampai di taman. Fany pun bingung kenapa Rifki tiba-tiba bersikap seperti itu padanya.


Rifki meraih tangan kanan Fany dan melihat jari manisnya.


"Lo serius udah tunangan?" ucap Rifki dengan menatap wajah Fany yang tampak kebingungan.


Fany pun hanya menganggukkan kepalanya tanpa ekspresi.


"Kenapa?" ucap Rifki yang telah melepaskan tangan Fany. Rifki mengusap wajahnya dengan kasar. Ia pun duduk di kursi yang berada disamping mereka berdiri.


"Ada apa sama lo?" ucap Fany dengan tenang.


"Asal lo tau , gue gak bisa." ucap Rifki dengan pelan seolah ia sedang putus asa.


Detik itu juga jantung Fany seolah terhenti. Ia tiba-tiba takut. Fany pun terdiam tak berkata-kata.


"Gue capek pura-pura terus." ucap Rifki lagi dengan memandang wajah Fany.


"Apa kabar sama Laura?" ucap Fany tanpa menoleh.


Rifki berdiri didepan Fany dan menatapnya dengan pandangan yang tampak sayu.


"Gak ngerti lagi sama diri gue sendiri. Dia sayang sama gue. Tapi hati gue gak bisa. Gue udah lama sama dia. Tapi kenapa gue ngejalaninnya seolah gue selalu terpaksa?" ucap Rifki yang membuat Fany semakin takut.


"Apa hubungannya sama gue?" ucap Fany to the point.


"Karena lo. Cuma karena lo gue gak bisa lihat cintanya orang lain." ucap Rifki menatapnya dalam-dalam.


Fany pun menundukkan kepalanya disaat jemarinya di genggam oleh Rifki.


"Di dalam hati gue, masih ada rasa sayang gue dengan jelas. Nggak semudah itu bisa gue hapus. Gue masih gak percaya sekarang lo udah dimiliki orang lain." ucap Rifki.


"Dan gue harus gimana lagi?" ucap Fany dengan setenang mungkin.


"Apa gue masih ada kesempatan?" ucap Rifki yang membuat Fany menatapnya heran.


"Kesempatan untuk apa?" ucap Fany.


"Kesempatan buat gue untuk miliki lo lagi." ucap Rifki.


"Lo gila!" ucap Fany.


"Gue tau lo udah tunangan. Tapi baru tunangan belum nikah. Belum sepenuhnya lo jadi milik orang lain." ucap Rifki dengan serius.


"Tapi lo jangan gila! Gak ada kesempatan lagi buat kita untuk bersama-sama. Gue udah gak bisa." ucap Fany dengan berusaha melepaskan jemarinya yang berada digenggaman Rifki.


"Gue mohon. Gue sayang banget sama lo. Lo gak pernah tau kan sebesar apa rasa sayang gue buat lo. Walaupun dulu kita cuma pacaran beberapa bulan, tapi gue bahagia. Gue pengen ngerasain sebahagia itu lagi." ucap Rifki dengan tersenyum.


"Ada seseorang yang hatinya harus gue jaga. Gue gak bisa main-main lagi sekarang." ucap Fany dengan yakin dan penuh penekanan yang kemudian ia segera melangkahkan kakinya pergi dari taman. Ia takut Rifki akan memaksanya lagi.


"Gue tau itu. Gue tau lo udah tunangan. Tapi bukan berarti gue bisa berhenti gitu aja." ucap Rifki sembari melihat Fany yang berjalan dengan cepat kemudian menghilang dari pandangannya.


Rifki pun merogoh saku celananya kanan kiri mencari ponselnya tapi tak ada. Ia pun menurunkan tas dan mengeceknya. Tak ada juga. Ia pun melangkahkan kakinya menuju parkiran dan masuk ke dalam mobil. Namun nihil ponsel itu tidak ada didalam.


"Ah sial! Kenapa harus ketinggalan sih! Mikir apa coba sampe hp aja lupa dibawa!" ucap Rifki merutukki kelalaiannya sendiri.


Sementara itu, Fany tergesa-gesa hingga tanpa sadar ia bertabrakan dengan seorang perempuan yang membuat beberapa buku terjatuh ke lantai.


"Aduh maaf ya nggak sengaja tadi. Ini bukunya." ucap Fany sembari membantu memunguti beberapa buku dan menyerahkan pada perempuan didepannya yang juga sedang memunguti beberapa lembar kertas.

__ADS_1


"Laura... Eh emm sorry ya. Tadi beneran gak sengaja." ucap Fany begitu tahu perempuan itu adalah pacar Rifki. Fany pun salah tingkah sendiri.


"Iya nggak apa-apa kok. Makasih ya udah dibantuin. Lo Fany ya..." ucap Laura dengan tenang.


"Iya. Lo tau nama gue?" ucap Fany tampak bingung.


"Ya taulah. Siapa sih yang gak kenal sama lo. Oh iya , kenapa kayak buru-buru banget." ucap Laura berbasa-basi.


"Ah iya. Iya buru-buru ditungguin temen soalnya. Ya udah ya gue duluan. See you..." ucap Fany dengan tersenyum yang kemudian langsung pergi dari tempat itu.


Laura berjalan dengan santai di koridor dan berpapasan dengan Rifki, pacarnya. Terlihat jelas dimana Rifki saat itu mencoba tenang dan bersikap hangat pada Laura.


"Hai Sayang... Kemana aja sih kamu?" ucap Laura.


"Enggak kemana-mana kok. Tadi abis dari mobil cari handphone aku tapi gak ada, mungkin ketinggalan." ucap Rifki dengan tersenyum.


"Ya udah kita ke kelas yuk..." ucap Laura dengan tersenyum manis.


"Iya ayo..." ucap Rifki dengan tersenyum pula sembari merangkul bahu kekasihnya itu untuk pergi ke kelas.


"Aku mau bilang satu hal yang penting." ucap Laura begitu mereka berdua duduk di dalam kelas yang masih sepi dan hanya mereka berdua.


"Kamu kenapa sih? Kayak serius gitu mukanya, apa? Bilang aja nggak apa-apa kok." ucap Rifki dengan tenang dan tersenyum.


"Aku harap ini enggak bener dan cuma perasaan aku aja yang salah." ucap Laura yang kemudian terhenti.


"Maksud kamu apa?" ucap Rifki mulai merasa ada hawa yang tidak enak dibenaknya. Namun ia tetap tenang dan sesantai mungkin sembari menatap kedua mata kekasihnya.


"Aku baru sadar sekarang. Ternyata selama ini ada rahasia besar yang aku gak ngerti dari dulu. Kamu ada sesuatu yang nggak beres? Ya kan?" ucap Laura to the point yang membuat Rifki langsung blank.


"Apa sih sayang..." ucap Rifki dengan bingung.


"Ternyata dia lebih cantik dari dugaan aku. Pantes aja susah dihapus." ucap Laura dengan tersenyum dan semakin membuat Rifki penasaran ucapan apa lagi yang akan keluar dari bibir wanita dihadapannya ini.


"Kamu bicara tentang apa? Siapa?" ucap Rifki berusaha tenang.


"Aku nggak habis pikir sama kamu. Selama ini aku berusaha untuk selalu ada buat kamu. Selalu berjuang buat kamu biar kamu juga mencintai aku balik. Tapi kenapa kamu gak bisa buktiin ucapan kamu dulu?" ucapan Laura dengan setenang mungkin.


"Aku..." ucap Rifki yang tiba-tiba terhenti.


Laura pun menatapnya dengan tatapan penuh harap.


"Berapa tahun kita jalani semuanya? Aku nggak sengaja lihat ada foto cewek itu di handphone kamu. Kamu memohon sama dia. Dan asal kamu tau, aku lihat bukan cuma sekali doang. Buat apa? Kamu anggap aku siapa sih di hidup kamu?" ucap Laura dengan kesal. Ia benar-benar sudah tak bisa menahan kekesalan dihatinya.


"Aku bisa jelasih itu semua. Percaya sama aku." ucap Rifki dengan menatap Laura.


"Aku nggak bermaksud apa-apa." ucap Rifki dengan bingung harus berkata bagaimana.


"Nggak usah berlaga bodoh deh!" ucap Laura yang kemudian berdiri lalu berlalu meninggalkan Rifki yang masih bingung merangkai kata-kata.


"Astaga gue harus gimana? Dia pasti sakit banget." ucap Rifki dengan suara yang hampir tak terdengar.


Entahlah , dari kejadian pagi ini ia benar-benar serasa tertampar. Tertampar oleh wanita yang mencintai dirinya dan ditampar oleh wanita yang dicintainya. Hatinya kini mulai tak jelas arah.


Ada rasa tak rela jika Laura meninggalkan dirinya. Karena bagaimanapun juga , wanita yang dicintainya kini juga sudah bertunangan. Sangat kecil kemungkinan jika ia masih mengejar seseorang yang jelas-jelas sudah dimiliki oleh orang lain.


Tanpa sadar kini teman-teman sekelasnya telah masuk kedalam dan Laura tampak bertukar tempat duduk dengan temannya. Ia sengaja duduk di bangku paling belakang. Rifki menatapnya dan Laura terlihat masam tanpa ekspresi.


Dosen pun masuk dan bimbingan mata kuliah pun mulai di bahas.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Lu percaya gak sih kalo cinta pertama itu sakit? Ada yang pernah ngalamin gak?" ucap Zahra bertanya di sela-sela makan siangnya.


"Gue pernah. Iya sakit cuy... Sampe sekarang masih inget hehehe..." ucap Airin dengan terkekeh.


"Kalo lu Fan? Gimana? Ada dong ya cinta pertama..." ucap Zahra pada Fany yang tengah makan.


"Hah? Gak ada." ucap Fany dengan santai.


"Bohong banget lu!" ucap Airin tak percaya.


"Seriusan." ucap Fany lagi.


"Gak percaya gue!" ucap Zahra.


"Cinta pertama apa pacar pertama sih? Soalnya pacar pertama gue bukan cinta pertamanya gue. Gimana dong? Hehe..." ucap Fany dengan terkekeh pelan.


"Anjay nih anak! Gak bener lu!" ucap Airin tak percaya.


"Trus gimana ceritanya sih itu? Kok bisa ya?" ucap Zahra.


"Bisa lah. Apa sih yang gak bisa dihidup gue." ucap Fany dengan tersenyum.


"Good job! Tapi gue penasaran sih. Ayolah cerita..." ucap Airin.


"Cinta pertama gue ya yang ini. Tapi dia bukan pacar pertama gue. Pacar pertama gue beda lagi dan kalian gak tau soalnya itu jaman gue SMP." ucap Fany dengan sedikit tawa seolah sedang becanda.

__ADS_1


"Ah yang bener aja lu!" ucap Zahra.


"Iya beneran. Cinta pertama belum tentu jadi pacar pertama tauk! Itu cuma ada di ekspektasi kalian doang. Banyak kok yang kayak gue. Dan walaupun kita pacaran sama cinta pertama itu juga belum tentu menjadi milik kita selamanya juga." ucap Fany dengan tersenyum yang kemudian meminum minuman yang ia pesan.


"Iya sih... Ribet yah percintaan lu , hehe..." ucap Airin dengan terkekeh.


"Iya ribet. Bahkan sampe sekarang." ucap Fany tanpa sadar mengatakan hal itu.


"Maksud lu?" ucap Zahra.


"Ah enggak enggak. Gak apa-apa. Udah kita makan dulu nih cepetan gue mau ada kelas." ucap Fany dengan gelagapan karena ucapannya yang sembarangan itu. lah


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Akhirnya dosen melangkahkan kakinya keluar dari ruangan. Rifki melirik pojok belakang dan disana Laura sedang membereskan alat tulis miliknya. Rifki pun mengambil tasnya dan berjalan keluar lebih dulu.


Tanpa disadari , Laura menatapnya dengan tatapan kesal karena Rifki terlihat mengabaikannya. Ia pun berpikir jika memang perasaannya benar.


"Dasar buaya!" ucap Laura dengan kesal.


Laura pun selesai membereskan alat tulis dan memasukkannya ke dalam tas dan membawanya. Ia berjalan keluar dari ruangan itu. Baru juga melangkah pintu , ia kaget karena tiba-tiba tangan kirinya di tarik seseorang.


"Apaan sih!" ucap Laura begitu tahu yang menariknya adalah Rifki.


"Jangan marah dong sayang..." ucap Rifki dengan tersenyum sembari mengelus puncak kepala Laura.


Dengan kesal , Laura mengabaikan perlakuan Rifki dan berusaha melepaskan pergelangan tangannya dari cekalan Rifki.


"Sayang..." panggil Rifki dengan memohon.


Laura pun terdiam namun tanpa ekspresi dan memalingkan muka.


"Ayolah kamu jangan kayak gitu ah..." ucap Rifki dengan memanyunkan bibirnya.


"Apa lagi? Cuma mau bilang putus kan? Oke kita putus. Dah kita selesai! Lepasin tangan gue, gue mau pulang!" ucap Laura dengan kesal sembari berusaha melepaskan pergelangan tangannya yang digenggam Rifki.


"Jaga mulut kamu yah! Aku gak mau kita putus. Aku gak pernah punya pikiran buruk kayak gitu ya." ucap Rifki dengan menepuk-nepuk pelan pipi kanan Laura.


"Terus... Apa lagi?" ucap Laura yang entah mengapa ia merasa kini lebih tenang.


"Kita jalan yuk... Kamu mau minta apa biar aku beliin." ucap Rifki sembari merangkul bahu Laura seperti kawannya.


"Serius?" ucap Laura dengan santai.


"Iya dong sayang." ucap Rifki dengan tersenyum.


"Bisakah kamu beli kebahagiaan? Kalau bisa, coba beliin buat aku." ucap Laura dengan menatap Rifki tajam. Rifki pun tersenyum mendengar itu.


"Bisa. Ayok aku buktiin sayang..." ucap Rifki dengan tersenyum manis.


Tanpa disadari , Fany mendengar ucapan Rifki. Ia pun tertawa dalam hati.


"Cihh... Dasar cowok gak ada akhlak ya. Tadi pagi aja mohon-mohon sama gue. Sekarang sayang-sayangan lagi ke pacarnya. Cowok macam apa dia kenapa jadi kayak gitu sih sekarang? Aneh deh..." ucap Fany sembari memperhatikan mereka yang kian menjauh.


..


"Kenapa harus kesini juga sih?" ucap Laura yang kini bingung karena ia dibawa ke apartemennya.


"Nanti aku jelasin. Kita naik dulu yuk..." ucap Rifki dengan tersenyum.


Laura pun mengikuti ajakan Rifki dan keluar dari mobil. Rifki pun menghampiri kekasihnya dan menggandeng jemarinya.


Setelah menekan password, pintu pun terbuka dan mereka berdua masuk kedalam. Pintu kini tertutup kembali.


"Duduk dulu sayang..." ucap Rifki sembari meletakkan kunci mobil dan tasnya pada sofa. Laura hanya mengangguk dan melihat Rifki pergi ke dapur.


Laura kini berjalan menuju jendela dan menyingkap tirai. Ia melihat gemerlap dunia. Ia sendiri memang tinggal di apartemen, tapi hanya di lantai 3 sedangkan kini ia sedang berada di lantai 10.


"Astaga! Bikin kaget aja!" ucap Laura begitu ia merasa ada yang meniup belakang telinganya. "Sumpah ya kamu tuh bener-bener bikin naik darah mulu!" ucap Laura lagi sembari mengusap-usap telinganya.


"Kamu kenapa melamun gitu?" tanya Rifki dengan tenang sembari menatap wajah Laura yang tampak cantik.


"Siapa yang ngelamun? Aku cuma lihat lampu-lampu doang." ucap Laura dengan kembali memandang jauh keluar.


Dan ternyata memang benar, pemandangan diluar sangat gemerlap. Rifki hanya tersenyum karena ia terlalu sering mengabaikan indahnya suasana malam dari jendela apartemen.


..


Bukan hal yang wajar sebenarnya. Entahlah mungkin otaknya sedang benar-benar blank. Seorang mahasiswa dan mahasiswi yang hampir selesai dengan study-nya. Bukan tanpa alasan pula , ia hanya ingin satu wanita yang mampu membuat dirinya fokus.


Namun , cara itu ternyata salah besar.


❤️


❤️


❤️

__ADS_1


❤️l.a.f🌻❤️


__ADS_2