Love Always Forever (Tanpamu , Bagaimana Aku?)

Love Always Forever (Tanpamu , Bagaimana Aku?)
Dua Cerita


__ADS_3

Mata terbuka dengan rasa yang sangat pedih. Menandakan bahwa ia sebenarnya masih mengantuk. Hawa yang teramat dingin terasah begitu menusuk tulang.


Dan gadis yang bersembunyi di depan dadanya itu masih terlelap dengan nyaman. Ia pun melirik jam yang terlihat samar-samar. Pukul 01.15 wib. Ia pun mengecup kening gadis itu dan membenarkan selimut.


Ia kembali memeluknya dan tertidur.


...---...


Subuh pun datang. Entahlah rasanya memang nyaman sekali disaat saling memeluk satu sama lain. Hangat dan mengesankan. Ia berjanji , ia tak kan melepaskan gadis cantik yang sudah ia miliki ini untuk orang lain. Tidak akan pernah.


"Sayang... Bangun yuk..." ucap Ardhi dengan tenang sembari mengelus pipi Fany yang mulus.


Fany hanya menggeliat dan semakin menyembunyikan wajahnya. Rambut panjangnya yang biasanya tertata rapi itu kini tampak bertebaran dimana-mana.


"Sayang... Buka mata kamu , ayo bangun cepetan." ucap Ardhi dengan mencoba menggeser posisi tidur Fany agar tidak tengkurap. Fany pun membuka matanya dan tersadar lelaki di hadapannya itu menatap sesuatu pada dirinya beberapa detik.


Matanya menjadi segar tatkala ia tak sadar melihat dada gadis itu yang sedikit terbuka. Ia pun segera menutupinya dengan selimut tebal. Dan Fany pun menyaut selimut itu dengan cepat lalu menariknya sampai di bawah dagu.


"Kamu tuh sembarangan! Kita belum nikah tauk!" ucap Fany yang kini tersadar sepenuhnya.


"Sayang maaf gak sengaja , gak tau juga aku tuh." ucap Ardhi dengan sedikit terkekeh.


"Alesan! Ngapain juga jam segini bangun?" Ucap Fany dengan kesal.


"Emm... Masih pengen tidur? Enak banget ya tidur sambil meluk aku?" ucap Ardhi dengan tersenyum.


"Siapa yang meluk kamu?" ucap Fany dengan sinis.


"Kamu. Ahh seandainya kita udah nikah , aku akan habisin kamu sampai gak ada sisa. Aku akan bawa kamu honeymoon ke Roma. Dan kita bikin..." ucap Ardhi dengan ngelantur yang kemudian terhenti karena bibirnya dibungkam. Tangan halus itu berani juga membungkamnya.


"Gak usah kemana-mana. Gak perlu." ucap Fany dengan ketus.


"Harus dong sayang , kita harus bikin sesuatu yang tidak bisa dilupakan. Misalnya aja ya besok kan kita bisa cerita gini sama anak kita , mama sama papa dulu pernah jalan-jalan kesana. Kalau kamu pengen liburan kesana , ayo kita berangkat sekalian mengenang tempat dimana kamu dibikin gitu. Misalnya." ucap Ardhi yang sukses membuat Fany membelalakkan matanya.


Fany yang kesal pun langsung meninju lengan Ardhi dan lelaki itu tertawa terbahak-bahak.


"Misalnya sayang , cuma misalnya doang." ucap Ardhi sembari terkekeh.


"Cerita ya cerita tapi yang lain kek ceritanya. Ihh nyebelin yah! Dasar otaknya mesum doang." ucap Fany yang kemudian menarik selimut sampai menutupi kepalanya.


"Ya ampun , mesumnya di sebelah mananya sih sayang? Udah yuk bangun. Aku mau ajakin kamu pergi. Mau ya..." ucap Ardhi dengan tersenyum sembari menopang kepalanya kesamping dan menatap Fany.


"Kemana? Ke Roma?" ucap Fany bertanya sembari membuka selimut pada wajahnya.


"Astaga sayang , nggak sabaran banget kamu. Kalau kamu mau itu sekarang ya udah sekarang aja disini. Gimana? Aku mau kalau kamu juga mau. Soalnya aku gak berani maksa kamu sebelum kamu jadi istri aku. Tapi kalo udah sah , maksa dikit boleh lah ya." ucap Ardhi yang tambah sembarangan.


"Gak maulah! Gila aja kamu tuh! Kalo ngomong difilter dikit dong!" ucap Fany dengan kesal.


"Ya abisnya kamu lucu juga sih. Ke Roma-nya nanti habis akad kita langsung terbang kesana. Bukan sekarang. Sabar ah sayang , kamu bikin aku jadi gak sabar juga deh." ucap Ardhi sembari menggulingkan tubuhnya yang kemudian memeluk tubuh Fany yang untungnya terbungkus oleh selimut tebal.


"Ihh lepasin ah! Ya udah sekarang mau kemana perginya?" ucap Fany dengan mengguling-gulingkan tubuhnya.


"Ada deh , tapi mau ya. Please." ucap Ardhi dengan memohon.


"Tapi aku udah bilang sama mama kalo hari ini aku pulang." ucap Fany dengan polosnya.


"Iya aku tau , tapi nanti aku yang akan bilang sama mama papa kamu." ucap Ardhi dengan tersenyum.


"Aku masih ngantuk , aku mau tidur." ucap Fany sembari memejamkan matanya kembali.


Dengan isengnya , lagi-lagi ia membuat ulah. Ia mengecup bibir ranum itu dan membuat si empunya bibir membuka matanya penuh.


"Ayo cepetan bangun. Keburu siang sayang." ucap Ardhi dengan sedikit tertawa melihat Fany yang tampak menatapnya tajam.


"Nyebelin banget sih kamu tuh!" Ucap Fany sembari membuka selimut yang menutupi tubuhnya.


Ardhi pun hanya bisa tersenyum melihat itu. Ia tahu bahwa sekarang memang belum waktunya. Ia hanya bisa sekedar bermain saja dan tidak boleh melakukan lebih.


Melihat Fany yang tengah duduk bersila sembari menyisir rambutnya dengan jemari , Ardhi pun ikut duduk disampingnya.


"Hemm... Baru bangun tidur aja udah keliatan cantik banget. Semoga anak perempuan aku nanti cantik juga kayak mamahnya. Dan anak laki-lakiku juga ganteng banget kayak papahnya. Amin." Ucapan Ardhi sontak membuat Fany menatapnya dengan mengerutkan keningnya.


Bagus saja berdoa seperti itu , tapi doa itu membuat Fany tiba-tiba merinding.


"Amin juga dong mah." ucap Ardhi dengan tersenyum sembari melirik Fany.


"Astaga , mah? Apa itu?" ucap Fany pada dirinya sendiri yang membuat Ardhi tertawa.


"Mamah. Iya kamu itu lah. Kamu kan calon ibunya anak-anak aku nanti." ucap Ardhi dengan santainya.


"Besok ya besok lah , geli tauk di panggil mah. Ihh nyebelin!" ucap Fany dengan bergidik.

__ADS_1


Fany pun segera turun dari ranjang lebih dulu. Fany menarik selimut dan Ardhi pun bergegas turun pula. Mereka berdua pun merapikan tempat tidur bersama.


"Sayang , kamu mandi trus siap-siap ya. Nggak usah bikin sarapan nanti kita jajan di luar aja." ucap Ardhi dengan tersenyum yang kemudian meletakkan kunci pintu yang semalam berada di kantongnya.


"Emang kita mau kemana sih sebenernya?" ucap Fany yang tampak kebingungan.


"Ya intinya aku mau ajakin kamu pergi dan aku akan kasih kamu tugas." ucap Ardhi.


"Apaan sih? Tugas apaan?" ucap Fany dengan polosnya.


"Tugas kamu gampang kok , nih kalo bisa kamu habisin isi ATM aku. Udah deh gak usah banyak tanya , cepetan siap-siap aku tungguin." ucap Ardhi dengan tersenyum sembari mencium kening Fany sebelum akhirnya ia keluar dari dalam kamar Fany.


Sementara Fany masih bengong sendiri. Rasa penasaran dalam hatinya semakin tinggi. Kemana lelaki itu akan membawanya? Apa dia akan menculiknya? Ah yang benar saja!


Fany masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan tubuhnya.


Berbeda dengan Fany , Ardhi kini justru sedang bersantai. Ia sedang mencari nomor telepon asisten pribadi di rumahnya untuk mengambil mobilnya. Ia sengaja , ia tak mau melakukan perjalanan dengan tunangannya namun dalam mobil yang berbeda. Jadi lebih baik ia pergi dalam satu mobil dengan mobilnya Fany.


Tak lupa , ia juga menghubungi sang calon mama mertua untuk meminta izin hendak membawa putrinya jalan-jalan. Dan respon dari orangtuanya Fany itu sangat membuatnya bahagia. Ia di izinkan pergi bersama Fany asalkan selalu di jaga dengan baik.


Setelah semua ia rasa sudah beres , Ardhi pun segera mandi dan bersiap-siap sebelum gadis itu selesai lebih cepat.


...🔸...


...----...


...🔸...


"Sayang..." ucap lelaki itu sembari meraih jemari tangan Laura.


Bukan menjawab , Laura menoleh ke arah kekasihnya dan hanya mengerutkan keningnya sesaat. Rifki yang tengah fokus mengemudikan mobilnya itu tampak heran karena sedari tadi gadis disampingnya itu hanya terdiam saja. Tambah lagi , matanya yang kini terlihat sembab.


"Kamu kenapa sih kok dari tadi diem mulu? Ada apa?" ucap Rifki dengan tenang.


"Emm gak apa-apa kok." ucap Laura sembari mendekat ke arah Rifki dan menyandarkan kepalanya pada bahu kekasihnya itu.


"Sayang , kamu baik-baik aja kan? Kalo ada apa-apa bilang sama aku. Jangan di pendem sendiri dong. Aku akan dengerin apapun yang kamu ucapkan." ucap Rifki dengan tersenyum dan mengecup kening Laura sesaat.


"Emm... Kamu janji kan gak akan pernah ninggalin aku apapun yang terjadi?" ucapan Laura dengan tenang sembari menatap lurus kedepan.


Ucapannya membuat Rifki tersenyum.


"Iya , aku janji sayang." ucap Rifki yang kemudian mengecup punggung tangan Laura yang digenggamnya. Namun , sedetik kemudian ia bingung. Kenapa Laura bertanya itu lagi? Apa jangan-jangan dia...


"Iya. Nggak ada." ucap Laura.


"Terus , kenapa kamu jadi kayak gini? Biasanya enggak deh , mata kamu juga gak bisa bohong." ucap Rifki masih tampak heran.


"Ih kamu bawel ya , aku tuh nggak apa-apa beneran!" ucap Laura dengan memukul lengan Rifki. "Aku cuma mastiin aja kamu lupa janjimu atau enggak." ucap Laura lagi.


"Aku nggak mungkin lupa. Kamu lucu banget deh." ucap Rifki dengan tersenyum yang kemudian mengacak poni yang menutupi sebagian dahinya itu.


"Ih nyebelin!" ucap Laura yang kemudian membenarkan posisi duduknya sembari merapikan rambutnya yang berantakan.


"Papa kamu sekarang dimana?" tanya Laura.


"Tinggal di rumah. Tapi kayaknya sekarang lagi ke luar kota sih. Mau aku ajak ketemu? Tapi besok kalo udah pulang." ucap Rifki dengan tersenyum.


"Ha? Emm gimana ya..." ucap Laura seperti sedang berfikir.


"Papaku kalem orangnya , gak galak kok. Tenang aja kan ada aku juga." ucap Rifki dengan tenang.


"Ya besok deh kapan-kapan aja." ucap laura.


Pikirannya masih tak bisa tenang. Otaknya sibuk berjalan kemana-mana. Rasanya campur aduk tak beraturan. Ingin rasanya ia mengulang kembali waktu yang telah ia lalui. Tapi , bagaimana bisa?


"Kamu kenapa melamun terus sih sayang? Kamu jangan bikin aku bingung." ucap Rifki sembari memperlambat laju kendaraannya.


"Kamu gak akan pernah ngerti gimana perasaan aku sekarang." ucap Laura dengan raut wajahnya yang datar.


Ucapan gadis itu sukses membuat Rifki berusaha keras untuk memutar otaknya. Lalu ia pun menepikan mobil yang kebetulan jalanan sedang sepi.


"Kalau kamu mau bilang sesuatu , bilang aja nggak perlu kamu pendam. Apapun itu atau bahkan hal terburuk sekalipun kamu harus bilang sama aku. Ayo bilang , ada apa? Apa yang terjadi?" ucap Rifki dengan tenang sembari memandang wajah Laura yang terlihat tanpa ekspresi.


Rifki melepaskan sabuk pengaman dan mendekati Laura. Ia memeluknya agar gadis itu tenang dan mau menceritakan apa yang terjadi.


"Aku sayang sama kamu , tapi aku benci sama kamu!" ucap Laura dengan terisak didalam dekapan Rifki.


Tangannya memukul-mukul dada bidang lelaki itu. Ucapan Laura membuatnya kaget. Apa yang di maksud? Kenapa gadis itu berbicara seperti itu?


"Aku masih nggak ngerti apa yang kamu maksud. Kamu kenapa bilang kayak gitu?" ucap Rifki yang kini terlihat panik.

__ADS_1


Entahlah , Laura masih belum bisa melupakan kejadian malam itu. Malam yang membuat matanya sembab berulang kali karena ia terus-menerus menangis jika mengingatnya.


Ia juga salah , tapi ia tak bisa menolak begitu saja. Sampai akhirnya lelaki itu merubah segalanya. Kini masa depannya seolah hancur berantakan.


Ia memang terlihat baik-baik saja , tapi mentalnya benar-benar rusak. Laura yang dulunya ceria , kini menjadi lebih sering murung dalam kesendirian sembari meratapi nasibnya.


Terlebih lagi saat ini , sudah dua Minggu yang lalu ia melakukan hal terlarang itu. Itu membuat pikirannya tidak bisa tenang , nafsu makannya yang juga menghilang.


"Sayang..." ucap Rifki memanggil Laura yang masih tampak ragu untuk berbicara.


"Bisa aku minta tolong sama kamu?" ucap Laura sembari mendongakkan kepalanya memandang Rifki.


"Apa? Apapun akan aku lakukan." ucap Rifki.


Mau tak mau Laura harus menceritakan semua keluh kesahnya pada Rifki. Karena bagaimanapun juga , Rifki adalah lelaki yang harus tahu dan harus ia pertahankan. Karena mungkin kini tak akan ada yang mau pada dirinya selain Rifki.


"Aku bingung harus gimana. Apa yang harus aku lakukan? Aku sekarang bener-bener takut. Aku takut kalau sampai orang tua aku tau tentang semua ini. Tolong aku , aku nggak bisa sendiri. Aku butuh kamu , tolong kamu tanggung jawab sama apa yang udah kamu lakuin ke aku." ucap Laura dengan isakkan pilunya.


Bagai disambar petir , ia tak bisa berkata apa-apa. Otaknya blank seketika. Ia melepaskan pelukannya. Rifki menahan kedua bahu Laura dan menatapnya dalam.


"Jangan bilang kalau kamu... Kamu hamil?" ucap Rifki dengan susah payah untuk berucap.


Laura mengangguk pelan sembari menundukkan wajahnya yang sendu. Anggukan itu sukses membuat Rifki benar-benar merasa bersalah dan membuatnya seakan menjadi lelaki brengsek.


Flash back 🔻


Hari ke-10 sudah ia lewati. Tapi nihil. Otaknya berlarian kemana-mana tanpa arah.


Ini akan menjadi sebuah masalah yang teramat besar untuk kehidupannya. Masa depan yang ia tata rapi kemungkinan akan sirna begitu saja tanpa sisa.


Ia takut jika kemungkinan itu akan benar-benar terjadi. Ia teringat pada malam itu. Malam pada saat ia tidur dengan kekasihnya. Mungkin malam itu dia tetap sadar , namun lelaki itu terlihat sangat menikmatinya dengan sedikit memaksa.


Ia tak tahu itu memang sengaja atau tidak. Tapi yang jelas , ia sangat menyesal. Ia melakukan hal itu pada waktu yang tidak tepat. Ya , karena itu adalah waktu dimana ia sedang berada di masa subur.


Walaupun itu pertama kalinya , tapi kecil kemungkinannya untuk ia tetap aman. Karena saat ini harusnya ia sudah selesai dengan datang bulannya. Seperti bulan-bulan sebelumnya yang selalu rutin terjadi di tanggal yang sama. Namun sampai sekarang ia justru masih menunggu.


Rasa takutnya semakin tinggi , malam-malam pukul setengah sepuluh ia keluar dari apartemen. Ia pergi ke supermarket yang lumayan jauh sembari mencari udara malam yang segar. Sampai akhirnya ia berhenti di depan supermarket.


Laura membeli beberapa snack dan minuman dingin. Tapi bukan itu hal utama yang ingin ia lakukan. Ia sebenarnya ingin membeli sebuah tespeck.


Dengan rasa malu , ia masuk ke dalam mobil setelah membeli apa yang ia inginkan. Laura pun mengemudikan mobilnya dan kembali ke apartemennya.


Singkat cerita , pagi hari yang lumayan cerah itu tak membuat dirinya bersemangat sama sekali. Ia justru menangis di dalam kamar mandi. Ia bersimpuh di lantai tak berdaya. Berulang kali ia memandang hasil tespeck itu , tapi sekali muncul hasilnya tak mungkin akan berubah lagi.


Positif.


Dan itu akan positif pula merubah segalanya dalam kehidupannya.


🔺back to story🔺


"Kamu serius?" ucap Rifki.


"Aku serius. Aku gak mungkin bohong soal ginian." ucap Laura yang juga menatapnya.


"Tapi , gimana bisa? Kan aku cuma main... Astaga!" ucap Rifki yang kemudian menepuk jidatnya sendiri.


"Cuma apa? Kamu itu jahat tau gak!" ucap Laura dengan kesal.


Rifki teringat betapa brengseknya dirinya sendiri. Malam itu , ia tak hanya sekali melakukannya. Ia melakukannya lagi setelah lewat tengah malam. Meskipun Laura masih menangis , ia tak bisa menahan hawa nafsunya. Ia mengulanginya kembali dengan sedikit paksaan sampai ia merasa puas.


Ia benar-benar bodoh tak menyadari dengan apa yang ia lakukan karena itu berakhir sangat fatal. Sekarang , ia harus bagaimana? Ia akan mempunyai seorang anak di dalam rahim kekasihnya itu.


"Maaf sayang , maafin aku. Malem itu aku bener-bener gak bisa nahan diri aku." ucap Rifki dengan menatap wajah Laura.


"Kamu mau nggak beliin aku tespeck lagi? Aku mau cek lagi , mungkin aja tespeck yang aku beli kemaren itu hasilnya salah atau rusak." ucap Laura memohon kepada Rifki.


"Iya sayang , aku beliin ya. Ya udah kamu tenang aja dulu , jangan nangis lagi. Aku akan beliin kamu tespeck. Kita jalan ya." ucap Rifki sembari mencium kening kekasihnya itu yang kemudian mengemudikan mobilnya lagi.


Bagaimana jika tetap positif? Bagaimana dengan masa depan mereka?


Dan yang terpenting , bagaimana tanggapan dari masing-masing keluarga besarnya?


Next on...


❤️


❤️


❤️


❤️

__ADS_1


❤️l.a.f🌻❤️


__ADS_2