Love Always Forever (Tanpamu , Bagaimana Aku?)

Love Always Forever (Tanpamu , Bagaimana Aku?)
Break#5


__ADS_3

"Selamat pagi..." ucap Ardhi dengan tersenyum sembari memandang wajah Yuna. Gadis itu baru saja membuka mata. Sepertinya semalam ia tidur dengan sangat nyenyak.


"Udah bangun dari tadi?" tanya Yuna yang melihat Ardhi sudah berganti pakaian dan terdapat sebuah laptop dipangkuan nya.


"Belum kok. Masih terlalu pagi , kamu tidur lagi aja." ucap Ardhi dengan santai.


"Oh ya? Jam berapa sih?" ucap Yuna sembari menatap jam dinding. Benar saja , masih pukul 5 pun kurang seperempat. "Heum... Terus kamu lagi ngapain sepagi ini?" ucap Yuna dengan heran.


"Ini cuma ngecek laporan dari kantor doang kok." ucap Ardhi.


"Kamu mau pulang jam berapa?" ucap Yuna yang mengabaikan ucapan Ardhi yang mengarah pada kejadian semalam.


"Kamu nggak mau aku anterin sekalian?" ucap Ardhi.


"Aku bisa pulang sendiri kok." ucap Yuna.


"Aku nanti mau sekalian kerumah papaku. Kita barengan ya , biar aku anterin kamu pulang juga." ucap Ardhi.


"Nggak usah. Aku nggak apa-apa kok pulang sendiri." ucap Yuna.


"Seriusan loh. Aku anterin pulang. Jangan nolak." ucap Ardhi tak mau dibantah.


"Tapi beneran , aku bisa pulang sendiri. Aku gak mau repotin kamu lagi." ucap Yuna.


"Dengan senang hati aku mau anterin kamu pulang biar bener-bener selamat sampai rumah. Nurut aja kenapa sih?" ucap Ardhi.


"Bawel. Iya iya deh terserah kamu aja." ucap Yuna yang tampak begitu pasrah dengan keputusan Ardhi.


"Nah gitu dong." ucap Ardhi.


"Kamu udah sering ya tidur bareng sama cewek kamu?" ucap Yuna dengan tersenyum.


"Em... Mau tau aja!" ucap Ardhi dengan tenang sembari kembali menatap layar laptop.


"Cuma pengen tau doang sedikit , ya tapi oke deh aku tau itu privasi." ucap Yuna sembari melirik Ardhi yang ternyata justru tersenyum.


"Baru beberapa kali aja , nggak sering kok." ucap Ardhi dengan menatapnya.


"Siapa yang ngajak duluan? Dia?" ucap Yuna.


"Ya aku lah. Itupun kalau gak aku paksa juga dia gak mungkin mau." ucap Ardhi dengan santai.


"Seriusan?" ucap Yuna seakan kagum tak percaya.


"Iya dong. Tapi ya cuma sebatas tidur doang kayak tadi malam gak ada lebihnya." ucap Ardhi dengan tersenyum.


"Apa dia sepolos itu? Padahal kalian udah tunangan loh." ucap Yuna.


"Dia itu gadis yang sangat hati-hati tentang apapun. Apalagi kalau berkaitan sama harga diri , dia benar-benar jaga sebaik mungkin. Aku tau kok , sebenarnya dia gak sepolos itu. Dia kayak gitu cuma karena emang belum waktunya aja dan dia gak mau ambil resiko." ucap Ardhi dengan tenang.


"Jauh beda ya sama aku. Gak tau kenapa ya tadi malam kok aku bisa seberani itu." ucap Yuna dengan heran.


"Mungkin karena udara terlalu dingin , makanya butuh kehangatan. Tapi ternyata malah jadi kepanasan." ucap Ardhi dengan santainya tanpa memikirkan perasaan Yuna. Bahkan , wajah gadis itu pun kini sudah merona karena malu.


"Keluar sana!" ucap Yuna dengan sedikit membentak.


"Kenapa? Kok ngusir?" ucap Ardhi bingung.


"Aku mau bangun , mau mandi." ucap Yuna.


"Terus?" ucap Ardhi yang masih tak paham.


"Aku gak mau kamu disini." ucap Yuna dengan sedikit kesal.


"Malu? Kan udah dari tadi malam , kenapa baru sekarang malunya?" ucap Ardhi dengan santainya.


Yuna tampak menghela nafas berat. Ia pun memejamkan matanya untuk meredakan rasa kesalnya. Lalu ia menatap wajah Ardhi dengan tatapan mata tajam.


"Aku gak mau tau ya! Pokoknya kamu keluar." ucap Yuna dengan wajah datarnya.


Ardhi menutup laptopnya dan meletakkan di atas meja. Lelaki itu pun bergerak mendekati gadis yang tubuhnya masih tertutup selimut tebal itu. Ia tersenyum melihat wajah Yuna yang tampak was-was.


"Nggak usah mulai." ucap Yuna yang tampak mencengkeram erat selimut di bawah dagunya.


"Sebenarnya aku masih pengen tidur." ucap Ardhi yang kemudian menjatuhkan tubuhnya di samping Yuna sembari memeluknya.


"Ya udah tidur aja sana , sebelah sana juga bisa." ucap Yuna.


"Udah nggak kedinginan ya?" ucap Ardhi dengan menopang keningnya sembari tersenyum menatap wajah Yuna.


"Enggak! Udah cukup. Jangan deket-deket lagi. Aku takut berubah pikiran." ucap Yuna.


"Berubah pikiran?" ucap Ardhi heran.


"Iya." ucap Yuna singkat.


"Berubah gimana emang?" ucap Ardhi.


"Berubah pikiran untuk nahan kamu disini dan gak boleh pulang lagi." ucap Yuna.


Ardhi pun tersenyum mendengar ucapan Yuna itu.


"Gak mau munafik ya , kamu sebenarnya menarik banget sih sekarang. Sayangnya aku gak mau jadi cowok yang jahat." ucap Ardhi dengan santainya.


"Kamu itu udah jahat dari dulu tauk." ucap Yuna sembari mendorong dada Ardhi sampai telentang.


Yuna pun membuka selimutnya dan bangun. Ia duduk bersila di atas ranjang sembari menyisir rambut dengan jemarinya.


Ardhi sempat terpana beberapa saat sebelum akhirnya ia memutuskan untuk mengalihkan pandangannya pada objek lain. Tubuh Yuna sangat menarik perhatiannya meskipun hanya terlihat dari belakang. Lekuk tubuhnya tampak begitu jelas.


"Astaga , gue bisa gila kalau kayak gini." ucap Ardhi dengan tersenyum.


Yuna menoleh ke belakang dan melihat Ardhi tersenyum.


"Kenapa?" ucap Yuna.


"Masih pagi loh ini." ucap Ardhi yang membuat Yuna kembali berkelana pada pikiran kotor.


Ia lelaki normal , tak mungkin ia tak terpancing dengan apa yang ada di hadapannya itu.


"Iya emang masih pagi. Emang kenapa?" ucap Yuna dengan tenang.


"Mau aku buatin kopi?" ucap Ardhi dengan menatapnya.


"Kopi? Boleh sih. Tapi , kok tumben?" ucap Yuna tanpa ragu.


"Udahlah , jangan kemana-mana ya. Kamu tunggu disini aja." ucap Ardhi dengan tersenyum dan beranjak dari tempat tidur lalu keluar dari kamar.


Yuna menatap punggung Ardhi yang kini menghilang dari pandangannya. Ia tersenyum samar. Entahlah , ia sudah merasa bahagia.

__ADS_1


Yuna duduk bersila sembari membuka layar ponselnya yang terkunci. Ia menatap foto Ardhi hasil dari curian. Ya , ia memotretnya diam-diam disaat ia berada di pantai kemaren.


"Itu cowok kenapa sih? Masih gelap udah bangun , mandi trus ngurus kerjaan juga. Buatin kopi segala lagi. Apa dia seromantis ini juga ke ceweknya? Ah , gak mungkin. Pasti jauh lebih romantis lagi. Tapi , masa iya sih dia belum pernah melakukan sesuatu lebih dari yang dia lakuin ke aku semalem? Kenapa dia sehebat itu sih? Bukannya itu menyiksa banget ya? Tapi , ah gak deh gak! Takut juga lama-lama mikir tentang dia..." ucap Yuna terhenti karena pintu kamar sudah terbuka.


Ardhi masuk ke dalam kamar dengan membawa nampan kecil berisi dua cangkir coffiee cappuccino panas.


Yuna buru-buru menyentuh tombol home pada ponsel itu lalu menguncinya. Ia pun meletakkan ponselnya di atas meja yang berada di samping ranjang.


"Cepet banget?" ucap Yuna sembari menerima secangkir kopi itu.


"Ngapain harus lama kalau cepat pun udah jadi? Minum!" ucap Ardhi dengan santai sembari membuka tirai panjang yang menutupi kaca.


Pemandangan ke arah pantai yang tampak begitu segar terpampang jelas di depan mata. Bahkan sepagi ini pun di tepi pantai sudah banyak orang-orang yang berjalan-jalan santai.


"Gimana? Masih ada lagi yang kamu inginkan dari aku?" ucap Ardhi sembari menatap wajah Yuna yang terlihat polos.


"Apa? Enggak kok. Udah nggak ada." ucap Yuna dengan tenang.


"Beneran?" ucap Ardhi.


Yuna tampak mengerutkan keningnya sembari melirik Ardhi.


"Nggak kebalik?" ucap Yuna.


"Kenapa?" tanya Ardhi.


"Justru cowok lho yang terkadang masih menginginkan lebih meskipun si cewek udah merasa cukup. Iya nggak sih?" ucap Yuna dengan santai sembari berdiri lalu menghampiri Ardhi yang berdiri di depan jendela.


"Nggak usah sok tahu ya. Kamu lupa ? Aku disini karena keinginan kamu." ucap Ardhi dengan tersenyum lengkap dengan mengacak puncak kepala gadis itu.


"Bagi aku , kamu nggak mungkin ada disini kalau kamu nggak ingin juga kan? Harusnya kamu biarin aja aku. Tapi kenyataannya kamu ada di sini." ucap Yuna dengan tenang.


"Oh iya , apa calon istri kamu tau kalo kita bermalam di hotel?" ucap Yuna.


Ardhi tersenyum mendengar ucapan-ucapan Yuna yang membuat otaknya berputar.


"Kamu nggak lagi menjebak aku kan?" ucap Ardhi dengan menatap wajah Yuna.


"Buat apa aku jebak kamu segala?" ucap Yuna.


Ardhi meletakkan cangkir kopi yang sedang ia nikmati itu ke atas meja. Lalu ia meraih ponsel milik Yuna. Yuna pun heran , apa yang akan dilakukan oleh lelaki itu.


"Passwordnya apa? Tolong bukain." ucap Ardhi dengan mengarahkan layar ponsel pada Yuna.


Yuna merasa salah tingkah seketika. Jika kunci terbuka , maka layar utama akan terpampang jelas wallpaper yang menampilkan foto lelaki itu. Dan Yuna tidak ingin lelaki itu melihatnya.


"Ayolah buka , nggak ada apa-apa kan? Harusnya boleh dong." ucap Ardhi dengan santai.


"Enggak. Aku gak bisa." ucap Yuna yang kemudian membalikkan badannya berniat hendak pergi.


"Eh gak bisa gitu dong , mau kemana sih? Buka dulu." ucap Ardhi dengan meraih lengan Yuna untuk menghentikan langkahnya.


"Ngapain harus buka hp segala ? Udah tenang aja , aku nggak mungkin merekam kejadian semalam kok." ucap Yuna dengan tenang.


"Aku mau lihat aja isi hp kamu. Boleh dong?" ucap Ardhi.


"Enggak." ucap Yuna singkat.


"Boleh enggak ?" tanya Ardhi lagi.


"Enggak boleh !" ucap Yuna dengan mengalihkan pandangannya dari hadapan lelaki itu.


"Enggak ada sesuatu yang buruk tauk. Gak ada apa-apa." ucap Yuna yang tetap tak ingin membuka ponselnya yang terkunci.


"Ya bagus dong , tapi aku mau lihat. Sekali aja." ucap Ardhi.


Yuna meletakkan cangkir kopi pada meja , ia pun menggampar punggung Ardhi dengan kesal.


"Kamu kenapa sih, gak boleh maksa!" ucap Yuna.


"Kamu juga kalau gak mau di paksa ya udah cepetan buka. Pasti ada sesuatu yang kamu sembunyiin kan?" ucap Ardhi dengan santai.


"Ih , nyebelin banget sih! Tanggal lahir aku berapa ? Itu passwordnya." ucap Yuna dengan ketus.


"Mana aku tau , yang bener aja dong." ucap Ardhi sembari mengerutkan keningnya.


"Bodo'amat." ucap Yuna.


Sebisa mungkin , lelaki itu berusaha untuk mengingat tanggal bulan dan tahun berapa gadis itu lahir.


Tak butuh waktu lama , ingatan yang begitu baik itu ternyata sangat menguntungkan. Ia ingat betul dahulu gadis itu sempat ia rayakan ulang tahunnya.


Ia mencoba memasukkan angka-angka yang ia ingat. Dan benar , cukup sekali saja layar yang terkunci itu sudah terbuka.


Dapat ia lihat , Yuna memalingkan wajahnya karena malu yang luar biasa. Dan lagi , Ardhi kini tersenyum menatap layar ponselnya.


"Udah. Balikin." ucap Yuna yang berusaha merebut ponsel itu kembali.


"Belum selesai. Bentar dong." ucap Ardhi dengan tenang sembari mengecek file penyimpanan.


"Lihat apa sih ?" ucap Yuna ingin tahu dan berusaha untuk melihat.


"Gak ada sesuatu yang mencurigakan. Tapi , ini sih keterlaluan ya. Diem-diem curi foto segala. Tapi fotonya bagus sih ini." ucap Ardhi dengan tersenyum.


"Apa sih , udah balikin." ucap Yuna sembari berusaha untuk merebut ponsel di genggaman Ardhi.


"Jadi ini yang bikin kamu gak bolehin aku lihat. Aku gak mungkin marah kalau kamu cuma nyuri foto doang." ucap Ardhi dengan tenang.


"Udah lah kamu nyebelin banget gitu , dah terserah kamu aja." ucap Yuna dengan rasa kesalnya yang sudah di ubun-ubun.


Yuna menghentakkan lengan yang sedari tadi di pegang oleh Ardhi dan berniat untuk meninggalkannya. Namun lelaki itu dengan sigap menangkap tubuh Yuna walaupun hanya dengan satu tangan.


"Iya iya ini hp kamu aku balikin. Udah dong jangan ngambek. Jelek tauk." ucap Ardhi dengan mencubit pipi sebelah kanan gadis itu.


"Gak boleh peluk-peluk! Lepasin !" ucap Yuna yang berusaha untuk melepaskan diri.


"Jangan ngomong kayak gitu." ucap Ardhi dengan tenang.


"Gak ada haknya kamu larang aku." ucap Yuna dengan menatap wajah Ardhi dengan tatapan mata yang tajam.


Cukup dengan satu tarikan, lelaki itu mampu menarik tubuh Yuna dan mendaratkan sebuah ciuman tepat di bibir manis gadis itu.


Tak dapat mengelak lagi , Yuna berusaha mendorong tubuh lelaki itu namun sayangnya ia tertahan cukup kuat. Gadis itu benar-benar tidak menyangka akan terjadi lagi hal yang memabukkan ini.


Ardhi menyudahi apa yang ia lakukan pada gadis itu. Ia mengusap bibir merah Yuna dengan ibu jarinya.


"Nggak usah ngambek mulu. Lagian aku nggak marah kok soal foto itu. Nggak perlu di pikirin lagi." ucap Ardhi dengan tenang sembari membelai kening Yuna.


Yuna tampak terdiam dan hanya menatap tajam mata Ardhi.

__ADS_1


"Apa lagi ? Kok diem aja?" ucap Ardhi.


"Kamu kenapa sih ? Kan aku udah bilang, jangan kayak gini! Kamu lupa? Kamu bisa bikin aku berubah pikiran." ucap Yuna.


Ardhi menghela nafas berat. Rasanya sudah seperti yang ia rasakan semalaman.


"Aku juga gak tau kenapa. Mungkin semalem itu emang yang kamu mau. Tapi pagi ini , kalau aku yang mau gimana?" ucap Ardhi dengan tenang.


"Jangan bodoh! Aku takut kamu rusak. Rusak kepercayaan dan kesetiaan kamu ke tunanganmu gara-gara aku. Aku nggak mau itu terjadi." ucap Yuna dengan senyum tipis. "Kamu harus ingat. Di sana , ada hati dari seorang gadis baik yang lagi kamu tinggalin." ucap Yuna lagi tanpa berubah posisi.


"Iya. Aku tau itu." ucap Ardhi dengan tenang. Entahlah , memang ucapan Yuna benar adanya. Namun ucapan itu membuatnya merasa seolah tertantang.


"Oh iya , kalau kamu tadi nggak cerita soal sejauh mana kamu menjalani kisah cintamu , mungkin aku bisa aja meminta sesuatu yang lebih dari semalam sampai akhirnya aku ngerasa puas. Tapi sayang , aku nggak mau merebut. Karena bahkan tunangan kamu sendiri pun belum pernah menikmati kamu. Dan aku tau , aku pasti akan ngerasa jahat banget kalau seandainya aku benar-benar coba sesuatu yang belum pernah di coba sama tunangan mu." ucap Yuna dengan senyum.


Lelaki itu justru kini menarik tirai dan dinding kaca itu akhirnya kembali tertutup.


"Iya udah cukup. Kamu bawel banget sih." ucap Ardhi yang kemudian mengangkat tubuh Yuna dan di bawanya ke tengah-tengah ranjang.


Yuna kaget seketika , ia rasa jantungnya benar-benar sudah tidak aman lagi. Seolah akan meledak karena detaknya yang sangat tidak beraturan.


Yuna kembali tidak habis pikir oleh kelakuan lelaki itu yang kini tengah menikmati ciuman pada bibirnya. Benar-benar lelaki jahat karena berani bertingkah di saat jauh dari kekasihnya.


Ardhi menyudahi permainan itu dan menegakkan tubuhnya untuk melepaskan kaos yang ia pakai. Gadis di bawahnya itu sontak berusaha menutup bibirnya dengan kedua telapak tangannya.


"Ayolah." ucap Ardhi dengan santainya seolah tiada beban. Ia tetap berusaha membuka telapak tangan yang menutupi bibir yang ingin ia nikmati.


"Enggak mau." ucap Yuna yang masih tetap berusaha menahan tangannya.


"Ayolah jangan buang-buang waktu , mumpung masih pagi loh ini." ucap Ardhi dengan tenangnya.


Percuma saja jika sudah berhadapan dengan lelaki. Sekuat apapun dan sebesar apapun tenaga yang ia keluarkan , tak kan mampu mengalahkan kuatnya lelaki jika sudah di posisi seperti ini.


"Kamu gak dengerin omongan aku tadi?" ucap Yuna dengan menatap wajah Ardhi yang berada tepat di atasnya.


"Kenapa?" ucap Ardhi yang tampak begitu tenang.


Yuna tak mengerti lagi dengan apa yang ada di dalam pikiran lelaki itu. Ia tertawa dan mengacak-acak rambut lelaki itu. Dan sialnya , apa yang ia lakukan justru membuat lelaki itu terlihat semakin memabukkan.


"Kita ada disini berdua. Iya emang semua ini kemauan aku. Tapi aku nggak minta sampai sejauh ini. Kamu tau? Jujur aku takut , takut banget. Aku takut kamu bener-bener melakukan itu." ucap Yuna terhenti karena ulah lelaki itu yang kini tengah mengecup leher mulusnya.


Yuna menahan getaran di dadanya yang kian menggila. Ia sempat gugup sekali untuk mengucapkan kata-kata.


"Udah stop , jangan main-main. Ayolah berhenti." ucap Yuna dengan menepuk-nepuk punggung lelaki itu yang terasa amat keras.


Ardhi mengangkat wajahnya dan menatap Yuna.


"Sayangnya kita udah terlalu jauh. Ayolah , boleh ya." ucap Ardhi dengan suaranya yang terdengar menggelikan gendang telinga.


"Kamu udah gila ya?" ucap Yuna yang masih benar-benar tidak percaya dengan ucapan lelaki itu.


Yuna pun mencubit kedua pipi Ardhi berharap agar lelaki itu segera sadar. Ia harus bisa mengendalikan hawa nafsunya.


"Ah gila kamu ini sakit banget tauk , lepasin!" ucap Ardhi dan melepaskan tangan Yuna yang masih mencubitnya.


Yuna tersenyum akhirnya lelaki itu kesakitan , ia melihat Ardhi yang tengah mengusap-usap pipinya yang kini memerah.


"Gimana? Sakit?" ucap Yuna dengan tenang.


Ardhi mengernyitkan dahinya lalu tersenyum.


"Ini nggak seberapa sih sakitnya." ucap Ardhi dengan tenang. Kemudian ia mendekat dan berbisik, "Justru kamu yang habis ini akan teriak-teriak kesakitan." ucap Ardhi dengan tersenyum dan kembali mengecup leher Yuna.


Yuna membelalakkan matanya begitu mendengar ucapan itu. Ucapan yang sangat menjurus.


"Jangan bodoh , kita enggak boleh lakuin itu." ucap Yuna dengan suara setenang mungkin.


Kedua mata bertemu dan saling menatap. Masih terasa jelas keraguan di antaranya keduanya.


Ardhi tersenyum samar dan mulai mendekat kembali. Namun sayang , belum sempat kembali berciuman , saat itu juga ponsel Ardhi bergetar dan berdering. Ya , menandakan adanya sebuah panggilan.


Yuna tersadar dan mendorong tubuh Ardhi , memberikan isyarat untuk segera menjawab panggilan itu yang entah dari siapa.


Dengan raut wajah yang terlihat sedikit kecewa karena terganggu , Ardhi pun akhirnya turun dari ranjang dan mengambil ponselnya di atas meja.


Bima. Sudah tidak asing lagi dengan kelakuan orang satu itu.


"Ada apa?" ucap Ardhi dengan tenang.


"Eh lu masih di Tokyo?" tanya Bima.


"Iya. Kenapa?" ucap Ardhi.


"Cuma mau mastiin aja. Gimana , lu aman kan sama dia? Gue yakin lu orang yang baik gak mungkin macem-macem." ucap Bima yang sukses membuat Ardhi berfikir keras.


"Lu ngomong apa sih. Gak ada yang lebih penting lagi?" ucap Ardhi.


"Ada. Gue mau bilang , besok lu harus ke Singapore. Bisa kan? Gak lama , paling cuma 3 hari aja. Gimana?" ucap Bima.


"Besok? Serius? Kok mendadak?" ucap Ardhi kaget.


"Iya beneran. Gue udah kirim email ke lu , cuma belum lu buka aja." ucap Bima.


"Iya oke ini gue buka." ucap Ardhi sembari mengambil laptopnya.


"Lu sibuk banget ya kayaknya , sibuk apa coba." ucap Bima.


"Bawel lu. Udah deh , trus ada apa lagi?" ucap Ardhi sembari duduk di sofa dan menatap layar laptop yang terbuka.


"Udah sih cuma itu aja. Gue kan cuma ngasih tau jadwal lu aja." ucap Bima.


"Iya oke thanks." ucap Ardhi yang kemudian menutup telpon lebih dulu.


Ardhi memfokuskan pandangannya pada laptop dan membuka beberapa email yang masuk. Otak di kepala tampannya pun berputar memikirkan urusan pekerjaannya.


Tanpa sadar , ia sudah mengabaikan gadis yang hampir ia terkam. Dan kini , gadis itu sudah tidak ada di ranjang. Dan Ardhi mendengar samar-samar kemricik air dari dalam kamar mandi.


"Gue harusnya bersyukur karena Bima nelpon di waktu yang tepat. Kalau enggak , mungkin gue udah ngelakuin kesalahan terbesar di hidup gue dan mengkhianati calon istri gue sendiri. Astaga , ternyata separah ini gue." ucap Ardhi dengan mengingat apa yang sudah ia lalui disini.


"Gue harus cepet-cepet pulang. Gue gak bisa lebih lama lagi disini. Harusnya gue sama Fany , bukan sama Yuna." ucap Ardhi lagi dengan senyumnya yang samar.


❤️


❤️


❤️


❤️


❤️

__ADS_1


❤️l.a.f🌻❤️


__ADS_2