Love Always Forever (Tanpamu , Bagaimana Aku?)

Love Always Forever (Tanpamu , Bagaimana Aku?)
Sebuah Ungkapan


__ADS_3

Bukan tentang rasa yang selama ini terpendam dibalik eratnya sebuah persahabatan. Mudah baginya untuk saling mengungkapkan. Tapi dibalik sebuah pernyataan pasti akan ada sebuah perubahan. Dan ia tak kan pernah tau bagaimana akhir setelah adanya sebuah pengungkapan.


Kini jam sudah menunjukkan pukul 16.15 wib. Namun mereka masih betah menikmati semilir angin pantai. Irfan dan Ardhi sangat menikmati liburan kali ini. Ya , karena mereka berdua terlalu sibuk dengan rutinitas pekerjaannya yang membuat mereka jarang sekali merefresh pikirannya.


Mereka bermain air ditepi pantai. Mereka saling bercanda dan saling berkejaran berlarian layaknya anak kecil. Tawa pun tercipta diantara mereka.


"Kita nunggu sunset yuk , dari sini bagus deh kayaknya. Nggak lama lagi kok." ucap Irfan dengan tersenyum.


"Boleh juga. Nggak lengkap kalau ke pantai ngga lihat sunset tuh!" ucap Ardhi dengan tersenyum sembari melihat-lihat hasil foto dari kamera digitalnya. Lalu dengan sengaja lensanya ia arahkan ke wajah Fany di depannya. Dan ia memotret wajah cantik Fany tanpa memberi aba-aba. "Sempurna." ucap Ardhi yang membuat Fany menoleh ke arahnya.


"Eh nyuri foto ya?! Ih dasar nyebelin! Hapus aja deh , foto aku tuh jelek!" ucap Fany dengan berusaha merebut kamera ditangan Ardhi namun Ardhi berusaha menahannya.


"Kalian ini! Besok kalau nikah bakal rame terus rumah kalian, hahaha..." ucap Irfan dengan tersenyum. Dan begitu Fany mendengar kalimat itu , seketika ia menatap kakaknya dengan tatapan bingung.


"Nikah? Nikah apaan?" ucap Fany .


"Udah gede juga gitu aja gak tau!" ucap Irfan mengejek adiknya.


"Kakak ngomong apaan sih!" ucap Fany sambil menampar lengan kakaknya dengan menahan rasa malunya.


"Udahlah kalian itu pacaran aja kenapa sih , udah dari dulu kakak kasih restu tauk. Daripada sahabatan mulu tapi diem-diem mendem perasaan. Kan berat itu." ucap Irfan dengan tersenyum dan menahan tawanya melihat Fany salah tingkah. Lalu Irfan berganti memandang Ardhi yang tengah tersenyum kikuk sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Aduh bang , dia-nya yang nggak mau kalik sama aku." ucap Ardhi dengan tertawa sambil melirik raut wajah Fany. Karena sejujurnya ia tau bagaimana perasaan Fany saat ini.


"Udah udah kalian itu ya! Kasihan Fany ini kalian jahilin mulu dari tadi. Ayo Fany kita kesana aja." ucap Fika dan menarik lengan kanan Fany menjauh menuju tikarnya di tepi pantai.


"Eh eh biar sama aku aja hehehe... Kamu sama Abang aja tuh kasihan gada yang nemenin." ucap Ardhi dengan senyum-senyum tak jelas dan menarik lengan kiri Fany.


"Apa-apaan kamu ini , ini adikku!" ucap Fika seolah melarang Ardhi membawa Fany pergi. Ia ingin tahu bagaimana reaksi Ardhi.


"Udah ya kita kesana dulu , kalian dilanjut lagi aja deh. Nanti kalo udah mau pulang telpon aja ya bang." ucap Ardhi dengan segera membawa Fany pergi meninggalkan Irfan dan Fika yang tengah tersenyum menatap dua orang itu yang kian menjauh.


Irfan dan Fika pun saling pandang. Kemudian mereka tertawa bersama melihat kelakuan dua insan yang masih saling merindukan itu.


"Astaga apa-apaan sih mereka tadi itu! Bikin gue gila aja lama-lama." ucap Fany yang mengeluh dalam hati.


Fany mengikuti Ardhi didepannya yang menggenggam erat jemarinya. Dan tanpa diminta , memorinya tiba-tiba terputar pada mimpinya. Ia benar-benar gugup saat ini. Ia tak tahu harus bagaimana jika itu sampai benar terjadi.


Ardhi mengajak Fany ke ujung pantai itu dan menikmati senja di sebuah gazebo kecil. Mereka berdua duduk disana menghadap arah matahari yang akan terbenam. Fany menundukkan kepalanya dan kakinya mengayun-ayunkan pasir putih dibawahnya.


Ardhi sibuk sendiri dengan kameranya dan sedang mengarahkan lensa kamera mencari objek yang indah untuk dipotretnya.


"Deketan sini dong , kita foto bareng. Kita nggak pernah foto bareng lho." ucap Ardhi menyuruh Fany lebih dekat dengannya. Ardhi pun merangkul pundak Fany dan merekapun berfoto beberapa kali dengan saling tersenyum layaknya sepasang kekasih.


"Lihat hasilnya dong." ucap Fany meminta kameranya.


"Ini." ucap Ardhi dengan tersenyum sambil ikut melihat hasil foto.


"Aku jelek banget sih!" ucap Fany sambil melihat foto wajahnya sendiri.


"Siapa yang bilang sih , kamu itu cantik." ucap Ardhi dengan tersenyum dan Fany pun mendongakkan wajahnya menatap Ardhi.


"Aduh semua cowok sama ya , gombalnya dimana-mana." ucap Fany berpura-pura seolah tampak kesal.


"Eh aku serius tauk! Kamu itu perempuan yang paling cantik dari yang pernah aku temui selama ini." ucap Ardhi dengan tersenyum manis dan memandang wajah Fany yang nampak biasa saja. Ya , Fany sudah terlalu kenyang dengan kata-kata semacam itu.


"Bohong kamu tuh! Banyak kali di luar sana cewek-cewek yang lebih cantik dari aku yang ngejar-ngejar kamu. Aku tau itu." ucap Fany dengan menatap Ardhi pula. Dan ucapan Fany membuatnya terkekeh.


"Iya emang banyak sih , tapi aku nggak mau. Aku udah terlanjur suka sama satu cewek." ucap Ardhi dengan tersenyum sembari memotret ombak pantai yang berkilau karena senja yang mulai datang.


"Trus kenapa nggak jadian aja sih sama tuh cewek?!" Ucap Fany yang kini terkesan acuh.


Ardhi menyadari perubahan sikap Fany setelah ia mendengar ucapannya.


"Nggak ah . Dia pernah bilang kalau belum mau pacaran dulu. Yaudah deh , aku tungguin aja sampe dia mau jadi pacar aku." ucap Ardhi dengan santai tanpa memandang Fany disampingnya yang mulai merasa ada yang beda.


"Kenapa gue? Apa gue cemburu? Gue apa sih , kan gue cuma sahabat! Dasar bodoh banget lu kalo sampai lu ngerasa cemburu!" ucap Fany dalam hati yang masih merasa bahwa hatinya seperti terbakar.


"Sok setia banget bakal nungguin , kalau ada cewek yang lebih dari dia pasti tertarik lah!" Ucap Fany masih dengan acuh dan perasaan yang entah mengapa tak bisa ia sembunyikan.


"Ya nggak mungkin lah. Aku itu cowok yang setia." ucap Ardhi dengan tertawa.


"Ah nggak yakin deh." ucap Fany masih seperti tak peduli.

__ADS_1


"Kamu kenapa sih jadi kayak gitu? Jadi cuek gitu bicaranya. Kenapa?" ucap Ardhi tersenyum menatap Fany dengan tatapan teduhnya sembari mencubit pipinya.


"Enggak apa-apa, cuma biasanya aja cowok itu kayak gitu. Bikin jatuh cinta tapi kadang dia juga bikin patah hati. Dan kadang diwaktu yang sama pula." ucap Fany dengan pandangannya lurus menatap mentari .


"Emang kamu pernah diposisi itu?" ucap Ardhi mencoba bertanya karena ia ingin tahu bagaimana masalalu Fany selama tidak ada dia disisinya.


"Pernah." ucap Fany singkat.


"Kapan?" ucap Ardhi dengan memandang wajah cantik Fany.


"Sekarang." ucap Fany berteriak dalam hati. Ia merasa dadanya seolah terasa sesak. Entahlah seperti ada yang menangis dalam hati.


"Ehm... Apa sih mau tau aja! Kepo lu!" ucap Fany dengan membuang muka.


"Aku mau tau semua tentang kamu. Cerita dong sama aku." ucap Ardhi dengan meraih telapak tangan Fany dan digenggamnya. Dan hal itu membuat Fany kembali merasakan detak jantungnya berdegup kencang.


"Apa harus gue ungkapin perasaan gue? Ah janganlah bodoh!" ucap Fany dalam hati.


"Ehm... Kamu tau bunga tulip?" ucap Fany bertanya dengan menatap wajah Ardhi.


"Iya taulah , Kenapa?" ucap Ardhi yang juga menatap wajah Fany.


"Ya ibarat bunga tulip yang mekar , tapi nggak sepenuhnya. Sama kayak aku , kepribadian aku emang terbuka tapi nggak seluruhnya. Dan ngga semua orang tau tentang bagaimana diri aku." ucap Fany dengan tersenyum manis.


Ardhi kemudian mengelus rambut panjang Fany yang terbawa-bawa oleh angin.


"Tapi kamu bisa berbagi cerita sama aku kok. Kamu percaya deh sama aku. Kan aku yang akan tetap selalu jaga kamu. Aku yang akan selalu ada di hari-hari kamu. Dan aku juga gak akan pergi ninggalin kamu lagi kok. Aku janji." ucap Ardhi dengan suaranya yang lembut sambil memandang Fany.


"Apa alasan kamu ngelakuin semua itu ke aku?" Tanya Fany.


"Iya karena aku ngerasa aku bisa. Dan aku nggak mau nyia-nyiain kesempatan kali ini. Aku harus menebus kesalahanku selama ini karena membuat kamu menunggu." ucap Ardhi dengan tersenyum.


"Jadi alasan kamu selama ini hanya karena merasa bersalah kamu? Dan kamu merasa kasihan sama aku ? Gitu?" ucap Fany tanpa ekspresi diwajahnya.


"Bukan , maksud aku bukan kayak gitu." ucap Ardhi dengan terus berfikir keras agar Fany tidak salah paham dan marah padanya.


"Terus apa lagi kalau bukan? Kamu selama ini perhatian sama aku cuma ngerasa kasihan karena aku udah nunggu kamu bertahun-tahun itu kan? Kalau emang maksud kamu kayak gitu , akan lebih kalo kamu nggak pernah hadir lagi di kehidupan aku." ucap Fany dengan membuang mukanya dan tak menatap wajah Ardhi lagi.


"Kita emang sahabat. Dan aku mau kita sahabatan itu sewajarnya aja. Kamu nggak usah lagi berlebihan sama aku. Aku nggak apa-apa kok , jadi kamu nggak usah merasa kasian lagi sama aku." Ucap Fany memotong ucapan Ardhi dengan menahan hatinya yang terasa perih.


"Dan apa alasan kamu? Kenapa aku nggak boleh lagi perhatian kayak kemaren ke kamu?" Ucap Ardhi dengan tenang dan hati-hati.


Fany bingung dengan perasaannya. Ia takut salah mengucapkan kata-kata.


"Aku nggak mau lagi. Aku takut. Aku takut merasakan rasa yang nggak seharusnya aku rasa. Tolong kamu ngerti apa yang aku mau." ucap Fany dengan melepaskan tangannya yang berada digenggaman Ardhi yang kemudian beranjak berdiri dan melangkahkan kakinya untuk pergi.


Fany menjauh dari Ardhi. Fany menangis. Entahlah kali ini hatinya benar-benar terasa sakit. Ucapannya membuat hatinya teriris sendiri. Ia tak kuat menyembunyikan air matanya agar tak jatuh.


Baru beberapa langkah ia menjauh , terasa seseorang melingkarkan tangannya di pinggang Fany. Dan Fany menghentikan langkahnya seketika. Ia mematung dengan air mata yang mengalir dipipi dan jatuh ke pasir.


"Maafkan aku." ucap Ardhi dengan suaranya yang lembut menusuk telinga Fany.


Fany masih terdiam. Ia tak tahu harus berbuat apa dan berbicara apa lagi. Ardhi melepaskan pelukannya dan berdiri didepan Fany. Ardhi kini merasa sebagai laki-laki yang jahat. Ia sudah dua kali membuat wanita dihadapannya ini menangis karenanya. Ia mengusap pelan air mata dipipi Fany dengan ibu jarinya. Lalu ditariknya tubuh Fany ke dalam pelukannya untuk memberikan ketenangan. Ia memeluknya erat seolah enggan untuk melepaskan.


Fany membiarkan Ardhi memeluk tubuhnya. Kepalanya bersandar di dada Ardhi dan merasakan jantung Ardhi yang terasa berdegup kencang. Ia merasa lelah. Lelah dengan hati dan juga raganya. Ia memejamkan matanya sesaat menikmati belaian lembut di kepalanya.


"Aku minta maaf. Aku salah. Nggak seharusnya aku biarin air mata kamu jatuh lagi. Mulai detik ini , jangan halangi aku buat ngasih perhatian lebih ke kamu. Dan kamu nggak perlu takut sama apa yang kamu takutkan selama ini. Biarkan rasa itu ada di hati kamu. Biarkan rasa itu tumbuh dihati kita. Karena itulah sebenarnya apa yang aku mau sejak awal. Dari dulu aku selalu merindukanmu. Aku selalu menyayangimu dari jauh. Kamu adalah alasanku satu-satunya untuk pulang." ucap Ardhi dengan suaranya yang lembut dan ungkapan itu membuat Fany kian terisak dalam diam.


Fany mendongakkan kepalanya memandang wajah Ardhi. Ia menatap kedua bola matanya mencoba mencari kejujuran disana.


"Apa maksud kamu?" Ucap Fany dengan suara yang terdengar parau.


"Kita jalani bersama-sama ya. Aku yakin perasaan kita sama. Aku sayang sama kamu. Aku ingin selalu ada di hatimu. Aku ingin selalu menjaga kamu." ucap Ardhi dengan tersenyum dan kemudian mencium kening Fany.


"Apa-apaan! Aku nggak mau!" ucap Fany dengan tegas.


"Kenapa lagi?" ucap Ardhi dengan kaget oleh jawaban Fany yang secara tidak langsung telah menolaknya.


"Aku nggak mau. Pasti kamu kayak gini juga karena masih kasihan kan sama aku. Nggak deh , aku nggak mau. Cari cewek lain aja sana." ucap Fany melepaskan rangkulan Ardhi. Namun dengan cepat tangannya langsung mencekal lengan Fany agar tak pergi lagi.


"Aku serius sama apa yang aku omongin. Aku harus lakuin apa biar kamu percaya? Biar aku buktiin." ucap Ardhi dengan raut wajah terlihat memang serius.


Fany memandang wajah Ardhi sesaat. Dia tak pernah melihatnya seserius ini.

__ADS_1


"Kamu beneran ya? Seriusan?" ucap Fany masih tak percaya.


"Kamu mau bukti?" ucap Ardhi bertanya.


"Bukti apaan?" ucap Fany penasaran bukti apa yang akan Ardhi berikan.


"Kalau kamu masih nggak percaya sama keseriusan aku dan kamu mau bukti , aku bisa buktiin karena dengan senang hati aku akan segera nikahin kamu. Gimana? Kamu mau?" ucap Ardhi dengan senyum-senyum tak jelas.


Ucapan Ardhi memang benar-benar membuat Fany kehabisan kata-kata.


"Kamu ini gila ya! Aku masih sekolah! Apa kata orang nanti hah?! Nggak deh nggak!" ucap Fany setengah berteriak dihadapan Ardhi dan membuatnya semakin menggemaskan.


"Terus kamu maunya apa?" ucap Ardhi dengan sabar dan setenang mungkin.


"Aku nggak mau apa-apa." ucap Fany dengan menatapnya.


"Maksud kamu apa?" tanya Ardhi bingung.


"Menurut mu!" ucap Fany dengan mengalihkan tatapannya dan memandang sunset.


"Apa benar-benar udah nggak ada tempat di hati kamu buat aku?" tanya Ardhi dengan masih terus berharap.


Fany diam menatap lurus matahari yang setengah lagi kian tenggelam.


"Jujur , aku pulang ke Indo itu dengan harapan bisa memiliki kamu selamanya. Tapi kalau hanya menjadi sahabat dekat mu aja kamu menolak , aku bisa apa? Akan lebih baik jika aku kembali lagi keluar negeri mungkin. Apa itu yang kamu mau?" ucapan Ardhi seolah menamparnya.


Mungkin akan ada rasa penyesalan yang mendalam jika ia membiarkan itu terjadi. Dengan perasaan yang entah mengapa seolah menyuruhnya luluh dan menerima, Fany memeluk erat tubuh Ardhi dan menenggelamkan wajahnya di dada laki-laki yang sejujurnya sangat ia sayangi itu. Dan Ardhi pun mendekap erat tubuh wanita yang ia cintai pula.


Ardhi tersenyum , ia bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan untuk kebahagiaan kini. Ia benar-benar bahagia.


"Jangan pergi lagi." ucap Fany masih dalam dekapannya.


"Iya , aku nggak akan pergi lagi kok. Aku janji." ucap Ardhi yang kemudian mengecup kening Fany dengan tulus.


Mereka berdua saling pandang.


"Kamu beneran mau kan jadi pacar aku?" ucap Ardhi dengan tersenyum.


"Iya deh , aku mau." ucap Fany dengan tersenyum malu.


"Gitu dong , pake drama nangis segala. Cengeng banget jadi cewek.Hehe..." ucap Ardhi dengan terkekeh geli dan membuat Fany kesal.


"Ih dasar nyebelin ya!" ucap Fany memukul lengan Ardhi.


Kemudian terdengar ponsel Ardhi berdering menandakan ada panggilan masuk. Ia tersenyum lalu menjawabnya.


"Iya bang ... Oh oke ... Iya bentar lagi ke mobil kok ini ... Oke deh kita kesana sekarang." ucap Ardhi dengan suaranya yang santai tengah berbicara dengan Irfan.


"Ayo kita pulang , udah ditunggu di mobil." ucap Ardhi merangkul pundak Fany dan berjalan menuju tempat parkir.


Dan setelah mereka sampai di mobil , dapat dilihatnya bahwa Fika sudah duduk di kursi depan.


"Kamu duduk didepan sana , biar aku yang dibelakang sama Fany." ucap Fika pada Ardhi.


"Nggak usah , aku dibelakang aja gapapa kok. Ntar ganggu kalian lagi." ucap Ardhi dengan tersenyum kemudian masuk ke mobil bersama Fany.


"Ehem... Kayaknya ada sesuatu yang udah terjadi nih." ucap Irfan dengan tersenyum tanpa menoleh kebelakang.


Mendengar ucapan kakaknya , Fany hanya terdiam karena ia pasti akan di bully habis-habisan jika tahu apa yang terjadi.


"Udah jalan aja deh , keburu kemaleman nanti sampe rumah." ucap Fany mengalihkan pembicaraan.


Irfan pun tersenyum dan melajukan mobil untuk kembali pulang dan mengistirahatkan diri masing-masing sebelum hari esok datang lalu kembali pada rutinitas.


*


*


*


*


*❤️❣️

__ADS_1


__ADS_2