
Pagi pukul 07.00 WIB , keluarga pak Arya yang diantar sopir berangkat untuk memulai perjalanan jauhnya. Sepanjang perjalanan, Ardhi menatap luar kaca jendela mobilnya. Dia membayangkan dirinya yang jauh dari sahabat cantiknya. Entah kapan lagi mereka akan bertemu.
"Ma , kita nggak selamanya tinggal di disana kan ?" Tanya Ardhi menatap Mamanya dengan tatapan sendunya.
"Enggak sayang , kamu tenang aja . Kita akan berkunjung ke Indonesia saat liburan sekolah. Dan besok kalau kamu udah lulus SMA , kamu berhak memilih untuk melanjutkan kuliah dimana. " Ucap Mamanya dengan tersenyum sembari mengelus lembut puncak kepala anaknya itu.
"Iya Ma , janji yaa!" Ucap Ardhi penuh harap , karena sebenarnya Ardhi lebih senang berada di Indonesia daripada ikut ke Tokyo. Namun Ardhi harus mengikuti kemauan orang tuanya tersebut.
"Iya sayang mama janji. Tapi kalian harus menyelesaikan kuliah dengan benar. Karena kamu sama kakak yang kelak bakal menjadi penerus perusahaan yang papa bangun. Oke!" Ucap Mamanya dengan sungguh-sungguh.
"Iya Ma aku ngerti kok." Kata Ardhi mengangguk mengerti apa yang diharapkan orang tuanya itu.
Mobil semakin melaju menjauh dari halaman rumah , semakin menepis jarak antara rumah dengan bandara internasional Soekarno-Hatta Jakarta.
---
Sementara itu , Fany beserta kakak dan orang tuanya merencanakan agenda untuk masa liburan kali ini. Fany di ajak berkunjung ke tempat yang terpencil dari perkotaan. Disana terdapat sebuah bangunan seperti villa yang memiliki 2 lantai. Dengan nuansa alam yang masih segar lengkap di bagian belakang villa terdapat taman bunga dan ada danau kecil yang bersih terawat. Dikelilingi bunga warna-warni yang membuat taman itu semakin indah. Tah hanya itu , di depan halaman villa juga berhadapan langsung dengan pantai berpasir putih dan berombak tenang. Fany terkagum-kagum dengan apa yang dilihatnya. Dia belum pernah di ajak kesini sebelumnya.
"Selamat datang pak di villa." Ucap pak Haris dengan ramah. Pak Haris adalah orang kepercayaan keluarga Fany untuk menjaga dan merawat seluruh halaman villa.
"Iya pak , bagaimana ? Disini tetap aman kan pak ?" ucap Papanya Fany itu juga dengan tersenyum.
"Disini saya pastikan selalu aman pak tempatnya." ucap pak Haris .
"Baiklah kalau begitu pak , ini kami mumpung anak-anak lagi pada libur sekolah jadi liburannya kesini pak." ucap Papanya .
__ADS_1
"Iya pak , silahkan menikmati keindahan alam ini. Memang bapak beruntung sekali dulu membangun villa disini. Sangat menenangkan suasananya. Kalau begitu saya permisi ya pak , misal membutuhkan bantuan saya ada villa belakang." ucap pak Haris dengan tersenyum.
"Oke pak , terimakasih ya pak sebelumnya sudah disiapkan semua." ucap Papanya menepuk pundak pak Haris berterimakasih.
"Iya pak , sama-sama. Saya permisi ya pak." ucap pak Haris berpamitan untuk pergi ke villa belakang.
"Pa Ma , jadi ini villa milik Papa sama Mama ? Wahh ini bagus banget lho pemandangannya ! Aku seneng banget disini. Aku pngen kepantai sana Pa!" ucap Irfan , kakaknya Fany yang kini berusia 8 tahun . Irfan mengajak Papanya ke tepi pantai menikmati terpaan angin sebagai pelepas lelah .
"Papa aku ikut , aku mau main pasir !" ucap Fany meraih tangan Papanya .
Papanya pun tersenyum melihat di kanan kirinya , kedua tangannya di tarik oleh putra dan putrinya .
"Yaudah kalian main sama papa dulu ya nak , mama mau masak dulu buat makan siang nanti . Kalau udah selesai nanti mama nyusul kalian. Oke !" ucap Mamanya dengan tersenyum melihat anaknya senang seperti itu.
Mamanya tersenyum melihat keluarganya bahagia seperti ini. Mereka bertiga berjalan keluar dari villa menuju pantai. Kemudian ia pergi ke dapur untuk memasak makanan untuk makan siang nanti.
Di dalam sebuah rumah mewah itu kini tampak terisi suara setelah sekian lama hanya di tinggali seorang diri. Ya , Pak Arya hanya menempati rumah sebesar nan semegah itu hanya sendirian tatkala ia hanya memiliki kepentingan mendadak saja. Tapi kini ia membawa keluarganya. Ia beserta istri dan dua putranya ikut serta menempati rumah itu karena urusan pekerjaan perusahaannya yg membutuhkan waktu lama dalam prosesnya. Kedua putranya pun bersekolah tak jauh dari tempat tinggal mereka.
Perjalanan darat dan udara yg cukup melelahkan membuat mereka langsung mengistirahatkan tubuh mereka pada sofa ruang utama. Pembantu rumah tangga yang telah di siapkan pak Arya langsung menyuguhkan minuman dan snacks ringan untuk melepas lelah .
Melihat kedua putranya seolah bingung ingin berbicara memakai bahasa apa , pak Arya pun tersenyum.
"Kalian bisa pakai bahasa Inggris sayang , disekolah juga kalian pakai bahasa Inggris . Papa sudah carikan sekolah yg memakai bahasa internasional untuk memudahkan kalian berkomunikasi nanti. Karena papa tau , kalian belum bisa berbahasa Jepang." Ucap pak Arya menjelaskan dan di angguki oleh kedua putranya itu.
__ADS_1
Mama Anisa berdiri yang kemudian duduk di antara kedua putranya.
"Kalian sekolah yg sungguh-sungguh ya sayang . Mama sama Papa berharap sama kalian berdua . Agar masa depan kalian menjadi masa depan yang terbaik. " ucap Mama Anisa dengan tersenyum lalu mencium kening putranya masing-masing.
"Ya sudah , kalian pasti capek . Ma , antar anak-anak ke kamarnya dulu. Papa mau ke ruang kerja beresin berkas-berkas ini." ucap pak Arya sambil bersiap menyeret kopernya yg berisi dokumen penting itu menuju ruang kerjanya.
"Iya Pa , ayo sayang. Kalian mau satu kamar apa kamar sendiri-sendiri ?" Tanya Mama Anisa pada putranya.
"Sendiri-sendiri aja Ma." ucap kakak beradik itu bersamaan.
"Ya ampun kalian ini ! Ya sudah ayo kita ke atas." ajak Mama Anisa yang terheran-heran melihat putranya itu kadang yang masih sering berantem hanya karena masalah sepele. Seperti tadi yang hanya gara-gara berebut handphone mereka menjadi berantem.
"Kalian mandi dulu yang bersih ya , nanti kita makan malam bersama. " ucap Mama Anisa yang kemudian bergegas pula menuju kamarnya untuk membersihkan tubuhnya dan bersiap makan malam.
Setelah makan malam usai , Ardhi bergegas menuju kamarnya. Ia meninggalkan kakak serta Papa dan Mamanya di ruang keluarga. Sampai di kamar , Ardhi membuka tirai jendela kamarnya sedikit. Ia menerawang jauh keluar sana . Terlihat kerlap kerlip lampu kota yang begitu meriah. Tak lama , ia kembali menutup tirai tersebut kemudian duduk ditepi ranjangnya.
Di ambilnya dompet kecil miliknya. Dia tersenyum simpul .
"Aku janji . Aku besok bakal nemuin kamu lagi. Aku nggak akan pernah lupa sama kamu dek. Perpisahan di antara kita nggak akan lama kok dek..." ucapnya dengan lirih.
Dikembalikannya dompet itu pada lemari kecil di bawah meja tempat lampu tidurnya. Ardhi pun naik ke tengah ranjang dan menarik selimut tebalnya.
Dan tak lama , ia pun tertidur karena memang ia sedang kelelahan.
---
__ADS_1