Love Always Forever (Tanpamu , Bagaimana Aku?)

Love Always Forever (Tanpamu , Bagaimana Aku?)
Mix


__ADS_3

Hampir dua minggu telah berlalu , kini hubungan Fany masih belum benar-benar aman. Masih saja si masa lalu tunangannya itu tak jua pergi.


Tapi tak hanya itu , Rifki dan Laura pun juga tengah sibuk. Mereka sibuk mempersiapkan segala sesuatu tentang pernikahannya. Bahkan sekarang keduanya pun sudah melakukan fitting baju pengantin mereka.


"Astaga , calon mamanya anak gue cantik banget." ucap Rifki dengan suara yang hampir tidak terdengar.


Melihat Laura keluar dari ruang ganti , Rifki tersenyum puas. Gaun pengantin itu sangat cocok melekat di tubuh kekasihnya. Tubuh langsing yang sama sekali tidak terlihat jika memang sedang ada kehidupan di balik gaun indah itu.


"Gimana? Kamu suka gaun yang ini atau mau pilih lagi yang lain?" ucap Rifki.


"Yang ini aja. Aku suka. Kamu suka nggak? Kalau nggak suka , biar aku ganti." ucap Laura.


"Aku suka sama pilihan kamu." ucap Rifki dengan tersenyum.


"Ya udah deh ini aja." ucap Laura.


Sepasang baju pengantin pun telah siap. Setelah melakukan pembayaran , mereka berdua pun keluar untuk menuju mobil.


"Kita makan dulu ya. Kamu pengen makan apa?" ucap Rifki dengan tenang.


"Apa aja terserah kamu deh." ucap Laura.


"Kenapa terserah aku? Yang hamil kan kamu? Biasanya orang hamil pengennya yang aneh-aneh kan?" ucap Rifki dengan heran.


"Astaga , aku hamil juga baru sebulan! Belum pengen apa-apa. Tapi lihat aja besok , kalo aku bilang sesuatu kamu harus cariin saat itu juga. Apapun itu , kapan aja dan dimana aja aku nggak peduli." ucap Laura.


"Tenang aja sayang. Aku janji akan kasih apa aja yang kamu mau. Dan sekarang , kita makan di tempat biasanya aja ya?" ucap Rifki yang bermaksud mengajak Laura makan di restoran favoritnya mereka berdua.


"Iya iya terserah kamu aja." ucap Laura.


Rifki pun melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang dan hati-hati demi keselamatan wanita disampingnya itu.


...---...


"Kak , menurut kakak gimana sih kalo aku nikah muda? Salah nggak?" ucap Fany yang kini tengah berada di kantor sang kakak.


"Apanya yang salah? Nggak ada kok. Kalau kalian emang udah siap dan beneran yakin. Nggak ada masalah kalau kalian mau nikah." ucap kak Irfan dengan tenang.


"Tapi kakak belum nikah. Masa aku yang nikah duluan?" ucap Fany.


"Enggak apa-apa dek. Kakak ikhlas kok." ucap kak Irfan.


"Hem... Kakak emangnya kapan mau nikah?" ucap Fany yang membuat kakaknya tersenyum.


"Besok kapan aja bisa." ucap kak Irfan dengan santai.


"Gitu mulu jawabnya!" ucap Fany.


"Fika itu punya kakak perempuan satu yang belum nikah. Dan Fika nggak mau nikah duluan." ucap kak Irfan.


"Yahh , berat tuh!" ucap Fany.


"Dua tahun lalu , kakaknya Fika hampir nikah. Tapi gagal karena cowoknya kepergok lagi main sama cewek lain. Dari kejadian itu , dia trauma sampe sekarang. Dan dia sebenarnya gak masalah kalo Fika mau nikah duluan , tapi Fika yang emang nggak tega. Ya udah lah , mau gimana lagi kan." ucap kak Irfan bercerita dengan tenang.


"Iya sih kak. Yang sabar ya kak. Besok gak lama lagi pasti kakaknya kak Fika juga nikah." ucap Fany


"Iya , oh iya kamu gak ngampus ya? Mau bolos lagi? Eh kemarin kamu sama Ardhi nginep di hotel ngapain aja hayo..." ucap kak Irfan dengan tersenyum.


"Apaan , gak ngapa-ngapain!" ucap Fany.


"Beneran?" tanya kak Irfan menggoda adik cantiknya itu yang terlihat kesal.


"Demi Tuhan ya aku sama dia gak ngapa-ngapain kak!" ucap Fany dengan serius.


"Cantik-cantik rada oleng! Yang namanya nginep di hotel ya yang pasti tidur dong! Gak mungkin kalo gak ngapa-ngapain." ucap kak Irfan dengan santai.


"Astaga , serah kakak aja deh!" ucap Fany pasrah.


"Kakak bingung aja sih , abis dari sana kok tiba-tiba ngomongin soal nikah? Kalian emang beneran gak melakukan..." ucap kak Irfan terputus.

__ADS_1


"Stop! Selama aku liburan disana , gak ada kejadian apapun seperti yang lagi kakak pikirin! Iishh dasar nyebelin , ganteng-ganteng otaknya rada geser semua!" ucap Fany dengan kesal.


"Ya gimana gak mikir sampe situ kalo pulang-pulang langsung minta nikah? Kamu bikin semua mikir seribu kali tauk!" ucap kak Irfan dengan tenang.


"Bodo'amat! Yang penting pada kenyataannya aku sama dia nggak kayak gitu!" ucap Fany dengan puas.


"Tapi..." ucap kak Irfan yang kembali terputus.


"Gak ada tapi-tapian! Aku tuh sebenarnya tau loh kak. Kakak sering kan bawa kak Fika ke apartemen? Hayoo ngaku... Ngapain aja?" ucap Fany dengan santainya lalu tersenyum.


Terlihat sekali jika kakaknya itu kini tampak mengalihkan pandangannya melihat luar.


"Kakak... Tuh kan kalo iya tuh bilang aja kak aku gak akan bilang ke mama papa kok. Jadi tetep aman." ucap Fany dengan tenang.


"Heh kamu itu anak kecil tau apa sih?" ucap kak Irfan.


"Tau banyak!" ucap Fany dengan hati senang.


"Kamu mata-matain kakak ya? Emang rese banget sih kamu tuh!" ucap kak Irfan dengan kesal.


"Nggak kak , serius aku gak kayak gitu. Aku pernah dateng ke apartemen kakak. Pas aku buka pintu , aku lihat tasnya kak Fika. So , aku pulang lagi aja. Ntar ganggu dong." ucap Fany yang membuat kakaknya terlihat tegang.


"Eh jaga otak kamu ya! Kakak tuh gak pernah macem-macem tauk. Cuma berkunjung doang apa salahnya?" ucap kak Irfan.


"Ya gak salah sama sekali. Aku kan cuma nebak aja. Sama kayak kakak tadi juga gitu kan?" ucap Fany dengan tersenyum.


"Kakak emang sering bawa dia ke apartemen , tapi kakak gak berani macem-macem sama dia. Sama kayak calon suami kamu aja." ucap kak Irfan yang membuat Fany kaget namun ia berhasil menutupinya.


"Hah? Dia gak pernah macem-macem tauk sama aku." ucap Fany dengan ketus.


"Kakak tau. Dia bukan anak yang nakal. Dia janji kok sama kakak kalo bakal jagain kamu baik-baik." ucap kak Irfan dengan tenang.


"Iya emang dia baik." ucap Fany.


"Iya itu. Begitu juga kakak. Kakak juga prinsipnya sama kayak dia." ucap kak Irfan.


"Dasar anak kemaren sore!" ucap kak Irfan.


"Ah udah deh aku mau ke kampus!" ucap Fany yang kemudian mendekati sang kakak lalu mengecup pipinya secepat kilat.


"Dih! Apa-apaan sih! Gak usah pake cium-cium segala tauk!" ucap kak Irfan sembari mengusap-usap pipinya dengan panik.


"Lebay! Di cium adiknya sendiri gitu amat! Giliran di cium kak Fika mah langsung cium balik!" ucap Fany sembari meraih tasnya.


"Ya beda lah! Ah udah deh , cepetan berangkat sana! Bikin masalah mulu disini!" ucap kak Irfan dengan kesal.


"Bukan Tifany namanya kalo gak bikin masalah sama kakak tuh! Dah aku pergi dulu." ucap Fany yang kemudian menyambar tangan kakaknya lalu mencium punggung tangan itu.


"Hati-hati dijalan! Jangan ngebut!" ucap kak Irfan sembari melihat Fany yang berjalan menuju pintu dan akhirnya keluar dari ruang kerjanya.


"Anak itu benar-benar bikin naik darah mulu kerjaannya!" ucap lelaki itu yang kemudian fokus menatap layar komputer didepannya.


...----...


Lain tempat lagi , Bima sedang bersama Aera di sebuah cafe. Ini memang waktunya kerja , tapi untuk kedua manusia itu tak ada masalah jika memang pekerjaan tidak menumpuk. Mereka akan pergi berdua walau hanya sekedar ngopi bersama beberapa saat.


Sampai tiba-tiba , gadis yang mereka kenal datang menghampiri mereka berdua. Bima dan Aera saling menatap sesaat.


"Boleh gabung?" tanya gadis itu yang tak lain adalah Yuna. Si mantan kekasih bos mereka.


"I-iya boleh." ucap Aera dengan kikuk.


"Terimakasih. Em... Kalian pasti sudah tau aku kan?" ucap Yuna.


"Kami cuma melihatmu , tapi tidak tau siapa kamu." ucap Bima.


"Oh gitu. Apa CEO kalian ada di kantor?" ucap Yuna.


"Memangnya ada apa kau selalu mencari CEO itu?" ucap Bima.

__ADS_1


"Kamu dekat dengannya kan? Atau kau memang sekretarisnya?" ucap Yuna.


"Katakan saja , apa maksudmu menemui kami? Kami harus segera kembali bekerja." ucap Aera dengan tenang.


"Oh ya? Bukankah ini memang waktunya untuk bekerja? Tapi kenapa kalian berada disini?" ucapan Yuna yang entah kenapa membuat hati Aera sedikit tersentak.


"Ya udah kalau emang nggak ada sesuatu yang lebih penting. Ayo kita pergi." ucap Bima yang kemudian meraih jemari Aera untuk segera mengajaknya pergi dan kembali ke kantor.


"Tunggu sebentar!" ucap Yuna menahan lengan Aera.


Aera melihat cekalan pada lengannya lalu menatap Yuna sesaat.


"Apa lagi?" tanya Bima.


Entahlah , kini perasaan Bima juga sedikit kesal.


"Tolong bilang pada Ardhi , aku menunggunya di cafe ini. Sudah dua minggu ini aku berusaha menemuinya tapi dia selalu menghindar." ucap Yuna dengan wajah melasnya.


"Memangnya kamu itu ada perlu apa sih sama dia? Apa kau tidak tau? Dia kan sebentar lagi mau menikah." ucap Bima.


"Jangan sembarangan kalau bicara!" ucap Yuna sedikit membentak yang membuat Bima semakin merasa kesal saja.


Akhirnya , Bima menarik lengan Aera dan menjauh. Malas sekali jika ia harus menghadapi gadis seperti itu. Lebih baik ia segera kembali ke kantor.


...--...


"Aku masih tidak percaya dengan apa yang aku dengar. Aku selalu memikirkanmu setiap saat. Aku pikir kau juga merasakan itu. Tapi kenapa tidak sama sekali?" ucap Yuna dengan kelopak mata yang sudah menggenang.


"Aku sudah bilang dari dulu. Jangan mencariku lagi , itu hanya membuat luka di hatimu. Aku tidak mungkin dan tidak akan pernah mungkin kembali padamu." ucap Ardhi dengan sabar.


Yuna menangis. Ia belum siap atau lebih tepatnya ia tidak mau kehilangan pria yang sangat ia cintai. Bagaimana bisa ini terjadi pada gadis itu yang sangat mengharapkan kehadiran pria di hadapannya.


"Tidak semudah itu. Kalaupun aku bisa , aku tidak akan pernah menemukan kamu lagi. Aku memang bodoh! Aku terlalu bodoh tentang cinta! Aku bodoh karena memperjuangkan sesuatu yang tidak mungkin bisa aku miliki. Aku cuma angin yang berlalu tanpa pernah kau sadari kehadirannya. Aku sakit... Aku menahan sakit yang tidak akan pernah bisa kau rasakan." ucap Yuna diselingi isakan pilunya.


"Jangan buang lagi air matamu. Siap tidak siap , kamu memang harus siap. Kehilangan sesuatu yang berharga itu memang sakit. Dan dari sinilah kamu akan mengerti , banyak yang tidak bisa di raih jika memang itu tidak ditakdirkan untuk di raih. Aku minta maaf sekali lagi. Aku tidak bisa kau miliki lagi. Berhentilah untuk memperjuangkan ku. Itu hanya akan membuat diri kamu lebih sakit dari ini." ucap Ardhi dengan tenang.


Yuna menyeka air matanya sendiri dan menarik nafas panjang lalu menghembuskan dengan kasar. Ia kembali mengatur perasaannya agar lebih tenang.


"Siapa perempuan yang akan kau nikahi itu?" ucap Yuna dengan menatap Ardhi dalam-dalam.


"Kenapa? Kau tidak perlu tau siapa dia." ucap Ardhi.


"Katakanlah! Aku cuma ingin tau seperti apa gadis yang sudah membuatmu tergila-gila itu." ucap Yuna.


"Dia baik." ucap Ardhi.


"Aku ingin bertemu dengannya." ucap Yuna.


"Buat apa?" ucap Ardhi bertanya.


"Kau takut aku akan melukainya bukan? Tenang saja , aku hanya ingin berkenalan dengannya." ucap Yuna dengan tersenyum.


"Jangan harap kau bisa menemuinya! Lebih baik kau kembali. Pulanglah ke kotamu. Di sana kau akan lebih baik." ucap Ardhi dengan tenang lalu ia melirik jam di pergelangan tangannya. "Aku akan pergi. Dan mulai detik ini, jangan pernah mencariku lagi." ucap Ardhi yang kemudian berdiri dari duduknya.


Ardhi melangkahkan kakinya keluar cafe dengan cepat tanpa menghiraukan Yuna yang masih termenung di atas meja. Yuna memandang Ardhi yang kian menjauh. Rasanya ingin sekali ia menangis.


Namun percuma, menangis pun lelaki itu juga tak akan kembali padanya.


Sakit , ya memang sakit. Tapi memang benar adanya jika cinta itu tak harus memiliki.


❤️


❤️


❤️


❤️


❤️l.a.f🌻❤️

__ADS_1


__ADS_2