Love Always Forever (Tanpamu , Bagaimana Aku?)

Love Always Forever (Tanpamu , Bagaimana Aku?)
Tak Terduga


__ADS_3

Seseorang itu membukakan pintu mobil untuk fany , lalu Fany pun masuk dan duduk manis didalam. Setelah menutup pintu mobilnya , ia berjalan mengitari mobil lalu masuk dan duduk di kursi kemudi.


Diwaktu yang sama , Fany tampak gugup namun ia menahannya dan bersikap seolah biasa saja.


"Itu di pasang dulu seatbelt-nya. Bisa pasang sendiri kan? Atau perlu di bantu?" ucap seseorang disamping Fany itu dengan tenang.


"Ah nggak usah. Bisa sendiri kok." ucap Fany yang kemudian memasang seatbelt-nya dengan benar. Ia berusaha sekuat tenaga menepis rasa takut juga gugupnya.


"Udah?" tanya laki-laki disampingnya itu memastikan sambil memandang fany.


"I-iya udah." ucap Fany yang kali ini ia benar-benar tak mampu menyembunyikan rasa gugupnya. Baru tadi pagi ia menghayal bisa bertemu dengan laki-laki ini. Dan kini sekarang ia berada satu mobil dengan laki-laki itu .


Mereka menikmati perjalanan dalam diam. Hanya alunan lagu yang mengiringi pikiran mereka yang melayang entah kemana. Mereka sibuk dengan pemikiran mereka masing-masing. Ada rasa ingin bertegur sapa diantara keduanya , namun mereka saling meredam rasa itu.


Jam sudah menunjukkan pukul 17.00 wib , mereka belum juga sampai karena terjebak macet dijalanan yang disebabkan oleh perbaikan jalan.


Rasa bosan mulai menyelimuti keduanya karena tak ada yang memulai pembicaraan sepatah katapun.


"Gue pengen ajakin ngobrol dia , tapi gue bingung! Gue kan cewek , masa gue yang negur dia duluan! Dia juga gada inisiatifnya buat ngomong apa gitu! Ih dasar cowok es kali ya itu!" ucap Fany dalam hati sambil terus menggeser beranda Instagram-nya yang sebenarnya tak menarik dilihatnya.


"Ini juga macet mulu , kapan jalannya sih?!" ucap Fany tanpa sadar berbicara dengan suara yang lirih namun masih bisa didengar oleh laki-laki disampaikannya itu. Fany pun tersadar lalu menutup mulutnya dengan capat.


"Sabar ya. Bentar lagi kita jalan kok." ucap laki-laki disampingnya itu dengan sedikit tersenyum namun terlihat kaku.


"Iya." ucap Fany yang kemudian terdiam tanpa mengucapkan kata apapun selanjutnya. Dan dengan sesekali Fany memberanikan diri untuk sekilas melirik ke arah laki-laki disampingnya itu yang dilihatnya sedang memikirkan sesuatu.


"Mau sekalian makan malam ngga?" ucap laki-laki itu tanpa meliriknya.


Fany tak percaya dengan apa yang didengarkannya barusan.


"Apa?" tanya Fany meyakinkan kembali.


"Mau sekalian makan malam ngga ?" ucap laki-laki itu memperjelas ucapannya dengan memandang wajah cantik Fany. Ia berinisiatif mengajak dinner Fany dengan harapan ia bisa lebih dekat kembali dengan perempuan cantik disampingnya ini.


"Anda mengajak saya?" ucap Fany sembari menunjuk mukanya sendiri.


"Biasa aja manggilnya nggak usah formal begitu. Iya aku ngajakin kamu makan malem sekalian. Gimana kamu mau?" ucap laki-laki itu yang berusaha setenang mungkin dan tersenyum.


"Tapi , nanti kalau kak Irfan nyariin gimana?" Tanya Fany bingung.


"Tenang , biar aku hubungi kakakmu." ucap laki-laki itu kemudian mengirim pesan singkat kepada Irfan. "Kamu masih sekolah kan?" ucapnya lagi tanpa melihat Fany.


"Iya. Masih sekolah." jawab Fany.


"Kenapa ikut tinggal di apartemen?" tanya laki-laki itu sambil memandang fokus kedepan.


"Bosen aja dirumah , jadi sementara ikut kakak. Cuma selama liburan sekolah kok." ucap Fany yang sedikit bisa merasa tubuhnya kian rileks dan tenang dengan sendirinya.


"Nggak pergi liburan kemana gitu? Atau liburan sama pacar kamu mungkin?" ucapnya lagi dengan menjalankan mobil perlahan.


"Mana ada pacar?! Sebenernya gue lagi nungguin seseorang buat liburan bareng. Tapi kayaknya harapan gue bakalan sia-sia lagi seperti tahun-tahun lalu." ucap Fany dalam hati dan entah mengapa ucapannya itu membuat raut wajahnya sedikit murung.


"Hei... Kamu nggak apa-apa kan?" ucap laki-laki itu menyadarkan Fany.

__ADS_1


"Eh iya nggak apa-apa kok , aku ngga punya pacar mau fokus sekolah dulu. Trus nggak pengen liburan juga sih." Ucap Fany dengan tersenyum kecut.


"Maaf ya." ucap laki-laki itu dengan suara pelan namun masih bisa didengar oleh telinga Fany.


"Maaf untuk apa?" tanya Fany tak mengerti apa yang di maksud.


"Nggak apa-apa." ucap laki-laki itu tanpa memandangnya.


"Sebenarnya ada satu hal yang pengen aku tanyakan sama kamu." ucap Fany yang sukses membuat laki-laki itu menoleh ke arah Fany. dengan ekspresi wajah tak bisa dijelaskan. Fany salah tingkah sendiri di tatap oleh laki-laki tampan di sampingnya itu.


"Apa? Ehm , kita bicarakan nanti ya. Bentar lagi sampai kok." ucap laki-laki itu dan kembali fokus mengemudi dijalan yang sudah normal.


Mereka saling diam tak mengucapkan kata apapun lagi. Mereka sibuk dengan pemikiran mereka masing-masing. Fany yang bingung memikirkan bagaimana kalimat yang tepat untuk menanyakan perihal kalung itu. Dan laki-laki itu yang sibuk dengan pemikirannya tentang apa saja yang sudah diketahui oleh perempuan cantik di sebelahnya itu.


Setelah lima belas menit kemudian , mobil pun memasuki area restoran mewah. Mereka berdua turun dari mobil dan masuk ke dalam dengan disambut ramah oleh pelayan di restoran itu.


Laki-laki itu tanpa sadar menggenggam jemari Fany dan membawanya menuju lift. Fany pun juga tak menyadari bahwa jemarinya digenggam oleh laki-laki di sampingnya itu. Selama di dalam lift berdua , mereka juga diam tak berbicara apapun. Sampai pintu lift terbuka , mereka berjalan menuju sebuah ruangan private room.


Jantung Fany berdetak semakin tak teratur kala ia dibawa masuk kedalam ruangan itu. Tak ada satu orangpun disana kecuali dirinya dan laki-laki yang membawanya itu.


Ruangan dengan dekorasi terkesan sedikit romantis. Ruangan yang disampingnya dikelilingi dinding kaca yang mampu membuat mereka menikmati pemandangan malam hari dari sana. Melihat beribu bintang yang tersebar di antara gelapnya langit malam serta dibawah sana juga terdapat lampu kota dan lampu-lampu kendaraan yang lalu-lalang.


"Silahkan duduk." ucap laki-laki itu pada Fany yang tengah memandang jauh keluar sana melihat pemandangan malam.


"Kenapa kita disini?" tanya Fany yang tak mampu menyembunyikan rasa penasarannya.


Laki-laki itu berjalan mendekati Fany. Kali ini Fany merasa takut. Jantungnya berdetak seolah akan loncat keluar. Keringat dingin mulai ia rasakan begitu laki-laki itu menyentuh lembut pundak Fany. Namun dengan rasa takut yang lebih besar menyelimuti , Fany cepat-cepat menepis tangan itu dan melangkah mundur.


"Tenang. Maaf kalau aku membuat kamu takut. Aku janji ngga akan ngapa-ngapain kamu." ucap laki-laki itu dengan menatap lembut ke arah Fany yang ketakutan.


"Maaf , aku bisa jelasin semua dari awal sampai akhir. Tolong jangan menghindar. Aku janji ngga akan berbuat jahat sama kamu." ucap laki-laki itu yang membuat Fany terdiam entah akan menjawab apa.


Langkah Fany terhenti karena tubuhnya sudah bersandar di dinding dibelakangnya tepat. Ia masih merasa takut dengan laki-laki didepannya yang terus mendekat.


"Kamu harusnya tau siapa aku." ucap laki-laki itu dengan lembut karena tak ingin perempuan dihadapannya ini ketakutan. Ucapannya membuat Fany terus terdiam. Kemudian ia meraih jemari tangan kanan Fany.


Fany terdiam dengan mengingat pikirannya yang selalu menghayal selama ini. Ia terus menatap kedua mata laki-laki didepannya itu.


"Aku selalu berharap sama Tuhan , semoga kamu nggak pernah lupa sama aku. Dari dulu aku selalu berusaha untuk pulang dan menemui kamu. Tapi Mama sama Papa selalu sibuk. Aku juga kuliah disana. Aku berusaha biar bisa menyelesaikan kuliah dengan cepat. Aku harus bisa menjadi seperti Papa. Dan tugasku sekarang berjuang untuk perusahaan Papa di Indonesia. Sedangkan kakakku tetap disana untuk beberapa tahun lagi. Maafin aku ya. Aku dulu pergi juga karena kemauan Mama sama Papa. Aku benar-benar minta maaf, aku emang salah. Aku nggak pernah mengirim kabar. Aku terlalu fokus sama kuliah aku sampai aku lupa sama kamu. Maafin aku ya..." ucap laki-laki itu yang mampu membuat Fany menutup mulutnya dengan tangan kirinya.


Kini Fany tak mampu berkata-kata sedikitpun. Ia masih tak percaya dengan apa yang didengarnya. Ia tak percaya bahwa laki-laki yang dihadapannya ini adalah seseorang yang selama ini paling ia nantikan kehadirannya juga yang paling ia rindukan.


Tanpa sadar , setitik butiran air mata terjatuh mengalir di pipi mulusnya. Ia terisak dalam kebisuannya. Ia merasakan ibu jari lelaki itu menyeka air mata yang terus terjatuh itu.


"Maafin aku ya... Aku janji ngga akan pergi lagi." ucap lelaki itu dengan suaranya yang lembut sambil menghapus air mata di pipi Fany yang masih mengalir.


"Kamu..." ucap Fany yang kemudian terdiam kembali.


"Iya aku. Aku Ardhi. Kamu nggak pernah lupain aku kan?" ucap Ardhi dengan tersenyum , ya laki-laki itu adalah laki-laki yang dahulu selalu bersama di masa kecil. Yang saling merindukan namun terhalang jarak yang memisahkan keduanya.


"Aku nggak salah kan? Aku nggak lagi bermimpi kan?" ucap Fany seperti orang yang sedang kebingungan.


"Kamu nggak mimpi. Iya ini aku." ucap Ardhi dengan tersenyum dan mengeluarkan kalung dengan bandul setengah hati itu dari dalam kerah kemejanya. "Aku juga nggak pernah melepas kalung ini. Udah dong jangan nangis lagi , kamu kenapa nangis?" ucapnya lagi sambil membelai lembut pipi dan hidung Fany yang terlihat memerah karena menangis.

__ADS_1


Tanpa berpikir panjang , Fany langsung memeluk tubuh Ardhi dan menyandarkan kepalanya di dada bidangnya. Fany tak bisa menahan rasa bahagianya. Entahlah , ia benar-benar merasa bahagia dan memejamkan matanya sejenak.


Ardhi pun juga merasakan kebahagiaan dihatinya. Harapannya selama ini ternyata tak sia-sia. Ia merengkuh tubuh Fany ke dalam pelukannya. Diusapnya rambut panjang Fany dengan lembut.


"Makasih ya udah hadir lagi di hidup aku. Aku rasanya kayak masih ngga percaya." Ucap Fany sambil mendongakkan kepalanya memandang wajah Ardhi sembari tersenyum.


"Iya . Aku janji akan selalu ada di hari-hari kamu dan akan selalu jagain kamu. Aku nggak akan pergi lagi." ucap Ardhi dengan tersenyum pula. Dan tiba-tiba , Ardhi mencium kening Fany yang sukses membuat Fany melongo.


"Kenap..." ucap Fany terputus karena Ardhi langsung menjawabnya.


"Kita sahabatan kan? Boleh dong ya cium kening doang." ucap Ardhi dengan terkekeh ringan melihat raut wajah Fany.


"Tapi , apa iya gue yang juga merindukan dia bertahun-tahun dan akan tetap menjadi seorang sahabat?" ucap Ardhi dalam hati yang entah mengapa merasa bimbang dengan perasaannya sendiri.


"Yaudah ayo kita makan. Aku udah laper nih." ucap Ardhi lagi.


"Iya deh." ucap Fany kemudian berjalan menuju meja makan dan memanggil waiters untuk memesan makanan.


"Besok aku mau kerumah kamu. Lama banget nggak ketemu Om sama Tante." ucap Ardhi .


"Boleh , dateng aja nggak apa-apa kok. Pasti Mama Papa seneng." ucap Fany "Terimakasih " ucapnya lagi pada pelayan yang mengantarkan menu makanannya. Dan Ardhi hanya tersenyum memandang Fany.


"Kenapa lihatin aku kayak gitu?" ucap Fany pada Ardhi.


"Nggak kok , lucu aja lihat kamu habis nangis itu masih sama kayak dulu nggak berubah yaa." ucap Ardhi yang membuat Fany memanyunkan bibirnya seolah sedang ngambek.


"Tauk deh , baru juga dateng di hidup gue belum lama udah bikin kesel aja." ucap Fany dengan mengaduk-aduk makanan dihadapannya.


"Enggak deh enggak , yaudah ayo makan. Habis ini kita pulang." ucap Ardhi yang kemudian memakan makanan yang dipesannya.


Mereka makan dengan suasana tenang dan dengan perasaan bahagia sampai makan malam mereka selesai.


Mereka berdua pun keluar dari restoran dan menunju ke dalam mobil untuk pulang ke apartemen. Sepanjang perjalanan mereka saling bercerita tentang masa-masa yang lalu yang pernah di alaminya. Sampai tak terasa mobil sudah masuk kawasan apartemen. Dan mereka berdua turun dari mobil lalu masuk ke dalam apartemen menuju lift lalu pergi kamar apartemen mereka masing-masing.


"Ya Tuhan , mimpi apa sih gue semalem? Sekarang bisa sebahagia ini?" ucap Fany dalam hati dengan senyum-senyum sendiri sambil merebahkan tubuhnya pada ranjang.


Diliriknya jam dinding kamarnya , jam menunjukkan pukul 20.00 wib. Namun kakaknya belum juga kembali ke apartemen. Ia pun bangkit dari ranjang menuju kamar mandi. Ia berendam di bathtub dengan air hangat untuk merilekskan tubuhnya sejenak.


Fany menyelesaikan ritual mandinya dan memakai pakaian tidurnya. Ia naik ke ranjang dan membaringkan tubuhnya lalu tak lama kemudian , ia pun terlelap.


 


Pukul 22.00 wib , Irfan baru pulang dari kantornya. Ia masuk ke apartemen dengan hati-hati. Ia tau jika adiknya sedang tertidur. Irfan membuka pintu kamarnya yang dipakai Fany tidur , pintunya tak dikunci. Ia masuk dan memberikan selimut tebal diatas tubuh Fany. Ia memandang sejenak wajah Fany , lalu tersenyum.


"Semoga kamu bahagia sama dia dek. Kakak tau dia orang yang baik." ucap kakaknya yang kemudian keluar dari kamar itu menuju kamar sebelah untuk mandi dan mengistirahatkan tubuhnya yang terasa sangat lelah.


*


*


*


*

__ADS_1


❤️❣️


__ADS_2