
Ardhi memarkirkan mobilnya di parkiran kemudian membuka pintu mobil untuk keluar. Dengan setelan jas hitamnya , ia berjalan memasuki kantor dan menuju ruang kerjanya. Karena saat ini sedang menunjukkan pukul setengah satu , maka kantor tampak sedikit sepi karena pegawainya sedang beristirahat.
Ardhi membuka pintu ruang kerjanya lalu memasukinya. Dilihatnya , terdapat beberapa dokumen penting diatas meja yang harus di tanda tangani oleh dirinya. Ia pun meletakkan laptopnya di atas meja lalu duduk di kursi kebanggaannya.
Ardhi membuka dokumen itu satu persatu , membacanya dengan teliti kemudian menandatanganinya. Setelah beres semua , ia membuka laptopnya. Ketika ia sedang fokus menatap layar laptopnya , terdengar ketukan di pintu.
"Masuk." ucap Ardhi tanpa berpaling dari laptop dihadapannya.
Bima masuk keruang kerja Ardhi sambil membawa laptopnya beserta satu dokumen. Bima duduk di sofa dan melihat Ardhi yang tengah fokus. Ia menahan tawanya ketika melihat raut wajah Ardhi tampak masam karena kurang tidur.
"Ada apa?" Tanya Ardhi tanpa melirik sobatnya, ia sudah yakin pasti Bima hanya mau membicarakan tentang dirinya semalam.
"Enggak , nungguin lo doang bentar lagi kita meeting." ucap Bima dengan santai.
"Dah tau gua!" ucap Ardhi tanpa ekspresi.
"Yah elah bos , lo mukanya gitu amat. Kayaknya gua beneran udah bikin masalah besar deh semalem." ucap Bima seolah merasa bersalah.
"Terserah lo mau ngomong apaan. Gua gak peduli!" ucap Ardhi dengan ketus.
"Tapi lo beneran udah tidur sama dia? Serius lo?" ucap Bima menatap Ardhi menunggu jawaban.
"Kalo iya kenapa? Bukan urusan lo juga kan jadi udah deh gak usah bawel!" ucap Ardhi dengan santainya.
"Lo apain dia gila lo ya! Lo udah..." ucap Bima menggantungkan ucapannya.
"Udah apa? Udah main? Sorry lah ya , gua tuh tidur doang gak ada kegiatan apapun kayak yang ada di otak lo itu!" Ucap Ardhi dengan tenang.
"Wow ini sih sulit di percaya." ucap Bima dengan tersenyum.
"Gua kan cowok baik-baik jadi gak berani kayak lo!" ucap Ardhi dengan santai.
"Kok kayak gua sih? Gua juga belum pernah tauk! Sembarangan aja lo ngomong!" ucap Bima dengan kesal.
"Udah yuk cepetan meeting-nya dimulai , gua buru-buru nih!" ucap Ardhi sambil lekas berdiri.
"Buru-buru mau kemana lagi sih lo?" tanya Bima dengan heran.
"Mau pulang , gua kesini cuma meeting doang. Gua gak bisa ninggalin cewek gua sendirian." ucap Ardhi dengan santai.
"Kenapa gak lo bawa aja sih tadi?" ucap Bima.
"Gak mau lah , ntar lo tau gua ngapain aja." ucap Ardhi dengan tertawa yang kemudian berjalan keluar dari ruangannya menuju ke ruang meeting.
"Ternyata yang otaknya geser bukan cuma otak gua doang ya!" ucap Bima terkekeh sambil mengikuti langkah Ardhi.
"Udah lo diem , jaga mulut lo!" ucap Ardhi dengan fokus berjalan.
Sesampainya di ruang meeting , Ardhi menunggu beberapa saat yang kemudian segera memulai acaranya.
Meeting yang berlangsung selama satu setengah jam itu sudah sukses ia pimpin dengan sempurna.
Ardhi keluar dari ruang meeting lalu menuju ruang kerjanya sendiri. Ia terduduk di kursi dan fokus menatap layar laptopnya. Ia menyandarkan punggungnya kebelakang lalu memejamkan matanya sesaat.
Namun tak lama kemudian , ponselnya bergetar dan berdering di atas meja. Ia membuka matanya dan meraih ponselnya. Seketika matanya langsung terbuka lebar saat ia baca panggilan masuk dari kak Irfan. Ardhi pun dengan cepat menjawabnya.
"Halo bang..." sapa Ardhi.
"Hei kamu dimana?" tanya Irfan.
"Lagi di kantor bang ini , ada apa?" ucap Ardhi.
"Ouhh gitu... Boleh minta tolong gak? Nanti temenin Fany dirumah 2 hari ya. Tadi udah tak bilangin dia. Bi Ina pulang tiga hari trus mama papa masih harus disini soalnya belum selesai urusannya." ucap Irfan yang langsung to the point.
"Emm iya deh bang oke aja." ucap Ardhi dengan santai.
"Abang percaya sama kamu , jagain Fany ya. Abang yakin kamu orang baik." ucap Irfan dengan suaranya yang tenang.
"Iya bang. Aku bakal jagain dia dengan baik dan fulltime. Tenang aja , dia pasti baik-baik aja." ucap Ardhi dengan tersenyum.
"Oke Abang percaya , tapi jangan di apa-apain dulu ya. Hahaha..." ucap Irfan dengan tertawa di seberang sana.
"Wahh ya nggak dong bang. Nggak berani macem-macem." ucap Ardhi.
"Ya Abang tau sih kita nggak beda jauh lah ya umurnya , jadi sewajarnya aja yang penting tau batasan." ucap Irfan.
"Emm tenang aja lah bang kita enggak aneh-aneh kok." ucap Ardhi dengan tenang.
"Iya iya percaya , yaudah pokoknya kamu urus dulu anak manja itu ya. Abang bentar lagi ada acara , udahan dulu ya." ucap Irfan.
"Iya bang , salam sama om tante ya." ucap Ardhi.
"Kok om tante sih? Mama papa dong! Hehe..." ucap Irfan dengan terkekeh disana.
"Iya iya bang terserah Abang aja lah." ucap Ardhi dengan tersenyum.
__ADS_1
"Ya udah , sampe ketemu besok." ucap Irfan yang kemudian menutup sambungan teleponnya.
Ardhi tersenyum sambil meletakkan ponselnya di meja. Ia melirik jam tangannya , kini waktu sudah menunjukkan pukul 15.35 wib. Ardhi bersiap pulang dengan mengambil ponsel serta laptopnya.
Ardhi mengetuk pintu ruang kerja Bima lalu membukanya sedikit. Ia hanya mencondongkan tubuhnya untuk melihat didalam. Dan di sana Bima sedang fokus pada layar ponselnya.
Mengetahui bosnya datang , Bima meletakkan ponselnya ke meja dan berdiri.
"Ada apa?" tanya Bima.
"Gua mau pulang , jadi gua nitip ini. Lo kasih ke gebetan lo." ucap Ardhi sembari meletakkan sebuah dokumen di meja Bima. Bima pun heran dengan ucapan Ardhi itu.
"Maksud lo... Aera?" tanya Bima.
"Lah iya kan? Atau malah udah jadian?" ucapan Ardhi membuat Bima tertawa.
"Sembarangan lo kalo omong! Butuh waktu juga kali nggak asal jadian." ucap Bima dengan tenang.
"Lo tuh kelamaan , langsung aja napa? Ntar di ambil orang baru tau rasa lo!" ucap Ardhi dengan santai.
"Lo tuh doain aja yang baik-baik jangan yang jelek gitu!" ucap Bima.
"Udah ah gua pulang dulu." ucap Ardhi yang kemudian bergegas menuju pintu dan keluar.
Bima menatap kepergian bosnya , setelah keluar dari ruangannya Bima kemudian meraih ponselnya. Ia mencari kontak yang bertuliskan Aera di ponselnya. Lalu ia mengirim sebuah pesan padanya.
Sebenarnya ia bisa mengantarkan berkas itu sendiri , namun ia ingin Aera datang kepadanya.
Aera yang sedang menginput data itu menghentikan aktivitasnya ketika mendengar notif di ponselnya. Ia membaca pesan dari Bima lalu ia segera beranjak menuju ruang kerjanya.
Ia mengetuk pintu dan mendengar Bima menyuruhnya masuk. Aera masuk dan melihat Bima tengah fokus bekerja. Aera pun berdiri di depan meja menghadap Bima.
"Pak... Pak Bima manggil saya ada apa?" ucap Aera dengan tenang.
"Duduk dulu." ucap Bima tanpa meliriknya kemudian Aera duduk. Aera terdiam menatap Bima yang masih saja fokus. Sesaat kemudian , Bima menghentikan kegiatannya dan menatap Aera.
"Ada dokumen yang harus kamu simpen nih." ucap Bima seraya menyerahkan dokumen yang tadi diberikan oleh bosnya.
"Oh ini , iya nanti saya simpan." ucap Aera dengan menerima dokumen itu.
"Kamu lagi banyak kerjaan nggak?" ucap Bima bertanya kepada Aera.
"Ada kerjaan sih cuma nggak banyak. Ada apa?" ucap Aera.
"Ya udah kalo gitu nanti bisa dong jalan?" ucap Bima dengan tersenyum.
"Langsung aja pulang dari kantor ini. Gimana? Mau kan?" ucap Bima menatapnya penuh harap.
"Kemana?" tanya Aera.
"Kemana pun kamu mau deh yang penting jalan." ucap Bima dengan tersenyum.
"Emm baiklah." ucap Aera dengan tersenyum. Hatinya kini benar-benar merasa senang.
"Ya udah kamu kembali ke ruangan kamu. Cepat selesaikan tugas kamu dan siap-siap kita jalan." ucap Bima dengan tenang namun kalimatnya terdengar memerintah.
"Baik pak. Saya permisi." ucap Aera dengan tersenyum lalu melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Bima.
Ada setitik harapan di dalam hati Bima , ia ingin mengungkapkan perasaan pada wanita itu. Aera adalah gadis yang baik. Aera juga memiliki paras yang cantik dan mempesona. Ia bahkan sering mendengar dari bawahannya jika gadis itu pernah menolak beberapa pria di satu kantor ini hanya karena ia masih ingin fokus bekerja.
Bima bukan hanya sekedar penasaran , namun di dalam hatinya juga menyimpan rasa. Ia berharap jika nanti gadis itu tidak menolaknya seperti pada pria lain yang berusaha mendapatkannya.
...----------------...
Ardhi pulang ke apartemennya sebelum pulang ke rumah Fany. Ia ingin mengambil beberapa baju untuk menginap di rumah kekasihnya lagi. Ia menyiapkan koper kecil dan menata keperluannya seperti baju rumahan serta baju kantor lengkap dengan jasnya. Tak lupa ia juga membawa sepasang sepatunya.
Setelah dirasa semua sudah beres , Ardhi segera menyeret kopernya keluar dari apartemennya. Ia segera pergi karena sudah sore dan kemungkinan sampai dirumah Fany pun telah malam. Ia harus berada disana saat malam tiba.
Ardhi mengemudi mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia sudah fasih dalam berkemudi sehingga ia bisa mendahului kendaraan lain dengan selamat. Ardhi memang suka mengemudi dengan kecepatan penuh jika hanya sendirian. Namun jika ia sedang bersama kekasihnya atau orang tuanya, kecepatan sedang pun sudah di anggap kecepatan penuh.
Setibanya di rumah Fany waktu sudah menunjukkan pukul 18.25 wib. Ardhi mengetuk pintu dengan membawa sebuah koper di belakangnya. Tak lama kemudian , pintu terbuka dan muncullah Fany dari dalam.
"Hai Sayang, maaf ya lama tadi ada yang harus diselesaikan dulu dikantor." ucap Ardhi dengan tersenyum.
"Iya nggak apa-apa kok. Masuk dulu aja." ucap Fany dengan membuka pintu lebar. Ardhi pun masuk sembari menyeret kopernya kemudian Fany menutup pintu dan menjajarkan langkahnya di samping Ardhi.
"Bawa apa aja sampe segitu?" tanya Fany dengan heran.
"Bawa baju ini tuh. Baju harian sama buat ngantor." ucap Ardhi.
"Emm , yaudah deh kamu ke atas sana dulu aku mau lanjutin masak buat makan malam kita nanti." ucap Fany dengan tersenyum.
"Iya istriku tersayang..." ucap Ardhi dengan tersenyum manis yang kemudian mencium kening Fany. Fany pun membelalakkan matanya menatap Ardhi dengan heran.
"Cepetan, keburu laper aku!" ucap Fany dengan menggampar pelan bahu Ardhi yang kemudian pergi menuju dapur.
__ADS_1
Ardhi pun tersenyum senang melihat wanita yang dicintainya dalam keadaan baik-baik saja. Lelahnya seolah benar-benar menghilang melihat wajah cantik Fany yang ternyata kini sedang memasak untuknya.
Ardhi mengalihkan pandangannya dan melanjutkan langkahnya menuju kamar untuk meletakkan kopernya.
Fany menyibukkan diri di dapurnya karena ia ingin membuat masakan yang spesial untuk sang kekasih. Walaupun ia jarang memasak , namun ia sering melihat bi Ina ketika sedang memasak.
Tak lama Fany pun sudah menyelesaikan urusan di dapurnya. Masakannya sudah ia hidangkan di meja makan dan tinggallah menunggu Ardhi.
Lima menit berlalu , namun Ardhi belum juga turun dari kamar. Fany yang sudah lapar pun tak sabar menunggunya lagi. Akhirnya Fany pun melangkahkan kakinya menuju kamar atas.
Fany tiba di depan pintu dan mengetuk-ngetuk pintu berulangkali , namun tak ada jawaban dari dalam. Sekali lagi ia mengetuk pintunya , belum juga ada jawaban. Ia menarik nafas panjang , lalu mengetuknya sekali lagi namun tetap masih sunyi tak ada suara dari dalam.
Fany memutuskan untuk masuk ke dalam , ia kesal namun juga takut terjadi apa-apa. Begitu masuk ke dalam , Fany melihat laptop terbuka dan ponselnya berada disampingnya. Namun ia tak menemukan pemiliknya.
"Eh sayang kok ada di sini?" ucap Ardhi yang nampak begitu kaget akan kehadiran Fany. Fany membalikkan badannya dan melihat dimana keberadaan Ardhi. Fany pun membelalakkan matanya.
"Aaaaaaaa!!!" ucap Fany refleks teriak sangat keras sembari menutup mata dengan kedua telapak tangannya.
Ardhi berlari kearah Fany dan membungkam pelan mulutnya yang berteriak keras itu dengan satu tangannya. Ardhi takut ada tetangga yang heboh karena mendengar teriakan Fany tadi.
"Sayang stop! Udah diem , nanti tetangga kamu mikir yang enggak-enggak tentang kita." ucap Ardhi dengan panik.
"Iya aku tau tapi kamu menjauh sana deh jangan deket-deket!" ucap Fany masih saja menutup matanya.
"Emang kenapa?" ucap Ardhi heran.
"Kamu cepetan pake baju dong!" ucap Fany memerintahnya.
"Iya iya ini aku mau pake baju, kamu juga ngapain masuk?" ucap Ardhi dengan tenang.
"Aku ketuk-ketuk pintunya tapi gak ada jawaban." ucap Fany.
"Ya maaf lah aku gak tau orang baru mandi tadi ya nggak denger dong." ucap Ardhi sambil memakai celana pendek rumahan dan melepas handuk yang melilit di pinggangnya.
"Ya abis lama banget aku kira ada apa-apa yaudah lah aku masuk buat cek!" ucap Fany.
"Iya udah deh. Dah nih buka mata kamu." ucap Ardhi.
Fany membuka matanya dan kesal melihat Ardhi yang tengah duduk di tepi ranjang sedang sibuk memilih baju yang akan ia pakai. Fany terdiam menatap dada bidang Ardhi yang terpampang jelas di depan matanya.
"Cepetan pake bajunya , gak malu apa?" ucap Fany sembari mengalihkan pandangannya.
"Malu sama siapa? Sama kamu?" ucap Ardhi dengan polosnya.
"Udah ah cepetan ayo kita turun." ucap Fany.
"Kamu ajakin siapa sih lihatin situ?" ucap Ardhi dengan heran sembari melihat Fany yang tengah melihat arah sofanya.
"Aku gak bisa lihat cowok telanjang dada gitu. Nggak suka." ucap Fany dengan ketus.
"Oohhh gitu..." ucap Ardhi yang kemudian bergegas mendekati Fany dan berdiri di depannya.
"Ngapain sih kamu? Kayak anak kecil aja susah banget ya disuruh pake baju doang!" ucap Fany yang hendak mengambilkan kaos untuk Ardhi namun ditahannya. 'Mampus! Bakal diapain gua?' ucap Fany dalam hati.
"Kenapa nggak bisa lihat padahal kalo di pantai itu banyak banget yang nggak pakai baju." ucap Ardhi dengan sok terheran-heran.
"Ya nggak tau nggak suka aja!" ucap Fany.
"Tapi kan aku calon suami kamu , yakin gak suka? Banyak loh yang lirik aku dimana-mana." ucap Ardhi dengan penuh percaya diri.
"Over PD kamu tuh!" ucap Fany dengan membalik kanankan tubuhnya, ia ingin segera pergi dari kamar ini.
Selangkah lagi ia sampai di pintu untuk meraih daun pintunya , namun nyatanya Fany gagal. Fany terhenti ketika ia merasakan tubuhnya di peluk dari belakang. Ya, Ardhi melingkarkan tangannya merangkul kekasihnya.
Ardhi meletakkan dagunya di bahu Fany dengan manja. Fany pun merasa benar-benar risih karena dipeluk oleh pacarnya yang masih juga belum memakai baju itu.
"Please deh jangan kayak gini."Ucap Fany dengan berusaha melepaskan diri.
"Biar kamu terbiasa sayang , karena aku akan sering lakukan ini ke kamu." ucap Ardhi dengan tenang.
"Jangan aneh-aneh deh!" ucap Fany dengan takut.
"Enggak kok cuma pengen peluk sebentar aja." ucap Ardhi dengan tenang. Dan tak lama kemudian, Ardhi melepaskan tubuh Fany lalu meraih salah satu kaos di ranjangnya.
"Ayo kita makan." ucap Ardhi dengan menenteng kaosnya sembari membuka pintu dan mengajak Fany keluar.
'Disaat gua was-was takut di apa-apain , dia biasa aja ke gua. Di saat gua yakin gak akan terjadi apa-apa , dia malah mainin gua seenak jidatnya! Dasar cowok emang gak beres semua yah!' ucap Fany dalam hati dengan mengikuti langkah Ardhi yang sedang memakai kaosnya sambil menuruni tangga.
Fany cukup mengelus dadanya merasa bersyukur untuk yang kesekian kalinya karena ia memang benar-benar dijaga dengan baik. Mungkin pria lain akan sangat memanfaatkan moment seperti ini untuk bersenang-senang , namun tidak dengan kekasihnya.
Ah betapa beruntungnya menjadi seorang Fany yang di sayangi sepenuh hati oleh pria tampan yang membuat perempuan lain tergila-gila.
❤️
❤️
__ADS_1
❤️
❤️l.a.f🌻❤️