
Detak jantung berdegup tak beraturan. Hari-hari yang dilaluinya terasa begitu cepat. Semua pernak pernik sudah didepan mata. Gaun yang sangat indah itu sudah melekat dengan sempurna di tubuhnya. High heels pun juga sudah terpakai di kakinya.
Tak terasa, butiran air bening mengalir begitu saja di pipinya yang mulus putih bersih itu. Ia mengusapkan tisu untuk mengelap pipinya yang basah. Ia masih tak percaya dengan apa yang akan terjadi saat ini. Ia benar-benar akan bertunangan dengan lelaki itu.
Suatu kebahagiaan yang tiada terkira untuknya. Tak pernah ia sangka bahwa ia akhirnya benar-benar di cintai oleh lelaki yang juga ia cintai. Ia bersyukur atas kebahagiaan yang ia rasa. Lelaki yang ia cintai dengan sungguh-sungguh itu akan membuktikan cintanya di depan orang tuanya dan juga keluarga besar.
Karena pagi ini kedua orangtua sudah berangkat lebih awal ke gedung pertunangannya, maka Fany akan berangkat dengan di temani oleh kakak tercintanya.
Kemampuannya dalam ber-make up memang sudah mahir, namun MUA tetap di datangkan khusus untuk merias wajah cantik serta rambut panjangnya. Kini Fany duduk didepan cermin dan menutup matanya sesaat ketika ia sedang di make up.
"Oke semuanya udah selesai. Sekarang buka mata kamu, cantik banget ya... Beruntung sekali calon suamimu. Berhasil mendapatkan gadis secantik ini." ucap MUA yang usianya terlihat cantik ke ibuan itu.
"Ah ibu, bisa aja deh... Tapi ini beneran sempurna banget make-upnya. Makasih banyak ya Bu aku suka banget." ucap Fany dengan tersenyum.
"Iya cantik, itu karena Ibu memang selalu usahakan yang terbaik. Jadi ibu tidak ingin ada yang kecewa dengan kemampuan ibu." ucap MUA itu.
"Iya Bu... Terimakasih banyak ya..." ucap Fany kembali.
Fany kembali terdiam menatap dirinya di dalam cermin itu. Ia tersenyum simpul. Lagi-lagi ia membayangkan suasana meriah ketika banyak teman dan kerabat keluarga besar dengan antusias menunggunya.
"Dek... Udah? Wow cantiknya..." ucap kak Irfan yang tengah berada di ambang pintu dan menatapnya dengan tersenyum.
"Kakak bisa aja. Aku udah selesai kok. Mau berangkat kapan?" ucap Fany dengan tersenyum.
"Emm... Kalo gitu berangkat sekarang aja." ucap kak Irfan.
"Ya udah deh. Ayo kita jalan." ucap Fany yang kemudian berdiri meraih ponselnya.
Fany berjalan bersama-sama dengan kakak tercintanya menuruni tangga. Mereka berdua pun keluar dari rumah menuju garasi dan masuk ke dalam mobil.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang dan membelah jalanan yang ramai. Beberapa saat kemudian, Fany merasa telapak tangannya berkeringat dingin karena ia tahu gedung pertunangan semakin dekat.
"Kak... Aku kayak masih gak percaya sama apa yang akan terjadi. Aku takut..." ucap Fany dengan memandang ke arah kakaknya yang berada di sampingnya.
"Tenang aja, nggak usah takut. Santai dong. Ini hari bahagia kamu kamu harus senang jangan takut." ucap kak Irfan.
"Iya kak aku tau. Eum... Kakak kapan nikahnya? Kalau kita udah sama-sama nikah udah gak bisa jalan-jalan kayak dulu dong?" ucap Fany sembari menyandarkan kepalanya di bahu kakaknya dan merangkul lengannya.
Ucapan Fany dengan menundukkan kepalanya itu membuat hati Irfan sedikit tersentuh. Ia benar-benar sangat menyayangi adik satu-satunya ini. Irfan pun membelai lembut kepala Fany yang berada di bahunya.
"Kakak sayang banget sama kamu dek. Ini udah jadi pilihan kamu. Semoga kamu selalu bahagia sama Ardhi. Begitupun kakak, kakak nanti juga pasti akan bahagia. Sekalipun kita udah tua nanti, kita tetap bisa jalan-jalan bersama keluarga kita dek. Kan tambah rame..." ucap kak Irfan dengan tersenyum.
"Iya kak, suatu saat nanti kita liburan bareng ya sama keluarga kita masing-masing dan sama mama papa juga." ucap Fany dengan tersenyum.
"Iya dek. Oh iya, satu hal juga yang perlu kamu tahu. Kakak nggak akan benar-benar lepasin kamu gitu aja meskipun ada lelaki yang udah kamu pilih. Kakak tetap akan jagain kamu sebaik-baiknya. Karena sampai kapanpun, kamu itu tetaplah adiknya kakak. Dan Ardhi juga sebagai pendamping hidup kamu, semoga dia menyayangi kamu sama seperti kakak sayang ke kamu ya..." ucap kak Irfan yang kemudian mencium kening Fany dengan tulus.
"Makasih banyak ya kak. Kakak dari dulu selalu jagain aku. Kakak selalu peduli sama aku. Aku juga sayang banget sama kakak dan akan tetap selalu menyayangi kakak sampai kapanpun." ucap Fany dengan tersenyum yang kemudian mencium pipi kakaknya dengan cepat.
"Eh apaan sih pake cium-cium segala!" ucap kak Irfan dengan mengusap-usap pipi yang di cium Fany tadi.
"Apaan sih di cium gitu aja gak mau!" ucap Fany dengan menatapnya heran.
"Ih geli tauk!" ucap kak Irfan.
"Dasar! Coba kalo yang nyium kakak itu kak Fika pasti langsung di bales!" ucap Fany dengan merangkul erat lengan kakaknya kembali.
__ADS_1
"Anak kecil tau apa sih lu? Hah?" ucap kak Irfan dengan menjitak dahi Fany.
"Nyebelin yah! Tauk deh anak kecil udah mau tunangan aja. Lu kapan?" ucap Fany dengan santai sembari menatap kakaknya.
"Sebagai kakak yang baik, kakak ngalah aja dulu buat kamu. Urusan kakak masih banyak yang belum kelar. Cowok tuh beda sama cewek. Cewek itu kebutuhannya banyak. Sedangkan cowok itu harus bisa tanggung jawab atas segala sesuatu tentang apa yang dibutuhkan ceweknya. Prinsip kakak sih simpel, sama kayak calon suami kamu. Bekerja keras dulu, kalau udah yakin mampu kasih makan anak orang yang udah di pilih dengan jerih payahnya sendiri oke lanjutkan berjuang bersama. Gitu..." ucap kak Irfan panjang lebar yang membuat Fany tersenyum mendengarnya.
"Beruntungnya kak Fika... Dapetin Abang gua yang sesempurna ini..." ucap Fany dengan tersenyum.
"Alay deh!" ucap kak Irfan.
Tanpa sadar, mobil telah berhenti dan kini jantung Fany yang sedari tadi sudah tenang kembali berdetak tak beraturan.
"Ayo turun." ucap kak Irfan setelah pintu mobil terbuka.
"Kak..." ucap Fany menatap wajah kakaknya dengan tatapan polos.
"Adek ayo... Kita udah di tungguin loh... Sini gandeng kakak deh." ucap kak Irfan dengan sabar sembari mengulurkan tangannya.
Fany menyambut uluran tangan Irfan dan turun dari mobil. Dengan langkah tenang, Fany berjalan beriringan dengan sang kakak menuju ke dalam ruang yang telah didekorasi sangat cantik. Irfan pun membawa Fany masuk kedalam ruang make up dan bertemu orang tuanya.
"Hai Fany! Cantik banget ya yang mau dilamar." ucap Airin begitu masuk kedalam ruangan itu.
"Eummm... Lo tega ya sama kita! Lo udah mau tunangan, terus bentar lagi lo nikahan dong. Kita gak bisa jalan bertiga lagi besok..." ucap Zahra dengan memeluk Fany.
"Tenang. Gua nikahnya masih lama. Gua harus lulus kuliah dulu bareng kalian. Kita juga tetep bisa jalan bertiga kok. Kemana aja kita bisa. Udah dong jangan sedih gitu... Jangan bikin gua nangis lagi. Ntar aja kalo mau bikin gua nangis kalo udah selesai acara. Lo gak kasian gua apa, bedak gua luntur mulu tauk!" ucap Fany sembari menepuk-nepuk pipinya yang basah dengan tissue. Air matanya benar-benar terus merembes tak terhenti karena terharu.
"Udah sayang , kalian jangan nangis terus ya. Kalian itu masih bisa bersama-sama seperti hari-hari kemarin kok. Dah yuk kita siap-siap , bentar lagi kita di panggil keluar." ucap Mama Vina dengan tersenyum kepada putrinya dan juga Airin serta Zahra.
Dengan langkah perlahan namun pasti, Fany di gandeng oleh mama papanya di kanan dan kirinya. Di belakangnya ada Airin dan Zahra , tak ketinggalan pula di belakangnya lagi ada sang kakak beserta kekasihnya.
Kini, suasana di dalam aula itu tampak tenang. Dari kejauhan, Fany tampak melihat kekasih beserta orang tuanya sedang duduk menantikan kehadiran dirinya.
Airin , Zahra , dan sang kakak yang menggandeng kekasihnya pun melangkahkan kakinya untuk duduk di kursi tamu paling depan. Mereka akan melihat acara pertunangan itu dan akan menjadi saksi atas janji yang di ucapkan Ardhi kepada Fany nanti.
Sang MC profesional pun mengiringi sesi demi sesi di acara itu. Sampai tiba pada saatnya dimana Ardhi kini harus mengucapkan apa yang seharusnya ia sampaikan.
Dengan penuh percaya diri, Ardhi berdiri dari duduknya dengan tersenyum tenang. Tampangnya yang begitu sempurna membuat Fany tak henti-hentinya bersyukur didalam hati atas semua yang telah ia lalu hingga pada akhirnya kini ia benar-benar akan bersatu dalam ikatan pertunangan.
"Puji Tuhan. Terimakasih atas semua yang telah berkenaan hadir di sini. Semuanya. Dua keluarga besar dan juga teman-teman. Disini , saya membawa kedua orang tua dan keluarga besar karena saya ingin membuktikan kepada mereka bahwa berdirinya saya disini adalah, karena saya berniat untuk memohon izin kepada kedua orang tua dari wanita yang sangat saya sayangi dan saya cintai, Tifany Anindya Putri. Papa , Mama , izinkanlah saya untuk mencintai dan menyayanginya. Izinkanlah saya menjaganya , izinkanlah saya bersama-sama dengannya serta membahagiakannya. Saya berjanji , saya akan memberikan kebahagiaan untuk putri kalian Ma Pa. Oleh karena itu saya mohon, restuilah kami." ucap Ardhi dengan tenang dan tersenyum ketika ia melihat orang tua Fany mengangguk-anggukkan kepalanya yang disertai senyuman manis. Ia juga terharu ketika memandang Fany yang tengah menepuk-nepuk sehelai tissue pada sudut matanya yang terisi genangan air mata. Ardhi pun menarik nafas pelan dan menghembuskannya perlahan agar dirinya lebih rileks sebelum ia melanjutkan ucapannya.
"Perjalanan kami sangat panjang. Kisah cinta kami penuh dengan perjuangan. Dia adalah cinta pertama saya sejak saya masih menjadi anak kecil. Terimakasih atas kesabaran yang luar biasa kamu punya. Terimakasih kamu telah menerima segala kekurangan dan kelebihan dari saya dengan baik. Tifany Anindya Putri... Aku mencintaimu. Maukah kamu menjadi istriku?" ucap Ardhi dengan menahan air matanya yang tampak menggenangi kelopak matanya.
Ardhi menurunkan mic yang ia pegang dan menatap Fany dengan tersenyum. Sang MC pun tampak memberikan mic dan mempersilahkan Fany untuk berdiri dan menjawab apa yang telah Ardhi ungkapkan. Kini Fany mengambil mic dan lekas berdiri dengan menahan rasa gugupnya.
"Terimakasih , terimakasih saya sangat bersyukur kepada Tuhan atas segala sesuatu yang telah Ia berikan sejauh ini pada kita semua. Terimakasih atas keseriusan kamu sampai pada akhirnya kau mampu membuktikannya di depan seluruh keluarga besar dan teman-teman semua yang ada di sini." ucap Fany yang kemudian terhenti berucap.
Ia tampak mengusapkan jemarinya dengan lembut di bagian bawah kelopak matanya. Ia menangis tatkala ia melirik ke arah kakaknya di barisan kursi tamu paling depan. Hatinya tiba-tiba berdesir, menatap kakaknya yang juga menatapnya dengan tersenyum. Ia belum pernah melihat kakaknya tersenyum setenang itu padanya.
Ada sekelebat rasa bersalah didalam hatinya. Mengingat ia kini mendahului sang kakak menuju pelaminan. Namun mau bagaimana lagi , semua telah berjalan sampai di sini dimana semua pihak keluarga pun menyetujui acara ini.
Ardhi pun tersenyum memandang kekasihnya yang tengah berusaha menahan air matanya agar tak kembali jatuh. Fany pun menatapnya dan senyuman itu membuat Fany merasa lebih tenang. Kini Fany harus memutar otaknya kembali untuk melanjutkan kata-katanya yang sempat terhenti.
"Emm... Sekarang , aku sangat berterima kasih kepada Mama dan Papa karena udah memberikan restu untuk kita berdua. Dan karena kita memang sudah saling mengenal dan mencintai, maka dari itu udah nggak ada alasan bagi aku untuk menolak lamaran dari kamu." ucap Fany dengan tersenyum sembari menurunkan mic.
Suara tepuk tangan sangat meriah bahkan ada pula yang bersiul lantang. Kakaknya tampak tersenyum bahagia serta kedua sahabatnya pun sangat terharu menyaksikan moment yang sangat membahagiakan ini.
__ADS_1
Masih ada beberapa sesi berikutnya yang masih berlangsung. Kini tampak Fany sedang di pasangkan kalung berlian cantik oleh Mama Anisa , sang ibu mertuanya. Kalung itu membuat penampilan Fany semakin cantik dan anggun.
Terakhir, Ardhi dan Fany kini di arahkan untuk saling berhadapan untuk saling memasangkan cincin. Mereka di tuntun untuk saling mengucap janji atas pertunangan mereka dengan memasang cincin. Cincin yang melingkar di jari manis masing-masing adalah simbol pertunangan mereka bahwa mereka kini sudah saling terikat.
Ucapan demi ucapan telah disampaikan oleh kedua belah pihak. Serah terima pun sudah di lakukan dengan baik. Kini tak terasa waktu telah berakhir dengan penuh kebahagiaan. Tampaknya kini semua keluarga dan sahabat pun berfoto-foto secara bergantian.
"Eummm kesayangan kita udah ada yang punya nih sekarang... Semoga lancar sampai hari pernikahan ya. Oh iya! Jagain sahabat gue dengan baik dan benar. Awas aja kalo sampe lo jahatin. Gue gebukin lo!" ucap Airin yang tadinya memeluk Fany kini tampak menatap Ardhi dengan tatapan membunuh.
"Santai dong. Gue jagain 100% dia gak akan pernah lecet sedikitpun. Tenang aja lo serahin sahabat lo satu ini ke gue, aman..." ucap Ardhi dengan tersenyum manis.
"Gua pegang kata-kata lo yah!" ucap Zahra dengan gayanya yang sok ketus.
"Gua rasa lo lebih galak yah daripada mertua gua." ucap Ardhi dengan santai.
"Iya karena kita gak mau aja lo bikin dia nangis besok." ucap Airin.
"Kalo dia nangis, gua bakal kalian apain emang?" ucap Ardhi seolah menantang.
"Tergantung seberapa parah lo bikin dia nangis dong." ucap Zahra dengan tersenyum.
"Woy stop! Kalian mah ribut mulu, tenang aja deh gua punya cara tersendiri buat gua kalo sakit hati karena dia. Jadi kalian santai aja..." ucap Fany dengan tersenyum manis kepada kedua sahabatnya itu.
Ucapan Fany sukses membuat Ardhi mengerutkan keningnya sendiri karena heran.
"Apaan emang?" ucap Ardhi bertanya pada tunangannya itu.
"Ada deh." ucap Fany dengan tersenyum simpel.
"Enggak akan sayang. Kamu nggak akan pernah menangis karena aku. Aku yakin kalaupun kamu nangis itu karena nangis bahagia." ucap Ardhi dengan tersenyum.
Ucapan Ardhi membuat Airin dan Zahra tersenyum-senyum.
"Calon suami lu bucin juga yah... Moga aja kalian bahagia terus." ucap Airin dengan menepuk-nepuk bahu Fany.
"Eumm... Makasih ya kalian emang sahabat terbaik deh buat gue. Kalian udah ada di acara gue dari awal sampai akhir. Thank you banget ya, gue sayang sama kalian..." ucap Fany dengan memeluk kedua sahabatnya beberapa saat.
"Iya iya kita juga sayang banget sama lu. Pokoknya kita harus sama-sama apapun keadaannya. Entah itu susah ataupun senang kita lewatin bersama." ucap Zahra tersenyum didalam pelukan.
Mereka pun melepaskan pelukannya.
"Kalau gitu gue sama Zahra pulang dulu ya. Lu juga cepetan istirahat lu pasti capek banget." ucap Airin berpamitan.
"Iya deh kalian hati-hati ya dijalan." ucap Fany dengan tersenyum.
"Iya. Lu juga ya. See yaa..." ucap Zahra dengan melambaikan tangannya, Fany pun juga melambaikan tangannya melihat kedua sahabatnya yg perlahan menghilang.
Ardhi pun tersenyum memandang wajah cantik tunangannya. Ia masih terpesona dari awal sampai detik ini acara berakhir. Ia bahagia akhirnya dirinya benar-benar telah membuktikan keseriusannya pada wanita yang sangat di cintanya itu.
❤️
❤️
❤️
❤️
__ADS_1
❤️l.a.f🌻❤️