Love Always Forever (Tanpamu , Bagaimana Aku?)

Love Always Forever (Tanpamu , Bagaimana Aku?)
Kesabaran Ekstra


__ADS_3

Entah sejak kapan pergelangan tangan Aera di genggam pria di sampingnya itu , namun rasanya sangat nyaman. Ini memang bukan pertama kalinya ia jalan dengan Bima, tapi rasanya malam ini benar-benar merasa berbeda.


Bima berhenti dan mengajaknya duduk di sebuah kursi pada taman itu. Ia terlihat seperti bingung mau mulai dari mana. Bima tampak kaku tak seperti biasanya karena biasanya ia sangat mudah mengatakan sesuatu namun saat ini, ia benar-benar merasa sulit.


"Lihatin apa?" tanya Bima pada Aera yang tengah mendongakkan kepalanya.


"Bintang , banyak banget ya pak bintangnya." ucap Aera dengan tersenyum yang membuat Bima mencoba menepis rasa gugupnya. Bima pun menarik nafasnya dalam-dalam dan menenangkan dirinya.


"Masih aja panggil pak. Emang gak bisa ya manggilnya aku kamu aja gitu?" ucapan Bima membuat Aera menatapnya sesaat. Lalu tersenyum.


"Nggak sopan dong pak. Saya kan bawahan pak Bima." ucap Aera dengan tenang.


"Tapi kan aku yang minta." ucap Bima yang membuat Aera mengerutkan dahinya. "Kamu tau nggak? Kamu bisa bikin aku semangat tiap hari. Ketemu sama kamu itu suatu kebahagiaan yang aku rasain tiap saat. Dan aku juga nggak tau itu sejak kapan..." ucap Bima dengan tenang kemudian menyandarkan punggungnya ke kursi.


Aera tampak terdiam dan terlihat sedang memikirkan sesuatu.


"Kenapa pak Bima bisa ngomong kayak gitu ke saya? Bukannya pak Bima punya pacar ya?" ucap Aera dengan hati-hati sambil melirik ke Bima yang ada di belakangnya.


"Siapa yang bilang? Orang mana?" tanya Bima.


"Banyak yang bilang kok , tapi udah lama sih pak." ucap Aera.


"Hem... Iya itu kan dulu!" ucap Bima dengan masam karena ternyata Aera juga tahu ia dulu dikenal sebagai playboy. Akan sulit sepertinya mendapatkan kepercayaan dari Aera.


"Emang sekarang udah enggak ya?" ucap Aera dengan tersenyum menatap Bima. Bima pun meluruskan duduknya dan memandang Aera.


"Aku bisa buktiin kalo kamu bakal jadi yang terakhir." ucap Bima dengan yakin dan sukses membuat Aera menatapnya sesaat lalu tertawa. "Kenapa ketawa?" tanya Bima dengan heran.


"Pak Bima jangan becanda dong!" ucap Aera di sela-sela tawanya.


"Aera aku serius." ucap Bima dengan menggenggam jemari Aera serta menatap kedua matanya. Aera pun langsung berhenti tertawa melihat keseriusan Bima didepan matanya tepat.


"A-apa?" ucap Aera tampak kebingungan mencari kata-kata.


"Aku mau kamu jadi milikku. Aku janji aku akan buktiin kalo aku bisa jaga hati aku cuma buat kamu. Nggak akan ada yang lain." ucap Bima penuh keyakinan.


Aera bingung harus bagaimana lagi. Ia juga sebenarnya bisa membuka hati untuk Bima , tapi ia masih terlalu sibuk dengan pekerjaannya.


"Aera... Mau kan? Aku janji." ucap Bima dengan sungguh-sungguh.


"Tapi pak , saya terlalu sibuk sama kerjaan. Saya takut membuat pak Bima merasa terabaikan karena saya nggak punya banyak waktu." ucap Aera dengan hati-hati.


"Kamu nggak perlu kerja sekeras itu lagi. Aku bisa cukupi semua keperluan kamu. Dan soal waktu, itu nggak masalah kok buat aku." ucap Bima yang membuat Aera tersenyum.


"Makasih banyak pak, tapi saya masih ingin bekerja keras sebelum akhirnya menjadi ibu rumah tangga." ucap Aera dengan terkekeh.


"Ya udah kalo gitu ayo kita nikah aja. Kamu akan berhenti bekerja karena menjadi ibu rumah tangga. Tapi kamu gak perlu khawatir , aku bisa tanggung jawab atas segala sesuatu tentang kamu." ucap Bima.


"Secepat itukah? Jangan buru-buru dong pak. Saya masih muda. Hehe..." ucap Aera tertawa yang kemudian membuat Bima mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Aduh Aera, please deh... Aku lagi serius sama kamu." Ucap Bima dengan rambutnya yang berantakan dan itu membuat Aera tersenyum.


"Iya iya pak, saya tau. Tapi jangan kelihatan sesefrustasi ini lah ya..." ucap Aera dengan tenang lalu mengulurkan tangannya kemudian jemarinya merapikan rambut Bima yang berantakan.


"Ae..." ucap Bima sembari meraih jemari Aera di kepalanya lalu digenggamnya. Bima menatap Aera dalam-dalam. Aera masih terdiam menunggu kata-kata apa yang akan Bima ucapan selanjutnya.


"Ae... Aera kamu mau kan jadi pacar ku?" ucap bima.


"Oke , saya mau tapi... Sekali aja ketahuan ada main di belakang saya , nggak akan ada maaf buat pak Bima dan jangan harap saya bisa memberi satu pun kesempatan lagi." ucap Aera dengan tenang kemudian tersenyum.


"Aku akan buktiin kalo aku bisa menjadikan kamu satu-satunya cewek yang aku perjuangkan dan aku jaga. Pegang kata-kataku." ucap Bima yang kemudian meraih tubuh Aera lalu memeluknya sesaat.


"Udah udah pak lepasin! Di lihat orang malu tauk!" ucap Aera sambil berusaha melepaskan dirinya dari pelukan Bima.


"Aera... Jangan panggil pak lagi dong. Kayak pacaran sama om-om aja kamu." ucap Bima dengan malas. Dan hal itu membuat Aera terkekeh geli.


"Yaudah , tapi kalo di kantor tetep manggilnya pak loh ya!" ucap Aera dengan tersenyum.


"Iya iya oke , panggilnya juga aku kamu aja deh jangan terlalu formal." ucap Bima dengan memohon.


"Baik pak ehh apa yaa masa Bima gitu? Gak enak banget dengernya." ucap Aera dengan terkekeh geli.


"Ya sayang gitu kek. Misalnya." ucap Bima tanpa menoleh ke Aera.


"Oh iya , jangan sampai ada orang kantor yang tau ya." ucap Aera dengan pelan karena takut Bima marah.


"Ada apa emang?" tanya Bima.


"Bukannya aku nggak mau hubungan kita terpublik , tapi baru seminggu yang lalu aku nolak cowok di bagian administrasi kantor. Aku gak mau dia mikir yang enggak-enggak tentang aku." ucap Aera.


"Ternyata banyak juga ya yang mau sama kamu." ucap Bima dengan tersenyum.


"Apaan sih! Tapi aku jomblo dah lama tauk karena fokus kerja. Sekitar tiga tahun ada lah gak mikir pacar. Punya pacar itu ribet banyak aturannya." ucap Aera dengan terkekeh.


"Tapi jangan di samain aku ya! Aku nggak akan ngatur kamu , apapun yang kamu suka lakuin aja. Asalkan tetap ada sedikit waktu buat aku." ucap Bima dengan tenang.

__ADS_1


"Iya siap. Tapi tergantung tugas dari pak bos aja sih." ucap Aera dengan santai.


"Tenang aja besok aku bisa ngatur itu." ucap Bima.


"Nggak perlu. Jangan rubah-rubah urusan kerjaan aku ya! Aku nggak minta kamu ikut campur." ucap Aera dengan tegas.


"Aera sayang..." ucap Bima dengan suaranya yang terdengar manja dan sangat menggelitik telinga Aera.


"Jangan kayak anak kecil dong. Eh udah malem nih ayo pulang." ucap Aera yang tak sengaja melihat jam di pergelangan tangan Bima. Jam sudah menunjukkan pukul 21.10 wib.


"Baru juga jam segini. Kayak anak kecil aja mainnya di batasi jam." ucap Bima dengan santainya.


"Aku emang anak kecil , ya udah kalo gitu aku pulang duluan ya." ucap Aera yang kemudian meraih tasnya bersiap berdiri.


"Iya iya ayo pulang." ucap Bima dengan menggenggam pergelangan tangan Aera. Bima melepaskan genggamannya dan beralih menautkan jemarinya pada jemari Aera.


Aera tersenyum sesaat melihat perlakuan Bima padanya. Ia sungguh tak pernah menduga akan menjadi seseorang yang diperjuangkan oleh seorang Bima. Pria yang banyak di kejar-kejar para perempuan. Ia berharap Bima bisa memegang kata-katanya sendiri dan akan menepati semua janji yang ia ucapkan.


...----------------...


Di ruang keluarga , Fany sedang menonton drama Korea kesukaannya sendirian. Entahlah ia tak tahu Ardhi sedang kemana ataupun sedang melakukan apa. Ia sangat menyukai film Korea, bahkan ia tak peduli sampai jam berapa ia begadang demi menonton film kesayangan.


Banyak adegan romantis yang membuat Fany terbawa perasaan , hingga ia juga bisa ikut menangis saat film itu menayangkan sesuatu yang sedih.


"Sayang aku tuh cari kamu kemana-mana taunya ada disini!" ucap Ardhi dari arah pintu. Fany pun menengoknya dan tersenyum.


"Iya aku disini dari tadi." ucap Fany yang kemudian memfokuskan perhatiannya pada film itu lagi.


"Udah malem ini tidur aja yuk." ucap Ardhi dengan masih saja berdiri di dipintu.


"Tidur aja duluan. Aku belum ngantuk." ucap Fany tanpa mengalihkan pandangannya.


"Sayang udah jam berapa ini?" ucap Ardhi sambil mendekati Fany yang tengah duduk disofa. Fany pun melihat jam dinding , pukul 21.50 wib.


"Iya aku tau udah malem , tapi sayangnya itu bagus banget filmnya. Bentar lagi selesai kok." ucap Fany beralasan. Kemudian Ardhi berjalan memutar lalu duduk di samping Fany.


"Aku temenin." ucap Ardhi dengan ikut menatap layar televisi.


"Tidur aja duluan kamu besok kerja loh." ucap Fany mengingatkan.


"Dan walaupun kamu nggak sekolah lagi bukan berarti kamu bisa sebebasnya begadang ya! Cewek tuh gak baik terlalu sering begadang." ucap Ardhi tanpa menoleh.


"Besok kalo udah punya anak itu lebih parah dari begadang namanya tapi bisa sampai full tiap malem gak boleh tidur. Itu tugas perempuan. Cowok mana bisa kayak gitu." ucap Fany dengan santainya.


"PD banget ya Tuhan..." ucap Fany menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Gak percaya? Ayo aku bisa buktiin kok." ucap Ardhi dengan cepat dan menatap Fany yang kaget dibuatnya.


"Buktiin gimana?" ucap Fany dengan heran.


"Kamu tadi emang ngomong apaan?" ucap Ardhi.


"Iya trus maksud kamu apa kamu mau punya anak gitu? Ngaco aja jadi orang!" ucap Fany dengan ketus.


"Ya abis kamu remehin aku, aku nggak suka diremehin!" ucap Ardhi juga tak mau kalah.


"Bawel ya kamu tuh kalo mau duduk disini diem aja deh gangguin orang lagi nonton aja!" ucap Fany protes.


Entah kebetulan atau bagaimana , drama itu kemudian menampilkan seorang perempuan dan laki-laki yang sedang berciuman di sebuah taman.


"Astaga sayang... Ternyata tontonan kamu model gituan? Gaya banget sok berani nonton film kayak gitu orang nyatanya dicium langsung berontak mulu." ucap Ardhi dengan tersenyum dan melirik Fany yang kemudian mengganti channel TV.


Fany merasa ada hawa-hawa yang membuat dirinya terasa sesak untuk bernafas. Sedetik kemudian Ardhi merebut remote yang digenggam Fany lalu mengganti channel TV kembali di film Korea seperti semula. Fany pun bersyukur karena adegan ciuman itu sudah selesai.


"Yahh udah selesai ciumannya." ucap Ardhi dengan terkekeh geli.


"Udah deh diem kamu." ucap Fany.


Tanpa mengatakan sesuatu , Ardhi merentangkan tangan kirinya di bahu belakang Fany dan menyandarkan kepalanya dibahu Fany. Lagi-lagi ia merasakan sport jantung tingkat tinggi. Ia merasa bulu kuduknya berdiri dan kulitnya merinding seketika.


"Berat tauk!" ucap Fany dengan memukul-mukul lengan Ardhi agar ia mengangkat kepalanya.


"Sebentar aja sayang." ucap Ardhi dengan suaranya yang manja.


Tak diduga dan tak disangka-sangka , ponselnya Ardhi di saku celananya berdering tanda ada panggilan telpon. Perasaan Ardhi pun merasa sudah tak enak juga merasa kesal karena momentnya terganggu.


Ardhi merogoh ponselnya dan melihat siapa yang menelponnya malam-malam seperti ini. Sudah ia duga , ponselnya menampilkan nama Bima disana. Ardhi pun meletakkan ponselnya dimeja didepannya tanpa ada niat untuk menjawabnya.


Fany menatap Ardhi dengan heran kenapa tidak menjawab panggilan dari sahabatnya itu.


"Kenapa dibiarin gitu?" ucap Fany.


"Gak penting , tapi kalo dia telpon lagi berarti beneran penting." ucap Ardhi dengan santainya.


"Dari Bima ya?" ucap Fany.

__ADS_1


"Iya." ucap Ardhi yang tadi memang sudah melihat siapa yang menelponnya.


Sedetik kemudian , ponsel itu berdering kembali dan menampilkan nama kontak yang sama.


'Astaga orang ini beneran bikin gua gila lama-lama!' ucap Ardhi dalam hati.


Dengan penuh kesabaran , ia meraih ponselnya diatas meja lalu menjawab panggilan itu.


"Ada apa sih lo, lo itu selalu gangguin hidup gua yah!" ucap Ardhi dengan kesal.


"Sorry , urgency banget nih. Gua juga baru pulang jadinya baru tau kalo ada urusan penting ini." ucap Bima dari seberang sana.


"Baru pulang? Oh gua tau , lo abis ngedate sama Aera ya? Gimana sukses kan?" ucap Ardhi menebak.


"Sukses dong, gurunya kan lo. Harus sukses dong dibawah bimbingan lo." ucap Bima dengan terkekeh geli.


"Serius lo? Udah jadian?" ucap Ardhi tak yakin.


"Buat apa gua bohong. Iya serius lah bos!" ucap Bima.


"Bakal tranding nih besok." ucap Ardhi dengan santai.


"Jangan dulu di disebar! Please gua mohon." ucap Bima dengan serius.


"Kenapa emang?" ucap Ardhi dengan heran.


"Ya dia belum siap aja orang kantor tau." ucap Bima.


"Oh gitu... Oh iya lo tadi bilang ada urusan penting kan? Apaan?" ucap Ardhi.


"Ah gua lupa , bentar... Itu lo tau gak perjanjian perusahaan kita sama perusahaan Tokyo delapan tahun yang lalu itu apa aja? Gua butuh nih buat pencocokan." ucap Bima yang membuat Ardhi menggaruk kepalanya yang tak terasa gatal.


"Lo gila apa sinting? Delapan tahun yang lalu gua masih sekolah dan belum tau apa-apa." ucap Ardhi.


"Lo punya dokumen-dokumen penting itu kan? Ayolah gua butuh ini demi kantor kita." ucap Bima memohon seperti anak kecil.


"Iya punya sih , tapi besok aja gimana?" ucap Ardhi.


"Gua butuh secepatnya nih." ucap Bima.


"Tapi jauh dokumen itu ada di apartemen gua!" ucap Ardhi dengan malas.


"Lo dimana sih sekarang? Jangan bilang lo beneran di rumah Fany?" ucap Bima menebak.


"Iya dirumah cewek gua. Besok aja ya itu gua cariin. Gua bawain ke kantor besok pagi." ucap Ardhi yang sebenarnya tak ingin diganggu.


"Woy CEO yang terhormat , gua butuhnya sekarang. Pokoknya gua gak mau tau lo harus kirim isi dokumen itu ke gua lewat email. Gua tunggu secepatnya. Tapi kalo lo gak kirim juga dan kalo sampe ada apa-apa sama perusahaan lo , gua gak tanggung yah!" ucap Bima lalu memutuskan sambungan telepon secara sepihak.


Bima benar-benar membuat Ardhi stres tingkat tinggi. Sudah malam dan tiba saatnya ia tidur tapi selalu aja ada yang mengganggunya.


"Jadi gimana?" ucap Fany dengan hati-hati karena ia tahu Ardhi sedang dalam keadaan kesal.


"Aku harus ke apartemen sekarang juga sayang." ucap Ardhi dengan memaksakan diri untuk tersenyum di hadapan Fany.


"Emm aku ikut ya..." ucap Fany dengan tatapan polosnya.


"Nggak usah sayang , aku sendiri aja. Daripada mondar-mandir lebih baik kamu tidur duluan aja nanti aku balik lagi kok." ucap Ardhi dengan tenang.


"Enggak mau. Aku maunya ikut kamu." ucap Fany yang dengan menggenggam lengan Ardhi. Ardhi pun tersenyum melihat tingkah pacarnya itu.


"Ya udah deh ayo sayang kita pergi sekarang aja." ucap Ardhi dengan tersenyum mengajak Fany.


"Aku ganti baju dulu deh." ucap Fany yang kini sedang memakai baju tidur pendek namun dengan setelan celana yang panjang.


"Nggak akan ada yang lihat kita kok. Kayak gini aja nggak apa-apa." ucap Ardhi dengan santai.


"Ya udah deh. Ayo..." ucap Fany kemudian meraih ponselnya dan tetap menggandeng lengan Ardhi.


"Maaf ya aku bikin ribet mulu. Harusnya kita udah tidur nyenyak tapi malah ada masalah." ucap Ardhi pada Fany sembari melangkah ke arah garasi mobil.


"Nggak apa-apa kok, aku malah seneng bisa temenin kamu gini." ucap Fany dengan tersenyum.


"Makasih ya sayang." ucap Ardhi dengan mengecup kening Fany kemudian membuka pintu mobil untuknya.


Ardhi dan Fany sudah berada di dalam mobil yang kemudian Ardhi menjalankan mobilnya melaju menuju apartemen pribadinya. Rasa kantuknya hilang seketika saat di tengah perjalanan Fany dengan sengaja menyandarkan kepalanya di bahu Ardhi.


Fany ingin Ardhi tetap semangat walau memang ini saatnya sedang tidak tepat. Namun bagaimanapun juga , urusan pekerjaan memang selalu bisa mengubah segalanya tanpa bisa menduga sebelumnya.


❤️


❤️


❤️


❤️l.a.f🌻❤️

__ADS_1


__ADS_2