
"Yang gue tau , lu gak pernah punya heaters , jadi gue yakin ini dari orang yang penting buat lu atau orang yang emang udah kenal sama lu tapi lu lupa." ucap Bima yang melihat Ardhi tampak ragu dengan sepucuk surat di meja.
"Apa-apaan sih , Lu denger cerita dari resepsionis bawah nggak? Gimana ceritanya?" ucap Ardhi dengan santai namun hatinya mulai sedikit tak tenang.
"Iya gue sempet nanya sih , soal ciri-cirinya sih sama dan kemaren itu dia dua kali dateng ke kantor. Niatnya sama. Mau ketemu sama lu. Tapi lu udah pulang kemaren. Dan parahnya , gak ada yang nanya namanya dia siapa." ucap Bima dengan ekspresi yang terlihat serius.
"Ya udah lah." ucap Ardhi.
"Tapi , jujur lu sama gue , lu gak ada main sama cewek lain kan?" ucap Bima yang membuat Ardhi menatapnya kesal.
"Ngarang aja lu kalo ngomong! Sorry ya , sama yang lain gue udah gak tertarik. Cewek gue lebih menarik." Ucap Ardhi dengan santai.
Dengan penasaran , Ardhi pun perlahan membuka amplop yang berisi selembar surat untuk dirinya. Matanya terbelalak kaget ketika ia fokus membaca nama di ujung bawah.
"Apaan? Gue lihat dong." ucap Bima penasaran.
"Lu aja deh yang baca. Males gue." ucap Ardhi dengan meletakkan surat di meja lagi tanpa tahu apa isi dari surat tersebut.
"Wah tanda-tanda nih..." ucap Bima sembari meraih surat itu dan bersiap membacanya.
"Hai... Apa kabar? Aku yakin kau pasti baik-baik saja.
Aku senang karena ini semua di luar dugaanku. Aku tak menyangka akan secepat ini menemukan keberadaanmu.
Dan lihatlah , aku membuktikan dengan baik bahwa aku benar-benar belajar bahasa Indonesia dengan baik dan benar.
Untuk apa? Hanya untuk bisa segera menemuimu.
Apa aku bodoh yang masih berniat menemuimu setelah kau membuangku?
Bukan bodoh , tapi aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk bisa melihatmu kembali.
Tapi ternyata sesulit ini hanya untuk menemukanmu.
Dan it's oke , aku tahu kamu orang yang penting dan pasti selalu sibuk.
Jika memang bertemu denganmu harus dengan perjanjian , maka katakanlah kau berjanji padaku agar aku bisa menemuimu sebentar saja.
Aku berharap banyak melalui tulisan ini. Karena memang hanya dengan cara ini aku bisa bicara padamu.
Besok , aku akan datang kembali. Aku harap kau mau berjanji padaku.
Aku berharap kau masih mengingatku , aku merindukanmu...
Yuna."
...
"Astaga , kenapa bisa?" ucap Bima melongo setelah membacanya. "Dan sekarang , ini cewek udah ada disini. Gila sih." ucap Bima lagi.
"Ribet banget ya hidup gue?" ucap Ardhi dengan terkekeh.
"Trus lu besok mau ketemu sama dia?" tanya Bima.
"Lu gila ya , ngapain gue harus nemuin dia?" tanya Ardhi balik.
"Ya kali aja gitu , dia dari jauh loh." ucap Bima.
"Jangan bikin masa depan gue berantakan." ucap Ardhi dengan tenang.
"Gue tau lu sama Fany udah tunangan. Tapi gimana ya... Kasian dia." ucap Bima.
"Kalo gitu lu aja yang nemuin , ajak jalan atau jadiin yang nomer dua sekalian." ucap Ardhi dengan tersenyum sembari menggaruk kepalanya yang tak terasa gatal tatkala ia melihat Aera masuk ke dalam tanpa sepengetahuan dua lelaki itu.
Aera yang mendengar ucapan bosnya untuk kekasihnya itu membuat ekspresi wajahnya mendadak berubah.
"Bisa aja lu. Tapi sayangnya yang dia kejar itu elu bukan gue!" ucap Bima dengan tenang tanpa mengetahui Aera yang sedang melangkah di belakangnya tersenyum sinis dengan hati kesal.
"Ya walaupun bukan kamu yang dikejar , kamu berhak kok ngejar dia. Pak ini laporannya sudah selesai. Permisi pak." ucap Aera yang tak peduli di situ adalah ruang bosnya. Ucapannya pada Bima sekaligus penyerahan pada Ardhi itu membuat Bima mati kutu namun justru membuat Ardhi menahan tawa.
"Sayang... Tunggu dulu , aku nggak bermaksud kayak gitu. Tadi cuma dia aja tuh yang sembarangan ngomong." ucap Bima dengan menghampiri Aera yang tengah melangkah meninggalkan ruangan.
"Aku nggak peduli dan aku lagi sibuk , jadi gak usah ganggu!" ucap Aera dengan datar sembari berusaha melepaskan pergelangan tangannya yang di pegang Bima.
"Kamu jangan marah dong. Kamu salah paham doang. Semua nggak kayak yang ada di pikiran kamu." ucap Bima mencoba menahan Aera dan memberinya pengertian.
__ADS_1
"Gue bukan mau ikut campur , tadi kita emang cuma becanda aja nggak seriusan kok. Jadi udahlah kalian nggak perlu ribut segala. Inget , ribut di kantor gue potong gaji kalian bulan ini." ucap Ardhi dengan santai.
Caranya patut di acungi jempol dan Bima sangat berterima kasih pada Ardhi yang sudah membuat Aera berfikir ulang untuk melanjutkan marahnya.
Meskipun demikian , hati Aera masih kesal pada dua lelaki itu. Baginya , dua lelaki itu bagaikan buaya darat berwajah malaikat.
"Udah yuk kita makan dulu aja. Aku yakin kamu masih marah sama aku." ucap Bima dengan tersenyum sembari menautkan jemarinya pada jemari Aera.
"Eh udah deh kalian pergi sana , gak usah mesra-mesraan di depan mata gue!" ucap Ardhi dengan kesal.
"Iri ya lu? Pulang sana." ucap Bima dengan asal-asalan. Ia hobi sekali menaikkan darah bosnya itu.
"Udah cepet pergi sana cepetan!" ucap Ardhi dengan kesal.
"Iya ini juga mau pergi. Bye..." ucap Bima dengan tersenyum yang kemudian mengajak Aera keluar dari ruangan.
Pasangan satu itu benar-benar membuat Ardhi gerah. Seorang bos menjadi obat nyamuk untuk bawahannya sendiri. Sungguh lucu sekali.
Entahlah , ia perempuan di masa lalunya itu kembali mengusiknya. Ardhi meraih surat itu dan membacanya lagi. Ia menghela nafas kasar.
"Gue harus gimana ya..." ucap Ardhi dengan dirinya sendiri.
Sedetik kemudian , ia meraih ponsel dan menghubungi kakaknya. Dan dengan cepat , panggilannya pun terjawab.
"Halo..." sapa Alex.
"Kak... Gue bingung sumpah. Kenapa sih dia tetep bisa kesini? Lu gak bilang ya kalo gue mau nikah." ucap Ardhi to the point pada kakaknya.
"Waktu awal dia pengen denger cerita tentang lu , gue bilang. Tapi gak bilang pas dia dateng terakhir, gue rasa lu yang harus bilang itu lagi. Lu yang harus yakinin dia sendiri." ucap Alex.
"Apa harus gue nemuin dia?" Tanya Ardhi karena merasa bingung.
"Temuilah , katakan yang sebenarnya. Kakak yakin lu sama Fany nanti pasti akan tetap baik-baik aja." ucap Alex.
"Yakin? Aku aja ragu. Gue bahkan gak bisa bayangin gimana reaksi Fany kalo dia tau Yuna ada disini." ucap Ardhi dengan datar.
"Makanya cepetan temui Yuna , buat dia bisa menjauh secepat mungkin. Dirimu itu dari dulu lemah sekali berhadapan sama cewek , haaa! Untung aja mantan lu cuma satu itu doang." ucap Alex yang terdengar sedikit kesal.
"Apa kata lu deh!" ucap Ardhi dengan segera menutup telepon sepihak.
……………………
"Mama sama papa mau kemana?" tanya Fany yang baru bangun tidur. Ia menuruni tangga sembari menguap tatkala ia melihat sang Mama dan Papa berpakaian rapi sekali di ruang tengah.
"Mama sama Papa pergi dulu ya , mau dateng ke acara pernikahan anaknya temen Papa di luar kota. Mungkin nanti malam baru sampai rumah. Oh iya , kamu ada kelas nanti?" ucap Mama Vina.
"Aku lagi gak ada kelas Ma." ucap Fany sembari duduk di sofa.
"Kalau gitu kamu ikut Mama aja sekarang. Gimana?" ucap Mama Vina dengan tersenyum.
"Gak mau ah. Mau ke kantor aku nanti." ucap Fany dengan santai.
"Kantornya siapa? Kakakmu apa suamimu?" tanya Mama Vina.
"Ha? Itu ke kantor kakak lah." ucap Fany.
"Tumben banget , ada apa?" tanya sang Papa.
"Ya pengen dateng aja. Emang gak boleh ya? Udah ah Mama Papa berangkat aja sana." ucap Fany dengan tenang.
"Ya udah deh , Mama Papa berangkat ya. Kamu hati-hati kalau bawa mobil. Gak boleh ngebut." ucap Mama Vina sembari mengecup kening Fany.
"Dasar , anak jaman sekarang ya nggak bisa diem dirumah. Ya udah baik-baik ya." ucap Papa dengan mengacaukan rambut di ubun-ubun Fany.
"Hah Papa bikin kacau mulu tau aja ya aku belum mandi." ucap Fany dengan heran sembari menatap langkah kedua orangtuanya yang kian menjauh.
Fany pun bergegas kembali ke dalam kamar dan masuk ke kamar mandi.
Satu jam telah usai. Fany berjalan keluar rumah menuju mobil dengan dress hijau gelap selutut tanpa lengan. Lengkap dengan flatshoes hitam serta menenteng tas favoritnya. Rambutnya yang panjang sengaja ia biarkan begitu saja tanpa mengikatnya.
Jam di pergelangan tangan kirinya menunjukkan pukul 08.05 wib. Fany pun melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju kantor sang kakak. Entahlah , pagi ini ia terasa begitu ceria. Hidupnya seakan bahagia dan baik-baik saja
'''''''''',,,''''''''''
Jam makan siang telah usai. Namun Ardhi masih tampak gelisah. Ia seperti orang yang sedang kebingungan.
__ADS_1
Entah keputusannya ini benar atau tidak , ia sudah memutuskan untuk menerima permintaan Yuna. Ardhi sudah mengatakan akan ada janji dengan perempuan itu pada resepsionis. Namun sudah siang hari seperti ini , kenapa belum datang juga?
Dengan konsentrasi yang sedikit berantakan , Ardhi pun harus kembali menatap layar komputer di hadapannya. Tugasnya lebih penting dari pada membuang waktu untuk menunggu yang tidak mungkin.
Sampai setengah jam berlalu , akhirnya ada suara pintu di ketuk. Ardhi pun mempersilahkan masuk tanpa mengalihkan pandangannya dari komputer. Lalu ia mendengar pintu tertutup kembali. Barulah ia melihat siapa yang datang.
Seketika , Ardhi menatap perempuan itu tanpa kedip beberapa detik. Hingga akhirnya ia memalingkan wajahnya. Dunia memang terasa sempit sekali baginya , kenapa ia harus bertemu dengan perempuan itu kembali?
"Duduklah." ucap Ardhi dengan tenang melihat wajah cantik Yuna yang memang semakin cantik daripada dulu.
Yuna terdiam. Ia tak duduk. Ia tetap berdiri beberapa langkah dari pintu. Ardhi menunggunya untuk duduk di seberangnya. Namun , terlihat gadis itu masih saja menatap dirinya dalam diam dengan wajah datar.
"Aku minta , duduklah dulu." ucap Ardhi lagi.
"Apakah begitu sambutanmu untukku?" Ucap Yuna dengan wajah datar.
Ardhi menghela nafasnya yang sesak. Sepertinya ia sudah mulai merasakan hawa yang tak mengenakkan di benaknya. Ardhi pun ragu , namun ia berdiri dan melangkah dari tempatnya menuju ruang tengah dimana Yuna berdiri.
"Kau pergi jauh , dan meninggalkanku begitu saja. Apa kau bahagia disini? Tampaknya kau sangat baik-baik saja karena sejak saat itu kau tak pernah lagi kesana." ucap Yuna dengan tersenyum walau itu senyuman yang pedih.
"Aku sibuk dengan pekerjaan disini. Bagaimana kabarmu disana?" ucap Ardhi dengan tenang.
"Aku berusaha baik-baik saja. Meskipun itu tidak mudah." ucap Yuna.
"Kau akan baik-baik saja. Percayalah." ucap Ardhi dengan tersenyum.
"Aku akan baik-baik saja jika bersamamu." ucap Yuna yang membuat Ardhi sedikit malas. Ia malas jika harus berurusan seperti ini.
"Hey dengarkan aku baik-baik. Aku tau kau sudah berjuang sejauh ini untukku. Tapi kamu harus ingat apa yang aku ucapkan dulu." ucap Ardhi dengan tenang sembari memegang kedua bahu Yuna.
"Aku bahkan hampir gila saat itu. Saat kau membuangku begitu saja , meninggalkan aku dan tak pernah kembali lagi walau hanya sekali. Kenapa kau setega itu? Aku tau , dari awal kau memang tak mencintaiku. Tapi aku yakin , seiring berjalannya waktu kau akan mencintaiku juga. Aku masih terus berharap sampai saat ini." ucap Yuna dengan setegar mungkin.
"Tapi itu tak mungkin terjadi. Aku tak bisa menjadi yang seperti kau inginkan. Aku tak kan pernah kembali lagi. Aku bukan orang yang tepat untukmu. Aku yakin kok suatu saat kau pasti akan menemukan seseorang yang benar-benar mencintaimu lebih dari kau mencintainya. Harus berapa kali aku mengatakan hal yang sama?" ucap Ardhi dengan sabar.
"Aku tau tapi aku sudah berjanji. Kau tau? Aku menolak lelaki yang ingin melamarku. Dan itu karena kamu." ucap Yuna dengan menatap wajah Ardhi.
"Dan aku bukan bermaksud menyakitimu lagi. Tapi aku memang sudah bertunangan disini. Aku akan menikah." ucap Ardhi dengan bersungguh-sungguh.
"Ternyata itu benar." ucap Yuna dalam hati.
Tanpa disadari , air mata menetes di pipi mulus Yuna. Dan hal itu membuat hati Ardhi sedikit tergerak. Entahlah , Ardhi bingung harus bagaimana lagi.
"Jangan menangis. Mulai sekarang , tolong berhentilah meneteskan air matamu. Jangan menangis untuk sesuatu yang tidak akan kau miliki." ucap Ardhi dengan setenang mungkin. Ia masih melihat air mata itu terjatuh berulang kali ke lantai.
"Kau benar-benar akan menikah?" tanya Yuna sembari menatap kedua mata Ardhi walau dengan kelopak mata yang penuh air mata.
"Iya. Aku akan menikah. Aku harap kau bisa mengerti." ucap Ardhi dengan tenang.
Tanpa ia duga , Yuna memeluk tubuhnya dengan erat seakan tak mau melepaskan lagi. Ardhi yang kaget pun bingung harus bagaimana. Gadis itu terisak didepan dadanya tepat.
"Aku mencintaimu." ucap Yuna disela-sela isakkannya.
" Kenapa harus seperti ini? Kenapa? Aku bahkan tak bisa melupakanmu walau aku tertidur. Aku selalu berjuang untuk menemukanmu. Tapi kenapa begini?" ucap Yuna yang semakin terisak.
Ardhi tak mengerti harus berbuat apa. Tubuhnya dipeluk dengan erat. Dan entah kenapa , dadanya terasa tersayat. Ia tahu ini memang menyakitkan untuk Yuna. Perjuangannya yang panjang tak ada hasil.
Dengan perlahan , kedua tangan Ardhi pun bergerak menyentuh tubuh Yuna. Ia memeluknya. Dan mungkin ini adalah pelukan terakhir untuk dirinya.
"Di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin. Tapi semua itu sudah ada yang mengaturnya. Semua itu Takdir Tuhan. Dan tentang cinta , cinta itu tak harus memiliki. Kau bahkan di sukai banyak pria. Tapi kau tak menyukainya kembali. Pria itu juga sakit. Sama sepertimu. Aku yakin , ada yang lebih baik dariku. Percayalah..." ucap Ardhi dengan tenang sembari mengusap lembut punggungnya untuk menenangkan.
Tak disangka , pintu terbuka dan nampaklah seseorang. Mereka saling menatap dengan membelalakkan matanya. Tak percaya dengan apa yang dilihatnya masing-masing.
Namun tanpa mengucapkan sepatah katapun , ia pergi dari hadapan dua orang yang sedang berpelukan itu tanpa menutup pintu kembali.
Sungguh , masalah besar akan segera datang.
❤️
❤️
❤️
❤️
❤️l.a.f🌻❤️
__ADS_1