
Pesawat mulai mengudara di antara gelapnya malam. Tampak jelas didepan mata , lelaki itu menyandarkan kepalanya yang jujur saja kini terasa berat pada kursi.
Fany yang duduk di sampingnya pun menatap jam yang di pakai oleh lelaki itu. Baru tiga puluh menit pesawat di atas langit gelap ini. Masih sekitar satu setengah jam lagi untuk mendarat di bandara internasional Singapore.
"Ada apa sayang ?" ucap Ardhi yang menyadari bahwa Fany baru saja melirik jam.
"Enggak ada apa-apa kok. Kamu tidur aja dulu , nanti kalau udah mau turun biar aku bangunin. Kamu kan tadi habis naik pesawat berjam-jam juga , pasti capek banget badan kamu." ucap Fany dengan terus menggenggam jemari lelaki itu.
"Enggak sayang , aku kuat kok. Kamu tenang aja." ucap Ardhi dengan tersenyum dan mengeratkan genggaman tangannya.
"Yakin ?" ucap Fany dengan menatapnya.
"Iya dong sayang , kamu sini..." ucap Ardhi sembari meminta Fany untuk menyandarkan kepalanya pada bahu kokoh itu. Lalu lelaki itu mengecup kening Fany dengan lembut.
Entah mengapa tiba-tiba saja bayangan sosok Yuna muncul begitu saja di ingatannya. Kemaren , di pesawat Yuna menyandarkan kepalanya tanpa diminta. Apapun di lakukan tanpa di minta.
Namun bukan karena itu ia mengingatnya , bukan pula karena merindukannya. Namun lelaki itu justru kini benar-benar merasa bodoh. Harusnya ia tidak melakukan apa-apa dengan gadis itu. Harusnya memeluk pun tidak boleh.
Pagi tadi adalah pagi yang paling buruk. Bisa-bisanya ia yang memulai lebih dulu untuk mengajak gadis itu mengulang kisah semalam. Dan satu langkah lagi ia sudah berhasil menorehkan kegagalan dalam dirinya.
Meskipun tidak terjadi hal yang lebih buruk , tetap saja ia merasa bersalah kepada gadis di sampingnya ini. Ia sudah menodai kisah cinta yang tulus diantara keduanya dengan nekat melakukan sesuatu yang tidak pantas dengan perempuan lain. Apalagi perempuan itu adalah mantan kekasihnya dulu.
Ardhi melepas genggaman tangannya dan beralih untuk merangkul tubuh Fany. Kemudian mengecup keningnya sekali lagi.
Fany terdiam , ia merasa heran dengan sikap lelaki itu. Ada apa ? Kenapa lelaki itu menjadi sepeduli ini padanya? Entahlah ia tidak mau memikirkan lebih jauh lagi.
"Sayang..." ucap Ardhi dengan tenang.
"Iya?" ucap Fany menjawab.
"I love you sayang." ucap Ardhi tepat di samping telinga dengan suara yang terdengar agak berbisik.
Fany mengerutkan keningnya. Rasanya asing sekali.
"Kamu kenapa sih ? Kok kayak gimana gitu ya." ucap Fany sembari melirik Ardhi.
"Kenapa emang ? Ada yang aneh ?" tanya Ardhi.
"Iya aneh." ucap Fany dengan santai.
"Masa sih? Aku tuh ngerasa makin cinta aja sama kamu. Kayak makin gak mau jauh. Rasanya nyaman banget ada di samping kamu." ucap Ardhi dengan berbicara pelan di depan telinga Fany sehingga sukses membuat bulu kuduknya berdiri.
"Ih apaan sih." ucap Fany sembari bergidik ngeri yang membuat Ardhi justru tersenyum.
Fany merasa nyaman berada di rangkulan lelaki itu , dan lelaki itu kini juga tengah mengusap-usap bahunya dengan lembut.
Ardhi benar-benar tiada henti mengucap syukur kepada Tuhan. Hubungannya dengan perempuan di sampingnya ini masih tetap baik-baik saja. Dan semoga akan tetap baik-baik saja selamanya.
"Sayang , kamu aja yang tidur. Aku yang akan jagain kamu." ucap Ardhi dengan suara lembutnya.
"Aku nggak ngantuk." ucap Fany.
Ardhi terdiam tak tahu harus berkata apa lagi. Yang ia rasa kini hanya perasaan bersalah terus menerus mengganggu pikirannya. Ia pun mengecup sekali lagi kening gadis yang sangat ia cintai itu.
.
.
.
"Ini buat lu ya , kamarnya nomer 14." ucap Ardhi sembari memberikan cardlock kepada Bima.
Fany sempat heran beberapa saat.
"Pak Bima ada di lantai 7 ? Aku di lantai berapa ? Pisah-pisah ya kita? Kamu di lantai berapa lagi ?" ucap Fany dengan pertanyaan yang memenuhi otak dan membuat Bima menyembunyikan senyumnya.
"Iya dia di lantai 7. Nanti kita di lantai 10." ucap Ardhi dengan tenang.
"Kita? Aku mau kamar sendiri. Aku aja yang disini. Sini kartunya." ucap Fany sembari menarik kopernya dan menengadahkan tangan meminta cardlock yang sudah di berikan kepada Bima.
"Eh nggak , jangan. Ee... Maksudnya biar gue aja yang disini. Kalian kan pasangan , jadi ya harusnya sekamar dong. Masa iya cowok sama cowok sekamar. Nggak baik itu. So , gue yang harusnya disini." ucap Bima dengan tersenyum manis sembari memberikan penjelasannya pada Fany.
"Iya pasangan , tapi kan belum nikah." ucap Fany yang keceplosan dengan ucapannya. Ucapan seolah membuat dua lelaki itu berpikir tentang urusan kamar. Apalagi otak para lelaki itu tidak setampan dan sebersih wajahnya.
"Udah lah , dia anak yang baik. Dia nggak senakal yang kamu pikir. Tenang aja. Hubungi gue kalau misalnya butuh bantuan. Gue pasti langsung naik ke atas." ucap Bima dengan tenang dan santainya berbicara seperti itu, padahal kedua mata Ardhi tengah menatapnya tajam.
"Udah-udah , sana keluar. Gue capek , gue harus istirahat." ucap Ardhi dengan setenang mungkin.
"Siap bos." ucap Bima yang kemudian menyeret kopernya keluar dari dalam lift.
Ardhi tersenyum dalam hati , lalu ia menekan tombol di dalam lift agar pintunya tertutup dan menekan lagi angka 10 untuk naik ke atas.
Dalam waktu beberapa saat Fany hanya terdiam tak berucap apa-apa , ia bingung harus bagaimana.
__ADS_1
Tanpa sadar , pintu lift sudah terbuka.
"Ayo sayang , ngelamun mulu." ucap Ardhi sembari mengelus pipi Fany untuk menyadarkan pula.
Fany pun menarik koper miliknya dan keluar dari dalam lift bersamaan dengan tunangannya.
Tak jauh jaraknya dari lift , lelaki itu berhenti dan menunjukkan cardlock pada pintu. Pintu yang terkunci pun sudah terbuka , lalu ia mengajak gadis itu masuk ke kamar hotel yang bernomor 12.
"Seriusan kita sekamar ? Lagi?" ucap Fany yang menghentikan langkahnya setelah menutup pintu. Ia tahu saat ini lelaki itu sedang kecapekan, maka dari itu ucapannya pun terdengar hati-hati karena ia tidak mau membuat Ardhi kesal padanya.
Ardhi membalikkan tubuhnya dan memandang Fany dengan tersenyum.
"Iya sayang. Kamu tau sendiri aku lagi capek banget , jadi nggak mungkin kan aku macem-macem." ucap Ardhi yang kemudian melepaskan jasnya lalu meletakkannya di sofa begitu saja.
"Soalnya aku gak yakin aja." ucap Fany dengan meletakkan koper miliknya di samping koper milik pria tampan yang tengah memejamkan matanya sembari menyandarkan tubuhnya pada sofa itu.
Fany meletakkan tas tentengnya di atas meja lalu duduk di sofa tepat di samping Ardhi. Ia membuka kancing jaketnya dan melepaskan jaket itu dari tubuhnya.
Gadis itu membuka tas dan mengambil ponselnya yang sedari tadi tidak ia sentuh sama sekali. Ia membuka aplikasi WhatsApp-nya dan membuka beberapa pesan masuk dari sahabatnya.
Beberapa menit waktu terlewati dengan fokus pada layar ponselnya. Ia tidak menyadari lelaki di sampingnya yang masih dengan posisi yang sama.
Fany pun meletakkan kembali ponselnya ke atas meja. Ia menyampingkan tubuhnya untuk mendekati lelaki itu. Tampan. Setampan ini calon suaminya. Ternyata ia sangat seberuntung ini.
Gadis itu tersenyum sesaat menatap wajah Ardhi.
"Sayang , bangun." ucap Fany sembari mengguncang pelan-pelan bahu lelaki itu.
"Sayang , tidur disana deh. Pindah dulu ke tempat tidur , jangan tidur disini." ucap Fany dengan tenang.
"Hem... Capek banget sayang , bantuin aku dong." ucap Ardhi sembari mengalungkan tangannya di leher Fany.
"Iya ayo aku bantuin." ucap Fany sembari berusaha menahan tangan Ardhi di pundaknya.
Ardhi berjalan seolah-olah sedang tidak ada kekuatannya di dalam tubuhnya. Fany yang nampak keberatan pun tetap berusaha berdiri memapah lelaki itu.
Mendekati ranjang king size , Ardhi membuat gadis itu terlonjak kaget. Betapa tidak , lelaki itu dengan gagahnya justru mengangkat tubuh Fany dengan tiba-tiba.
"Eh rese ya! Emang nyebelin banget! Turunin gak , aku takut jatuh." ucap Fany dengan tangan merangkul tubuh Ardhi karena takut terjatuh.
"Enggak mungkin jatuh. Aku udah berapa kali gendong kamu? Gak pernah jatuh kan?" ucap Ardhi dengan tersenyum tenang sembari menundukkan kepalanya menatap wajah Fany yang panik.
"Kamu kecapekan banget kan? Ngapain harus kayak gini ? Kurang kerjaan banget. Istirahat deh , turunin aku." ucap Fany dengan merengek minta turun.
Entahlah , ucapan Ardhi membuat dadanya berdesir.
"Udahlah kamu istirahat aja , besok kamu harus kerja kan?" ucap Fany dengan tenang melihat Ardhi yang tengah tidur menghadap dirinya sembari menopang kepalanya.
Ardhi tersenyum sembari membuka kancing kemejanya di bagian atas dekat lehernya. Jujur saja hal itu membuat Fany merasa salah tingkah.
'Mau ngapain lagi sih nih cowok ? Lagi capek bukannya tidur malah bikin ulah mulu. Astaga!' ucap Fany yang begitu mengeluh dalam hati.
Jujur saja , ia bukan tidak mau. Tapi ia hanya takut dengan apa yang akan terjadi jika berdua sama-sama lupa diri.
"Kamu lapar nggak ?" tanya Ardhi dengan santai.
Fany hanya terdiam sembari menatap tajam ke arah lelaki itu yang tengah melepaskan dasi yang melilit lehernya itu.
"Sayang , kamu kenapa diem aja sih?" ucap Ardhi dengan memandangnya.
"Aku gak laper. Aku tuh cuma heran aja sih sama kamu. Kenapa bisa nyebelin gitu." ucap Fany yang kemudian hendak bangun namun sayang lengannya di tahan oleh Ardhi. "Apa lagi?" ucap Fany dengan tenang.
"Mau kemana?" ucap Ardhi dengan heran.
"Mau ambil hp , hp ku jauh disana tuh." ucap Fany.
"Mau buat apa sih sayang , udah malem nih." ucap Ardhi yang kemudian mematikan lampu tidur di meja kecil di samping ranjang.
"Hem , ya udah lah tidur deh." ucap Fany.
"Sayang..." ucap Ardhi memanggilnya tepat di depan telinga.
"Jangan mulai deh." ucap Fany dengan setenang mungkin sembari mengatur nafasnya.
Ardhi semakin mendekati lehernya yang harum. Ia mengecupnya satu kali dan kembali lagi menatapnya. Karena kecupan itulah Fany semakin terbawa oleh suasana malam sunyi.
"Aku nggak mau kamu macem-macem." ucap Fany dengan menatap wajah Ardhi yang tengah menatapnya pula.
"Enggak sayang. Percaya sama aku." ucap Ardhi dengan tersenyum yang kemudian mengecup pipi sebelah gadis yang terlihat panik itu.
"Tenang aja , kamu nikmati malam ini. Aku bisa kok sayang , aku nggak akan ngapa-ngapain. Aku cuma kangen banget kayak dulu." ucap Ardhi lagi dengan tenang.
"Aku cuma pengen tidur sambil peluk kamu. Udah itu aja." ucap Ardhi dengan tersenyum.
__ADS_1
Ucapan Ardhi membuat Fany kembali percaya dan tenang. Ia mengerti bagaimana arti ucapan lelaki itu.
"Iya aku yakin kamu pasti bisa. Biar bagaimanapun , malam setelah pernikahan itu harus yang lebih indah. Sebentar lagi kok , sabar ya." ucap Fany dengan tersenyum yang kemudian memberikan kecupan singkat tepat di bibir lelaki itu.
Fany kemudian terdiam. Ia menatap Ardhi yang kini tengah bangun dan duduk disampingnya. Tak cukup sampai disitu , Ardhi melepaskan kemeja yang dikenakannya. Jam tangan pun juga di lepas dan di letakkan di atas meja. Lelaki itu menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dan juga tubuh gadis yang sangat ia rindukan itu.
"Sayang , ayolah. Kamu yang mulai loh barusan." ucap Ardhi yang tampak merajuk melihat Fany membungkam mulutnya dengan kedua telapak tangannya sendiri.
"Aku nggak mau kehabisan nafas. Udah dong kamu istirahat aja. Besok kamu ada kerjaan." ucap Fany masih tidak membuka tangannya.
"Aku cuma mau ini aja sayang , habis itu kita tidur." ucap Ardhi dengan tersenyum merayunya.
"Terus kalau enggak ciuman dulu gak boleh tidur gitu? Aneh aja kamu ya." ucap Fany yang kemudian menarik tangannya.
"Sayang kamu tuh bawel banget sih. Aku lagi kangen , jadi jangan main-main dong." ucap Ardhi dengan tersenyum senang dan langsung meraih tangan Fany. Ia menautkan jemarinya pada jemari Fany.
"Bukan gitu , kamu aja yang rese. Gak usah pake kayak gini segala kenapa sih , tidur ya tidur aja gitu." ucap Fany masih membantah.
Tak mau menjawab ucapan Fany , Ardhi langsung saja mencium bibir gadis itu. Jika saja ia tak membungkamnya , gadis itu tak mungkin berhenti berbicara.
Terlarut dalam permainan yang ia ciptakan , rasanya ia tak mau berhenti. Sayang untuk di akhiri. Ia ingin sekali menahan ciuman itu untuk lebih lama lagi , namun gadis di bawahnya itu sudah mulai kelabakan. Satu tangan yang tak terkunci itu kini mulai menepuk-nepuk punggung polos lelaki yang masih menikmati permainannya.
Entahlah , untuk yang kesekian kalinya lelaki itu melakukan ciuman yang terasa sangat lembut dan nyaman. Itulah mengapa ia harus tetap tersadar dan jangan sampai ia terbawa suasana yang menjulur ke aktivitas lain. Hanya saja untuk waktu , ia tak bisa menahannya terlalu lama.
Tak jarang , dan dapat ia katakan memang setiap kali ia bersama seperti malam ini , ia merasa lelaki itu sebenarnya berusaha keras untuk menahan hawa nafsunya. Terkadang itu membuatnya merasa kasihan , namun itu tidak mungkin.
"Sayang , kenapa ?" ucap Ardhi dengan tenang setelah mengatur nafasnya.
"Aku , aku haus. Aku mau minum dulu." ucap Fany dengan mencoba bangkit. Namun tetap saja lelaki itu lagi-lagi menahannya.
"Aku ambil. Kamu disini aja." ucap Ardhi yang kemudian menyingkap selimut tebal itu
Ardhi berjalan ke arah meja untuk mengambil satu botol air minum. Fany meneguk ludahnya sendiri meskipun terasa kering pada tenggorokannya. Betapa tidak , ia tengah memandang sosok lelaki yang tubuhnya sangat menarik.
Tubuh tinggi yang tampak menggoda kekuatan imannya , membuat imajinasinya berputar-putar aktif. Perut yang terlihat rata itu tampaknya begitu keras dan membuatnya serasa ingin menyentuhnya.
Belum lagi dengan kepalanya tampak begitu sempurna. Wajahnya yang sering kali membuat lupa , entah itu mata , hidung , ataupun bibirnya yang paling berbahaya. Terasa sangat lengkap dengan rambut yang berantakan itu. Kesannya semakin mempesona saja.
Dan lelaki itu sebentar lagi akan menjadi miliknya. Itu benar-benar impian setiap wanita. Namun bayangannya membuat nyalinya menyusut , bagaimana jika nanti lelaki itu menginginkannya setiap saat ? Apakah ia sanggup?
"Sayang , bangun dulu." ucap Ardhi dengan duduk di samping Fany yang masih terbaring.
Fany duduk bersandar pada bantal dan melihat Ardhi yang sudah membukakan tutup botol itu agar ia dapat langsung meminumnya.
"Makasih ya." ucap Fany setelah meneguk air minum itu.
Ardhi tersenyum mendengar ucapan Fany yang kemudian meneguk air minum itu juga. Di letakannya botol itu pada meja sembari melihat jam tangannya. Sudah pukul sepuluh lewat beberapa menit. Sudah cukup malam ternyata.
"Sayang , udah ngantuk belum?" ucap Ardhi memandang Fany yang masih bersandar.
"Udah. Jam berapa sekarang ?" ucap Fany.
"Udah jam sepuluh lebih." ucap Ardhi.
"Aku udah ngantuk. Ayolah kita tidur aja." ucap Fany yang kemudian kembali lagi membaringkan tubuhnya dan menarik selimut.
Melihat gadis itu sudah terbaring nyaman , Ardhi tersenyum. Ia pun membaringkan tubuhnya di samping gadis itu tanpa menyisakan jarak. Lalu ia memiringkan tubuhnya menghadap gadis yang sudah memejamkan matanya itu.
"Sayang..." ucap Ardhi dengan suaranya yang merdu , dan itu sangat menggelitik telinga Fany.
Lagi-lagi Fany membuka matanya yang sebenarnya sudah ia tahan untuk tetap terpejam.
Tak menjawab , Fany hanya menatap wajah Ardhi sembari mengernyitkan keningnya.
"Sini dong sayang." ucap Ardhi dengan tersenyum sembari menarik tubuh Fany agar lebih mendekat padanya.
Fany yang merasa gemas pun seketika langsung menggulingkan tubuhnya memeluk tubuh lelaki yang hangat itu. Wajahnya berada di bawah dagu lelaki itu , tepat di antara leher dan dada atasnya.
Ardhi tersenyum puas menikmati pelukan yang di berikan oleh gadis cantik itu. Tak mau membuang kesempatan yang ada , lelaki itu mengecup dahi mulusnya sesaat.
Ia menggunakan satu tangannya untuk bantal pada kepala Fany dan satu tangan lagi ia lingkarkan pada tubuhnya. Seolah memberikan kehangatan karena malam ini udara terasa begitu dingin.
Jauh di lubuk hati , Fany merasa sangat nyaman sekali berada pada dekapan lelaki itu. Andaikan saja ia sudah resmi menikah , pasti akan jauh lebih lebih bahagia lagi. Ia pun tak sabar untuk menanti hari bahagia itu.
❤️
❤️
❤️
❤️
❤️
__ADS_1
❤️l.a.f🌻❤️