
Keseriusan Fany dalam belajar memang tidak main-main. Ia terobsesi oleh kakak dan pacarnya. Dua lelaki hebat dan sangat ia kagumi berkat kepintarannya. Mereka itu baginya sangat luar biasa dan ia sangat bersyukur berada ditengah-tengah orang yang ia sangat sayangi itu.
Di sekolah , Fany masih tetap setia dengan nilai terbaiknya dan selalu menduduki peringkat pertama. Dan di urutan kedua ada Airin yang kemudian ketiga adalah Zahra. Tiga perempuan yang hebat dengan kepintarannya.
Namun dibalik kesuksesan mereka bertiga , tak jarang ada yang nekat membencinya. Ada para cewek di sekolahnya yang membencinya karena semua lelaki selalu memperhatikannya , namun semua itu tidak lah penting.
Mereka berfikir pula , setiap manusia pasti memiliki rasa iri hati. Tapi mereka tetap merasa bersyukur , karena sebagian besar lebih menyukainya daripada membencinya.
---
Bel pulang sekolah pun terdengar begitu nyaring dan proses belajar mengajar pun diakhiri dengan berdoa. Lalu siswa siswi berjalan keluar dari dalam kelas masing-masing.
Fany dan kedua sahabatnya itu melangkahkan kakinya untuk menuju gerbang sekolah. Begitu sudah sampai di gerbang, mereka sudah di jemput oleh supir masing-masing. Dan mereka pun saling berpisah untuk pulang ke rumah masing-masing.
Siang dengan cepat berganti malam. Seusai makan malam bersama Mama dan Papanya , Fany segera menuju kamarnya untuk mengerjakan tugas sekolahnya. Ia sejenak melupakan ponselnya yang berada di atas ranjang yang terus bergetar menandakan sebuah panggilan masuk dan beberapa notif pesan singkat.
Fany terus mengerjakan tugas-tugas itu sampai pukul sepuluh malam. Ia menyelesaikan tugasnya dengan baik dan membereskan buku-bukunya untuk dimasukkan kedalam tas. Agar besok pagi semua bahan pelajarannya tidak ada yang tertinggal.
Fany merasa matanya mulai berat untuk terbuka. Ia mematikan lampu belajar dimeja dan melangkahkan kakinya menuju ke ranjangnya. Ia meraih ponselnya dan mengecek apakah ada sesuatu. Dan benar saja , terdapat lima panggilan masuk dan beberapa notif pesan singkat dari kekasihnya.
Fany menepuk keningnya sendiri karena kelalaiannya, ia membiarkan ponselnya dalam mode getar. Ya , karena selama di sekolah ia tak mungkin mengaktifkan nada dering di ponselnya dan ia lebih memilih menggunakan mode silent atau getar.
Dengan tersenyum Fany pun memberanikan diri untuk menelpon kembali Ardhi. Ia takut kekasihnya marah karena mungkin Ardhi mengira bahwa ia telah mengabaikan dirinya. Dan tak lama kemudian , panggilannya langsung dijawab.
Dilihatnya , wajah seorang Ardhi yang sedang rebahan diatas ranjang dengan wajah masam menatap dirinya. Kemudian Fany tersenyum.
"Maaf ya , tadi aku kerjain tugas dari sekolah. Baru aja selesai ini. Terus handphonenya tadi aku lupa kalau masih mode getar semenjak masih disekolah. Aku lupa tadi... Maafin aku ya , jangan marah dong..." ucap Fany dengan polosnya dan menampakkan wajah merajuknya berharap agar Ardhi tak marah kepadanya.
"Iya deh nggak apa-apa, aku nggak marah kok." ucap Ardhi dengan tersenyum sekilas.
"Bohong tuh , kamu marah ya? Kelihatan kalik kalo kamu marah!" ucap Fany dengan memanyunkan bibirnya.
"Enggak Sayang , aku beneran ngga marah kok." ucap Ardhi yang kali ini tersenyum manis.
"Beneran?" ucap Fany masih tetap tak percaya.
"Iya dong Sayang , aku serius aku nggak marah. Emang aku pernah marah sama kamu? Nggak kan? Aku itu nggak bisa marah ke kamu Sayang." ucap Ardhi yang kemudian bangun dari tiduran lalu duduk bersandar diatas ranjangnya.
"Ehm... Gitu ya? Ya udah deh makasih ya. Aku janji nggak akan lupa sama kamu lagi deh." ucap Fany dengan tersenyum.
Ardhi tersenyum memandang layar di ponselnya yang memperlihatkan wajah cantik kekasihnya dengan rambut acak-acakan tak beraturan. Kemudian ia tertawa.
"Kenapa kamu!" ucap Fany dengan heran.
"Kamu habis ngapain sih berantakan banget , rambut kamu acak-acakan gitu ngapain aja kamu hah?" ucap Ardhi disela-sela tertawanya.
"Astaga , aku nggak ngapa-ngapain! Aku tadi pusing kerjain tugas tauk!" ucap Fany dengan nada yang tinggi.
"Besok-besok kalau pusing kerjain tugas , kamu bisa minta bantuan sama aku Sayang. Aku bisa bantuin kamu kok. Biar kamu nggak kayak orang lgi stress gitu..." ucap Ardhi dengan tenang dan tersenyum.
"Kamu kan sibuk! Mana berani aku ganggu." ucap Fany dengan muka yang terlihat masam sembari menidurkan tubuhnya di ranjang kesayangannya itu.
"Aku itu siap kamu apain aja. Eh maksud aku itu kalau kamu minta bantuan atau apapun itu aku bakal lakuin." ucap Ardhi dengan tersenyum.
"Hemm ya udah besok lagi deh. Kamu kenapa belum tidur?" ucap Fany.
"Gimana aku bisa tidur kalau dari tadi aku kangen sama kamu aja." ucap Ardhi dengan santainya.
"Ya udah ya udah kamu sekarang tidur deh sana. Besok kamu biar nggak kesiangan." ucap Fany.
__ADS_1
"Iya ini aku tidur kok. Kamu juga tidur deh , besok jangan nakal kalo di sekolah." ucap Ardhi dengan tersenyum.
"Ih bawel yah! Aku bukan lagi kayak anak kecil yang nakal tauk. Udah ah aku mau tidur." ucap Fany dengan memutuskan video call nya secara sepihak yang membuat Ardhi menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Dasar kamu ya , lihat aja besok kalo aku udah balik kesana." ucap Ardhi dengan tersenyum.
Kemudian Ardhi mengetik sebuah pesan singkat
"Selamat tidur ya kesayangan , semoga mimpi indah. I Love You😘..." itulah pesan dari Ardhi yang membuat Fany tersenyum membacanya.
Fany tak membalasnya karena matanya sudah benar-benar terasa berat. Sedetik kemudian Fany pun terlelap.
...----------------...
Pagi hari seperti biasa , Fany beserta Airin dan Zahra juga teman-temannya sedang berada di dalam kelas mengikuti kegiatan belajar mengajar yang tengah berlangsung.
Waktu istirahat pun tiba dan seluruh siswa siswi keluar dari kelas. Entah menuju kantin atau ke perpustakaan atau ada pula yang tetap berada di dalam kelas saja karena sudah membawa bekal dari rumah.
Fany beserta kedua sahabatnya itu pergi ke kantin untuk mencari makan karena perutnya terasa lapar. Mereka bertiga memesan makanan dan minuman yang kemudian duduk dimeja yang berhadapan dengan taman langsung.
Tak lama setelah mereka duduk dan mengobrol bercanda tawa , seorang laki-laki tiba-tiba datang dan berdiri dihadapan mereka.
"Hai semua , boleh gabung nggak disini?" ucap lelaki itu dengan ramah. Kehadiran lelaki itu membuat kedua sahabat Fany terpana. Ya , dia lelaki yang sekarang sedang banyak dibicarakan para kaum cewek. Siswa baru pindahan dari sekolah lain yang kini sangat di kagumi karena prestasi dan juga penampilannya yang cool.
"Oh iya , gabung aja nggak apa-apa kok. Sini sini duduk aja." ucap Airin yang memang sedang duduk sendirian , sedangkan Fany duduk bersandingan dengan Zahra. Dan sialnya , lelaki itu duduk berhadapan dengan Fany tepat.
"Makasih ya udah dibolehin gabung sini. Kenalin nama gue Rifki." ucap lelaki itu dengan tersenyum yang ternyata bernama Rifki.
"Oh iya iya , nama gue Airin itu Zahra dan yang paling cantik itu Fany." ucap Airin dengan cepat sembari tersenyum.
"Oke deh , gue seneng bisa kenalan sama kalian. Semoga kedepannya kita bisa berteman baik ya." ucap Rifki.
"Oh iya lu mau makan apa? Udah pesen belum? Kalau belum gue pesenin aja." ucap Zahra menawarkan diri.
Dan tak lama kemudian makanan mereka pun datang. Lalu mereka berempat menikmati makan siangnya dengan tenang.
Kedua sahabat Fany diam-diam saling melirik Rifki yang tengah memakan makanannya itu. Namun berbeda dengan Fany , Fany nampak terdiam dan fokus kepada makanan di hadapannya.
"Gue kayak nggak asing deh sama muka dia , apa gue pernah kenal ya?" ucap Fany dalam hati dengan mengunyah makanannya.
"Ternyata gue nggak salah lagi , dia benar-benar seseorang yang dulu bikin gue cinta mati." ucap lelaki itu dalam hati.
"Ehm , temen-temen maaf gue ke kelas duluan ya. Gue ada sesuatu yang kelupaan. Duluan ya." ucap Fany dengan cepat lekas beranjak berdiri dari duduknya dan membuat Rifki Airin serta Zahra menoleh ke arahnya.
"Yah Fany , buru-buru amat lu. Makanan juga belum lu habisin tuh!" ucap Airin.
"Hehe ngga apa-apa kok udah kenyang juga gue , dah ya gue duluan." ucap Fany dan kemudian melangkahkan kakinya untuk pergi dari kantin menuju ruang kelasnya.
"Itu si Fany kenapa? Apa dia nggak suka karena gue gabung disini?" tanya Rifki pada dua cewek di sampingnya juga didepannya itu.
"Oh nggak kok , nggak apa-apa lu gabung sini. Dia tadi emang kalau ada kepentingan ya suka gitu. Udah lah gak perlu dipikirin." ucap Zahra menenangkan barangkali Rifki berpikiran macam-macam. Karena memang dari awal ia tahu , Fany memang terlihat seperti tidak peduli.
Mereka bertiga pun melanjutkan makan siang kembali dengan pikirannya masing-masing sampai selesai.
"Oh iya kalian udah lama ya sahabatan begini?" tanya Rifki.
"Kita sahabatan semenjak masuk ke SMA ini. Dan semoga aja persahabatan kami sampai selamanya." ucap Airin dengan tersenyum.
"Iya amin. Kalian terlihat kompak juga kok. Dan kalian luar biasa lho bisa jadi siswi dengan urutan nilai-nilai terbaik. Itu adalah suatu kebanggaan." ucap Rifki dengan tersenyum. Pujiannya membuat kedua cewek itu tersenyum pula.
"Lu juga kan sekarang lu lagi trending di sekolah. Karena ketampanan dan juga kepintaran lu. Kan lu juga ada di lima besar. Itu juga suatu kebanggaan tauk. Apalagi lu itu cowok." ucap Zahra memuji balik.
__ADS_1
"Iya sih , ya walaupun gitu tpi gue kayaknya nggak bakalan bisa ngalahin kepintaran kalian hehehe..." ucap Rifki terkekeh yang kemudian meminum minuman yang ia pesan tadi.
"Nggak masalah kalau lu bisa hahaha... Gue mah biasa aja. Gue tuh bersyukur di kasih kepintaran sama Tuhan. Gak pinter juga gak apa-apa yang penting gue bisa bernafas dan hidup di dunia ini hehehe..." ucap Airin dengan tertawa.
"Dasar lu ya! Kok bisa sih gue punya sahabat model gini. Pinter-pinter tapi stress ya lu!" ucap Zahra dengan menahan tawanya.
"Nggak apa-apa , dalam sebuah persahabatan itu ngga asyik atau kurang lengkap kalau salah satu ngga ada yang bertingkah konyol itu." ucap Rifki dengan tersenyum ramah yang membuat Airin dan Zahra semakin menyukai dirinya.
Tak terasa bel masuk kelas pun berbunyi dan berakhirlah sudah jam istirahat siang ini. Airin dan Zahra kembali ke kelas yang sama dan Rifki ke kelas sebelah. Mereka melanjutkan pelajarannya seperti biasa.
Namun , ada yang tidak biasa oleh Fany. Ia kini mempunyai pikiran buruk tentang Rifki. Karena ia sudah ingat betul siapa Rifki itu sebenarnya. Dan Fany takut kehadiran Rifki di hidupnya akan menghancurkan kehidupannya sekarang yang ia rasa sudah sempurna.
Fany terus berpikir hingga ia tak dapat konsentrasi untuk belajar. Ia berpikir apa Rifki sudah tahu tentang dirinya atau pura-pura tidak tahu sama sekali. Jika memang ia benar-benar tidak tahu , maka ia akan sangat bersyukur atas semua itu. Namun jika sebaliknya , ia tak tahu harus bagaimana.
Beberapa saat kemudian bel pulang sekolah pun bernyanyi nyaring. Seluruh siswa dan siswi pun mengakhiri pembelajaran mereka hari ini dan bersiap untuk pulang. Seperti biasanya , Fany selalu bersama Airin dan Zahra saat keluar dari kelas menuju ke gerbang sekolah.
Namun begitu sampai di gerbang sekolah , Airin dan Zahra sudah dijemput. Entahlah sopir Fany kali ini telat untuk menjemput dirinya. Kedua sahabat Fany pun pulang terlebih dahulu karena Fany diajak bareng tidak mau dan lebih memilih untuk menunggu sopirnya datang didepan gerbang.
Dari kejauhan , nampak Rifki yang sedang keluar dari gerbang sekolah. Fany merasa dirinya entah mengapa gugup seketika. Ia tahu Rifki kini berjalan mendekat ke arah dimana ia sedang duduk menunggu jemputannya.
"Belum di jemput ya? Mau nggak bareng sama gue?" tanya Rifki yang masih berdiri disampingnya.
"Ah nggak usah deh. Bentar lagi sampai kok yang jemput gue." ucap Fany yang nampak acuh tanpa memandang Rifki.
"Ya udah , kalau gitu biar gue temenin dulu disini. Boleh kan?" ucap Rifki dengan tenang dan tersenyum lalu ikut duduk di samping Fany yang di situ telah tersedia kursi panjang.
"Gue gak apa-apa kok sendiri. Lu kalo mau pulang duluan gak apa-apa." ucap Fany mencoba tenang.
"Gue gak tega lihat lu sendirian kayak gini." ucap Rifki yang terlihat tenang.
"Tapi gue beneran gak apa-apa kok. Udah lu pulang aja duluan." ucap Fany yang kali ini menatap wajah Rifki itu sesaat. Ucapan Fany membuat Rifki menatapnya.
"Lu kenapa sih gak suka banget sama gue? Oke sorry gue minta maaf kalau gue emang ada banyak salah sama lu Fan tentang masa lalu itu. Tapi kali ini biarin gue bisa lihat lu lagi walau sebentar aja. Gue gak akan memaksa hati lu buat sayang atau cinta ke gue lagi." ucap Rifki dengan menatap wajah Fany yang menatap lurus kedepan.
Dan benar , Fany tak salah mengira siapa Rifki yang sebenarnya. Fany yang merupakan cewek yang mudah sekali untuk menangis atau cengeng , ia tak bisa menahan amarahnya. Ingatannya kembali terputar pada masa itu. Masa yang sungguh menyakitkan yang pernah ia rasakan.
Dan kini sudah nampak didepannya mobil terhenti , itulah sopir keluarga Fany untuk menjemput dirinya. Sebelum Fany beranjak , Fany berpikir keras untuk menjawab ucapan Rifki itu.
"Lu gak salah apa-apa Rif , please biarin gue pergi dari kehidupan lu. Ada hati yang harus gue jaga. Dia adalah alasan gue atas semua ini. Jadi tolong , jangan lagi mengusik kehidupan gue. Gue yakin , di luar sana lu akan dapat seseorang yang jauh lebih baik dari gue. Maafin gue Rif , bukan maksud gue untuk membuat hati lu sakit lagi. Maaf. Gue pulang duluan." ucap Fany yang kemudian berdiri dari duduknya lalu masuk ke dalam mobil untuk pulang kerumahnya. Tentu saja selama perjalanan dengan hati yang tidak tenang.
Ya , Rifki adalah cowok yang menjadi masa lalu Fany. Rifki yang dahulu membuat hari-harinya terasa indah. Saat itu Fany dan Rifki masuk di SMP yang sama dan satu kelas pula. Rifki diam-diam menyukai Fany dan Fany tahu akan hal itu.
Mereka sempat menjalani sebuah hubungan. Meski terkadang cinta pada masa SMP itu sering disebut-sebut hanyalah cinta monyet , tapi Rifki sudah benar-benar jatuh cinta pada Fany sejak pandangan pertama. Dan Fany pun menerima cinta Rifki karena ia berfikir bahwa akan ada perasaan yang tumbuh seiring berjalannya waktu. Karena saat itu Fany tidak mencintai Rifki.
Fany mengakhiri hubungannya dengan Rifki karena ia merasa tak bisa memaksakan perasaannya untuk terus mencoba menciptakan cinta untuk Rifki. Rifki saat itu benar-benar merasa terpuruk karena berakhirnya hubungan mereka hanya dalam waktu yang singkat , yaitu kurang lebih empat bulan.
Fany merasa tak sanggup atas perasaannya. Ia masih dalam moment menunggu. Ia selalu dalam penantian. Namun ia dipaksa oleh keadaan untuk mencintai orang lain. Dan hal itu membuat Fany seperti tertekan batinnya. Dan dengan penuh keberanian , ia pun memutuskan hubungan cintanya dengan Rifki.
Fany selalu berharap agar Rifki mendapatkan seseorang yang lebih baik dari dirinya dan selalu bahagia walau tanpa dirinya. Namun apalah daya , kini ia kembali lagi di tengah-tengah kehidupan bahagianya.
Sesampainya dirumah , Fany langsung masuk ke dalam kamarnya. Ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Ia ingin menangis , namun ia tak boleh terlihat bodoh akan hal itu. Ia hanya takut akan terjadi sesuatu untuk kedepannya.
Ia takut kehadiran Rifki akan membawa perubahan untuk dirinya dan kekasihnya.
Fany merasa tubuhnya dan juga pikirannya sangat lelah , ia pun kini terlelap masih dengan seragam sekolah yang lengkap melekat pada tubuhnya.
*
*
*
__ADS_1
*
*❤️❣️