Love Always Forever (Tanpamu , Bagaimana Aku?)

Love Always Forever (Tanpamu , Bagaimana Aku?)
Menyebalkan!


__ADS_3

Di apartemen waktu sudah menunjukkan pukul 23.00 wib , sedangkan Ardhi masih sibuk mencari dokumen yang di minta oleh Bima di ruang kerjanya. Fany pun juga tak hanya diam saja, ia ikut mencari dokumen itu.


"Udah sayang udah ketemu nih." ucap Ardhi memberitahu.


"Oh ya udah." ucap Fany.


Ardhi memotret isi dokumen itu lalu mengirimkannya lewat email.


"Apartemen kamu gede yah." ucap Fany sambil melihat-lihat isi apartemen milik Ardhi.


"Sama kayak apartemen abang kok" ucap Ardhi dengan tenang.


"Ini pertama kalinya aku ke sini." ucap Fany dengan mengambil frame yang berisi foto Ardhi. Foto yang dibingkai itu terlihat sangat tampan. Namun tak ada bedanya karena memang tampan. Fany tersenyum lalu meletakkan frame itu pada tempatnya seperti semula.


"Sayang..." ucap Fany menghampiri Ardhi yang duduk di kursi kerjanya dengan fokus.


"Iya sayang , apa?" ucap Ardhi dengan tersenyum mendongakkan kepalanya memandang Fany.


"Ngantuk ya? Aku bikinin minum ya, mau minum apa?" ucap Fany.


"Apa aja terserah kamu deh." ucap Ardhi dengan tersenyum.


"Emm oke deh." ucap Fany yang kemudian keluar dari ruang kerja Ardhi menuju dapur.


Dalam perasaan Ardhi , ia sungguh senang atas perhatian yang diberikan oleh Fany untuknya. Ia sanggup menemani masa sulitnya disaat mengurus pekerjaan yang tak terduga seperti ini. Benar-benar wanita yang tidak salah ia pilih, memang ucapan adalah sebuah doa. Dan ucapan pada masa kecilnya sungguh menjadi kenyataan.


Fany masuk kembali dengan membawa dua gelas berukuran sedang berisi susu cokelat hangat, satu untuk Ardhi dan satu untuk dirinya sendiri.


"Nih minum dulu." ucap Fany dengan memberikan susu coklat hangat itu pada Ardhi. Ardhi menerima dengan senang hati dan meminumnya.


"Manis kayak yang buat ya..." ucap Ardhi.


"Yang bikin udah manis dari bayi. Dah cepetan beresin kerjaan mu itu." ucap Fany sambil duduk di sofa. Ardhi pun tersenyum melihat kelakuan wanita yang dicintainya itu.


Ardhi kembali fokus pada komputernya memeriksa beberapa email yang masuk. Ada beberapa file yang perlu ia baca dan ia simpan. Lalu ia menutup dokumen perjanjian itu dan mengembalikan pada tempat semula.


Ardhi melirik Fany sesaat , kekasihnya itu sedang menatap layar ponselnya entahlah melihat apa. Lalu ia melirik jam tangannya , pukul 23.35 wib. Sudah terlalu larut untuk pulang, pikirnya.


Ardhi kembali duduk di kursinya dan mematikan komputer dihadapannya kemudian bergegas lagi mendekati Fany sembari membawa gelas ditangannya.


"Udah selesai?" tanya Fany melihat Ardhi duduk disampingnya.


"Udah. Kamu lihatin apa sih?" ucap Ardhi yang penasaran dengan ponsel Fany.


"Apa sih cuma lagi lihat Instagram aku doang." ucap Fany memperlihatkan ponselnya.


"Ada yang DM kamu ya?" ucap Ardhi dengan meliriknya kemudian meletakkan gelasnya pada meja.


"Banyak." ucap Fany dengan santainya.


"Mana aku lihat!" ucap Ardhi yang kemudian merebut ponsel Fany. Fany melongo dengan tingkah Ardhi.


"Ohhh jadi gini... Banyak juga yah..." ucap Ardhi melihat ada banyak pesan dari cowok-cowok yang tidak dia kenal. Pesan yang kebanyakan berisi tentang sanjungan bahkan ada yang meminta nomor whatsApp.


"Apaan aku juga gak bales kok." ucap Fany.


"Kenapa gak bales? Sombong banget di chat nggak bales." ucap Ardhi tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel Fany di tangannya. Ucapan Ardhi sukses membuatnya mendapat sebuah tamparan pada lengannya.


"Ya udah sini aku bales , aku kasih nomor whatsApp aku deh sekalian." ucap Fany dengan merebut ponselnya yang berada digenggaman tangan Ardhi.


"Enggak enggak! Enggak boleh!" ucap Ardhi menghalangi tangan Fany yang masih berusaha merebutnya.


"Kamu bilang aku sombong karena gak respon. Apa jangan-jangan setiap ada cewek yang chat kamu selalu kamu balas ya? Dasar yah nyebelin!" ucap Fany dengan kesal lalu memukul bahu Ardhi.


"Aku enggak pernah bales , sama kayak kamu. Aku nggak pernah respon cewek lain." ucap Ardhi sembari melihat wajah Fany yang tampak masam.


"Nggak bisa di percaya." ucap Fany tanpa ekspresi.


"Aku serius Sayang , beneran." ucap Ardhi.


"Bohong." ucap Fany dengan ketus.


"Aku nggak bohong , kalo kamu nggak percaya lihat aja tuh isi hp aku apa aja." ucap Ardhi dengan tenang sambil tangannya mengelus rambut panjangnya Fany yang tergerai.


"Bodo'amat. Aku gak mau dan gak mau tau!" ucap Fany dengan ekspresi wajah yang kesal.


"Sayang... Marah ya? Jangan marah dong..." ucap Ardhi dengan tersenyum menatap Fany.

__ADS_1


"Enggak." ucap Fany dengan mengambil dua gelas yang ia bawa tadi lalu berdiri yang kemudian keluar dari ruang kerja Ardhi.


"Aduh marah lagi dia..." ucap Ardhi dengan terkekeh.


Ardhi pun membawa ponsel Fany dan berjalan keluar dari ruang kerjanya lalu menutup pintunya. Dilihatnya Fany tengah mencuci gelas kotor bekas minuman tadi lalu mengembalikan pada rak seperti semula.


Fany kemudian menuju pintu dimana Ardhi sedang berdiri menatapnya.


"Anterin aku pulang." ucap Fany dengan tenang namun tanpa ekspresi.


"Yah ini udah tengah malam sayang, tidur sini aja dulu besok pagi kita kerumah." ucap Ardhi dengan raut wajah memohon. Ucapannya membuat Fany kaget.


"Enggak! Enggak mau!" ucap Fany dengan bergidik ngeri.


"Kenapa enggak mau? Dirumah sama disini sama aja sayang. Sama-sama tidur, aku juga nggak akan ngapa-ngapain kamu." ucap Ardhi dengan santainya.


"Nggak yakin deh." ucap Fany melirik Ardhi sesaat.


"Makanya jangan marah mulu biar bisa yakin. Kalo kamu marah mulu aku jadi..." ucap Ardhi terputus karena tiba-tiba mulutnya dibungkam oleh tangan mungil Fany.


"Makanya jangan banyak omong biar aku nggak marah." ucap Fany yang kemudian melepaskan tangannya untuk membungkam kekasihnya tadi lalu melangkah keluar dari dapur.


Baru tiga langkah Fany melangkahkan kakinya, ia terhenti karena tubuhnya di peluk.


"Kamu nggak sopan yah masa berani bungkam mulut aku?" ucap Ardhi dengan tenang berada di samping telinga Fany. Fany diam dan mencoba memukul tangan Ardhi untuk melepaskan diri namun tak bisa. Ia kesal kenapa ia terlalu lemah dari laki-laki yang sedang memeluknya itu.


"Terus mau kamu apa sih? Ayolah lepasin!" ucap Fany tak bereaksi apa-apa dan menolehkan kepalanya ke kiri melirik wajah Ardhi yang berada di bahunya.


"Aku mau kita tidur disini dulu. Pulang kerumahnya besok pagi aja ini udah tengah malam sayang." ucap Ardhi dengan tersenyum yang membuat Fany mau tak mau harus mau mengikuti kemauan laki-laki ini.


"Tau gini mending tadi nggak ikut! Ya udah lepasin, aku mau tidur!" ucap Fany dengan kesal dan lagi-lagi ia memberontak ingin melepaskan diri. Kemudian Ardhi melonggarkan pelukannya membiarkan Fany tenang.


"Kalau kamu nggak ikut , jam berapapun aku pasti pulang buat nemenin kamu. Kamu pikir aku bisa tenang kalo jauh dari kamu? Enggak sayang... Aku mikirin kamu terus..." ucap Ardhi dengan bawelnya lalu mengacak-acak puncak kepala Fany dengan gemas.


Fany hanya mengerucutkan bibirnya tanpa menjawab sepatah katapun. Dan entah kenapa , Ardhi selalu terpancing oleh perilaku Fany yang tampak menggemaskan itu. Tanpa berpikir panjang , Ardhi langsung mencium bibir itu dan membuat Fany syok karena ia tak pernah menyangka bahwa Ardhi akan melakukan hal itu lagi.


Rasa kantuk dari diri masing-masing benar-benar hilang seketika. Fany merasa tenaganya sangatlah lemah untuk melawan Ardhi yang tengah memeluknya dengan erat. Ia hanya bisa memukul-mukul lengan Ardhi tanpa bisa mendorong dirinya. Ardhi pun melepaskan ciumannya sesaat, ia menatap Fany dalam-dalam dan menciumnya kembali.


Ardhi menahan gejolak di dadanya dalam permainannya sendiri. Ia merasakan tangan Fany menarik kaos di belakang tubuhnya. Ia pun menyudahi apa yang ia lakukan kemudian mengecup dahi cantiknya Fany lalu menariknya ke dalam pelukan hangatnya.


"Kamu selalu aja bisa bikin aku kayak gini." ucap Ardhi dengan mengelus rambut panjangnya Fany.


Fany terdiam , ia tahu apa yang di maksud. Ia tahu bahwa memang laki-laki bisa melakukan apa saja disaat seperti ini. Dan itu wajar.


"Kita tidur yuk..." ucap Ardhi dengan tersenyum menatap Fany yang tengah terdiam di depan dada bidangnya.


"Bareng? Lagi?" ucap Fany bertanya dengan polosnya.


"Kenapa? Nggak usah takut, gak akan ada hal buruk yang bakal terjadi kok. Percaya deh." ucap Ardhi dengan tersenyum.


"Janji jangan aneh-aneh, awas kamu!" ucap Fany dengan tatapan matanya yang tajam.


"Ayo..." ucap Ardhi dengan menarik pergelangan tangan Fany menuju kamar.


Kamar apartemen yang luas bernuansa biru muda itu sangat menarik. Semua barang tertata rapi tak berantakan seperti kebanyakan kamar cowok lain. Ada satu frame di meja dekat ranjang king size itu yang benar-benar menarik perhatiannya.


Sebuah foto yang dibingkai cantik, seorang lelaki yang sedang menggandeng tangan perempuan cantik bergaun biru muda. Ya , itulah foto dirinya dan kekasihnya sewaktu masih kecil. Benar-benar menggemaskan.


"Ayo sini buruan tidur , besok kamu harus bangunin aku." ucap Ardhi yang sudah membaringkan tubuhnya di atas ranjang.


Fany berjalan dan naik ke atas ranjang lalu duduk bersila.


"Sayang..." ucap Ardhi dengan menarik lengan Fany yang membuatnya jatuh terbaring di sampingnya.


"Iya iya aku tidur." ucap Fany dengan membenarkan posisi tidurnya lalu menarik selimut tebal untuk dirinya.


"Aku juga dong, dingin tauk." ucap Ardhi tanpa aba-aba kemudian langsung menarik selimut yang sama pula seperti yang dipakai Fany. Lagi-lagi Fany hanya diam melihat tingkah kekasihnya itu. Ia pun menarik selimut menutup tubuhnya hingga ke leher.


"Kamu besok kekantor jam berapa?" tanya Fany dengan memandang Ardhi yang tengah berbaring menatap langit-langit kamar.


"Jam tujuh. Ada apa?" ucap Ardhi dengan memandang Fany pula.


"Nggak apa-apa, ya udah deh besok aku bangunin." ucap Fany dengan tenang lalu mengalihkan pandangannya.


"Iya, sayang sini dong..." ucap Ardhi sembari melingkarkan tangannya di perut Fany lalu menariknya agar lebih dekat.


Fany yang kaget ingin sekali berteriak , namun ia tahan karena ia takut. Ia melirik Ardhi dihadapannya yang kini telah memejamkan matanya. Fany menatap wajah tampan Ardhi tanpa berkedip beberapa saat. Tanpa sadar ia tersenyum.

__ADS_1


Fany meletakkan tangannya di depan dada, ia pun menyembunyikan wajahnya di depan leher Ardhi kemudian menutup matanya.


Pelukan hangat itu membuatnya sangat mudah tertidur. Karena hanya dalam waktu beberapa menit, ia benar-benar bisa terlelap dengan tenang.


...----------------...


Bangun tidur tak seperti yang ia duga. Ardhi membuka matanya dan melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 04.25 wib. Ia melirik Fany, kekasihnya tengah tidur pulas dengan tangan yang sama-sama memeluk. Sungguh hatinya merasa bahagia.


Ia mengecup dahi Fany dengan penuh rasa sayang. Perlahan, ia melepaskan tangan Fany yang sedang memeluk dirinya dengan erat. Fany menggeliat dan tampaknya masih nyaman di dalam tidurnya. Tiba-tiba Ardhi tak sadar lalu ia mengecup bibir ranum itu dengan hati-hati. Hanya sesaat tak terlalu lama karena ia takut jika Fany terbangun.


Ardhi perlahan-lahan turun dari ranjang dan membetulkan selimut pada tubuh Fany yang kemudian bergegas menuju kamar mandi. Ia ingin bersiap-siap untuk berangkat ke rumah Fany lalu ke kantor agar tidak kesiangan.


Fany meraba-raba ranjang yang ternyata sudah kosong disampingnya, ia pun membuka matanya perlahan-lahan. Ia tak melihat Ardhi, kemudian ia melihat jam yang ternyata masih menunjukkan pukul 04.45 wib. Ia heran kemana kekasihnya pergi. Ia ingin bangun dari tidurnya namun rasa kantuknya benar-benar membuatnya tak kuat membuka mata lebih lama.


Akhirnya Fany memejamkan matanya kembali karena matanya terasa pedih. Ia tak menyadari Ardhi yang kini baru saja keluar dari dalam kamar mandi. Ardhi pun juga tak mengira jika Fany sudah bangun. Ia mengenakan slimfit lalu memilih kemeja putih dari dalam lemari pakaiannya.


Fany membuka matanya kembali ketika ia mendengar pintu almari tertutup. Ia kaget dan menutup matanya dengan kedua tangannya. Sayangnya , Ardhi dengan tak sadar menyadari hal itu. Ardhi tersenyum , ia melangkahkan kakinya mendekati Fany yang masih tertidur sembari membawa kemeja putihnya. Ardhi pun duduk dan mencoba menarik kedua tangan Fany agar tidak menutup wajahnya lagi.


"Selamat pagi Sayang..." ucap Ardhi dengan tersenyum.


"Pagi." ucap Fany dengan senyum yang dipaksakan. Lalu ia menarik selimut menutupi tubuhnya hingga ke bawah dagu.


"Sejak kapan udah bangun?" tanya Ardhi sembari membuka kancing-kancing kemeja yang akan ia pakai.


"Baru aja kok. Kamu bangun jam berapa tadi?" tanya Fany dengan menatapnya.


"Tadi setengah lima. Kamu tidur lagi aja dulu nanti aku bangunin." ucap Ardhi.


"Emm kamu mau sarapan apa biar aku bikinin?" ucap Fany yang kemudian bangun dari tidurnya lalu duduk di atas ranjang.


"Kamu bikin aku males ke kantor sayang..." ucap Ardhi dengan malas yang kemudian melempar kemejanya ke tengah ranjang lalu merengkuh tubuh Fany yang masih kedinginan ke dalam pelukannya. Sedetik kemudian , Ardhi memejamkan matanya.


Fany panik bukan main. Jantungnya seakan melompat dari tempatnya. Ia takut , kali ini ia benar-benar takut. Ia terdiam terpaku tak bisa melakukan apapun. Ia takut Ardhi melakukan hal di luar batas wajar kepadanya. Muncul pikiran yang membuat ia merasa sangat terpukul. Jika itu benar terjadi , hancurlah masa depan cerahnya. Lalu apa yang akan ia lakukan?


Fany sekuat tenaga menahan air matanya namun tetap saja ia tak bisa. Setetes air mata itu jatuh tepat di punggung polos Ardhi.


Ardhi merasakan hal itu. Ia membuka matanya , ia menjauhkan dirinya dan ia terkejut menatap kelopak mata Fany yang penuh air mata.


"Sayang kamu kenapa? Kenapa kamu nangis? Ada apa?" ucap Ardhi sembari menghapus air mata dipipi Fany dengan panik.


Fany menggelengkan kepalanya sendiri dan tersenyum samar sembari menyeka air matanya.


"Sayang... Ada apa?" ucap Ardhi lagi dengan tenang.


"Aku tadi cuma takut aja. Nggak ada apa-apa." ucap Fany.


"Takut?" ucap Ardhi heran.


"Pake baju kamu jangan bikin aku mikir yang enggak-enggak!" ucap Fany dengan meraih kemeja disampingnya lalu diberikannya kepada Ardhi.


"Takut apa? Oh astaga , aku tau apa yang ada di dalam kepala cantikmu ini sayang..." ucap Ardhi terkekeh sembari menepuk pelan keningnya sendiri. Hal itu membuat Fany menatapnya.


"Apa?" ucap Fany dengan mengerutkan keningnya.


"Enggak sayang enggak. Aku tau apa yang mau aku lakuin. Aku udah janji akan selalu jagain kamu. Aku nggak akan lakuin hal senekat itu karena aku tau kapan aku harus melakukannya. Kamu nggak perlu takut. Aku nggak seperti apa yang kamu pikir." ucap Ardhi panjang lebar dengan tersenyum menatap Fany yang wajahnya memerah karena malu.


"Yah abis kamu aneh-aneh aja. Udah cepetan di pake bajunya." ucap Fany dengan kesal.


Tanpa menggubris perkataan Fany, Ardhi justru meraih ponselnya dan mencari nomor Bima lalu menelponnya. Tak lama, telpon itu terjawab dengan cepat.


"Halo... Gua minta tolong yah lo handle kantor hari ini. Gua ada kepentingan mendadak... Iya ada lah... Sehari ini doang kok... Iya iya... Oke thanks ya." ucap Ardhi lalu menutup teleponnya yang kemudian memakai kemejanya.


"Ayo cepetan bangun, mumpung belum siang nih..." ucap Ardhi dengan menarik pelan pergelangan tangan Fany.


"Ayo anterin aku pulang, aku mau mandi di rumah." ucap Fany sembari turun dari ranjang kemudian merapikan ranjangnya.


"Ya udah ayok..." ucap Ardhi dengan meraih ponsel-ponsel di atas mejanya dan bersiap keluar dari kamar.


Sepasang kekasih itu akhirnya keluar dari apartemen lalu turun ke lantai dasar menuju mobil mereka. Fany bersyukur karena masih pagi dan tak ada orang yang melihat dirinya. Apa kata orang jika melihatnya keluar dari apartemen bersama seorang lelaki masih memakai baju tidur. Yang ada , hanya hal buruk yang ada di dalam otak mereka.


❤️


❤️


❤️


❤️l.a.f🌻❤️

__ADS_1


__ADS_2