
Malam benar-benar terasa sangat panjang. Mata rasanya sungguh sulit untuk terpejam. Fany yang tengah memeluk guling kesayangannya pun membuka selimut tebalnya dan meraih ponselnya diatas meja. Waktu telah menunjukkan pukul 00.15 dini hari. Ia benar-benar kesal karena sudah tengah malam namun matanya masih tetap segar. Ia pun bangun dan duduk bersila diatas ranjangnya.
"Mau ngapain gua jam segini? Tidur ngga bisa , kerjaan nggak ada. Huhh!" ucap Fany sendirian sambil menengok kanan kiri.
Ia pun turun dari ranjang dan berjalan menuju pintu. Ia membuka pintu perlahan dan mengintip keluar. Ia kaget dan mengucek-ucek matanya ketika ia lihat ke bawah. Pintu rumah utamanya terbuka sedikit namun lampu tetap remang-remang.
Fany panik melihat itu. Ia pun keluar dari kamarnya dan mengendap-endap menuju kamar dimana Ardhi tertidur.
Sampai disana , Fany tampak bingung karena pintunya terbuka serta lampu pun menyala. Ia melihat kedalam dan mencoba mencari Ardhi dimana. Fany mencari namun tak bersuara karena takut. Sampai ia membuka ruang ganti itu dan masuk kedalam. Tetapi didalam juga tidak ada orang yang ia cari.
Ia pun keluar dari ruangan itu.
"Sayang... Kok kamu bisa ada di sini? Kamu belum tidur?" ucap Ardhi yang baru saja masuk ke kamar. Ia kaget melihat Fany berada di dalam dan Fany pun juga terlonjak kaget mengetahui keberadaan Ardhi.
"Kamu kemana aja sih? Tadi di bawah pintunya kebuka kan? Siapa yang dateng? Kamu tau nggak?" tanya Fany beruntun karena takut dan terlihat panik.
"Ohhh itu... Iya sayang itu aku yang buka pintu. Aku ambil laptop di mobil. Tadi di telpon Bima buat cek urusan kantor. Katanya ada sedikit masalah yang harus dibenahi sekarang juga. Udah nggak usah takut sayang nggak ada apa-apa kok." ucap Ardhi dengan tersenyum.
Fany benar-benar merasa lega. Ia pun mengelus dadanya. Tubuhnya langsung terasa lebih rileks saat itu juga.
Fany lihat Ardhi kini duduk di sofa lalu meletakkan laptopnya di meja depannya.
"Terus kamu mau ngapain jam segini?" ucap Fany bertanya sambil memandang Ardhi yang tengah membuka laptopnya.
"Mau kerja dong sayang." ucap Ardhi dengan tersenyum.
"Tengah malem gini? Gak bisa di kerjain besok apa..." ucap Fany sambil duduk menyandarkan tubuhnya ke sofa di samping Ardhi.
Ardhi pun menatapnya dengan tersenyum.
"Enggak bisa sayang , soalnya ini penting. Kalo nggak penting aku lebih milih kerjain kamu daripada kerjain tugas. Tapi ini cuma sebentar kok , jadi kamu sabar ya..." ucap Ardhi dengan santai dan sengaja melepaskan kuncir rambut di kepala Fany yang membuat rambut panjangnya terurai.
"Apaan sih kamu tuh... Udahlah kerjain aja dulu itu tugas kamu. Hemm mau aku bikinin minum apa?" ucap Fany dengan memandangnya.
"Emang kamu berani turun sendiri?" tanya Ardhi balik.
"Gak usah remehin aku gitu lah..." ucap Fany dengan muka masamnya.
"Iya udah iya... Air putih aja yang dingin. Ada kan?" ucap Ardhi dengan tersenyum.
"Ada." ucap Fany yang kemudian bergegas mengambil sebotol air mineral di kulkas dapurnya.
Tak butuh waktu lama , Fany kembali kedalam kamar dan duduk kembali disamping Ardhi lalu menyerahkan sebotol air mineral dingin itu padanya.
"Makasih ya sayang... Kamu tidur aja duluan ngapain ikutan aku begadang gini? Yang ada besok kamu bisa sakit." ucap Ardhi sambil mengelus kepala Fany.
"Aku gak bisa tidur , aku mau temenin kamu aja disini." ucap Fany dengan polos lalu memeluk lututnya sendiri.
"Ya udah kalo gitu kamu rebahan aja disana..." ucapan Ardhi sambil menunjuk ranjang.
"Enggak deh , disini aja." ucap Fany dengan meletakkan dagunya di lututnya.
"Yaudah kamu tunggu sebentar lagi ya..." ucap Ardhi dengan tersenyum yang kemudian memfokuskan perhatian pada layar laptop di hadapannya.
Satu jam kemudian , ponselnya terdapat panggilan video masuk dari Bima. Ardhi pun menjawab panggilan itu dan menyandarkan ponselnya pada botol dimeja yang membuat Bima berteriak di seberang sana.
Bima mengira ia melihat penampakan , namun nyatanya ia melihat Fany yang duduk memeluk lutut dan dagunya bertumpu di lutut lengkap dengan rambut panjangnya yang tergerai.
Ardhi pun menyadari bahwa ia lupa jika ia sedang bersama kekasihnya. Dan sudah dapat dipastikan bahwa Bima berpikiran buruk tentang apa yang dia lihat. Karena dilihatnya , Bima sedang tertawa terbahak-bahak.
Diliriknya , Fany kini ternyata memejamkan matanya. Ia tertidur. Ardhi juga baru tau jika Fany ternyata tertidur. Ardhi pun mengabaikan ponselnya dan meraih tubuh Fany membopongnya ke ranjang lalu menidurkannya.
Ardhi menarik selimut dan menyelimuti tubuh Fany kemudian kembali ke sofa.
"Apa lagi sih lo? Gangguin aja! Lagi gua kerjain nih sabar dikit napa!" ucap Ardhi dengan malas.
"Iya iya gua tunggu. Ganggu malam panjang lo ya? Gak nyangka gua , sorry ya bos..." ucap Bima tertawa tak ada hentinya.
"Terserah deh lo mau bilang apa yang jelas gua gak apa-apain dia. Gua gak kayak lo ya!" ucap Ardhi dengan kesal.
"Tapi sumpah gua penasaran , itu kayak bukan apartemen lo deh. Lo nginep rumah Fany ya?" ucap Bima.
"Bawel banget sih lo! Dah selesai nih. Udah gua kirim ke email lo." ucap Ardhi dengan santai.
__ADS_1
"Gua tanya sekali lagi. Habis ini lo mau ngapain?" ucap Bima penasaran sambil tertawa.
"Gua mau ngapain aja itu bukan urusan lo!" ucap Ardhi cuek yang kemudian langsung memutuskan panggilan video itu secara sepihak.
Ardhi meletakkan ponselnya ke atas meja kemudian melanjutkan menyimpan file-file yang penting di laptopnya. Setelah selesai ia menutup laptopnya lalu menyandarkan tubuhnya ke sofa.
Ia kini benar-benar merasa sangat mengantuk. Dengan raga yang lelah , Ardhi berjalan kearah ranjang. Ia naik ke atas ranjang dan merebahkan tubuhnya disamping kekasihnya lalu ia menarik selimut untuknya.
Sesaat kemudian , Ardhi memiringkan tubuhnya dan memandang wajah Fany yang tengah tertidur pulas. Ardhi pun mendekat , kemudian mengecup keningnya dengan pelan.
Namun reaksi Fany sungguh tak terduga. Fany justru menggulingkan tubuhnya menghadap Ardhi lalu melingkarkan tangannya seolah sedang memeluk guling. Dapat Ardhi lihat , raut wajah Fany tampak benar-benar begitu nyaman dengan memeluknya.
Ardhi tersenyum melihat kekasihnya sangat nyaman berada di dalam pelukannya. Ia pun membiarkan tubuhnya dipeluk , kemudian ia memeluknya pula.
Karena malam ini Ardhi benar-benar merasa lelah dan mengantuk , maka tak butuh waktu lama untuk cepat tertidur pulas.
...----------------...
Hari esok telah tiba.
Dengan mata yang masih terpejam , Fany meraba-raba perutnya yang terasa lumayan berat karena tertekan. Kemudian matanya terbuka sepenuhnya ketika ia merasa yang ia pegang adalah sebuah lengan. Ia pun menoleh ke samping dan terkejut melihat wajah Ardhi yang putih bersih serta matanya masih terpejam.
Fany memandangnya tanpa berkedip. Dahi yang sebagian tertutup rambutnya , alis dan bulu mata yang hitam pekat , hidungnya yang lumayan mancung serta bibirnya yang ranum.
'Astaga! Semalem gua diapain? Mampus gua!' ucap Fany dalam hati lalu melihat tubuhnya. Ia pun tersenyum dan tenang karena pakaiannya masih utuh seperti sedia kala. Kemudian ia melihat jam dinding. Fany membelalakkan matanya karena telat bangun. Waktu kini sudah menunjukkan pukul 05.30wib.
Fany mengangkat lengan Ardhi dari atas perutnya dengan perlahan dan hati-hati. Setelah beres , Fany pun mencoba turun dari ranjang. Ia membenarkan selimut di tubuh Ardhi dan meninggalkannya.
Fany turun kebawah menuju dapur. Ia ingin membuat sandwich untuk sarapan Ardhi. Karena semua bahan-bahan sudah siap di dapur , maka ia tak butuh waktu lama untuk menyelesaikannya.
Fany kembali ke kamar dimana Ardhi tertidur untuk membangunkannya karena jam sudah menunjukkan pukul 05.45 wib. Di dalam kamar , Fany melihat Ardhi masih memejamkan matanya dengan posisi yang sama seperti tadi. Fany berjalan mendekat lalu duduk tepi di ranjang.
Fany menyentuh lengan Ardhi bermaksud membangunkannya. Namun Ardhi masih tertidur pulas , mungkin karena semalam ia benar-benar lelah.
Fany menjadi tidak tega untuk membangunkannya. Tapi bagaimana lagi , jam berjalan dan waktu semakin siang.
"Sayang... Sayang bangun..." ucap Fany menepuk-nepuk pipi Ardhi dengan pelan. "Sayang ayolah bangun... Udah mau jam enam nih." ucap Fany lagi dan lagi-lagi ia menepuk-nepuk pipinya berharap ia segera bangun.
"Apa sayang..." ucap Ardhi dengan suaranya yang parau khas bangun tidur. Ardhi pun memejamkan matanya kembali.
"Sayang aku udah buatin kamu sarapan. Ini udah siang loh cepetan bangun nanti kamu telat ke kantornya. Sayang... Ih kamu dengerin aku nggak sih? Ayolah bangun..." ucap Fany menepuk-nepuk tangan Ardhi. Herannya , Ardhi benar-benar tidak peduli dengan ocehannya.
Fany mengguncang pelan bahu Ardhi agar terbangun , namun nyatanya usahanya tak direspon.
"Sayang... Kamu mau berangkat kerja ngga sih? Ayo buruan bangun. Udah aku siapin sarapan juga dibawah. Cepetan bangun deh ntar aku siapin pakaian kantor punya kak Irfan. Dari pada kamu harus ke apartemen cuma buat ganti baju doang..." ucap Fany panjang lebar namun terputus.
"Sayang jangan bawel deh , aku nggak mau ke kantor. Aku mau tidur aku ngantuk." ucap Ardhi tanpa membuka matanya. Namun anehnya , tangan Ardhi mencekal pergelangan tangan Fany.
"Masa kamu gak kekantor? Bos macam apa itu? Jadi bos itu harus disiplin , rajin , menjadi contoh yang baik ke bawahannya." ucap Fany yang membuat telinga Ardhi terganggu.
Ardhi pun membuka mata sepenuhnya dan menarik lengan Fany hingga terbaring di sampingnya. Ardhi pun menopang kepalanya lalu menatap wajah Fany di depannya yang terlihat sedikit panik.
"Aku cuma bolos kali ini doang sayang. Ini juga gara-gara kamu aku jadi nggak mau berangkat kerja." ucap Ardhi dengan tersenyum manis.
"Kenapa gara-gara aku sih? Emang aku ngapain?" ucap Fany tak terima dengan ucapan Ardhi.
"Kamu sih gak inget semalem ngapain aja. Pegel nih lengan aku..." ucap Ardhi sembari menjatuhkan kepalanya ke bantal. Ia memejamkan matanya lalu melingkarkan satu tangannya ke pinggang Fany.
Ucapan Ardhi membuat otak Fany berpikiran kemana-mana. Fany pun memukul-mukul lengan Ardhi yang membuatnya terbangun lagi.
"Apa sih..." ucap Ardhi menatapnya dengan senyum.
"Ngapain aja kamu semalem? Aku kamu apain? Jawab jujur!" Ucapan Fany justru membuat Ardhi tertawa.
Belum sempat menjawab , ponsel Ardhi di atas meja berdering nyaring tanda ada panggilan masuk. Fany hendak mengambilnya namun ditahan oleh Ardhi.
"Biarin aja." ucap Ardhi yang kembali tertidur.
"Jangan tidur! Kamu belum jawab pertanyaan aku!" ucap Fany yang kemudian terdengar lagi ponsel milik Ardhi bernyanyi. Kini Fany pun langsung melepaskan tangan Ardhi lalu mengambilnya. "Dari Bima tuh , jawab dulu siapa tau penting." ucap Fany dengan menyerahkan ponsel itu pada pemiliknya lalu duduk di samping Ardhi.
"Apaan sih ini anak dari tadi malem gangguin mulu deh!" ucap Ardhi dengan raut wajah kesal.
"Apaan?" ucap Ardhi dengan malas menjawab panggilan telepon itu.
__ADS_1
"Lo gak ngantor ya? Kenapa lo pasti kecapekan tuh. Ngapain aja semaleman?" ucap Bima yang dengan jelas Fany dengar karena di lospeaker dan itu membuat Fany membelalakkan matanya tatkala ia mengerti apa yang di maksud Bima.
Ardhi memandang Fany dengan santai dan tenang kemudian tersenyum. Muncul ide yang sangat keterlaluan di dalam kepala tampannya.
"Iya gua gak berangkat ya kali ini doang kok. Hem tau aja lo kalo gua capek. Oh iya soal itu lo gak perlu tau lah ya gua ngapain aja. Bukan urusan lo!" ucap Ardhi dengan mudahnya berbicara seperti itu.
Fany menatapnya tajam dan ia memilih untuk pergi. Namun belum sempat berdiri , tangannya ditariknya lagi dan di tahan tak boleh pergi.
"Lo bikin otak gua geser deh!" ucap Bima terkekeh.
"Otak lo aja yang emang dari dulu gak pernah jernih. Jadi lo ngapainn telpon gua segala? Lo hobi banget sih gangguin gua!" ucap Ardhi.
"Lo beneran gak ke kantor? Ntar siang jam satu ada meeting. Ke kantor ya sebentar aja , paling meeting satu jam doang. Habis itu lo pulang lagi deh lanjutin aktivitas lo." ucap Bima.
"Jam satu kan? Iya deh ntar gua dateng. Apa lagi? Kalo udah gua matiin nih!" ucap Ardhi dengan tenang.
"Iya udah itu doang kok. Ya udah deh selamat bersenang-senang bos!" ucap Bima yang membuat telinga Fany seolah terbakar. Tanpa menjawab , Ardhi memutuskan sambungan telepon secara sepihak kemudian meletakkan ponselnya di meja samping ranjang. Lalu Ardhi pun bangun dari tidurnya dan duduk
"Sayang ikut aku ke apartemenku ya." ucap Ardhi.
"Mau ngapain? Kenapa aku harus ikut?" tanya Fany.
"Ya daripada dirumah sendirian." ucap Ardhi.
"Nggak ah , aku di rumah aja deh. Masa rumahku kosong?" ucap Fany dengan masam.
"Emm tapi aku nggak mau ninggalin kamu sendirian sayang." ucap Ardhi yang terdengar manja dan membuat telinga Fany geli.
"Aku nggak apa-apa di rumah sendiri. Kan ini siang bukan malam." ucap Fany dengan tersenyum.
"Kalo gitu nanti habis dari kantor aku kesini lagi ya." ucap Ardhi.
"Iya iya boleh. Yaudah ayo bangun jangan tidur lagi!" ucap Fany menarik lengan Ardhi. Ardhi pun tersenyum.
"Morning kiss nya mana?" ucap Ardhi dengan menunjuk pipinya dengan jari telunjuknya sendiri. Pertanyaan Ardhi itu sungguh sangat membuatnya heran kenapa pacarnya menjadi manja sekali.
"Emang harus ya?" tanya Fany dengan polosnya.
"Harus dong." ucap Ardhi tak terbantahkan. Ardhi pun turun dari ranjang dan berdiri di hadapan Fany. "Cepetan." ucap Ardhi meminta.
"Apa sih?" ucap Fany berlagak tak mengerti.
"Ayolah..." ucap Ardhi dengan tersenyum. Fany pun menggaruk kepalanya yang tak terasa gatal. Ia benar-benar sudah tak bisa lari lagi.
Fany berusaha setenang mungkin dan menahan degup jantungnya yang sangat kencang tak beraturan itu. Ia berdiri dan kedua tangannya memegang bahu Ardhi lalu ia berjinjit karena Ardhi lebih tinggi darinya.
Fany mendekatkan wajahnya. Fany melihat Ardhi yang tampak begitu tenang.
"Aku nggak mau cium kamu! Kamu tadi nggak ngejawab pertanyaan aku!" Ucap Fany dengan ketus di depan telinga Ardhi tepat.
"Pertanyaan yang mana sih sayang?" tanya Ardhi bingung.
"Kamu tadi ngomongin apa sama Bima?" ucap Fany dengan kesal.
"Ouhh itu , emang kamu nggak inget semalem kita ngapain?" ucapan Ardhi membuat Fany menatapnya tajam.
"Apaan sih kita gak ngapa-ngapain tauk!" ucap Fany dengan tegas.
"Nah itu tau. Aku nggak ngapa-ngapain kamu sayang. Buktinya bangun tidur pakaian kamu masih utuh kan? Nggak ada yang rusak kan? Semua baik-baik aja kan? Aku cuma jagain kamu tidur aja biar kamu tidurnya tenang." ucap Ardhi dengan tersenyum yang membuat Fany terdiam. Jauh di lubuk hatinya , ia benar-benar bersyukur. Namun tiba-tiba Fany memukul dada Ardhi.
"Sama aja kamu bikin Bima mikir yang enggak-enggak tentang kita! Dasar cowok yah sama aja!" ucap Fany yang kemudian melarikan diri keluar dari dalam kamar.
Di dalam kamar , Ardhi tersenyum karena tingkah kekasihnya itu benar-benar sangat menggemaskan.
Ia yakin , rasa sayang dan juga cintanya tak kan pernah hilang.
❤️
❤️
❤️
❤️l.a.f🌻❤️
__ADS_1